Sumsel Darurat Mutilasi, Harus Segera Diatasi Polisi

# Mayat Tanpa Kepala dan Tangan Gemparkan Warga

 

PALEMBANG, SIMBUR – Penemuan mayat tanpa kepala dan tangan menghebohkan warga Sumsel. Korban diketahui bernama Karoman (40) bin Burhanudin, warga Dusun 2 RT 03 Desa Pinang Mas, Kecamatan Sungai Pinang Kabupaten Ogan Ilir.

Jasad korban ditemukan di Sungai Arisan Bopeng Dusun 2 RT 03 Desa Pinang Mas Kecamatan Sungai Pinang Kabupaten Ogan Ilir, Kamis (6/6). Kondisi jasad korban dalam keadaan tidak utuh, kepala dan kedua tangannya hilang dan hingga kini belum ditemukan.

Informasi yang diperoleh, Karoman pergi mencari ikan ke Sungai Arisan Bopeng saat malam lebaran, Rabu (5/6) sekitar pukul 21.00 WIB dan tak kunjung kembali. Keluarganya dibantu warga mencari korban sekira pukul 08.00 WIB.  Anak korban, Agus (10) pertama kali menemukan bambu milik ayahnya. Bambu tersebut tertancap di sungai, tepatnya di dekat sawah Jono bin Kamaludin.

Tak lama, saksi lain yakni Mulyadi (36) menemukan perahu dalam kondisi terbalik di sekitar locus delicti, tepatnya di dekat tanah milik Azwar. Akhirnya, pukul 10.00 WIB  lebih kurang 500 meter, saksi Firdaus menemukan tubuh korban yang tertimbun di lumpur.

Kabid Humas Polda Sumsel, Kombes Pol Supriadi memastikan jika pihak kepolisian tengah berusaha untuk mengungkap motif pembunuhan sadis tersebut. “Kami masih mencari motif atau kira-kira apa permasalahan yang bersangkutan. Kami sudah memeriksa saksi-saksi. Kami juga meminta masukan dari keluarga korban. Kami mencari apakah ada permasalahan sebelum terjadinya masalah. Itu untuk memudahkan kami dalam rangka penyelidikan sebenarnya,” jelasnya kepada Simbur, Jumat (7/6).

Sampai saat ini, lanjut Kabid Humas, pihaknya belum mendapatkan bukti jika korban memiliki masalah dengan orang lain. “Kalau dari hasil olah TKP di sana kan (korban) sudah termutilasi. Memang dalam kondisi punggungnya kena bacok. Berarti kan ada penyiksaan (aniaya) sebelum dimutilasi,” ungkapnya.

Dilanjutkan, pihak kepolisian masih dalam tahap pemeriksaan saksi-saksi, dan akan terus didalami oleh Polres Ogan Ilir. “Ada beberapa saksi yang sudah diperiksa. Hari ini (kasus) masih didalami oleh Polres Ogan Ilir (OI). Saya masih menunggu konfirmasi juga. Tadi menurut Kapolres OI setelah selesai, mungkin akan disampaikan. Nanti kami juga akan menyampaikan ke media,” ujarnya.

Kombes Pol Supriadi juga mengatakan jika kemungkinan besar ada dendam yang membuat pelaku tega memutilasi korbannya. “Pastinya itu karena dendam. Karena mutilasi itu termasuk kategori (kasus) yang sadis. Berarti dendamnya memang sudah keterlaluan. Karena kalau hanya dendam biasa, saya yakin mungkin hanya dianiaya atau dibunuh tapi tidak dimutilasi,” yakinnya.

Dijelaskannya pula, ini juga merupakan pintu masuk bagi kepolisian, karena sedang mencari siapa pelaku. “Mungkin dia adalah musuh (korban) yang cukup lama. Itu untuk memperkecil ruang atau skup penyelidikan kami,” katanya.

Untuk mencegah meluasnya dampak kasus sadis tersebut di masyarakat, Kombes Pol Supriadi mengimbau agar masyarakat memercayakan pihak kepolisian untuk menangani kasus tersebut.
“Kami mengimbau masyarakat, percayakan kepada pihak kepolisian untuk melakukan penyelidikan. Kami akan bekerja semaksimal mungkin. Kemarin kami sudah turunkan anjing pelacak K9 dari Polda Sumsel, Puslabfor dan Inafis juga sudah diturunkan dalam rangka memperjelas permasalahan yang ada di OI khususnya terkait dengan penemuan mayat yang dimutilasi,” harapnya.

Jadi, lanjutnya, masyarakat jangan panik, jangan panas, menahan diri karena yakinlah ini (kasus) murni pidana. “Tidak ada unsur lain seperti (perkelahian) antar kampung dan lain sebagainya,” imbuhnya.

Dikonfirmasi terpisah, Kriminolog Sumsel, Dr H Syarifuddin Petanasse SH MH mengatakan, pembunuhan yang berujung mutilasi adalah bentuk kejahatan sadis dan sangat tidak wajar dilakukan. “Lihat dulu kejadian mutilasinya. Mutilasi itu salah satu jenis pembunuhan yang sadis. Mutilasi itu bukan hal yang wajar. Karena terkadang kejahatan itu dipelajari, berinteraksi yang ada. Sehingga, pelaku berpikir mayatnya mau diapakan, akhirnya dicincang supaya menghilangkan jejak,” ujarnya saat dikonfirmasi Simbur, Jumat (7/6).

Saat ditanyakan apakah dengan adanya dua kejadian mutilasi di Sumsel yang rentang waktunya tidak terlalu jauh, Syarifuddin mengiyakan jika Sumsel darurat kasus mutilasi. “Iya,” jawabnya sambil sedikit tertawa.

Ditambahkan, pada umumnya kasus mutilasi berawal dari kebingungan pelaku untuk menghilangkan jejak pembunuhannya. “Nah, kenapa memutilasi, itu mau menghilangkan jejak. Biasanya disitu, pelakunya bingung. Karena kebingungan tadi, untuk menghilangkan jejak itu dimutilasi. Itu saja sebenarnya,” jelasnya.

Syarifuddin juga tidak memastikan jika kasus mutilasi terjadi karena adanya dendam membara pelaku terhadap korbannya. “Kalau terkait dendam membara itu tidak juga. (Jadi) bingung dan sebenarnya mau menghilangkan jejak,” katanya.(dfn)