- Warga Lima Desa Perbaiki Jalan Rusak secara Swadaya
- Gubernur Papua Apresiasi Dukungan BKN Tingkatkan Kualitas ASN Daerah
- PWI Pusat Serahkan Uang Duka kepada Keluarga Almarhum Zulmansyah Sekedang
- Car Free Night Atmo Geliatkan Ekonomi dan Bahagiakan Warga Palembang
- Tetesan Air Sumber Kehidupan, Wujud Kepedulian Kasad di Brigif 8/GC
Misi Gagal malah Merayu Istri Orang, “Dokter Cinta” Hampir Digantung
PALEMBANG – Ratusan pelajar dan mahasiswa antre menunggu giliran lift di lantai satu menuju lantai enam Aula Kampus Utama Universitas Bina Darma. Meskipun hujan di luar gedung, mereka datang dengan antusias menyaksikan pementasan drama “Dokter Cinta” karya Moliere, Rabu (11/1) sekitar pukul 14.00 WIB.
Mega selaku pimpinan produksi mengatakan, sangat senang bisa merencanakan dan mementaskan drama. “Dalam memproduksi pementasan drama ini, proses lebih penting bagi kami dalam menerapkan teori menjadi praktik,” ungkapnya.
Senada dikatakan Midra, sutradara pementasan ini. Midra sangat puas dengan proses dan hasil selama latihan yang berlangsung kurang lebih enam bulan. “Meski banyak kekurangan, khususnya pencapaian artistik, saya puas bisa memimpin teman-teman saat latihan. Banyak suka-dukanya, terutama melatih pemain yang sulit diatur. Akan tetapi, proses itu penting dan hasil tak kalah pentingnya,” paparnya.
Kisah diawali seorang tukang kayu bernama Widodo (Adiska) yang dipaksa menjadi seorang dokter untuk mengobati seorang gadis bernama Lucinde (Ayu) yang tidak bisa menggerakkan lidahnya. Hal ini bermula saat tukang pukul/pesuruh bernama Bambang (Dicky) memperkenalkannya kepada Uni Gadang (Hanik), ibu Lucinde yang mengira Widodo adalah seorang dokter yang pandai meramu obat yang dapat menyembuhkan segala penyakit. Mereka juga memukul Widodo supaya mengaku bahwa dirinya adalah seorang dokter.
Sebenarnya, hal tersebut adalah akal licik dari istri Widodo (Iis), dalam upaya membalas dendam pada sang suami yang sering memukulinya. Cerita dikemas dalam bentuk komedi. Terdapat beberapa kelucuan yang mengundang tawa.
Adapula tokoh Ahoy (Alex) yang gagal mempersunting gadis anak Uni Gadang yang lebih memilih Andre (Andi) sebagai kekasihnya membuat komedi ini semakin satire. Kelucuan selanjutnya terjadi pada saat Widodo bertemu dengan Euis (Virginia), pembantu yang juga istri Bambang. Widodo terpesona oleh besarnya kemolekan yang dimiliki istri orang. Widodo alias dokter gadungan akan dihukum gantung oleh keluarga Uni Gadang. Akan tetapi, karena kesetiaan istri yang membelanya, Widodo terbebas dari tiang gantungan.
Pentas berdurasi hampir dua jam itu digelar mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Bina Darma semester 5. Lakon yang disutradarai Midra Azrianti Harahap itu mampu membuat penonton bertahan hingga akhir pertunjukan.
Dekan FKIP Universitas Bina Darma, Prof Waspodo MEd PhD dalam sambutannya mengatakan, dirinya sangat bangga menyaksikan ratusan penonton yang hadir. “Mulanya bermain drama, siapa tahu nanti bisa menjadi pemain film. Banyak yang bisa dipelajari dalam Bahasa Indonesia,” ungkap Prof Waspodo.
Hal serupa diungkap Ketua Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Bina Darma, Hastari Mayrita MPd. Menurut dia, drama sangat penting dalam proses pembangunan karakter siswa. “Guru bahasa Indonesia harus terampil bermain drama dan mengajarkannya untuk membangun karakter yang baik bagi siswa,” ungkapnya. (mrf)



