Di Palembang, Presiden Jokowi Disambut Hujan Lebat

PALEMBANG, SIMBUR – Hujan lebat menyambut kedatangan Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo di Palembang, Sumatera Selatan, Selasa (26/1). Kunjungan kerja Presiden di Kota Palembang dalam rangka Peresmian Jalan Tol Kayuagung-Palembang-Betung Ruas Kayuagung-Palembang (Kramasan).

Hujan tak kunjung henti saat Presiden Jokowi beserta rombongan tiba di Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II Palembang sekitar pukul 09.00 pagi. “Hujan lebat mengguyur Kota Palembang ketika saya mendarat di Bandar Udara Sultan Mahmud Badaruddin II sekitar pukul sembilan pagi. Saya mengimbau agar kita semua senantiasa meningkatkan kewaspadaan terhadap cuaca ekstrem, baik hujan lebat dan lainnya, dan selalu memperhatikan peringatan dini mengenai cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika,” tulis Presiden Jokowi di akun media sosialnya.

Dikonfirmasi, Kepala Stasiun Meteorologi SMB II Sumsel, Desindra Deddy Kurniawan membenarkan bahwa Palembang, Sumatera Selatan saat ini tengah memasuki puncak musim hujan. Dikatakan Desindra, kondisi cuaca demikian diprediksi berlangsung hingga Maret mendatang. “Saat ini kita memang memasuki puncak musim hujan sampai bul Maret,” ujar Desindra kepada Simbur, Selasa (26/1).

Desindra mengimbau agar masyarakat selalu mewaspadai cuaca ekstrem yang dapat menyebabkan terjadinya bencana hidrometeorologi. “Agar masyarakat selalu waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologi selama memasuki puncak musim hujan ini,” imbaunya.

Sebelumnya, Desindra mengatakan, hujan lebat sampai bulan Maret terjadi karena faktor MJO atau fenomena atmosfer dari barat ke timur. “Ada konvergensi pertemuan angin dan awan yang membuat hujan lebat di Sumsel,” ungkapnya.

Menurut Desindra, hujan lebat tiga bulan ke depan diprediksi berpotensi banjir dan longsor. “Banyak faktor banjir ini. Tergantung dari topografi juga drainese. Bila hujan lebat, dataran rendah tentu akan tergenang, kalau drainese tersumbat juga bisa menyebabkan banjir,” jelasnya.

Sementara itu, Badan Meteorologi  Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat  sebagian  besar  wilayah Indonesia yaitu 94 persen dari 342 zona musim saat ini telah memasuki puncak musim hujan  seperti yang telah diprediksikan sejak Oktober  2020.

“Kami mengimbau masyarakat dan seluruh pihak untuk tetap terus mewaspadai potensi cuaca ekstrem yang cenderung meningkat dalam periode puncak musim hujan ini,” kata  Kepala  BMKG  Dwikorita  Karnawati, Sabtu  (23/1) lalu.

Deputi   Bidang  Meteorologi  Guswanto  mengatakan,  peningkatan tren curah hujan ekstrem ini selain dipicu fenomena dan/atau gangguan skala iklim,  dikaitkan juga sebagai dampak perubahan iklim. “Dari pengamatanBMKG walaupun curah hujan berada pada tingkat sedang namun masih berpotensi menimbulkan bencana hidrometeorologi. Hal ini tergantung pada daya dukung lingkungan dalam merespons kondisi curah hujan,” katanya.(kbs)