- HUT Ke-75 Penerangan TNI AD, Integritas dalam Bekerja Harus Selalu Dijaga
- Pengembangan Karier ASN Harus Objektif dan Terukur, Percepat Penerapan Manajemen Talenta
- Yulianto Simpan 100 Butir Ineks Tengkorak, Ameng Jual Sabu di Warung Pecel Lele
- Syukuran HUT Ke-80 Kodam II/Sriwijaya, Sederhana dan Penuh Makna
- Saksi Sebut Status Cagar Budaya Sudah Ditetapkan, Baru Ada Surat Revitalisasi Pasar Cinde
Banjir Semarang Terkendali, Waspada Potensi Cuaca Ekstrem hingga Awal 2026
JAKARTA, SIMBUR – Banjir yang merendam Kota Semarang dan sekitarnya mulai terkendali. Itu setelah rangkaian upaya penanganan darurat dilakukan secara terpadu. Kendati demikian, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Dr. Suharyanto S.Sos., M.M., meminta seluruh pihak mulai dari pemerintah daerah hingga masyarakat tetap mewaspadai potensi cuaca ekstrem hingga awal tahun 2026.
“Alhamdulillah. Ini relatif lebih baik. Meski masih ada genangan sedikit-sedikit, tapi dua-tiga hari ini kita pastikan semuanya kering dan terkendali,” ungkap Suharyanto saat meninjau rumah pompa air kolam retensi Terboyo, Kaligawe, Kota Semarang, Jawa Tengah, Senin (3/11).
Menurut hasil koordinasi terpadu antara BNPB dengan unsur instansi terkait, salah satu pemicu banjir di Kota Semarang tak terlepas dari pengaruh cuaca ekstrem pada dasarian kedua Oktober 2025. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), menyatakan bulan November dan Desember 2025 hingga awal tahun 2026, masih menunjukkan adanya potensi cuaca ekstrem yang masif di Jawa Tengah.
Kepala BNPB menegaskan bahwa upaya mitigasi dan kesiapsiagaan serta kapasitas masyarakat harus ditingkatkan. Hal itu menjadi kunci agar kejadian bencana serupa tidak terjadi atau minimal dapat ditekan dampaknya di kemudian hari.
“Sudah ketemu pemicu dan penyebabnya. Penyebabnya tentu saja adalah curah hujan yang cukup ekstrem. Bahkan menurut BMKG, curah hujan ini akan berlangsung cukup masif di Jawa Tengah sampai awal Tahun 2026. Kita harus melaksanakan mitigasi dan pencegahan,” tegasnya.
Sebagai upaya mencegah dna mengurangi potensi dampak bencana yang lebih masif, pemerintah melalui BNPB, Kementerian Pekerjaan Umum dan seluruh komponen Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah telah melakukan langkah-langkah yang lebih besar secara terstruktur.
BNPB telah menggelar operasi modifikasi cuaca (OMC) selama 10 hari di wilayah Jawa Tengah demi mendukung percepatan penanganan darurat sekaligus mitigasi banjir. Bahan semai berupa Natrium Klorida (NaCl) dan Kalsium Oksida (CaO) telah ditaburkan ke bibit awan hujan demi mengurangi curah hujan di wilayah yang terdampak banjir. Harapannya, penanganan darurat dapat segera diselesaikan tanpa terganggu dengan datangnya hujan maupun banjir kiriman. “Di udara kita telah melakukan OMC dengan mengerahkan dua pesawat untuk mereduksi hujan,” jelas Kepala BNPB.
Sementara di darat, pompanisasi untuk menguras kolam retensi sebagai penampungan dan pembuangan genangan banjir terus dilakukan. Mesin pompa ditambah dan yang terkendala sudah ditangani sehingga dapat bekerja secara maksimal. “Di bawah (darat) sudah ada rencana besar untuk pengendalian banjir. Kita sudah melakukan penambahan dan perbaikan pompa yang rusak,”
Di samping itu, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah memperlebar jalur pembuangan (outlet) kolam retensi Terboyo untuk memperbesar debit air menuju laut Jawa. Hasilnya pun telah terlihat ada peningkatan kapasitas dari 20 ribu menjadi 30 ribu meter per kubik. “Kemarin yang menghambat banjir juga sudah dijebol dan dibuka sehingga hasilnya luar biasa. Yang semula airnya bisa mengalir di 20 ribu kini bisa 30 ribu meter per kubik,” terangnya.
Dari lokasi muara Sungai Sringin dan Babon, Kepala BNPB mengapresiasi seluruh kinerja komponen bangsa dalam menangani banjir yang melumpuhkan kehidupan dan penghidupan masyarakat Kota Semarang bagian utara. Penanganan yang terpadu antara pemerintah pusat dan daerah membuahkan hasil yang lebih baik.
“Semua kekuatan telah bersatu padu. Kami BNPB telah mendukung dengan OMC, pompa, peralatan dan operasional yang lain. Pemerintah daerah dan Pangdam IV Diponegoro telah menerjunkan anggotanya untuk satgas pompanisasi,” pungkasnya.
Wapres Gibran Sempat Tinjau Outlet Kolam Retensi
Sementara itu, Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming bersama Deputi Bidang Penanganan Darurat (Deputi 3) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Mayjen TNI Budi Irawan dan Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, melihat kondisi jalur pembuangan air (outlet) kolam retensi Terboyo. Tentunya itu yang menjadi salah satu faktor penyebab banjir Kota Semarang, di area pembangunan jalur tol laut Semarang, Jawa Tengah, Minggu (2/11) lalu. Peninjauan selama kurang lebih 30 menit itu dilakukan untuk memastikan pembenahan sektor hilir dan seluruh rangkaian upaya penanganan banjir di Kota Atlas itu berjalan maksimal.
Pada kesempatan itu, Wapres Gibran telah melihat seluruh komponen bangsa, baik dari pemerintah pusat dan daerah telah bersinergi dengan baik. Wapres mengapresiasi hal tersebut. Menurutnya, penanganan bencana yang telah merendam Ibu Kota Jawa Tengah selama hampir dua pekan itu harus dilakukan secara kolaboratif. “Perlu sinergi antara pemerintah pusat dan daerah, harapannya segera kita temukan solusi bersama. Terima kasih atas kerja keras selama seminggu ini,” imbuhnya.
Gibran optimis pembenahan yang dilakukan ini nantinya akan membawa dampak yang nyata bagi masyarakat Kota Semarang dan sekitarnya. Tanggul tol laut yang sedang dalam tahap proses pembangunan itu nantinya juga akan membawa manfaat sebagai penahan air laut agar tidak lagi meluap ke daratan.
Deputi 3 BNPB Mayjen TNI Budi Irawan mengatakan, proses penanganan banjir Semarang juga telah menunjukkan hasil yang lebih baik. Unit pompa portabel telah ditambah dan diawasi secara ketat agar operasionalnya berjalan optimal.
Di udara, BNPB juga tengah melakukan operasi modifikasi cuaca (OMC) untuk penanganan sekaligus mitigasi bencana banjir. Di sisi lain, pembenahan sektor hilir terus diupayakan dengan memperlebar jalur keluar air dari kolam retensi Terboyo menuju ke laut.
Genangan banjir yang merendam pun mulai terkuras hingga 65 sentimeter. Sedangkan genangan yang sebelumnya merendam Semarang bagian utara mulai surut. Jalan Raya Kaligawe pun dapat dilalui kendaraan roda dua.
“Alhamdulillah semua rencana yang kemarin kini telah terealisasi. Pompa ditambah, dijaga dan diawasi. Sementara di sektor hilir terus dibenahi. Kita juga telah melakukan OMC. Ada dua pesawat yang kita kerahkan,” ungkap Budi.
Mantan Kasdam IV Diponegoro itu optimis banjir Semarang akan teratasi dalam kurun waktu kurang dari tujuh hari ke depan. Sehingga kehidupan dan penghidupan masyarakat tidak lagi terganggu serta diharapkan semuanya kembali normal seperti sediakala.(red)



