- Jaksa Sita Truk dan Alat Berat Perusahaan Terkait Korupsi Distribusi Semen
- Pejabat Bank Tersangka Korupsi KUR di OKUT Tidak Ditahan karena Akan Menjalankan Ibadah Haji
- Diduga Menghalangi Penyidikan Kasus Korupsi, Staf Ahli Bupati Muba dan Oknum Pengacara Jadi Tersangka
- Sinergi Hadapi Musim Kemarau, Apel Karhutla Sumsel Bakal Digelar di Kampung Nelayan Sungsang pada 6 Mei 2026
- Resmi Dilantik, 325 Bintara Remaja TNI AD Siap Mengabdi untuk Negeri
Simbur Academy Sukses Digelar, Workshop Jurnalisme AI dan Climate Change Efektif Edukasi Pelajar
Dilanjutkannya, kembali melansir hasil survei Reuters dan Oxford, saat masa sulit seperti sekarang, menyuarakan pendapatan media dari monetasi dan harga iklan saja tidak cukup. “Publik mengharapkan media pers untuk berbicara lebih banyak tentang misi dan kualitas jurnalisme. Terkait isu-isu spesifik seperti dampak perang dan darurat perubahan iklim,” jelasnya.
Hasil penelitian tersebut, lanjut dia, tercatat lebih dari 72 persen produk berita global mulai kembali mengembangkan posisi media massa yang lebih mengedepankan prinsip-prinsip jurnalistik. “Media massa (pers) tetap menitikberatkan pada misinya untuk memberdayakan produk jurnalistik sebagai bentuk dukungan kepada masyarakat. Menjadi pelindung publik yang tak mengenal rasa takut sebagai jurnalisme independen,” harapnya.
Beberapa tahun terakhir, kata dia lagi, banyak terjadi peristiwa cuaca ekstrem sebagai tanda terjadinya perubahan iklim di seluruh dunia. Di antaranya gelombang panas di China, krisis pangan dan ancaman kelaparan di Somalia dan Ethiopia, serta kebakaran hutan di California dan bencana kekeringan di seluruh Eropa. Belum lagi banjir bandang di Pakistan. Di Indonesia, bencana hidrometeorologi seperti banjir dan longsor, gempa bumi, dan erupsi gunung api kerap mewarnai lembaran headline di berbagai media arus utama dan rintisan.



