- Sinergi Hadapi Musim Kemarau, Apel Karhutla Sumsel Bakal Digelar di Kampung Nelayan Sungsang pada 6 Mei 2026
- Resmi Dilantik, 325 Bintara Remaja TNI AD Siap Mengabdi untuk Negeri
- Protes Meluas, Warga Banyuasin Kesulitan Air Bersih
- Komitmen Indonesia-Unicef Dukung Pemenuhan Hak Anak
- PWI Pusat Dorong Perlindungan Karya Jurnalistik Masuk Revisi UU Hak Cipta
Pertunjukan Teater Terapkan Prokes di Kala Pandemi
PALEMBANG, SIMBUR – Dewan Kesenian Sumatera Selatan (DKSS) dan Teater Teriax, melakukan sebuah langkah baru, dengan menggelar pementasan seni bertajuk “Berkarya Kembali di Masa Pandemi”. Pertunjukan ini memanggungkan naskah “Dunia Serasa Milik Berdua”, buah karya sekaligus sutradara M Yunus.
Pentas teater digelar di Graha Budaya Jakabaring, Palembang, pada Sabtu dan Minggu tanggal 27-28 Maret 2021 pukul 13.00 WIB, merupakan panggung drama kali pertama di massa pandemi ini. Kegiatan itu terlaksana berkat dukungan pihak Taman Budaya Sriwijaya bersama Dinas Kebudayaan serta Dinas Pariwisata Sumsel, melalui Bidang Kebudayaan.
Acara budaya ini, menerapkan protokol kesehatan yang cukup ketat. Dengan harga tiket Rp 17.500, setiap penonton harus melalui serangkaian proses sebelum bisa masuk ke gedung pertunjukan.
“Jadi setiap penonton sebelum masuk harus cuci tangan, diukur suhu tubuh, memakai masker, membeli tiket dengan cara memesan dulu, dan mengisi data. Semua dilakukan demi kelancaran acara sekaligus menghindari penyebaran Covid 19 di masa sekarang ini,” kata Juanda, Ketapel pementasan teater ini.
Meski digelar di kala pandemi Covid 19, rupaya antusias penonton tetap luar biasa. Dengan jumlah kursi di dalam Graha Budaya Jakabaring, yang telah diberi jarak terisi penuh. Bahkan panitia terpaksa menolak penonton yang ingin menyaksikan, karena jumlah kursi sudah tidak ada lagi.
“Ini sudah jadi aturan sesuai arahan dari DKSS & Taman Budaya Sriwijaya. Kalau kursi sudah penuh maka tidak menerima penonton lagi,” tambah Bayu Widya Pratama utusan DKSS.
Pentas “Dunia Serasa Milik Berdua” sendiri bercerita tentang konflik dan kehidupan di dunia remaja. Adegan pelajar di sekolah dengan segala dinamikanya ditampilkan dengan apik oleh para pemain. Konflik pun mulai muncul saat sebuah teknologi membuat mereka mengambil sebuah keputusan.
Adegan komedi, cinta, sosial, hingga misteri pun mengalir dari para pemain yang tampil yang rata-rata berusia muda. “Sebenarnya pentas ini sudah disiapkan sejak Februari tahun lalu. Tapi karena ada masa pandemi maka mengalami penundaan, hingga akhirnya bisa terlaksana sekarang,” kata Muhammad Yunus.
Lakon ini melibatkan sekitar 25 pemain, menurut Yunus, jelas sangat sulit dalam penggarapan. Apalagi harus ditambah mengurusi perizinan pementasan di masa pandemi. “Beruntungnya kami masih banyak pihak yang mendukung hingga kegiatan ini bisa terwujud,” ujar Yunus.
Sebagai pentas pertama, jelas pihak pelaksana tidak ingin kegiatan ini menjadi yang terakhir. Karena itu panitia pelaksana melakukan penekanan harus benar-benar sesuai dengan prosedur perizinan dan protokol kesehatan.
“Kita tidak ingin kegiatan ini memperoleh catatan yang tidak baik dari masyarakat, maupun instansi yang terkait dalam penanganan pandemi Covid 19. Karena jika yang pertama ini dinilai gagal, maka akan sulit untuk mengadakan kegiatan serupa berikutnya,” kata Surono, selaku Sekretaris Dewan Kesenian Sumsel.
Hal serupa juga dilontarkan Ketua Dewan Kesenian Sumsel, Syahril Erwin, yang dihubungi via telepon karena sedang berada di luar kota. Menurutnya, DKSS siap berkerja sama dengan pihak mana pun dalam bidang kesenian. Tentunya harus dengan aturan yang jelas dan disepakati.
“Kita jangan jadi hilang semangat karena pandemi ini. Ayo terus berkarya dengan menyesuaikan kondisi dan aturan saat ini. Jika kita terus berkerja sama, maka akan lebih mudah untuk menghadapinya,” tegas Yayak, sapaan akrabnya.
Di penghujung pementasan, sebuah ulasan menarik disampaikan salah satu seniman teater Connie C Sema. Connie mengatakan, lakon yang ditampilkan sudah cukup menarik. Tinggal harus ada lebih dirapikan lagi dalam permainan karena kemampuan akting pemain yang tidak seragam.
“Yang membuat saya salut dan kagum adalah, bertahannya penonton sampai pentas berakhir. Ini membuktikan kalau masyarakat, khususnya penonton teater sudah sangat kangen menyaksikan pementasan teater secara langsung seperti ini. Semoga ke depan bisa terus diadakan,” puji Connie. (nrd)



