- Jaksa Sita Truk dan Alat Berat Perusahaan Terkait Korupsi Distribusi Semen
- Pejabat Bank Tersangka Korupsi KUR di OKUT Tidak Ditahan karena Akan Menjalankan Ibadah Haji
- Diduga Menghalangi Penyidikan Kasus Korupsi, Staf Ahli Bupati Muba dan Oknum Pengacara Jadi Tersangka
- Sinergi Hadapi Musim Kemarau, Apel Karhutla Sumsel Bakal Digelar di Kampung Nelayan Sungsang pada 6 Mei 2026
- Resmi Dilantik, 325 Bintara Remaja TNI AD Siap Mengabdi untuk Negeri
Bawa Nama OKU Berkibar di Provinsi, Butuh Kepedulian Pemerintah Kabupaten
PALEMBANG, SIMBUR – Setiap warga pasti memendam hasrat kuat untuk mengharumkan tanah kelahirannya. Tak terkecuali Lilis Karlina, siswa kelas XI MAN 1 Baturaja, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) yang berasal dari salah satu keluarga berpenghasilan rendah. Orang tuanya bergantung pada hasil upah kerja serabutan.
Meski demikian, tekad kuat menjadi seorang anggota Pasukan Pengibar Bendera (paskibra) tak pernah luntur dari benaknya yang dia impikan sejak duduk di bangku sekolah dasar. Bersama 50 pemuda dan pemudi Sumatera Selatan (Sumsel), Lilis Karlina ikut menghentakkan kakinya di istana Gubernur Sumsel sebagai bagian dari pasukan 45 pada upacara detik-detik kemerdekaan di halaman Griya Agung, Sabtu (17/8).
Kebahagiaannya hampir saja tidak sempurna, sebab kedua orangtuanya sempat dikabarkan tidak bisa datang melihatnya langsung karena tak memiliki biaya untuk datang dan menyaksikan langsung buah dari perjuangannya. Gubernur Sumsel akhirnya memenuhi keinginan Lilis. “Saya sangat bersyukur dan bahagia kedua orang tua saya datang ke sini. Saya tidak menyangka mereka bisa datang, karena kemarin kan faktor ekonomi (tidak ada biaya),” ungkapnya polos.
Sebenarnya, keinginan Lilis dari kecil waktu masih di bangku sekolah dasar adalah ingin menjadi anggota Paskibraka di Istana Negara. Walau belum tercapai, dirinya tetap bangga walau hanya bertemu dengan Gubernur Sumsel.
“Saya ingin sekali bertemu dengan Presiden RI dan memberikan bendera agar orang tua saya bisa bangga melihat itu. Mereka pasti senang melihat Istana Negara itu seperti apa, bertemu dengan Presiden rasanya seperti bagaimana. Saya ingin sekali menjadi pasukan Paskibraka di Istana Negara. Sampai tingkat provinsi ini saja, saya sudah sangat senang. Bisa bertemu dengan Gubernur, saya juga sudah bersyukur,” ujarnya sembari memeluk sang ibu di sampingnya.
Diceritakan Lilis, proses awal menjadi anggota Paskibra menjadi keinginan yang sudah ada sejak SMP, namun baru terwujud saat di bangku SMA. “Waktu itu ada guru yang bilang saya cocoknya masuk di Paskibra sekolah. Akhirnya saya ditawari formulir pendaftaran. Awalnya saya tidak percaya diri karena dalam benak saya waktu itu, Paskibra itu mungkin hanya untuk anak-anak pejabat dan orang yang mampu,” tuturnya mulai bergetar menahan haru.
Lilis mengakui dirinya sempat minder dan ragu dengan status ekonomi keluarga yang bahkan memenuhi kebutuhan sehari-hari pun sang ayah harus banting tulang. “Saya ini kan orang yang tidak punya (miskin), jadi waktu itu saya minder. Tapi akhirnya, saya nekat untuk ikut mendaftar Paskibra tingkat kabupaten, ternyata lulus,” ungkapnya sesenggukan tak mampu membendung air mata.
Setelahnya, Dispora OKU memberi kepercayaan untuk ikut Paskibra tingkat provinsi dan kembali Lilis lulus walaupun gagal di tingkat nasional. “Kalau bantuan selama proses menjadi anggota Paskibra itu tercukupi melalui bantuan dari Dispora OKU. Tetapi kalau orang tua itu bukan tanggungan Dispora,” ungkap Lilis menyeka air mata sang ibu yang tampak haru.
Terlepas, sebenarnya Lilis masih menyimpan satu hasrat besar usai dirinya lulus SMA nanti. Gadis manis tersebut ternyata sangat ingin menjadi seorang Polwan. Namun, kembali keraguan menyelimutinya sebab tentu akan butuh biaya untuk menggapai itu. “Saya sebenarnya ingin sekali menjadi Polwan, tapi itu kalau ada biaya. Tetapi kalau tidak ada, yah itu sesuai dengan nasib,” ungkapnya tertunduk berserah.
Sang ayah Lilis, Jusman membenarkan jika menjadi Paskibra adalah cita-cita Lilis sejak kecil. Sejak dulu sampai sekarang, belum pernah ada kendala untuk dia menjadi seorang anggota Paskibra. “Kami sebagai orang tua juga setuju dengan apa yang ingin dicapainya. Sebagai orang tua kami sangat bangga, walau kemarin sempat hampir tidak bisa datang ke sini karena tidak ada biaya,” ujar Jusman memeluk anaknya.
Terkait biaya sekolah kian mahal dan ditambah kebutuhan hidup yang juga semakin mahal, Jusman akan berusaha sekuat tenaga memenuhinya walau hanya mengandalkan upah sebagai buruh tani. “Saya tetap berusaha sekuat tenaga memenuhi kewajiban saya sebagai seorang ayah untuk Lilis dan kedua saudaranya. Kalau dari hati yang paling dalam, saya ingin sekali melihat Lilis menjadi orang sukses. Saya akan berusaha membiayai bagaimanapun caranya,” tegasnya yakin.
Diceritakan Jusman, sewaktu SMP sekolah Lilis sempat terganggu karena keadaan ekonomi sedang susah. “Untungnya, kami mendapat bantuan dana untuk keluarga tidak mampu dari Pemda OKU. Tetapi saat ini di SMA kami belum mendapat bantuan sama sekali,” ujarnya.
Sewaktu di SMP dan sedang sulit untuk biaya sekolah, sudah kelihatan keinginan besar Lilis untuk ikut Paskibra. Lilis itu anak yang memiliki tekad kuat mencapai cita-citanya. Kemarin saja waktu akan ikut daftar Paskibra, saya bilang ke Lilis jika tidak ada biaya keinginan itu ditunda saja dulu karena kalau butuh biaya saya tidak ada uang untuk itu. Untungnya tidak membutuhkan biaya. Kemudian ikut tes, dan alhamdulillah terpilih,” kisahnya.
Karena, lanjut Jusman, untuk mencukupi kebutuhan keluarga dan biaya sekolah anak-anak saya bekerja serabutan. “Jadi buruh atau upahan ke sana ke mari. Terkadang dapat kadang tidak. Namanya saja saya tidak punya usaha tetap,” kata Jusman berharap bantuan pemerintah.
Terlepas, Lilis sudah mengharumkan Kabupaten OKU. Namun Jusman dan sang istri, Sinaryah masih berharap satu hal untuk langkah sang anak dalam menjemput cita-cita. “Tentu kami sebagai orang tua berharap ada kebijakan dari Pemda OKU dan mungkin Pemprov Sumsel untuk membantu biaya kuliah Lilis nantinya. Kami ingin sekali mendapatkan bantuan itu,” harap Jusman dan diiyakan juga oleh istri tercintanya. (dfn)



