- Jaksa Sita Truk dan Alat Berat Perusahaan Terkait Korupsi Distribusi Semen
- Pejabat Bank Tersangka Korupsi KUR di OKUT Tidak Ditahan karena Akan Menjalankan Ibadah Haji
- Diduga Menghalangi Penyidikan Kasus Korupsi, Staf Ahli Bupati Muba dan Oknum Pengacara Jadi Tersangka
- Sinergi Hadapi Musim Kemarau, Apel Karhutla Sumsel Bakal Digelar di Kampung Nelayan Sungsang pada 6 Mei 2026
- Resmi Dilantik, 325 Bintara Remaja TNI AD Siap Mengabdi untuk Negeri
LRT Tidak Laku, Pengelola Cari “Jualan” Lain
PALEMBANG, SIMBUR – Berbagai upaya sudah dilakukan pemerintah daerah mengajak warga Palembang untuk menggunakan Light Rail Transit (LRT) sebagai moda transportasi utama. Namun, kecenderungan masyarakat untuk menggunakan kendaraan pribadi masih sangat tinggi, sehingga LRT pun masih sepi penumpang alias tidak laku dan mengalami kerugian yang sangat besar.
Kurang diminatinya LRT sebagai moda transportasi utama bagi warga Palembang terlihat dari jumlah kenaikan penumpang pada Maret sampai April yang hanya berjumlah seribu penumpang. Artinya, dengan jumlah tersebut, dibutuhkan waktu yang sangat lama untuk menutupi defisit LRT Palembang yang mencapai milliaran rupiah perbulan.
“Jadi gini, berdasarkan data Maret sampai April, jumlah penumpang LRT nail baik saat weekday maupun weekend yang jumlahnya sekitar seribu penumpang. Jadi, ada kenaikan sesuai dengan data yang ada,” ungkap Kepala Balai Pengelola Kereta Api Ringan Sumsel, Rosita beberapa waktu lalu.
Selain itu, untuk menutupi defisit, pengelola juga sedang berusaha mencari pendapatan dari bisnis selain mengandalkan tarif tiket. “Kami bertugas mencari pendapatan non-core, dan saat ini sedang memproses mengelola pendapatan non-core itu selain dari tarif. Itu yang diharapkan dapat mengurangi beban pemerintah untuk mensubsidi. Contoh non-core seperti periklanan dan retail lainnya,” ujarnya kemudian.
Dijelaskan, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) sepertinya tidak ingin melihat LRT Palembang hanya sekadar menjadi ornamen kota. Oleh karena itu, upaya sosialisasi terus dilakukan dengan berbagai cara.
“Kami mendatangi sekolah atau car free day tujuannya untuk mensosialisasikan LRT. Dengan harapan agar masyarakat beralih dari kendaraan pribadi dan menggunakan LRT. Pemda sudah membantu dalam mensosialisasikan LRT, karena kami sudah membentuk tim untuk itu dengan melibatkan Dishub provinsi maupun kota,” kata Rosita.
Optimalisasi melalui pemangkasan waktu tempuh dan memperbanyak prekuensi headway pun dilakukan. “Sekarang (waktu tempuh) 65 menit, nanti di Juni mendatang diharapkan bisa menjadi 42 menit. Selain itu, kami juga bisa memperpendek headway, dimana sebelumnya yang tercepat adalah 24 menit dan yang paling lama adalah 48 menit. Setelah selesai pengerjaan sekitar tanggal 31 Mei, diharapkan headway tercepat 18 menit dan terlama 24 menit. Nah, itu tergantung pit dan outfit dan kami sedang melakukan kajian,” lanjutnya.
Terkait kecenderungan masyarakat yang masih memilih menggunakan kendaraan pribadi, Rosita menganggap hal itu sebuah tantangan bagi pengelola. Pihaknya berupaya dengan mengubah mindset pengguna moda transportasi.
“Itu menjadi tantangan kami untuk mengubah mindset masyarakat dalam menggunakan moda transportasi. Kami berusaha menyiapkan moda transportasi yang handal, dalam hal ini bagaimana LRT (mampu) bersaing dengan moda transportasi lainnya. Dengan cara memperpendek waktu tempuh, memperbanyak frekuensi dengan mempersingkat headway,” tambahnya.
Terkait peningkatan kecepatan dan headway, Kepala Divisi Regional III PT KAI Palembang, Purnomo memastikan jika pihaknya sedang berupaya melakukan hal itu agar jarak tempuh tidak terlalu jauh sehingga waktu tempuhnya bisa lebih pendek.
“Sekarang kecepatannya masih macam-macam diantaranya 45 (kmh), tapi itu tergantung dari Waskita. Karena kalau kereta kami (LRT) di desain mampu 80 sampai 100 yah, tetapi kalau infrastrukturnya tidak oke kan tidak bisa juga,”
Saat ini, lanjut Purnomo, Waskita sudah mulai memasang perubahan kecepatan. “Sudah dapat separuh kayaknya. Nah, kalau itu selesai kami akan melakukan ujicoba dengan harapan bisa naik bertahap terlebih dulu sekitar 10 sampai 15 persen dari kecepatan sekarang. Karena Menteri (Menhub) meminta LRT bisa di bawah 50 menit (waktu tempuh) dari stasiun DJKA sampai stasiun bandara,” ujarnya.
Saat ini waktu tempuh dari DJKA ke bandara sekitar 60 menit, sehingga PT KAI mengurangi sekitar 10 sampai 15 persen menjadi sekitar 50 menit. “Harapan kami bisa mencapai waktu tempuh 42 menit. Sementara secara bertahap seperti itu, nanti kami tunggu instruksi kantor pusat apakah akan membeli sarana lagi atau gimana. Kami harapkan mereka (Waskita) selesai minggu ini, (agar) minggu depan kami bisa ujicoba. Kereta itu kan dibatasi dengan pembatas kecepatan sesuai dengan infrastruktur. Kalau semua sudah ubah oleh Waskita, kami akan ujicoba,” tambah Purnomo.
Terkait dengan aktifitas tersebut, Purnomo menegaskan jika apa yang dilakukan aman untuk penumpang serta sarana dan prasarana. “Oh aman. Makanya kami melihat dulu nanti. Kalau Waskita merekomendasikan tidak sampai 85 Kmh. Ini adalah instruksi dari Menhub setelah beberapa kali kunjungan ke Palembang. Menhub berharap headway semakin pendek dan waktu tempuh semakin cepat. Tentunya itu juga salah satu permintaan dari masyarakat,” tegasnya.
Terkait, Staf Enginering Manager PT Waskita, Prayit K mengatakan jika pihaknya sedang melakukan evaluasi kecepatan dengan menambah atau meningkatkan di segmen-segmen tertentu. “Masih dalam percobaan dan mungkin dalam minggu ini kami coba untuk menyesuaikan dengan kecepatan yang sudah kami desain. Kami bersama bagian sarana untuk mengoptimalkan kecepatan (kereta),” ujarnya sembari menambahkan jika rambu kecepatan (TasPat) akan diubah, dan jika nanti sudah jalan, akan diubah dan adaptasi lagi.
Pihaknya optimis karena untuk memenuhi kebutuhan tersebut, prasarana LRT sudah mendukung hal itu.
“Prasarana mendukung, ini tinggal penyesuaian saja antara kereta, supir kereta, dan yang ada di mainline. Sampai saat, kami sudah siap satu jalur dari bandara ke depo LRT. Perubahan percepatan LRT tidak mempengaruhi konstruksi, dan jalur darat atau jalur yang melintas di atas sungai Musi tidak ada perbedaan. Sama, tidak ada merubah konstruksi apapun. Itu murni untuk modifikasi dan penyesuaian masinis terhadap prasarana. Kalau prasarana setelah ETCS aktif, itu bisa 85 Kmh, dan kami susah tes sampai 91 Kmh,” tutupnya. (dfn)



