- Tetesan Air Sumber Kehidupan, Wujud Kepedulian Kasad di Brigif 8/GC
- Hadapi Medan Sulit, Tinjau Pembangunan Jembatan Gantung Koala Dua Belas
- Lumbung Energi Jadi Beban Moral, Layanan Listrik di Sumsel Harus Lebih Baik
- Jalan Berlumpur Jadi Ajang Berfoto Warga Desa
- Banjir Rendam Bayung Lencir, Warga Terisolasi dan Butuh Bantuan
Belum Hapus Seluruh Hotspot, Hujan di Sumsel Masih “Spot-spot”
PALEMBANG, SIMBUR – Hujan di sejumlah wilayah Sumatera Selatan dikabarkan telah menurunkan jumlah titik api (hotspot). Meski demikian, hujan yang tidak merata membuat belum seluruhnya hotspot hilang. “Iya sudah menurunkan jumlah hotspot. Namun belum keseluruhan. Utamanya di OKI. Hujannya masih spot-spot, belum merata,” ungkap Wandayantolis, kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumsel kepada Simbur, Jumat (20/10).
Dayan, sapaan Wandayantolis menambahkan dalam keterangan tertulisnya, curah hujan di sebagian besar wilayah Sumatera Selatan pada dasarian II Oktober 2023 berada pada kategori rendah (0-50 mm), sebagian kecil wilayah Musi Rawas, Banyuasin, Muara Enim, Ogan Komering Ilir, OKU Timur, Lahat dan Empat Lawang, berada pada kategori menengah (50-150 mm). “Curah hujan tertinggi terukur di Pos Hujan Kikim Selatan, Kec. Kikim Selatan, Kabupaten Lahat sebesar 91 mm,” ungkapnya.
Lanjut dia, sifat hujan pada dasarian II Oktober 2023 di sebagian besar wilayah Sumatera Selatan berada pada kategori Bawah Normal. Kecuali sebagian Empat Lawang, sebagian kecil wilayah Lahat, Musi Rawas, Musi Banyuasin, Banyuasin, Muara Enim, PALI, Ogan Ilir, OKU, OKU Timur dan OKI, berada pada kategori Normal. “Sementara sebagian kecil OKI dan Lahat, berada pada kategori atas normal,” paparnya.
Monitoring Hari Tanpa Hujan (HTH), tambah Dayan, berturut-turut menunjukkan sebagian kecil wilayah Lubuk Linggau, PALI, Muara Enim, OKU Selatan, Palembang dan Banyuasin, mengalami HTH dengan kategori sangat pendek (1-5 hari). Sebagian kecil wilayah Musi Banyuasin, Lahat, Muara Enim, OKU, OKI dan Ogan Ilir, mengalami HTH dengan kategori pendek (6-10 hari), sebagian kecil wilayah Musi Banyuasin, Musi Rawas dan Muara Enim, mengalami HTH dengan kategori panjang (21-30 hari).
Sedangkan HTH dengan kategori sangat Panjang (31 – 60 hari) terjadi sebagian wilayah Banyuasin, Ogan Ilir, sebagian kecil OKU dan OKU Selatan. “Sebagian besar wilayah Sumatera Selatan terjadi hujan saat pemutakhiran data,” ungkapnya seraya menambahkan, HTH terpanjang terukur di Eks SMPK Tanjung Raja, Kec. Sungai Pinang, Kabupaten Ogan Ilir selama 56 hari.
Terkait dinamika atmosfer, pada dasarian I Oktober 2023, indeks ENSO sebesar +1.57, sedangkan Indeks IOD sebesar +2.15. Kondisi IOD Positif diprediksi bertahan hingga akhir tahun 2023, sedangkan El Nino Moderat diprediksi terus bertahan hingga Februari 2024. Aliran massa udara di wilayah Indonesia didominasi oleh angin timuran.
Pola angin relatif sama dengan normalnya. Aliran massa udara diprediksi masih didominasi oleh angin timuran dengan kecepatan yang melemah. MJO tidak aktif, diprediksi tetap tidak aktif hingga pertengahan dasarian II Oktober 2023. “Seluruh wilayah Sumatera Selatan berpeluang lebih dari 90% terjadi curah hujan dengan kategori rendah (0-50 mm) dengan sifat hujan bawah normal,” tegasnya.
Dikonfirmasi terpisah mengenai penurunan hotspot saat hujan, Plt Kepala Dinas Kominfo Kabupaten Ogan Komering Ilir, Adiyanto mengatakan bahwa di wilayah tersebut sudah turun hujan. “Hujan deras,” ungkapnya melalui pesan WhatsApp.
Demikian diungkap Kepala Dinkominfo Musi Banyuasin, Herryandi Sinulingga AP. Dirinya mengatakan, di wilayah tersebut, meski sudah turun hujan, personel gabungan tetap berjibaku memadamkan api akibat karhutla dan kabut asap yang menyelimuti Sekayu. “Kemarin hujan. Petugas masih berjibaku memadamkan kebakaran karena ada saja titik api,” ujarnya.
Diketahui, BMKG Sumsel juga telah merilis imbauan. Bahwa di wilayah Sumatera Selatan masih dalam periode musim kemarau dan mulai memasuki masa peralihan musim kemarau ke musim hujan. Curah hujan yang turun pada dasarian III Oktober diprakirakan masih dalam kategori rendah dan sifat hujan di bawah normal.
Potensi terjadinya titik panas (hotspot) di wilayah Sumatera Selatan masih sangat besar. Masyarakat diharapkan terus waspada dan berhati-hati terhadap dampak yang timbul selama periode peralihan, seperti hujan disertai angin kencang, serta selalu menjaga lingkungan dari potensi bahaya kebakaran hutan dan lahan.(red)



