Narkoba, Korupsi, dan Terorisme Jadi Musuh Besar Setiap Negara

PALEMBANG, SIMBUR – Dialog publik War On Drugs digelar tema optimalisasi peran Badan Narkotika Nasional (BNN), Komisi Pemberatasan Korupsi (KPK) RI, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) RI dan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) RI dalam kompleksitas penanganan permasalahan narkoba, terorisme dan korupsi. Kegiatan   berlangsung di auditorium lantai 7 gedung Presisi Mapolda Sumsel, Rabu (1/3) sekitar pukul 13.00 WIB.

Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN), Komjen Pol Dr Petrus Reinhard Golose, dalam paparan singkatnya menjelaskan BNN telah mengambil langkah khusus dalam menangani penyebaran narkotika di daerah-daerah di Indonesia. Dia juga menyebut  musuh bersama saat ini tidak hanya narkoba saja namun juga aksi terorisme dan korupsi.

“Ketiga permasalahan yang dibahas saat ini merupakan persoalan yang penting dan musuh bagi setiap negara. Kami terus melakukan poin khusus yakni pencegahan dan pengobatan dalam upaya pemberantasan,” paparanya.

Fokus utama dari pemberantasan narkotika juga diperhatikan dari jalur edarnya, dimana Petrus meyebut pihaknya selalu mengutamakan dan mengawasi terlebih dahulu pada jalur perairan di Indonesia, dimana jalur perairan selalu menjadi sasaran empuk bagi pengedar narkotika dari berbagai negara.

Pada pertengahan Tahun 2022 lalu  lanjut Petrus,  BNN RI telah menangkap Warga Negara Asing (WNA) yang tengah melalukan perjalanan diperairan Indonesia tepatnya di Zona Ekonomi Ekslusif membawa banyak barang bukti  Narkoba.

“Baru-baru kami menagkap jaringan internasional di perairan Zona Ekonomi Eksklusif. Jalur laut atau perairan selalu rawan terhadap penyebaran narkotika. Kami sangat memberikan perhatian khusus pada persoalan ini,” katanya.

Dia juga menyebut dari data 2021 hingga awal 2023 BNN telah mengamankan barang bukti narkoba berupa   5,665 ton sabu, 6,45 ton ganja, 456.475 Pil Ekstasi, 276,6 ton ganja basah, dan 125,9 hektare lahan ganja yang tersebar di Indonesia. Sedangkan berdasarkan data,  Sumsel memiliki 714 wilayah yang rawan narkoba. Meski demikian Petrus mengapresiasi pihak penegak hukum TNI/Polri yang telah banyak mengungkap kasus narkotika.

“Dengan melaksanakan strategi War On Drugs hari ini diharapkan Indonesia bersih akan narkoba dan para peserta dialog menjadi duta-duta anti narkoba yang bekerja sama dengan kami, saya juga mengapresiasi aparat di Sumsel yang telah banyak berhasil mengungkap kasus narkotika,” tandasya.

Petrus menegaskan pihaknya bersama Polda Sumsel, DPRD Sumsel bersama-sama menyelenggarakan ini untuk  menyelematkan anak bangsa dari kejahatan narkotika ini. “Mari bersama perangi masalah narkotika, sehingga melahirkan anak bangsa yang lebih baik dari semua,” harapnya.

Ketua KPK Firli Bahuri mengatakan  bahwa kaloborasi ini,  mempunyai tujuan yang sama, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa hingga Indonesia bebas korupsi. “Selain itu juga kami inginkan Indonesia bebas dari narkoba, termasuk paham radikalisme, maka dengan begitu kita akan tatap masa depan yang cerdas dan maju,” seru ketua KPK.

Firli mengatakan kegiatan dialog dan diskusi tersebut didasari dengan kepentingan dan tujuan  bersama dalam memberantas  yang menjadi musuh negara. “Kita ada di sini mempunyai kepentingan dan tujuan bersama, permasalahan bangsa. Salah satunya korupsi. Tidak ada suatu negara mencapai tujuan jika tidak bisa memberantas poin-point besar yang membuat negara gagal salah satunya korupsi,” ujarnya.

Kepala Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) RI, Drs. Hasto Atmojo Suroyo,  dalam paparannya menegaskan  pihaknya terus melakukan perlindungan terhadap kasus-kasus kriminal di Indonesia. Terutama Terorisme, Korupsi, Perdagangan Manusia, Narkotika da masih bayak yang lainnya.

“Lembaga kami dibentuk 2008  karena ada tindak pidana yang besar terutama korupsi terjadinya saksi yang tidak berani memberikan kesaksiannya ini kami bina dan memberi perlindungan,” ujarnya.

Sementara Deputi Bidag I Pencegahan Perlindungan dan Derakalisasi BNPT RI, Mayjen. TNI. Nisan Setiadi dalam paparan singkatnya menegaskan tindak terorisme dan radikal merupakan bukan berasal dari suatu agama. “Ada banyak ciri-ciri radikalisme dan terorisme salah satunya mereka yang tidak menyukai budaya dan ini saya tegaskan bukan dari suatu agama tidak ada agama yang mengajari tindak kriminal yang kejam,” katanya.

Nisan mengatakan pihaknya memaksimalkan pengawas  terhadap teror-teror global. “Mengawasi potensi teror-teros global yang menjadi sasaran empuk para terorisme ini yang kami fokuskan dan kerjasama bilateral dengan beberp negara kai lakukan dan dibantu banyak kementrian lembaga di Indonesia,” jelasnya.

Gubernur Herman Deru  secara khusus menyambut baik digelarnya dialog publik dengan tajuk  War On Drugs  tersebut yang merupakan salah satu langkah konkret dalam mencegah   peredaran narkoba, aksi terorisme dan praktik korupsi. Terlebih Sumsel dipercaya menjadi tuan rumah diadakannya dialog publik tersebut.

“Suatu kehormatan bagi masyarakat Sumatera Selatan. kegiatan hari ini  kita akan ulas  satu persatu bersama dengan pimpinan lembaga dan badan penting di Negeri ini,” ucap Gubernur.

Melalui dialog dan diskusi tersebut, Herman Deru berharap para pimpinan lembaga negera  tersebut   dapat  memberikan  rekomendasi penting  bagi  pemangku kepentingan yang ada di daerah  utamanya dalam memberikan pemahaman  pada masyarakat terkait dengan bahaya  narkoba, terorisme, dan korupsi. “Kami  berharap ini dapat menghasilkan rekomendasi kepada kami pemerintah di daerah, yang nantinya akan  menjadi dasar dalam melakukan  pembinaan dan sosialisasi pada masyarakat,”  tambahnya.

Terkait dengan  upaya pencegarahan peredaran narkoba di wilayah Sumsel, Herman Deru secara khususnya berharap agar ke empat lembaga negara non departeman   itu dapat memberikan solusi dalam  memberantas narkoba di Sumsel. Mengingat daerah ini  sangat banyak jalur perairan anak sungai yang  patut diwaspadai karena dimungkinkan akan dimanfaatkan oknum untuk memasok narkoba  ke Sumsel. “Sumsel bayak anak sungai yag membuat kita kesulitan dalam mendeteksi narkoba yang masuk apalagi  jenis narkoba sudah banyak bahkan ada yang menyerupai tawas atau lain-lainnya,” imbuhnya.

Lebih jauh  Herman Deru menilai, stabilnya pertumbuhan ekonomi di Sumsel membuat para pengedar narkoba memilih Sumsel sebagai pangsa pasar karena itu pihak BNN diharapkan dapat  bisa memberikan stategi  khusus kepada pimpinanan daerah  dalam menditeksi peredaran narkoba yang menyasar kalangan remaja.

“Sejalan dengan pertumbuhan ekonomi Sumsel  yang kian membaik. Menjadikan besarnya  potensi para pemakai narkoba bertambah. Karena itu kami rasa BNN perlu memberikan tips deteksi dini pada anak-anak mulai dari dalam  keluarga. Disamping sudah  bentengi mereka dengan kegiatan ibadah keagamaan,” tandasnya.

Kapolda Sumsel Irjen Pol A Rachmad Wibowo SIk mengatakan,  kegiatan dialog War On Drugs merupakan inisiasi dari empat lembaga dari BNN, KPK, BNPT, LPSK dalam upaya memerangi tindak pidana korupsi, perlindungan saksi dan terorisme. “Kegiatan ini sangat positif, apalagi empat kepala lembaga negara turun untuk mensukseskan kegiatan ini. Kami harapkan banyak hal yang kita peroleh dari kegiatan yang diadakan ini,” cetusnya. (nrd/kbs)