PWI Sumsel Harus Lanjutkan SJI, Piagam Palembang Awal Sertifikasi Kompetensi Wartawan Indonesia

PALEMBANG, SIMBUR – Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) tengah mengaktifkan lagi Sekolah Jurnalisme Indonesia (SJI). Selain itu, PWI juga terus melaksanakan sertifikasi kompetensi wartawan. Mengingat, kedua program tersebut bermula dari Palembang. Hal itu diungkap Ketua Umum PWI Pusat, Hendry Ch Bangun saat melantik dan mengukuhkan Ketua Dewan Kehormatan PWI Sumsel H Ocktap Riady, Ketua PWI Sumsel Kurnaidi beserta jajaran dan IKWI Sumsel, di Griya Agung, Palembang, Senin (25/3).

“Kami berniat melakukan lagi Sekolah Jurnalisme di Palembang. Karena pada tahun 2010 SJI dimulainya di Palembang. Yang memberi kuliah perdana itu Presiden SBY. Ini sesuatu yang bersejarah, historis. Saya kira karena hanya Sumsel yang punya itu. Jadi harus dilanjutkan oleh pengurus PWI Sumsel yang sekarang. Kami tidak ada target, Sumsel yang harus ada target,” ungkap Hendry kepada pers, Senin (25/3).

Hendry menambahkan, Sumsel awalnya memang dirancang sebagai pusat pelatihan dan pendidikan wartawan Asean. Karena beberapa hal, kata dia, sangat disayangkan rencana itu tidak tercapai. “Tetapi sampai sekarang ada di dalam masyarakat pers kita, ada yang namanya Piagam Palembang. Tidak ada piagam lain selain di Palembang. Hanya ada satu, Piagam Palembang,” paparnya.

Piagam Palembang, lanjut Hendry, awal dari keluarnya peraturan Dewan Pers tentang sertifikasi kompetensi wartawan tahun 2011. Sejak itu, kata dia, dilakukan uji kompetensi wartawan di seluruh Indonesia yang sekarang jumlahnya mungkin 20 ribu lebih.

“Piagam Palembang itu mengapa penting? Karena seluruh pimpinan media massa nasional di seluruh Indonesia menandatangani kesepakatan bahwa wartawan harus disertifikasi,” tegasnya.

Hendry mengungkap, di Sumsel saat ini ada empat UKW. Pertama dari PWI Pusat bekerja sama dengan BUMN yang sifatnya gratis. Adapula dari Dewan Pers, sifatnya gratis. Kemudian ada dua kompetensi lagi kerja sama dengan pihak lain.

“Saya kira teman-teman (wartawan) yang belum uji kompetensi atau ingin meningkatkan status dari muda ke madya atau madya ke utama agar memanfaatkan uji kompetensi yang gratis ini. Kalau hitunganannya nilainya Rp2,5 juta sampai Rp3,5 juta per kepala,” urainya.

Dengan adanya sertifikasi gratis, kata Hendry, dari PWI Pusat ada 4 kelas atau 48 orang. Dari Dewan Pers ada 6 kelas atau 36 orang. “Setidaknya ada 80 lebih yang bisa ikut sertifikasi gratis. Kami dari PWI Pusat sudah berkomitmen melakukan uji kompetensi secara terus menerus sebagai program kerja kami. Begitu juga dengan Sekolah Jurnalisme Indonesia,” ujarnya.

Masih kata Hendry, sampai sekarang belum ada lagi presiden yang memberi kuliah perdana. Terakhir tahun 2023 kuliah perdana SJI di Bandung disampaikan Mendikbud Nadiem Makarim. “Kami akan menggelar kembali SJI sehingga peningkatan kapasitas di Sumsel dapat berlangsung dengan baik,” harapnya.

Hendry berharap pengurus baru PWI Sumsel ini penuh semangat. Datang dari kabupaten untuk memimpin provinsi ini sesuatu yang baru. “Memang bulan-bulan ini bulan pemilihan (Ketua PWI Provinsi). Minggu ini ada di Banten dan Kalimantan Barat. Bulan depan pemilihan di Kalimantan Timur dan DKI Jakarta,” terangnya.

Di Sumsel, kata Hendry, dari Konferprov PWI Sumsel kemarin terlihat seru. Memang wartawan berapi-api, setelahnya kembali bersatu. “Memang kabinetnya jadi gemoy ya. Seperti saya sampaikan, kabinet gemoy atau gemuk tidak apa apa, asal sehat,” candanya.

Di tempat yang sama, Pj Gubernur Sumatera Selatan Agus Fatoni menanyakan IKWI kepada ketum. Jika istri pengurus ada di sini, kata Fatoni, maka semuanya ada pengawas. Ini menunjukkan hubungan harmonis di internal keluarga. “Kalau internal keluarga harmonis akan harmonis juga di luar. Dan inilah yang terjadi di Sumsel. Saya ucapkan terimakasih kepada PWI dan media wartawan yang sudah menjaga iklim kondusif di Sumsel,” ujarnya.

Dikatakannya, Sumsel adalah provinsi yang besar. Dirinya bersyukur ternyata Sumsel mempunyai sejarah panjang terkait dengan wartawan, PWI dan jurnalistik. “Akan kami jaga agar menghasilkan prestasi yang membanggakan. Wartawan di Sumsel cukup kompak dan prestasi cukup baik,” ucapnya.

Capaian Sumsel sudah cukup menggembirakan. Ini berkat kerja sama semua pihak, kerja keras semua. Pertumbuhan ekonomi di Sumsel mencapai 5,68 persen dan menjadi nomor dua tertinggi di Sumatera. Inflasi juga terkendali berkisar 3,17 persen, IPM juga tinggi 3,14 persen dan tingkat pengangguran 4,11 persen. “Penurunan stunting tertinggi di tingkat nasional. Sengaja kami sampaikan ini agar bisa menangani permasalahan yang dihadapi bersama,” ungkapnya.

Fatoni berharap kerja sama dapat terus dilakukan antara Pemprov dan PWI Sumsel. Kami siap bersinergi membangun Sumsel. Terima kasih atas penghargaan yang diberikan. Ini penghargaan yang kedua bagi saya dari wartawan. Saat di Sumsel dan Sulawesi Utara. Ini menambah komitmen saya untuk terus memajukan pers Indonesia,” tegasnya.

Menurut dia, peran wartawan sangat penting karena pemberitaan dan informasi bisa disebar dari media. “Maka peran media dalam memberikan edukasi dan informasi yang positif, memberikan dukungan positif sehingga menjadikan Sumsel semakin kondusif,” tutupnya. (maz)