- Nilai-Nilai Perjuangan Jenderal Bambang Utoyo, Tegaskan Integritas, Niat Murni, dan Kesederhanaan sebagai Teladan Bangsa
- Keok Praperadilan, Dua Beranak Tersangka Suap Proyek Irigasi di Muara Enim Dilimpahkan ke Pengadilan
- Pulang Ibadah Haji, Pejabat Bank Tersangka Korupsi KUR di OKU Timur Susul Dua Rekannya Masuk Bui
- Kodam II/Sriwijaya Tancap Gas, Palembang Pimpin Progres Koperasi Desa Merah Putih
- Deninteldam II/Sriwijaya Gagalkan Pengiriman 1 Kg Sabu dari Palembang ke Empat Lawang
Nilai Plus dalam Bisnis
# Di Bawah Kibaran Revolusi Hijab
PALEMBANG, SIMBUR – Dunia bisnis bukan hanya milik kaum laki-laki saja. Eksistensi kaum perempuan kian hari semakin diperhitungkan termasuk para muslimah yang berhijab. Banyakya isu diskriminatif yang menempatkan Islam sebagai bagian dari terorisme, ternyata tidak memberi dampak besar dalam dunia bisnis yang ditekuni para muslimah khususnya di Sumatera Selatan (Sumsel). Bahkan, balutan hijab bisa menjadi daya tarik tersendiri bagi relasi bisnis, karena dianggap lebih santun dan anggun. Hal itu dibenarkan oleh Ketua Ikatan Pengusaha Muslimah Indonesia (IPEMI) Sumsel, Hj Maryati Fauzi saat dikunjungi Simbur di kediaman pribadinya, Senin (22/4).
Bagi Hj Maryati, sudah tidak ada perlakuan yang berbeda atau diskriminatif bagi pengusaha muslimah hanya kerena hijabnya. Salah satu faktornya karena saat ini hijab sudah menjadi tren perempuan dalam kehidupan sehari-hari dan spiritualnya.
“Tidak ada perlakuan yang berbeda dari relasi bisnis. Saat ini hijab juga sudah menjadi tren (life style) dan memang sudah sangat banyak muslimah di Indonesia yang berhijab. Jadi untuk perbedaannya, saya rasa saat ini tidak begitu berbeda. IPEMI juga sudah ada dimana-mana, dan anggotanya memang harus muslimah yang berhijab. Itu tidak bermasalah atau berpengaruh pengembangan bisnis,” ujar perempuan yang membuka bisnis pempek itu.
“Buktinya, saat ini kami sudah bekerjasama dengan pihak Hongkong dan Amerika. Justru hijab itu menjadi penilaian tersendiri (dalam etika bisnis),” tambahnya.
Dikatakan, peluang usaha bagi perempuan di Sumsel saat ini sangat bagus, karena tren pelatihan-pelatihan UKM, usaha kuliner. Jadi jika mau memproduksi apapun, bisa didistribusi ke hotel-hotel dan tempat lainnya.
“UKM di Sumsel berjalan dengan baik. Untuk pemasaran produk-produk kami membentuk marketing untuk pemasarannya. Karena hal yang sangat penting bagi pengusaha muslimah yang bernaung di IPEMI, adalah adanya tempat untuk memasarkan produknya,” ungkap Maryati.
Pemerintah sangat menyambut dengan adanya pelaku bisnis muslimah di Sumsel. Dalam mendorong UKM, Pemerintah membuka seluas-luasnya peluang usaha bagi muslimah. Namun, dalam hal bantuan modal, saat ini pemerintah belum bisa memberi bantuan karena faktor kondisi ekonomi yang masih sulit.
“Seharusnya, lanjut Maryati, semua pihak membantu karena IPEMI masih terkait dengan pemerintah setempat juga, tetapi kami tidak diperbolehkan untuk berpolitik (non politik). Jadi untuk kerjasama IPEMI merangkul Dinas Perdagangan, Kesbangpol, Dinas Perindustrian, dan Dinas Pemberdayaan Perempuan,” jelasnya.
Menjawab perkembangan jaman, IPEMI juga berupaya agar anggotanya mampu memasarkan produk melalui media sosial secara online. “Jangan sampai pelaku bisnis muslimah itu hanya diam saja dan tidak melakukan apa-apa. Harus punya inisiatif minimal bisa membantu untuk pemenuhan kebutuhan keluarganya,” pungkasnya seraya berharap IPEMI berkembang lebih pesat dan berkah bagi semua khususnya para muslimah di Sumsel.
Terkait dunia ketenagakerjaan dimana masih ada pihak yang mengebiri hak muslimah berhijab untuk mendapatkan peluang bekerja, Maryati menganggap itu tidak boleh terjadi.
“Itu (hijab) sesuai dengan kaidah kita. Sebagai bentuk pertanggungjawaban sebagai muslimah, jangan mau melepas hijab. Rejeki sudah diatur Tuhan, dimana ada kemauan di situ ada jalan. Daripada melanggar kaidah Islam, lebih baik mundur. Yaknlah jika Tuhan akan memberikan yang terbaik,” tegasnya geram.
Namun, dirinya menilai perlakuan yang sama dalam dunia ketenagakerjaan di Indonesia saat ini sudah menyamakan dan tidak diskriminasi. “Kesempatan bekerja bagi muslimah yang berhijab juga rasanya tidak begitu dipersulit, kecuali perusahaan tertentu (menerapkan kebijakan). Contohnya di bidang perbankan, sekarang sudah banyak yang berhijab,” pungkasnya.
Untuk diketahui, sampai saat ini, IPEMI sudah ada di 34 provinsi di Indonesia dan 5 negara (Malaysia, Brunai, Hongkong, Turki, Turki dan Amerika). Walaupun baru berusia empat tahun, IPEMI dinilai sudah sangat berkembang. IPEMI bergerak di bidang UKM dalam bentuk pelatihan kepada muslimah yang belum bisa membuat usaha (UKM) khususnya di bidang sandang dan kuliner. Hasil dari UKM hasil binaan juga sudah didistribusi ke berbagai daerah termasuk mengimpor ke luar negeri. Upaya tersebut sudah berjalan beberapa tahun ini, dan sudah ada beberapa UKM yang sudah dibina oleh IPEMI. (dfn)



