- Dongkrak Layanan Kesehatan, Pangdam II/Sriwijaya Pimpin Rapat Strategis BLU RS AK Gani
- Peradi Profesional: Paradigma Baru Organisasi Advokat Indonesia
- Sokong Ketahanan Pangan, Kasdam II/Swj Bahas Percepatan Koperasi Desa Merah Putih Bersama Kaster Panglima TNI
- Sebarkan "Virus" Perdamaian dan Riding Skuter di Palembang, Slank Bakal Rilis Album Terbaru pada 5 Juni 2026
- Buronan Kasus Pelecehan Seksual Ditangkap di Rumah Tetangga
Merekam Peristiwa Heroik Polisi dan Masyarakat Melawan Terorisme
JAKARTA, SIMBURNEWS – Aksi heroik polisi dan masyarakat dalam mengatasi ancaman terorisme di Indonesia segera diangkat ke layar lebar. Film “22 Menit” garapan sutradara Eugene Panji dan Myrna Paramita ini rencananya akan dirilis pada Juli mendatang. Film action yang diproduksi Buttonijo Production Jakarta dan diangkat dari skenario Husein M Atmodjo ini melibatkan berbagai pihak, khususnya kepolisian sejak riset hingga proses produksinya.
Eugene Panji, sutradara film “22 Menit” menganggap film ini sebagai bagian dari proses kreatifnya berkarya di tengah tahun politik. “Sebelumnya, saya setuju tahun ini dan tahun depan tahun panas, tahun politik. Akan tetapi, saya tidak mau berpolitik. Melalui film (22 Menit) ini saya tetap berkarya,” ungkapnya, dikonfirmasi Simbur, Senin (30/4).
Terkait latar penggarapan film ini, Eugene Panji mencoba merekam peristiwa yang dialami bangsa ini. “Saya sedikit sedih, bangsa ini sangat malas merekam peristiwa. Yang direkam hal yang baik saja. Sementara masalah buruk (Bom Thamrin) seharusnya bisa jadi pengalaman baik,” ungkapnya.
Sehubungan dengan itu, alumnus Institut Kesenian Jakarta (IKJ) Jurusan Seni Rupa ini tertarik untuk mengangkat peristiwa bom Thamrin ke dalam film. “Bom Thamrin menarik karena kami berani merekam sejarah. Film ini fiksi, bukan full story. Akan tetapi, ini merupakan film fiksi yang terinspirasi dari kejadian nyata,” terangnya.
Ditanya, sejauh mana keterlibatan polisi dalam film ini, dirinya menegaskan hanya sebatas proses riset. “Kami meriset film ini 1,5 tahun. Sebenarnya sutradaranya ada dua, selain saya juga Myrna Paramita yang meriset pertama kali,” paparnya sembari menambahkan, pihaknya meriset bagaimana bom terjadi, siapa saja yang terlibat dan sebagainya. “Polisi hadir karena kami dibuka ruang untuk meriset. Kami tak ingin bikin film yang ngaco (tanpa riset),” tegasnya.
Disinggung peran Kapolri Jenderal Tito Karnavian yang terlibat dalam film ini, Eugene Panji menganggapnya sebagai hal yang biasa. “Peran (Kapolri Tito Karnavian) kecil. Sekitar 95 persen pemeran adalah pemain profesional. Pak Tito berperan sebagai orang biasa,” imbuhnya.
Terkait persaingan industri film dalam negeri, Eugene Panji mengatakan, dia dan kelompoknya harus berani menentukan warna tersendiri dalam produksi film. “Tidak ada strategi khusus. Semoga kehadiran kami bisa diterima. Ketika orang bikin film horor, film alay dan percintaan, kami bikin film action tentang sejarah kelam bangsa ini,” umbarnya.
Masih kata dia, inti dari penggarapan film 22 Menit tak lepas dari aksi heroik masyarakat dan polisi dalam menghadapi ancaman terorisme global. “Saya merekam sebuah konsep pahlawan baru. Siapa pahlawan? Yang jadi pahlawan adalah masyarakat. Di mana pada 14 Januari 2016 masyarakat membuat hastag, ‘kami tidak takut’,” ungkapnya.
Eugene pun merasa tak ada yang ditakutkan ketika film ini dirilis, apakah akan mendapat ancaman dari pihak atau kelompok tertentu yang keberatan. “Kalau takut sih tidak. Kalau memang harus diboikot, ya boikot saja. Yang penting saya berkarya bikin film,” tutupnya.
Dikonfirmasi terpisah, Oimbrams, pemeran tokoh Syamsul sang Teroris mengatakan, awalnya ketika dihubungi rumah produksi untuk memerankan teroris, dirinya agak ragu karena image. “Sebagai pelaku seni peran saya menyetujui karakter (teroris tersebut. Itu karena persepsi sebagai teroris tidak mengaitkan dengan kelompok tertentu. Hanya klompok pemuda yang mempunyai senjata dan melakukan aksi, seperti halnya orang-orang di Amerika dan Prancis yang suka melakukan aksi teror,” imbuh Oimbrams.
Dikatakannya pula, film action ini sedikit berbeda dengan film yang pernah diperankankannya. “Kali ini menggunakan senjata asli, sedang film saya seblumnya hanya menggunakan senjata soft gun. Penggunaan senjata asli saya dapat arahan dari pihak Densus, Mako Brimob dan ada workshop-nya (latihan cara menggunakan pistol),” aku alumnus IKJ Jurusan Teater itu.
Dalam film itu, tambah aktor asal Sumsel itu, dirinya memerankan tokoh Syamsul, teroris yang menembaki dan menyandera warga saat aksi bom Thamrin pada 2016 lalu. “Syuting hampir selesai. Setiap adegan dibuat secara dramatis. Saya benar-benar harus mendalami karakter teroris. Film ini digarap untuk menunjukkan kepada masyarakat internasional tentang aksi heroik polisi yang saat itu menggaungkan semboyan ‘Indonesia Tidak Takut’ (terhadap ancaman teroris global),” ungkapnya kepada Simbur.
Masih kata dia, film “22 Menit” diharapkan dapat lebih mendunia karena lokasinya di ibu kota. Mengapa judulnya “22 Menit” tambah Oim, karena menunjukkan waktu polisi melumpuhkan teroris saat itu selama 22 menit. “Rencananya akan tayang pada Juli, habis Lebaran,” terangnya.
Dijelaskannya, film “22 Menit” mengisahkan peristiwa ibu kota yang terjadi pada Kamis, 14 Januari 2016. Saat matahari terbit, jalanan kota Jakarta pagi itu serentak ramai diisi manusia yang memulai aktivitasnya. Sesak, riuh, padat dan kekacauan yang sedikit tertata tidak menjadi rahasia umum bagi ibu kota negara. Pemandangan yang sama juga terlihat di sebuah titik pusat Jakarta, Jalan Thamrin yang terletak tak seberapa jauh dari Istana Negara.
Dalam waktu 22 menit, hampir tak ada yang menyangka suasana ibu kota berubah jadi mencekam. Dalam sekejap, semua harapan berubah menjadi ketakutan. Sebuah bom meledak di Starbucks Cafe pada pukul 10.40 WIB. Bom susulan kemudian meledak di pos polisi Thamrin yang berjarak hanya beberapa meter dari lokasi bom pertama.
Masyarakat yang penasaran justru mendekat, ingin menolong dan ingin mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Di tengah kekacauan tersebut, Samsyul (diperankan Oimbrams) dan Asep, dua orang anggota teroris yang masih memilik bom dan tas ransel mulai menghunus pistol, menembaki polisi setempat dan masyarakat yang sedang melihat.
Kombes Martuani sudah ada di lokasi tersebut. AKBP Ardi pun datang ke lokasi dengan persenjataan lengkap. Anggota Densus 88 pun diperintahkan segera menyisir lokasi, lalu mencari tahu kemungkinan adanya teroris lain yang bertugas sebagai penembak jarak jauh. Kedua teroris yang bersembunyi di areal parkir Starbucks pun dalam sekejap telah dikepung. Bom granat dilemparkan teroris. Baku tembak terjadi. Suasana semakin mencekam.
Dalam kondisi tersebut, Kapolda Metro Jaya saat itu, Tito Karnavian (diperankan Matias Mutchus) mendapat laporan adanya tempat persembunyian teroris di Bekasi, Jawa Barat. Tito pun segera membagi pasukan dan memutuskan harus mengambil tindakan tegas sebelum para teroris membuat tindakan anarki lebih jauh.
Dalam 22 menit, kepolisian bersama Densus 88 berhasil meringkus teroris yang beraksi di Thamrin dan membekuk teroris lainnya di kawasan Bekasi. Waktu 22 menit menjadi saksi polisi memerangi terorisme. Sebuah perang yang belum berakhir dan masih berlangsung, hingga sekarang.(maz)



