Kemarau di Sumsel Tiba Lebih Awal, Lebih Kering saat Terjadi Perubahan Iklim

PALEMBANG, SIMBUR – Perubahan iklim (climate change) di Indonesia, khususnya Sumatera Selatan dapat dilihat dari pola hujan yang mengalami penurunan. Hal itu diungkap Wandayantolis, Kepala Stasiun Klimatologi dan Koordinator BMKG Provinsi Sumatera Selatan.

Menurut Dayan, sapaan Wandayantolis, perubahan iklim tercermin pada perubahan pola iklim. Untuk Indonesia, kata dia, berdasarkan proyeksi, perubahan iklim terlihat dari pola hujan yang menurun. “Secara umum perubahan iklim menyebabkan musim kemarau menjadi lebih kering dan musim hujan menjadi lebih basah,” paparnya kepada Simbur, Kamis (9/3).

Dayan menerangkan, perkembangan iklim Sumatera Selatan menunjukan bahwa musim hujan 2022/2023 diprediksi berakhir pada Maret 2023. Selanjutnya, akan memasuki fase masa musim peralihan pada akhir Maret hingga April mendatang.

Dia menerangkan, seiring update perkembangan dinamika atmosfer yang terjadi secara global, elnino diprediksi akan terjadi pada Mei hingga September 2023 dengan potensi 50 – 60 persen. “Prakiraan awal musim kemarau tahun ini diprediksi akan tiba lebih awal, 10-30 hari dibandingkan dengan normal klimatologisnya,” terangnya.

Dayan merincikan, sebagian besar wilayah Sumatera Selatan akan memasuki awal musim kemarau diprediksi pada Mei Dasarian II. Di antaranya di Kota Palembang, Ssebagian Banyuasin, sebagian Musi Banyuasin, Ogan Ilir, OKI, OKU Timur, Muara Enim, PALI dan Prabumulih Timur serta Empat Lawang.

Sebagian wilayah Sumatera Selatan bagian barat dan pesisir timur diprediksi akan memasuki awal kemarau pada Juni Dasarian I. Seperti Sebagian Muara Enim, Lahat, Musi Rawas, Muratara, MUBA, Banyuasin Pesisir Pantai, OKU Timur, OKU, OKI, Kota Pagaralam dan OKU Selatan.

“Sifat hujan pada musim kemarau tahun 2023 hampir seluruh Provinsi Sumatera Selatan diprediksi di bawah normal atau lebih kering dari biasanya,” ujarnya.

Dikatakannya pula, sebagian besar wilayah barat Sumsel diprediksi akan mengalami puncak musim kemarau pada Juli 2023. Untuk wilayah tengah ke timur Sumsel diprediksi akan mengalami puncak pada Agustus mendatang.

“Kemarau di Sumsel umumnya akan disertai kemunculan hotspot pemicu kebakaran hutan dan lahan. Agar masyarakat menghindari kegiatan yg dapat memicu terjadinya kebakaran,” imbaunya.

Lanjut dia, kemarau juga akan menurunkan tingkat kualitas udara karena minimnya hujan yang berfungsi sebagai pencuci udara. “Penurunan kualitas udara akan diperparah jika karhutla meluas,” tutupnya. (red)