- Perkuat Kepedulian untuk Palestina saat Konser Amal Wali Band
- Pangdam II/Swj Ajak Pejabat Kodam Olahraga Bersama dan Nobar Piala Dunia 2026, Danrem 044/Gapo Hadiri Lomba Domino
- Pengurus Srikandi Jaga Desa se-Indonesia Dilantik, Abpednas dan SMSI Jalin Kerja Sama
- Mengundang Selera Generasi Z, Berbagi Pengalaman Makan Zuppa ke Media Sosial
- Dari Sungai Musi ke Meja Makan: Perjalanan Air dalam Sepiring Pempek Kapal Selam
Dari Sungai Musi ke Meja Makan: Perjalanan Air dalam Sepiring Pempek Kapal Selam
Sepiring pempek kapal selam tersaji hangat di atas meja. Potongan pempek berwarna keemasan itu memperlihatkan kuning telur yang masih utuh di bagian tengahnya. Di sampingnya, semangkuk kecil cuka berwarna hitam pekat siap menjadi pelengkap rasa. Ditemani potongan mentimun segar dan taburan ebi yang menjadi ciri khas penyajian pempek Palembang.

ELAK ENGGRAINI – PALEMBANG
BAGI sebagian orang, pempek hanyalah makanan khas yang wajib dicicipi ketika berkunjung ke Kota Palembang. Akan tetapi, bagi masyarakat Palembang sendiri, pempek menyimpan cerita yang jauh lebih panjang dari sekadar sajian di atas piring.
Cerita itu dimulai dari air. Jauh sebelum pempek disajikan bersama cuka, mentimun, dan ebi. Terdapat perjalanan panjang yang melibatkan Sungai Musi sebagai urat nadi kehidupan masyarakat Palembang. Sungai yang membelah kota ini selama ratusan tahun tidak hanya menjadi jalur transportasi dan perdagangan, tetapi juga menjadi sumber bahan pangan yang membentuk identitas kuliner daerah.
Dari perairan Sungai Musi dan sekitarnya, masyarakat memperoleh berbagai jenis ikan yang kemudian diolah menjadi pempek. Kehadiran ikan yang melimpah inilah menjadikan pempek tumbuh sebagai salah satu warisan kuliner paling dikenal dari Sumatera Selatan.
Manajer Kopilo Coffee & Eaterly Palembang, Muhammad Chairul Fattah, menjelaskan bahwa hubungan antara Sungai Musi dan pempek tidak dapat dipisahkan dari sejarah masyarakat Palembang. “Dikarenkan Kota Palembang punya Sungai Musi yang menghasilkan banyak ikan dan bisa diolah menjadi pempek. Sebagai contoh ikan gabus. Tidak hanya ikan gabus, ikan kakap juga,” jelas Chairul saat diwawancara di Kopilo, Sabtu (4/7).
Menurut Chairul, masyarakat Palembang sejak lama telah memanfaatkan sumber daya perairan secara menyeluruh. Tidak hanya daging ikan yang diolah menjadi pempek kapal selam, lenjer, atau adaan. Bagian lain seperti kulit ikan yang diolah menjadi pempek kulit. “Tidak hanya memanfaatkan sebatas daging ikan saja. Kami juga bisa menggunakan kulitnya kayak bikin pempek kulit. Itu luar biasa,” ujarnya.
Di balik kreativitas kuliner tersebut, terdapat satu unsur lain yang sering terlupakan, yaitu air bersih. Air bersih hadir dalam hampir setiap tahapan produksi pempek, mulai dari mencuci ikan, membersihkan peralatan, mencampur adonan, hingga proses penyajian kepada konsumen. Tanpa air yang aman dan layak digunakan, kualitas dan keamanan pangan tentu akan sulit dijaga.
Hubungan antara pangan dan air bersih menjadi semakin penting di tengah tantangan perubahan lingkungan dan kebutuhan akan pangan yang aman dikonsumsi. Bagi kota yang tumbuh bersama sungai seperti Palembang, menjaga kualitas air bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga upaya menjaga keberlangsungan budaya pangan lokal.
Ketika seseorang menikmati sepotong pempek kapal selam, sesungguhnya ia sedang menikmati hasil perjalanan panjang yang dimulai dari aliran Sungai Musi hingga tiba di meja makan. Karena bagi Palembang, pempek bukan sekadar makanan. Pempek adalah cerita tentang air yang menjelma menjadi budaya.
Air Bersih Jadi Faktor Penting
Air bersih menjadi salah satu faktor penting dalam proses produksi pempek kapal selam sebagai makanan khas Palembang. Itu karena air berpengaruh terhadap kebersihan, keamanan pangan, dan kualitas produk yang dihasilkan. Sebagai makanan berbahan dasar ikan, pempek memerlukan proses pengolahan yang memperhatikan aspek kebersihan. Mulai tahap awal produksi hingga siap disajikan kepada konsumen.
“Air digunakan untuk mencuci bahan baku ikan, membersihkan peralatan produksi, mencampur adonan, hingga menjaga higienitas selama proses penyajian,” ungkap Chairul.
Chairul menambahkan, kekayaan sumber daya perairan di Palembang memungkinkan masyarakat mengembangkan berbagai jenis pempek. Memanfaatkan bagian-bagian ikan secara maksimal, termasuk daging dan kulit ikan. “Selain ketersediaan ikan sebagai bahan baku utama, kualitas air yang digunakan selama proses produksi juga menjadi faktor yang tidak dapat dipisahkan dari keamanan pangan,” ungkapnya.
Dikatakannya pula, air yang bersih membantu menjaga mutu bahan baku sekaligus mendukung proses pengolahan yang lebih higienis. Keterkaitan antara pangan dan air bersih menunjukkan bahwa keberlanjutan kuliner khas daerah tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan bahan baku, tetapi juga oleh kualitas sumber daya air yang digunakan dalam proses produksinya.
Sebagai salah satu ikon kuliner Sumatera Selatan, pempek menjadi contoh nyata bagaimana budaya, sumber daya perairan, dan kebutuhan akan air bersih saling berkaitan dalam kehidupan masyarakat Palembang sehari-hari. Di tengah meningkatnya perhatian terhadap keamanan pangan, menjaga kualitas air menjadi bagian penting dalam mempertahankan kualitas kuliner tradisional agar tetap dapat dinikmati oleh generasi mendatang.(*)



