- Rindam II/Sriwijaya Gembleng 365 Calon Prajurit Siswa di Lahat
- Satu Korban Tewas akibat Gempa M 6,7 di Sulawesi Tengah
- Nilai-Nilai Perjuangan Jenderal Bambang Utoyo, Tegaskan Integritas, Niat Murni, dan Kesederhanaan sebagai Teladan Bangsa
- Keok Praperadilan, Dua Beranak Tersangka Suap Proyek Irigasi di Muara Enim Dilimpahkan ke Pengadilan
- Pulang Ibadah Haji, Pejabat Bank Tersangka Korupsi KUR di OKU Timur Susul Dua Rekannya Masuk Bui
Simbur Academy Sukses Digelar, Workshop Jurnalisme AI dan Climate Change Efektif Edukasi Pelajar
Dilanjutkannya, kembali melansir hasil survei Reuters dan Oxford, saat masa sulit seperti sekarang, menyuarakan pendapatan media dari monetasi dan harga iklan saja tidak cukup. “Publik mengharapkan media pers untuk berbicara lebih banyak tentang misi dan kualitas jurnalisme. Terkait isu-isu spesifik seperti dampak perang dan darurat perubahan iklim,” jelasnya.
Hasil penelitian tersebut, lanjut dia, tercatat lebih dari 72 persen produk berita global mulai kembali mengembangkan posisi media massa yang lebih mengedepankan prinsip-prinsip jurnalistik. “Media massa (pers) tetap menitikberatkan pada misinya untuk memberdayakan produk jurnalistik sebagai bentuk dukungan kepada masyarakat. Menjadi pelindung publik yang tak mengenal rasa takut sebagai jurnalisme independen,” harapnya.
Beberapa tahun terakhir, kata dia lagi, banyak terjadi peristiwa cuaca ekstrem sebagai tanda terjadinya perubahan iklim di seluruh dunia. Di antaranya gelombang panas di China, krisis pangan dan ancaman kelaparan di Somalia dan Ethiopia, serta kebakaran hutan di California dan bencana kekeringan di seluruh Eropa. Belum lagi banjir bandang di Pakistan. Di Indonesia, bencana hidrometeorologi seperti banjir dan longsor, gempa bumi, dan erupsi gunung api kerap mewarnai lembaran headline di berbagai media arus utama dan rintisan.



