Karhutla Masuk Kota dan Mengintai Lapas di Palembang, Petugas Terkendala Air

Penanganan di lapangan melibatkan unsur BPBD dan Damkar Kota Palembang. Sekitar 15 personel BPBD dikerahkan bersama personel Damkar dari sejumlah posko, sehingga total kekuatan yang diturunkan mencapai sekitar 75 personel. “Jumlah personil kami yang terlibat dari BPBD sendiri itu ada sekitar 2 tim yang turun. Berarti 15 orang kemudian Damkar 2 regu, itu sekitar 75 personil yang kita turunkan.” ujar Aryansah.

Di tengah upaya petugas menjaga agar api tidak kembali meluas, Aryansah mengingatkan bahwa pencegahan tidak hanya berada di tangan petugas. Masyarakat memiliki peran penting, terutama dalam kondisi lahan yang kering.

Ia meminta warga tidak membakar sampah, terlebih di lahan terbuka yang mudah terbakar. Kepedulian lingkungan dan keberanian untuk saling mengingatkan menjadi bagian penting dalam mencegah kejadian serupa. “Imbauan kami kepada warga, khususnya warga Palembang ya. Untuk tidak membakar sampah atau kami menghimbau RT setempat. Teman-teman, warga masyarakat untuk lebih aktif lagi lah. Peduli lagi terhadap lingkungan. Tegur ada warganya yang coba-coba membakar sampah di wilayah lahan terbuka seperti ini,” tegasnya.

Di tengah panasnya lahan dan keterbatasan air, pesan tersebut menjadi pengingat bahwa mencegah api jauh lebih mudah daripada menghadapi kobaran yang telah terlanjur membesar. Bagi petugas di lapangan, setiap titik api yang berhasil dikendalikan bukan hanya tentang berakhirnya satu kejadian kebakaran. Lebih dari itu, ada upaya menjaga lingkungan, melindungi permukiman di sekitarnya, dan memastikan masyarakat tetap aman.

Sementara itu, pada Selasa (15/9), perhatian pemerintah kembali tertuju ke Sumatera Selatan. Kepala BNPB Letjen TNI Dr. Suharyanto S.Sos, M.M., hadir di Palembang untuk mengikuti Rapat Evaluasi Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan di Provinsi Sumatera Selatan yang digelar di Kantor BPBD Provinsi Sumatera Selatan.

Gubernur Sumatera Selatan, Herman Deru menyampaikan perkembangan penanganan karhutla di wilayahnya. Sementara BMKG memberikan gambaran mengenai kondisi cuaca dan potensi yang dapat memengaruhi perkembangan kebakaran. Informasi tersebut menjadi dasar penting dalam menentukan strategi penanganan di lapangan.

Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, Ph.D mengatakan, data rapat koordinasi penanganan karhutla Sumatera Selatan per Selasa (15/9), terpantau 1.737 titik panas (hotspot) di wilayah Sumatera Selatan. Namun, angka hotspot bukanlah satu-satunya ukuran keberhasilan penanganan. Setiap titik harus diverifikasi karena kondisi di lapangan dapat berbeda. “Terlebih, karakteristik lahan gambut membuat api memiliki kemampuan untuk bertahan di bawah permukaan dan kembali muncul apabila proses pendinginan tidak dilakukan secara menyeluruh,” ujarnya.

Karena itu, ketika api terlihat padam, pekerjaan belum tentu selesai. Petugas masih harus melakukan pembasahan, pendinginan dan pemantauan berulang untuk memastikan tidak ada bara yang tersisa. “Di sejumlah lokasi, proses tersebut bahkan membutuhkan waktu berhari-hari,” ujar Berton.