Berdayakan Ekonomi bagi Perempuan Prasejahtera

PALEMBANG, SIMBUR – Bank BTPN Syariah berkomitmen untuk terus membantu melayani memberdayakan perekonomian, kewirausahaan, perempuan prasejahtera atau nasabah inklusi. Melalui program kelompok atau sentra ibu – ibu prasejahtera di Sumsel hingga pelosok negeri.

Program bankir pemberdaya, melayani ibu – ibu prasejahtera di pelosok negeri tersebut, diutarakan Firmansyah sebagai Kepala Area Pembiayaan BTPN Sumsel bersama Ainul Yakin selaku Corporate Marketing and Comunication Head BTPN Syariah.

Tema lebih dekat, mengenal dan bersilaturahmi dengan BTPN Syariah sengaja dipilih. Menurut Firmansyah, BTPN Syariah, sebagai bank umum syariah yang fokus melayani masyarakat prasejahtera di Indonesia. Bisa dibilang, segmen ini baru satu satunya, dilakukan BTPN Syariah di Indonesia.

Dimulai tahun 2010, BTPN Syariah telah memiliki 13.000 karyawan lebih, dengan 95 persen karyawati perempuan merupakan lulusan SMA. Dengan jangkauan 7 juta karyawan dan yang aktif 4 juta karyawan. Jaringan yang sudah tersebar di 23 provinsi. Bahkan telah mendapat penghargaan, dengan pelayanan terbaik terhadap UMKM dari tahun 2020 – 2022 dari Bank Indonesia.

Nasabah inklusif ini, model bisnisnya dikumpul dari nasabah piramida atas, dari penggalangan dana tersebut, seratus persen disalurkan ke nasabah inklusi ini. Yakni ibu – ibu prasejahtera, yang tersebar di Indonesia. “Nasabah inklusi ini, kita punya paket keuangan syariah selama 5 tahun. Kemudian sistem keanggotaan, dilayani karyawati pemdamping kita yang terlatih. Memberikan pendampingan untuk daya, nasabahnya kebanyakan berdagang, produksi, dan beternak. Dengan kebutuhan nasabah ini, didominasi kebutuhan sehari – hari, sampai kebutuhan pendidikan anak dan tempat tinggal. Nasabah inilah yang menjadi sasaran kita,” ungkap Firman, kemarin Jumat (27/10) pukul 14.15 WIB.

Pendanaan syariah, untuk nasabah inklusi ibu – ibu ini, pertama disiapkan paket keuangan selama 5 tahun. Berupa biaya modal usaha termasuk asuransi jiwa gratis. Dengan melatih nasabah untuk menabung dan memikirkan manfaat masa depan. Tidak hanya 1 atau 2 tahun, harapannya setelah siklus ketiga, nasabah dapat pembiayaan untuk perbaikan pendidikan dan perumahan sehingga berjenjang.

“Kita siapkan 5 tahun, mereka lebih tumbuh dari segmentasi. Harapan kita sebenarnya, mereka keluar dari nasabah inklusi mereka bisa keluar dan naik kelas. Kemudian modal pembiayaan kita ini keanggotaan, di kelompok itu yang berbeda. Untuk penjaringan anggota awalnya bukan di bank, tapi dari anggota kelompok. Kalau mau masuk, yang melakukan seleksi pertama itu anggota kelompok. Kalau dapat persetujuan dan rekomendasi baru bisa masuk. Karena mereka ini tidak bisa dapat pembiayaan secara pribadi.

Selanjutnya, kelompok atau sentra ibu – ibu ini, akan melakukan pertemuan rutin yang wajib dihadiri anggotanya setiap, 2 minggu sekali. Di pertemuan rutin ini, ada proses pemberdayaan dan informasi dari BTPN Syariah. Kita latih mereka untuk giat menabung, ada program kelanjutan daya. Pelatihan ini untuk meningkatkan skill nasabah -nasabah kita, melalui pertemuan rutin sentra,” jelasnya kepada Simbur.

Di Sumsel sendiri ada 80 kelompok MMS tersebar di setiap kabupaten kota, kemudian di Bengkulu ada 20 MMS baru, di Jambi 30 MMS dan Bangka Belitung. Kebanyakan karyawati pendamping ini 90 persen dari Sumsel yang mendampingi diluar Sumsel ini. Sekarang ada 121 ribu perempuan atau ibu – ibu sejahtera produktif, di 17 kabupaten kota, dengan penyaluran pembiayaan BTPN Syariah sebesar Rp 432 miliar.

“Jumlah sentra 8.773 di Sumsel, didampingi 403 community official, jadi satu orang karyawati mendampingi 20 – 22 sentra atau kelompok ibu – ibu prasejahtera. Mereka terus tumbuh dan punya karir bagus di BTPN Syariah,” beber Firmansyah.

Corporate Marketing and Comunication Head BTPN Syariah Ainul Yakin melanjutkan, sebenarnya apa standing point BTPN Syariah untuk masyarakat prasejahtera ini ? jadi ada 4 akses yang diberikan ke masyarakat pra sejahtera ini.

Pertama akses keuangan, paket keuangan 5 tahun dan asuransi jiwa gratis. Kemudian fasilitas lain setelah siklus dilewati. Untuk membangun pertumbuhan ekonomi bagi masyarakat inklusi, karena memberikan modal kerja saja, tidak cukup. Akses kedua daya, diberikan pelatihan dasar keanggotaan, masyarakat prasejahtera atau nasabah inklusi, diberi pembiayaan tanpa pendampingan itu, bukan membantu tapi bisa jadi beban bagi nasabah.

“Akses ketiga kebutuhan barang, mencoba kepada nasabah agar naik kelas. Terakhir akses pasar, bagi nasabah punya produksi, mereka didaftarkan ke marketplace terdaftar di BTPN Syariah. Yang paling penting yakni, peran para bankir pemberdaya atau karyawati pendamping kami, spesifiknya community officer saat ini totalnya 12.000, semuanya perempuan atau ibu – ibu,” jelas Ainul Yakin.

Bank BTPN Syariah, memberikan pelayanan langsung ke nasabah. Bisnis model syariah mewujudkan melayani ke tempatnya, menyesuaikan kebutuhan nasanah. Seperti nasabah ibu Marni yang usahanya dagang sedikit menurun, maka Gita senagai pendamping akan menemui Ibu Marni. Pendampingan kita bukan CSR, tapi dari hari ke hari. Memenuhi kebutuhan dan menjadi konsultan nasabah.

“Petugas kami di community officer bersama kelompok sentra, bersama BTPN Syariah selama 10 tahun di Sumsel, telah melayani 121 ribu nasabah ibu – ibu. Tentunya terjadinya pertumbuhan ekonomi bagi masyarakar prasejahtera dan nasabah inklusi merupakan harapan kita bersama,” cetus Ainul Yakin.

Putri sebagai pendamping communiy officer dari daerah Alang – Alang Lebar, telah bergabung sejak tahun 2017. Putri menceritakan, dalam mendampingi nasabah ibu – ibu prasejahtera, selama 6 tahun join di BTPN Syariah ia mengaku sangat sangat senang. “Putri ini tamatan SMA dan bangga bisa kerja di Bank. Dan juga BTPN Syariah sangat membantu ekonomi sendiri dan keluarga. Bisa kuliah dari BTPN Syariah, tidak ada potongan, difasilitasi semua dari kendaraan dan tempat tinggal,” ungkapnya.

Untuk pengalaman Putri yang menantang, saat musim karhutla dan kabut asap ini, nasabah yang berjualan terganggu. “Apalagi yang jualan di sekolah karena daring, maka pendapat berkurang dan berdampak ke pembayaran atau koleksion. Tapi ini karena postmayer akibat kejadian alam,” jelas Putri.

Sementara Desi juga merupakan pendamping Community Officer atau kelompok pendamping ibu – ibu dari Kertapati telah bergabung sejak tahun 2015, mengutarakan pengalaman berbeda. “Desi juga awalnya dari anggota sampai jadi pendamping, ya senang bisa banyak bertemu orang. Bisa menjadi mandiri dan disiplin biar jauhdari orang tua. Semua difasilitasi BTPN Syariah, sangat membantu perekonomian saya dan membantu keluarga,” terang Desi.

Firman kembali mengatakan, BTPN Syariah juga punya program umroh satu pesawat. Sudah 2 kali melakukan berangkat umroh di tahun 2023 ini. Untuk kelompok sentra perempuan di Palembang. “Termasuk pemenang nasabah pernah kita memberikan logam mulia. Untuk nasabah yang terpilih, bukan hanya pembiayaannya saja yang lancar. Tapi kebanyakan untuk nasabah yang berpengaruh, bisa mengembangkan orang – orang disekitarnya. Kalau punya usaha seperti kain jumputan, bisa mengajak kerja tetangga sekitar. Itu yang dapat reward, baik berupa umroh atau logam mulia. Sudah banyak dapat dan diberikan secara konsisten,” cetusnya kepada Simbur.

Tahun ini rencananya juga, lanjut Ainul Yakin, ada community sentara ibu – ibu diberangkatkan umroh bareng, kalau sebelumnya yang terbaik saja. Sekarang sentara ibu – ibu terbaik akan diberangkatkan bersama, program reward ini tidak akan berhenti. “Bahkan saat pandemi, BTPN Syariah juga memberikan beasiswa pendidikan untuk anak – anak nasabah. Lalu pembangunan infrastruktur. Jadi setiap pertemuan sentara ibu – ibu ini, ada juga pembagian gula dan minyak dengan kreatifitas masing – masing. Bahkan sampai reward jalan – jalan ke Turki dan Korea,” tukas Ainul Yakin. (nrd)