Kenalkan Kendaraan Tempur dan Senjata Militer agar Anak Lebih Cinta Tanah Air

 

PALEMBANG, SIMBUR – Perkembangan global teknologi digital kian merambah dunia anak usia dini. Salah satu dampak yang ditimbulkan akibat tren penggunaan android dan/atau playstore, yakni maraknya aplikasi game perang tank yang dibuat pengembang luar negeri namun disukai anak-anak.

Tak heran bila puluhan bocah gembira karena kembali dapat menyerbu markas tentara. Mereka berhasil “menguasai” kendaraan tempur dan senjata militer. Anak-anak usia dini yang ada di Kota Palembang dan sekitarnya merasa senang, bisa mendapat edukasi lagi mengenai kendaraan tempur dan senjata militer yang jarang dijumpai selama masa pandemi. Kunjungan murid TK/PAUD Raudhatul Athfal se-Kota Palembang ke Kompi Kavaleri 5/Graha Ceta Cakti (Kikav 5/GCC) Kodam II/Sriwijaya berlangsung Kamis (2/3).

Dikonfirmasi, Kapendam II/Sriwijaya, Kolonel Kav Rohyat Happy Ariyanto SSos MM menjelaskan, pihaknya menyambut baik kegiatan edukasi pengenalan kendaraan tempur dan senjata militer kepada anak usia dini. “Agar anak-anak lebih mencintai tanah air. TNI harus lebih dekat dengan rakyat dan selalu di hati rakyat,” ungkap Kapendam kepada Simbur.

Sementara, Komandan Kompi Kavaleri 5/GCC Kapten Kav Doni Prasetyo melalui Binter Kikav 5/GCC, Sertu Mirza R, menjelaskan, kegiatan tersebut merupakan upaya TNI AD kecabangan kavaleri dalam memberikan edukasi kepada anak yang dilakukan sejak dini. “Anak sekarang sering bermain game perang tank. Melalui kegiatan ini, anak bisa langsung tahu tank dan panser yang ada dan dimiliki Tentara Nasional Indonesia,” ungkap Mirza.

Selain itu, kata Mirza, kegiatan ini diharapkan mampu mengenalkan kepada anak tentang tentara, khususnya di kecabangan kavaleri. “Kami juga beri wawasan kebangsaan agar anak lebih cinta terhadap tanah air,” ujarnya.

Masih kata Mirza, pihaknya berharap kegiatan edukasi tersebut dapat membangun karakter anak dan lebih mencintai tanah air melalui pengenalan ranpur dan alutsista yang dimiliki TNI AD. “Sama-sama bisa membentuk karakter anak agar lebih disiplin, berjiwa patriot dan cinta tanah air,” imbuhnya.

Mirza menambahkan, ada 5 unit dari 3 jenis kendaraan tempur yang diturunkan saat kunjungan siswa. “Ranpur yang diturunkan ada 5 unit. Terdiri 1 panser APR, 1 Tarantula, dan 3 Anoa. Kami perkenalkan bergantian. Sementara, untuk senjata militer, ada SM-5, SM-2, STG-3, G2 Combat dan lainnya,” terangnya.

Meski demikian, dia juga mengimbau orang tua yang mendampingi agar dapat mememercayakan anaknya kepada tentara. “Kami kasih imbauan kepada orang tua agar memercayakan kepada tentara agar anak bisa fokus dan lebih mandiri,” paparnya.

Mengenai keselamatan, lanjut Mirza, personel dikerahkan melakukan pengamanan berlapis guna menghindari risiko dan hal yang tidak diharapkan. “Karena ini kendaraan lapis baja, semua harus safety. Mulai dari area yang kami amankan. Kami beri personel agar anak dan orang tuanya yang naik (panser) lebih aman. Alhamdulillah selama ini tidak ada masalah,” tegasnya.

Terpisah, Putri (25) anggota Persit Kikav 5/GCC mengaku senang dengan adanya kunjungan siswa ke asrama kompi kavaleri. Menurut dia, dampak positifnya, istri tentara bisa membuka lapak dan menjual dagangan. “Kegiatan ini banyak dampak positifnya. Terutama ekonomi yang bisa digerakkan di lingkungan kompi kavaleri. Untuk kunjungan setahun ini mungkin digelar paling dua bulan. Kalau bisa rutin sebulan sekali,” harapnya tersenyum.

Sementara, Mey, warga Talang Keramat Banyuasin saat mendampingi anaknya Arkan (5), siswa RA Madani pun mengaku senang dengan edukasi ranpur kepada anak usia dini. “Senang. Baru kali ini ikut. Biar anak senang dan melatih mental agar lebih berani,” ujarnya.

Pantauan di lapangan, ada 11 unit kendaraan tempur yang diasramakan di Kikav 5/GCC. Untuk jenis panser APR yang berfungsi mengangkut personel. Memiliki berat 5,2 ton dengan kecepatan 100 meter/jam, radius putaran 9,2 meter, dan kaca anti peluru setebal 30 mm. Ranpur APR ini diketahui sebagai cikal bakal panser Anoa.

Selanjutnya, panser Anoa sendiri menampung 13 orang, terdiri dari 3 personel (komandan, pengemudi, dan penembak) yang dilengkapi 10 personel penyerbu. Ranpur paling besar jenis panser Tarantula dengan ukuran 6,8 X 2,7 X 3 meter dan berat 18 ton. Panser ini hanya memuat 3 orang karena padat dilapisi baja dengan senjata utama Kanon 90 mm.(maz)

Posted in TNI