- Jaksa Sita Truk dan Alat Berat Perusahaan Terkait Korupsi Distribusi Semen
- Pejabat Bank Tersangka Korupsi KUR di OKUT Tidak Ditahan karena Akan Menjalankan Ibadah Haji
- Diduga Menghalangi Penyidikan Kasus Korupsi, Staf Ahli Bupati Muba dan Oknum Pengacara Jadi Tersangka
- Sinergi Hadapi Musim Kemarau, Apel Karhutla Sumsel Bakal Digelar di Kampung Nelayan Sungsang pada 6 Mei 2026
- Resmi Dilantik, 325 Bintara Remaja TNI AD Siap Mengabdi untuk Negeri
Harga Daging Terbelenggu, Psikologi Pasar Terganggu
PALEMBANG, SIMBUR – Harga tiga komoditas seperti daging sapi, daging ayam, dan telur ayam, memang sudah diprediksi akan mengalami kenaikan pada saat H-7 lebaran. Hal itu disinyalir karena semakin ramainya pasar tradisional sulit untuk mengendalikannya. Harga komoditas tertentu dinilai sangat bergantung dengan psikologi pasar jelang lebaran.
Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperindag) Sumatera Selatan (Sumsel), Yustianus mengatakan jika salah satu upaya untuk menahan lonjakan harga adalah dengan pasar murah, sehingga pasar tradisional tidak terlalu ramai.
“Kalau pasarnya tidak terlalu ramai, psikologi pasar tidak terganggu. Permasalahan sekarang itu pedagang mencari kesempatan dengan membaca kondisi. Jika sudah ramai, mulai mereka bisik-bisik (menaikkan harga),” jelasnya saat dikonfirmasi Simbur, Rabu (29/5).
Apalagi, lanjut Yustianus, H-3 para pendatang sudah mulai datang ke Palembang. Itulah (salah satu) yang mendongkrak kenaikan harga. “Mereka kan bawa uang banyak, sehingga tidak memperhitungkan harga dan yang penting beli,” lanjutnya.
Hanya saja itu berlaku untuk komoditas tertentu. Komoditi yang sudah diatur pemerintah itu tidak bisa dimainkan. “Memang daging ayam, daging sapi, dan telur ayam ada (juga) aturannya, tapi tidak bisa (sulit) dikendalikan. Karena pasar tradisional sulit mengendalikan (harga),” jelasnya.
Alasannya, pasar modern lebih mudah mengawasi karena mereka merupakan pedagang formal. Jika ada yang tidak patuh dengan harga yang sudah ditetapkan, bisa langsung dilaporkan ke Kementerian Perdagangan (Kemendag).
“Kalau pasar tradisional itu agak sulit mengendalikannya, karena jumlahnya banyak dan pedagangnya informal. Terkadang dilakukan tindakan, malah menyebabkan masalah (baru). Jadi untuk mengatasi lonjakan harga, itu kami kendalikan melalui pasar-pasar modern. Apalagi, harganya (komoditas) lebih murah,” keluh Yustianus.
Terkait dengan mulai merangkaknya harga daging sapi yang sudah mencapai Rp 130 ribu perkilogram, ketersediaan daging beku diharapkan bisa menjadi alternatif bagi masyarakat khususnya di Palembang. “Kami berharap, walaupun mengalami kenaikan itu tidak terlalu drastis, karena kami punya alternatif yaitu daging beku yang kondisinya dijamin pemerintah,” jamin Yustianus.
Masyarakat memang belum terbiasa mengkonsumsi daging beku, dan memang di pasaran cenderung ada kenaikan. “Kami harapkan daging beku bisa menjadi pilihan masyarakat. Pasalnya, informasi dari Bulog setiap hari lima ton daging beku terdistribusi. Artinya, sudah mulai ada peminatnya di Palembang,” harapnya.
Tinggal mungkin, lanjut Yustianus, masih kurang sosialisasi ke masyarakat. “Daging beku tersedia di Bulog dan toko/pasar modern. Jika ada komunitas yang memesan banyak, silahkan hubungi dan kami akan menyuplai,” pungkasnya.
Diketahui, saat ini tiga komoditi seperti daging ayam, telur ayam, dan daging sapi akan mengalami kenaikan. Daging sapi sudah mencapai Rp130 ribu per kilogram, daging ayam Rp 33 ribu per kilogram, dan telur Rp 23 ribu per kilogram.
Sementara, kebutuhan daging pada saat bulan Ramadan dan menjelang lebaran dipastikan akan meningkat. Tingkat konsumsi yang tinggi tersebut tentunya harus diimbangi dengan stok dan suplai yang baik. Namun sayangnya, kerapkali keresahan masyarakat muncul akibat kenaikan harga daging dan kebutuhan pokok yang tidak terkontrol. Dalam sudut pandang ekonomi, keadaan tersebut terjadi karena tingginya permintaan tidak dibarengi dengan penawaran (demand and supply).
Yustianus memastikan jika pihaknya telah sedang melakukan upaya-upaya untuk mengantisipasi kenaikan harga daging di pasar. “Kami sudah melakukan rapat koordinasi dengan pelaku usaha dan instansi terkait. Langkah pertama, kami punya alternatif yaitu daging beku, dan sudah siap di Bulog dan Arthaboga. Kalau masyarakat kesulitan soal lokasi membeli, silahkan menghubungi Dinas Perdagangan atau Pertanian untuk informasi lokasi mendapatkan daging beku itu dengan harga Rp 80 ribu per kilogram,” ujarnya.
Dikatakan, saat ini stok daging beku di Bulog sekitar 20 ton yang disiapkan untuk bulan puasa dan lebaran. “Tapi saya belum dapat informasi pasti dari Arthaboga, tetapi informasinya sekitar itu (20 ton) juga. Pada dasarnya untuk kebutuhan daging, daging beku sudah siap didistribusikan ke masyarakat. Saat pasar murah juga, (Bulog dan Arthaboga) akan mensuplai daging beku,” ungkapnya berharap warga tidak khawatir lagi.
Selain solusi daging beku, Disdag juga sudah meminta kepada Dinas Peternakan jika seandainya punya stok sapi yang dipelihara oleh peternak yang mendapatkan bantuan dari pemerintah, alangkah baiknya untuk tahun ini disiapkan untuk dibeli oleh para ASN.
“Harapannya, ASN tidak lagi belanja (daging) ke pasar, cukup dengan sapi yang sudah disiapkan. Kalau permintaan kurang di pasar (tanpa ASN), pedagang tidak semena-mena menaikkan harga,” tegasnya.
Yustianus juga menghimbau pedagang, jika Disdag menjual dengan harga murah, maka pedagang ikuti aturan dengan harga yang telah ditetapkan pemerintah. Contohnya Disdag menjual bawang putih ke pedagang dengan harga Rp 22.500, maka maksimal dijual kembali oleh pedagang Rp 30 ribu.
“Jangan coba-coba menimbun, mencari keuntungan sepihak dalam kesempitan. Karena sekarang itu tidak hanya Perdagangan saja yang mengawasi, ada juga Kepolisian, BIN, intel Kodam, dan semuanya bergerak. Kalau seandainya pedagang coba-coba mencari kesempatan dalam kesempitan, takutnya nanti mencari untung besar tapi akhirnya rugi besar. Itu bisa di pidanakan karena dalam UU perdagangan itu hukumannya berupa denda Rp 10 miliar dan pidana penjara selama lima tahun,” tegasnya dengan nada sedikit meninggi. (dfn)



