Tren dan Tantangan Komunikasi di Asia Pasifik, Peran Humas Kian Berkembang

# Catatan PR Newswire’s Communications Forum 2019
 

Ajang “PR Newswire’s Communications Forum 2019 berlangsung pada 18 Desember di Shenzhen, Tiongkok. Sebagai penyedia layanan distribusi berita dan pemantauan media (media monitoring) terkemuka di dunia, PR Newswire telah merangkum poin-poin penting dari ajang tersebut. Dengan demikian, praktisi profesional di sektor kehumasan dan komunikasi dapat mengikuti tren-tren komunikasi terkini. Mereka juga bisa memahami bagaimana sektor tersebut berkembang demi merespons sejumlah tantangan komunikasi. Berikut poin penting yang dikemukakan sejumlah pembicara dan panelis ternama. Mereka berasal dari The Wall Street Journal, Holmes Report, Bloomberg, Microsoft, ZTE Corporation, Trip.com Group, Tencent, dan Ogilvy.

 

SHENZHEN, SIMBUR – President, Asia Pasifik, PR Newswire, Yujie Chen mengangkat konsekuensi dari arus kunjungan web (traffic) palsu atau invalid. Akibatnya, paid media mengalami kemandekan pada 2019. Dengan demikian, earned media akan tampil kembali sebagai kanal komunikasi yang lebih baik meski telah lama diabaikan. “Pada 2019, alokasi pengeluaran untuk earned media hanya mencapai 0,5% dari total belanja humas, dibandingkan dengan 95% alokasi untuk paid media dan 4,5% untuk owned media,” paparnya.

Selanjutnya, Arun Sudhaman, CEO & Pemimpin Redaksi, Holmes Report, mengulas tatanan media yang simpang siur. Itu sebabnya, praktisi humas harus bersikap lebih proaktif dan menjadi pihak yang berperan positif. Hal tersebut dapat dilakukan dengan menyajikan kreativitas nyata kepada media dan audiens. Menurutnya, industri humas wajib menolak godaan untuk memanfaatkan platform media sosial sebagai sarana penyebarluasan kabar palsu. “Mereka perlu memeranginya dengan menyediakan konten unik, autentik, dan bernilai tambah,” imbuhnya.

Rahasia membangun merek premium dengan tingkat kesadaran konsumen pun diulas pada momen tersebut. Saat meluncurkan “APAC Comms Report”, Lynn Liu, Head of Audience Development, PR Newswire, mengatakan, 59% perusahaan memprioritaskan pencitraan merek (branding) ketimbang metrik konversi penjualan. Dia meyakini, konversi tidak terjadi begitu saja. Sumbernya ialah merek Anda. Jadi, Anda perlu membangun merek premium dengan nilai tambah yang lebih besar, bukan hanya dalam aspek produk, tapi juga pencitraan merek. “Upaya untuk meningkatkan kesadaran dan mengubah perilaku konsumen merupakan proses yang lama. Akan tetapi, pengaruhnya terhadap penjualan dan pertumbuhan jangka panjang tak dapat diabaikan,” tegasnya.

Bukan hanya itu, internet sebagai ruang visual juga menjadi sorotan forum. Alyssa McDonald, Redaktur Pelaksana, Asia Digital, Bloomberg menekankan karakteristik internet sebagai ruang visual. Hal ini mencakup gambar, video, dan rekaman wawancara. Audio bahkan semakin penting. Menurutnya, perusahaan Anda perlu ditempatkan di dalam narasi yang lebih luas. “Misalnya, apakah pendekatan Anda ke media mengangkat topik perubahan iklim atau teknologi? Jangan lupa pula, Anda harus menyesuaikan pendekatan tersebut,” sarannya.

Salah satu topik penting yang diajukan media pada ajang ini ialah pertanyaan yang dipikirkan banyak orang. “Negara mana yang kelak menjadi ‘Tiongkok’ baru?” Pertanyaan tersebut terus diajukan kalangan media, sebab negara-negara Asia Pasifik terus tumbuh dengan pesat. Beberapa topik lain yang berada di benak awak media mencakup perdagangan Amerika Serikat (AS)-Tiongkok, tingkat kesejahteraan dan aspirasi global Tiongkok, perubahan iklim, perekonomian global, resesi AS, teknologi-teknologi baru, pemilu AS serta Olimpiade.

Pada forum yang sama, video, narasi, dan cara bercerita berperan penting. Hal itu diungkap Rong Shang, Communications & Public Affairs Vice President, Microsoft. Menurut dia, 82% konten yang dikonsumsi pada era digital ialah video. Hal ini terjadi di era 4G, sementara, era 5G segera hadir. Trennya bisa berubah. “Meski kita belum mengetahui konten apa yang paling digemari pada dekade 2020-an, tapi kita sadar, apa pun bentuk kontennya, narasi dan cara bercerita (storytelling) tetap relevan,” jelasnya.

Lebih dari itu, mendapatkan kepercayaan dengan memengaruhi rekan kerja merupakan topik yang mengundang perhatian forum. Menurut Dai Shu, VP & GM of Branding, ZTE Corporation, pihaknya mendapatkan kepercayaan di pasar internasional dengan memengaruhi rekan kerja. “Di banyak pasar internasional, media lokal dianggap sebagai rekan kerja. Itu sebabnya, earned media berperan penting bagi kalangan perusahaan yang ingin berkiprah di arena global,” terangnya.

Upaya meraih publisitas internasional sebagai tantangan cukup menarik disajikan Leah Wang, Head of International Affairs. Dia berbagi pengalaman tentang kiprah global Trip.com, dan bagaimana mereka meraih publisitas internasional. Dengan menjangkau mitra lokal, Trip.com memperoleh publisitas secara organik melalui konten khusus yang dilokalisasi. Dengan demikian, mereknya kian dikenal media-media digital, konvensional, dan industri. Berbagai kanal ini ikut memperluas dan mengembangkan audiens Trip.com.

Sementara, hubungan terbuka dengan audiens menjadi kunci penting dalam kiprah global. Strategi itu dilakukan
OnePlus yang lahir dengan skala global. Sejak awal, OnePlus memiliki sejumlah anggota tim yang berlatar belakang internasional. Hal tersebut disampaikan Lyndon Cao, Senior Director of Marketing, OnePlus. Kalangan perusahaan yang ingin berkiprah di arena global harus membenahi hal-hal dasar sebelum mengurusi aspek terperinci. “Pertama, bertindak dengan integritas dan kejujuran saat menyampaikan brand promise. Kedua, menjalin hubungan terbuka dengan para pengguna guna menciptakan produk-produk baru yang lebih baik,” terangnya.

Terkait  itu, konsolidasi perangkat lunak menjadi tren yang kian mengemuka. Konten masih dianggap sebagai raja—namun, perangkat industri belum menyandang status yang sama—menurut Ulrik Larsen, President, Cision Social. Dia mengulas kebutuhan dan tren yang kian berkembang untuk konsolidasi perangkat lunak. Hal ini ditempuh untuk meningkatkan mutu komunikasi pada seluruh daur hidup. “Jika layanan-layanan tersebut semakin terkonsolidasi, hal yang sama juga terjadi untuk jabatan kerja,” tukasnya.(kbs/prn)