- Lima Pendaki Terluka akibat Letusan Gunung Api Dukono
- Bertambah 3 Tersangka Baru, Total 10 Orang Terjerat Kasus Korupsi KUR Bank Daerah di Semendo
- Jaksa Beri Waktu Bos Perusahaan Sawit Satu Bulan Kembalikan Sisa Uang Rp219 Miliar dari Total Kredit Fiktif Rp1,4 Triliun
- Tabrakan Maut Bus versus Truk Tangki, 16 Korban Tewas Diidentifikasi di Palembang
- PWI Pusat dan Mahkamah Agung Bahas Pedoman Media Massa dan Media Sosial Peradilan
Prajurit Marah Jaga Marwah, Pengamat: Tidak Ada Asap Tidak Ada Api
JAKARTA, SIMBUR – Pengamat Politik Universitas Al-Azhar Ujang Komarudin mengatakan prajurit ingin menjaga harkat dan martabat institusinya. Oleh karenanya, wajar jika prajurit TNI marah dan bereaksi keras merespon tuduhan Effendi Simbolon. “Sudah benar apa yang dilakukan prajurit-prajurit itu menjaga harkat dan mertabatnya. Memang marwah TNI harus dijaga. Artinya institusi TNI harus dijaga. TNI punya harga diri,” ujar Ujang Komarudin, Jumat (16/9).
Selanjutnya Ujang menegaskan tidak boleh TNI dilecehkan dan diprovokasi. Selain sebagai salah satu simbol persatuan dan kesatuan bangsa, TNI sudah banyak berkontribusi kepada bangsa dan negara ini. “TNI selama ini banyak berjasa pada bangsa dalam rangka menjaga NKRI dan kedaulatan negara. Kita tidak ragu soal itu, kita sepakat itu,” katanya.
Sebaliknya pengamat yang rajin mengikuti perkembangan politik tanah air ini menyayangkan sikap Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa yang tidak bereaksi dan merespons soal tudingan TNI gerombolan seperti yang disampaikan Effendi Simbolon tersebut. Padahal TNI, dianggap tengah dilecehkan, sebelum Effendi Simbolon pada akhirnya meminta maaf. “Marwah TNI harus dijaga. Artinya institusi TNI harus dijaga. TNI punya harga diri,” ujar Pengamat Politik Universitas Al-Azhar itu.
Ditanya apakah diamnya Jenderal Andika terkait kepentingan pribadi Andika menjelang 2024, Ujang mengatakan, hal itu masih terlalu jauh. Menurut Ujang, selain elektabilitasnya rendah, Andika akan pensiun sebagai Panglima TNI pada Desember 2022. “Pak Andika akan habis masa jabatannya Desember 2022. Kalau tidak punya power, tidak punya kekuasaan dan tidak punya jabatan, itu akan sulit juga untuk menjadi capres yang diperhitungkan. Terlebih elektabilitasnya belum ada juga. Dia mau jadi capres masih panjang perjuangan, kecuali kalau dia pensiunnya masih lama. Tapi, ini Desember sudah pensiun. Jadi agak berat,” katanya.
Ujang berharap, pelecehan kepada TNI seperti yang disampaikan Effendi Simbolon harus menjadi pelajaran bagi semua pihak. Kejadian serupa tidak boleh terulang lagi. “Agar tidak terulang kejadian ini, kan kalau tidak ada asap tidak ada api. Jadi tidak akan ada respons kalau tidak ada pernyataan. Dan jangan ada politisi yang membuat statement yang membuat gaduh, itu saja sebenarnya. Kalau tidak ada pernyataan itu kan tidak akan ada respons dari tentara,” katanya.
Diberitakan sebelumnya, Effendi Simbolon sudah meminta maaf kepada Panglima Andika dan Kasad Jenderal Dudung. Mereka sudah saling memaafkan satu sama lain.(rel/smsi)



