Jualan di Pinggir Jalan Dekat Kampung Baru, Pedagang Masker Kain Ditegur Lurah Sukarami

PALEMBANG, SIMBUR – Suasana di dekat pintu masuk eks lokalisasi Teratai Putih, kawasan Kampung Baru cukup lengang, Rabu (8/4). Tidak terjadi kemacetan di Jl Kol H Barlian Km 8 Palembang. Mobil warna silver bertuliskan “Obral Masker” terparkir di pinggir jalan itu sudah hampir sepekan. Lima pemuda penjual masker kain duduk di sekitar mobil. Mereka bercengkrama sambil menunggu pengendara yang melintas, membeli dagangan yang dijajakannya.

Simbur pun menghampiri penjual masker kain tersebut. Dengan mengedepankan social distancing dan physical distancing sebagai bagian dari protokol kesehatan mencegah penyebaran Covid-19, Simbur melakukan konfirmasi kepada para pedagang dadakan itu.

Hendra (27), warga Plaju yang menjadi juru bicara (jubir) para penjual masker kain itu mengatakan, sebenarnya mereka bukanlah kawanan pedagang kaki lima. Menurut dia, usaha yang dilakukan karena pada dasarnya mereka bekerja sebagai penjahit. “Awalnya kami bukan jualan kaki lima. Kami buka tailor,” ungkap Hendra yang bekerja di Profesor Taylor, Jl DI Panjaitan, tepatnya dekat stadion Patra Jaya, Plaju, Palembang.

Dijelaskannya, dia bersama rekan-rekannya berjualan masker kain karena Covid-19 yang semakin mewabah. Menurut dia, pemerintah pun telah mengimbau masyarakat untuk menggunakan masker saat berada di luar ruangan. “Sehubungan dengan adanya Covid-19 penggunaan masker meningkat. Sementara harga masker medis melonjak tajam. Demi menekan harga masker yang dijual penimbun-penimbun nakal, maka kami produksi masker eceran,” jelasnya.

Masih kata Hendra, mereka berjualan untuk membantu warga jika kesulitan mendapatkan masker yang kini boleh dibilang langka saat wabah Corona melanda, khususnya di Palembang. “Jika yang tidak terjangkau masker medis dapat membeli seharga Rp7ribu. Di pasaran harga masker kain Rp10-15 ribu,” imbuhnya.

Ditanya soal stok produksi dan omzet penjualan masker kain, Hendra kembali menjelaskan latar belakang pekerjaan mereka. “Karena kami di taylor jadi banyak stok kain untuk membuat masker. Maskernya sendiri kami buat selapis tapi dengan kain yang tebal. Kami tidak tahu partikel masker kain ini karena belum ada hasil dari ‘laboratorium’ kami. Yang pasti debu tidak masuk,” ungkapnya sembari berpromosi.

Hendra menambahkah, bahan yang digunakan dalam memproduksi masker kain di antaranya polyster, kaos dan American drill. Sementara, untuk pemasaran, lanjut Hendra, mereka mempunyai banyak penjual yang tersebar di sejumlah titik kota Palembang.

“Karena kami banyak kaki yang jualan. Satu hari kami bisa produksi sampai 5.000 pcs dengan yang obral ada tujuh mobil. Di antaranya di simpang TVRI, Kambang Iwak, Pusri, Pertamina, Sukarami, Plaju dan di Bukit,” ungkapnya.

Selang berapa jenak, pria dengan jaket kulit hitam itu menghampiri para penjual masker kain. Pria berkendara sepeda motor Honda Vario putih nopol BG 3494 ZY dengan muka tertutup masker dan mengenakan helm merah itu ternyata mengaku Lurah Sukarami, Yhon Hapi SH MSi. Pak Lurah kebetulan melintas dan melihat posisi mobil penjual masker kain itu.

“Jualan di pinggir jalan tidak boleh. Ini jalan protokol, lalu lintas padat. Kalau ada kecelekaan kan merugikan. Boleh jualan tapi cari tanah kosong. Jangan terlalu banyak. Kalau sudah lebih dari lima itu melanggar aturan Covid-19. Sekarang tidak boleh berkerumun,” tegas Yhon Hapi.

Menurut Lurah, ini kali ketiga melihat pedagang masker kain itu di wilayahnya yang membuka lapak di pinggir jalan. Lurah pun memberi peringatan, kalau imbauannya tidak digubris maka akan datang tim lain untuk menertibkan para pedagang itu. “Jangan jualan di pinggir jalan. Mengganggu lalu lintas. Ini kan jalan besar. Pedagang semata-mata hanya mencari keuntungan,” ungkapnya berang.

Terkait upaya pencegahan penyebaran Covid-19, Lurah Yhon Hapi mengatakan, pihaknya sering melakukan sosialisasi kepada warganya. “Kami sudah mengimbau, menyemprot disinfektan serta menjaga kebersihan lingkungan dan masjid. Sekarang kami fokus pendatang dari luar. Kalau ada yang datang kami imbau untuk isolasi mandiri 14 hari,” tutupnya.(tim)