- Jaksa Sita Truk dan Alat Berat Perusahaan Terkait Korupsi Distribusi Semen
- Pejabat Bank Tersangka Korupsi KUR di OKUT Tidak Ditahan karena Akan Menjalankan Ibadah Haji
- Diduga Menghalangi Penyidikan Kasus Korupsi, Staf Ahli Bupati Muba dan Oknum Pengacara Jadi Tersangka
- Sinergi Hadapi Musim Kemarau, Apel Karhutla Sumsel Bakal Digelar di Kampung Nelayan Sungsang pada 6 Mei 2026
- Resmi Dilantik, 325 Bintara Remaja TNI AD Siap Mengabdi untuk Negeri
Prabumulih Belum Bebas Sampah
PRABUMULIH, SIMBURNEWS – Penanganan sampah di Prabumulih masih belum maksimal. Salah satunya tempat pembuangan sampah sementara (TPS) yang terletak di bilangan Jalan Padat Karya kerap mengeluarkan bau busuk. Fenomena ini tentunya memerlukan penanganan atau bentuk inovasi tepat guna.
Salah satu yang bisa dikedepankan adalah ketersediaan bank sampah yang mencukupi. Untuk itu, Direktur Bisnis dan Operasional Bank Sampah Prabumulih (BSP), Desti Fajarini ST memandang perlu mengembangkan sayap dengan menambah lebih banyak Bank Sampah Unit (BSU).
Dikatakan Desti, pemenuhan kebutuhan tersebut, memasuki Februari 2018, BSP menambah lima unit BSU masing-masing BSU Miranda (Sukajadi), Sedap Malam (Santa Maria), Kemang Tanduk, BSU Rizki Al Habib (Talang Sako), dan Bersama Anak Petai.
“Ke depan, kami berharap kesadaran masyarakat akan pentingnya keberadaan BSU ditengah lingkungannya, akan sangat membantu upaya untuk mengatasi masalah sampah di Prabumulih,” ujarnya, Jumat (22/2).
Namun kata Desti, mengatasi masalah sampah bukan berapa banyak BSU yang akan dibentuk, tetapi lebih kepada berapa besar kesadaran masyarakat untuk membuang sampah dengan cara yang benar. Artinya, sampah tidak dibuang begitu saja.
BSP sendiri lanjut Desti, sejauh ini sudah memiliki 60 BSU. Termasuk juga, lima BSU yang baru terbentuk, dengan daya tampung sekitar 2 ton sampah kardus, dan sekitar 3 ton sampah.
“Rata-rata per bulan, sekitar 5 ton yang berhasil dihimpun dan dikelola. Dan, ke depan kami berharap semakin banyak berdiri BSU di lingkungan masyarakat, sehingga makin banyak sampah yang bisa dihimpun dan dikelola masyarakat,” lanjutnya.
Sebagai gerakan sosial, pihaknya memerlukan relawan lingkungan untuk membentuk BSU-BSU lainnya. “Jika ada relawan sampah yang serius dengan sukarela mengatasi masalah sampah. Kami yakin jumlah BSU akan lebih banyak. Lama kelamaan, masalah sampah akan teratasi,” pungkasnya. (mrf)



