Setelah Pandemi Covid-19, Universitas Harus Dapat Bertahan

PALEMBANG, SIMBUR – Mahasiswa akan memiliki kekuatan untuk membuat universitas bangkrut jika tidak dapat memenuhi harapan mereka setelah masa pandemi Covid-19. Tenaga pendidik di Amerika Serikat telah memperingatkan hal tersebut melalui laporan penelitian tentang masa depan pendidikan tinggi.

“Sekolah pemikiran baru: model inovatif untuk pendidikan tinggi” diproduksi oleh Economist Intelligence Unit (EIU) dan didanai Qatar Foundation (QF). Laporan tersebut telah menguraikan bagaimana institusi pendidikan tinggi harus beradaptasi untuk dapat bertahan hidup. Terutama saat perguruan tinggi menghadapi berkurangnya dana publik setelah pandemi Covid-19.

Ketika laporan ini diluncurkan, diskusi panel EIU yang disponsori oleh QF melihat para pakar pendidikan dari tiga benua. Mereka mengeksplorasi temuannya dan berbagi pandangan tentang masa depan pendidikan tinggi.

Ben Nelson, pendiri sekaligus CEO Minerva Schools di Keck Graduate Institute mengatakan, mahasiswa memiliki tanggung jawab yang luar biasa tahun ini. Untuk pertama kalinya dalam memori hidup, mahasiswa memiliki kemampuan membawa lembaga-lembaga pendidikan tinggi ke arah kebangkrutan.

Menurut Nelson, mahasiswa dapat memilih dengan cara yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Mereka dapat memilih untuk keluar dari perguruan tinggi. Hal itu tentu benar-benar dapat menutup sebuah institusi. Untuk pertama kalinya, lanjut dia, peran mahasiswa menjadi mitra penentu.

“Mahasiswa menentukan apa yang harus dilakukan universitas dan mana yang harus memiliki hak untuk melayani mereka di masa depan,” ungkap Nelson sembari mengungkap, ketika masyarakat dan mahasiswa berinteraksi dengan institusi namun mereka tidak mendapatkan apa yang telah dibayarkan, tentu akan ada perhitungan bagi perguruan tinggi.

Mary Schmidt Campbell , Presiden Spelman College mengatakan, kemitraan akademik sangat penting saat ini. Lembaga harus berhenti menjadi begitu berharga, lalu bungkam dan diasingkan. “Semua orang mendapat manfaat dari kolaborasi. Akan tetapi, dibutuhkan pola pikir yang sangat berbeda dengan apa yang dimiliki sekarang. Jika kembali pada mode pemasaran dan kompetisi, tidak akan sampai ke mana pun,” terangnya.

Dan Francisco Marmolejo , penasihat pendidikan Qatar Foundation mengatakan, lembaga pendidikan tinggi harus menantang asumsi mahasiswa dan masyarakat. “Kecuali melakukan itu, mengganggu, dan bersedia mengambil risiko. Segera setelah kondisinya kembali normal, dapat mencoba untuk menjadi sama seperti sebelumnya. Krisis ini memberi tahu bahwa kita tidak lagi memiliki kemewahan untuk mengasumsikan segala sesuatunya akan seperti semula,” tutupnya.(kbs/prnewswire)