Paket Perbaikan Jalan Diperebutkan

// Pemprov Minta Pemkot Selesaikan Masalah Gandus

 

PALEMBANG, SIMBURNEWS – Kepala Dinas PU BM Sumsel, Ucok Hidayat memerintahkan agar pemerintah kota dapat menyelesaikan tugasnya di jalan Gandus ini meskipun akan dilimpahkan atau diserahkan kepada provinsi. Menurutnya, Meskipun jalan itu sudah diserahkan  kepada provinsi, ada beberapa tugas dari Pemkot yang belum diselesaikan.

“Jalan poros itu mau diserahkan ke kita (provinsi), tahun lalu. Tapi paketnya masih ada kota di situ (jalan Gandus). Kalau dia mau serahkan ke kita silakan, tapi selesaikan dulu,” tegasnya.

Ucok melanjutkan, kalau paket kota tapi yang menjalankan adalah provinsi dirinya takut nanti terjadi kesalahan. “Yang diperiksa nanti kita, kan susah. Tanggung jawab dulu dia,” pungkasnya.

Ucok menambahkan, untuk total ruas jalan yang menjadi tanggung jawab provinsi berjumlah 1.513 km. Sedangkan ruas jalan yang rusak mencapai 30 persen untuk semua kategori.

“Jadi nanti dengan dana yang ada akan fungsional. Artinya begini, bisa dilewati tapi mungkin tidak senyaman, jadi istilahnya lebih ke perawatan. Jadi keterbatasan juga di anggaran, kalau tidak ada dana bagaimana mau membangun,” ungkap Ucok seraya menegaskan bahwa jalan provinsi pada prinsipnya adalah jalan yang menghubungkan antara dua kabupaten/kota.

Sebelumnya,  warga di sepanjang Jalan Lettu Karim Kadir, Kecamatan Gandus, Kota Palembang mengeluhkan kondisi jalan rusak yang tak ada ujung. Mereka berteriak dan menuntut agar pemerintah, baik daerah maupun kota untuk segera memperbaiki ruas jalan sepanjang 9 km  dari Jembatan Musi II sampai Simpang Gandus (Perum Griya Asri Gandus). Pantauan di lapangan, ruas jalan yang setiap hari dilewati kendaraan umum dan mobil bertonase besar itu mengalami kerusakan sekitar 90 persen.

“Aksi Kumpul Koin Peduli Jalan Gandus” digelar  warga dan dipusatkan di Perum PNS Pemkot Gandus dan di depan PT Nindya Karya, Selasa (26/12). Aksi diikuti puluhan warga sekitar yang menyodorkan kotak kepada siapa saja yang melewati jalan tersebut. Aksi tersebut bukan hanya sekadar simbol kekcewaan warga tapi juga menumbuhkan kepedulian para pengendara yang sering melewati ruas jalan yang rusak parah tersebut.

Udit Bagus C, koordinator aksi mengatakan, aksi yang dilakukan untuk memperlihatkan kepada pemerintah, publik dan para pemangku kepentingan bahwa jalan tersebut semakin hari semakin jelek. “Sebelumnya kami sudah menyampaikan aspirasi ke pemerintah baik itu dari media sosial atau media massa. Hari ini kami menggelar aksi damai yaitu kumpul koin. Dengan terkumpulnya koin ini, nanti kami akan memberi kepada pemerintah untuk memperbaiki jalan Gandus,” ujar warga perum PNS Pemkot ini.

Masih kata Bagus, kerusakan jalan sudah bertahun-tahun dan sejak dulu ruas jalan hanya di tambal sulam saja, tetapi tidak ada kata diperbaiki atau dicor. Disamping itu, salah satu penyebab kerusakan ruas jalan kata Bagus adalah mobil-mobil bertonase besar yang melewati jalan yang memang berada dekat dengan tepi sungai Musi itu.

“Jalan ini sudah tiga periode Wali Kota (2 periode Edi Santana dan satu periode Romi/Harnojoyo) jalan Gandus masih seperti sekarang ini. Jadi kalau musim kemarau akan berdebu, jika musim hujan akan tergenang dan berlumpur. Sudah banyak kecelakaan lalu lintas yang terjadi dan memakan banyak korban baik jiwa maupun luka-luka, khususnya menimpa ibu-ibu,” ucapnya.

Dikatakannya, warga tidak peduli siapa yang bertanggung jawab atas jalan Gandus. “Mau itu pemerintah pusat, provinsi atau kota. Kalau dari pemerintah kota, kenapa dari dulu tidak diperbaiki, kalau tanggung jawab pemerintah pusat kapan realisasi perbaikan jalan ini,” tambahnya geram.

Dijelaskan Bagus, jika upaya yang dilakukan warga agar pemerintah mau melihat kondisi jalan tersebut sudah lima kali dilakukan termasuk aksi kumpul koin. Aksi Kumpul koin kata Bagus adalah upaya shock therapy (buat pemerintah) karena sebenarnya masih banyak massa yang akan siap membantu untuk aksi-aksi berikutnya. Jika pemerintah tidak menanggapi, warga akan melakukan langkah-langkah yang lebih represif lagi.

“Koin yang berhasil dikumpulkan akan kami serahkan kepada pemerintah yang memang bertanggung jawab untuk memperbaiki jalan ini. Untuk saat ini kami belum akan menyurati persiden karena jalan ini smasih milik provinsi sehingga mungkin sampai tingkat provinsi saja,” ungkapnya sambil menegaskan jika semua warga mendukung aksi walaupun ruas jalan didepan rumah mereka sudah diperbaiki.

Sejauh ini memang ada perbaikan dibeberapa ruas saja. hanya saja menurut Bagus, keinginan warga adalah ruas jalan diperbaiki bukan ditambal sulam saja. Jika hanya itu (tambal sulam) maka akan menghabiskan banyak anggaran. Disamping jalan diperbaiki, warga juga menuntut untuk dibuat parit ditiap sisi jalan agar air tidak tergenang. Kalau hanya diperbaiki tetapi tidak dibuat parit akan sama saja menurut Bagus, sebab memang bisa dilihat jika sepanjang jalan Lettu Kadir Karim tersebut tidak ada parit sama sekali.

“Sejauh ini belum ada pejabat baik itu anggota dewan maupun pejabat pemerintah untuk datang meninjau lokasi atau memberi jawaban kepada kami. Wali Kota Palembang memang sudah pernah datang tetapi belum ada jawaban sama sekali dan tindakan nyata. Padahal di media sosial, kami sudah sebut (tag) nama dia (Wali Kota), seharusnya dia tahu. Kalau pemerintah yang peka, seharusnya (mau) memberi tanggapan (respon). Makanya, kami melakukan aksi damai ini,” ungkapnya kecewa.

Terkait Asian Games, Bagus mempertanyakan apakah memang Palembang siap (menjadi tuan rumah AG) dengan kondisi seperti saat ini (jalan rusak). “Gandus masih masuk kota Palembang, (tapi) jalannya masih seperti ini dan tidak layak lagi. Seharusnya Palembang belum siap jika dikaitkan dengan (tuan rumah) AG 2018. Seharusnya pembangunannya itu merata,” pungkasnya.

Pantauan Simbur menyusuri jalan sepanjang sembilan kolometer tersebut, memang mengalami banyak sekali kerusakan dan berlubang dimana-mana. Hanya ada sedikit ruas saja yang dicor, tetapi tidak banyak. Selain itu, potensi kerusakan jalan tersebut memang sangat besar karena merupakan akses bagi industri yang berada dibantaran sungai Musi, yang tentunya menggunakan mobil bertonase besar untuk mengangkut kebutuhan industrinya. (yrl/mrf)