- Jaksa Sita Truk dan Alat Berat Perusahaan Terkait Korupsi Distribusi Semen
- Pejabat Bank Tersangka Korupsi KUR di OKUT Tidak Ditahan karena Akan Menjalankan Ibadah Haji
- Diduga Menghalangi Penyidikan Kasus Korupsi, Staf Ahli Bupati Muba dan Oknum Pengacara Jadi Tersangka
- Sinergi Hadapi Musim Kemarau, Apel Karhutla Sumsel Bakal Digelar di Kampung Nelayan Sungsang pada 6 Mei 2026
- Resmi Dilantik, 325 Bintara Remaja TNI AD Siap Mengabdi untuk Negeri
Kabut Asap Kerek Deflasi, Sumsel Terancam Kehilangan Investasi
PALEMBANG, SIMBUR – Kabut asap di Sumsel berdampak terjadinya deflasi. Itu karena kurangnya jumlah uang yang beredar akibat terjadinya penundaan aktivitas masyarakat yang enggan keluar rumah. Selain itu, kabut asap yang terjadi secara terus-menurus dalam setiap tahun menjadi rapor merah Sumsel yang berdampak distrust (ketidakpercayaan) para investor untuk menanamkan investasi atau melakukan aktivitas bisnisnya.
Pengamat ekonomi Sumsel, Yan Sulistyo saat dikonfirmasi Simbur, Selasa (15/10) mengatakan, kabut asap tentu mengganggu mobilitas masyarakat. Termasuk trasnportasi udara yang banyak mengalami delay atau pembatalan penerbangan. “Harus melihat kepentingan orang datang ke Palembang itu, pertama untuk urusan pekerjaan atau bisnis, karena Palembang bukanlah kota wisata. Tentu (kabut asap) menghambat bisnis yang terjadi di Kota Palembang, akibat terjadinya pembatalan (penerbangan) atau keterlambatan pesawat karena kabut asap,” ungkapnya.
Kedua, lanjut Yan, terjadi stagnasi pendapatan masyarakat dan masyarakat juga enggan untuk keluar rumah seperti mal, rumah sakit atau tempat lain yang sifatnya menjadi pangsa pasar konsumsi untuk sebuah bisnis. Tentu pendapatan masyarakat akan mengalami penundaan. Dari sisi investasi, untuk perusahaan-perusahaan yang berada di titik lokasi terjadinya asap atau titik api tentu akan terganggu aktivitas hariannya. Sementara upah dan pengeluaran lainnya tetap dikeluarkan tetapi tidak produktif pada saat itu. hal itu akan mengurangi keuntungan (laba) perusahaan.
“Menurut saya akan terjadi deflasi karena konsumsi masyarakat menjadi rendah. Harga barang dan jasa tidak akan mengalami kenaikan, tetapi suply and demand itu lebih banyak kepada suply. Sehingga yang terjadi adalah deflasi,” ujarnya.
Jika kabut asap terus terjadi setiap tahunnya, akan sangat tidak bagus bagi dunia investasi di Sumsel. Pasalnya, para investor akan enggan menanamkan modalnya karena saat terjadi kabut asap, maka momen tersebut dinilai waktu yang tidak produktif. “Dari sisi globalnya, Sumsel atau Kota Palembang tidak menarik dari sisi investasi. Dengan terjadinya karhutla yang bersifat tahunan. Dari sisi manajerial atau bisnis managemen, masyarakat internasional akan melihat bahwa pemerintahan yang ada di Sumsel tidak mampu me-manage (mengatur) kejadian-kejadian yang berulang akibat adanya karhutla. Sehingga bisa dilihat bahwa indikator para investor untuk datang berinvestasi di sini akan melihat bahwa para pejabat di Sumsel tidak mampu dalam menanggulangi itu,” katanya.
Yan menambahkan, investor melihat bahwa tidak efektif dan efisien untuk menanamkan investasi jika setiap tahun terjadi karhutla di Sumsel. “Karhutla itu kan terjadi tidak sehari atau dua hari saja, tetapi berbulan-bulan. Apabila karhutla terjadi setiap tahun atau anggap saja empat sampai lima bulan, maka masa-masa itu dianggap tidak produktif bagi perusahaan atau investor untuk berinvestasi di Sumsel. Jadi dari sisi manajerial keuangan tidak menguntungkan bagi investor. Jadi jika terus-menerus seperti ini, saya yakin seyakin-yakinnya bahwa Sumsel tidak menarik untuk dijadikan tempat berinvestasi,” ujarnya yakin.(dfn)



