Dakwah Ramadan: Puasa yang Berkualitas

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Saudara-saudara yang diberkahi Allah.

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Segala puji bagi Allah swt yang telah memberikan kesempatan untuk kembali bertemu dengan bulan suci Ramadan 1447 Hijriah. Selawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad saw, keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.

Jamaah yang dirahmati Allah.

Sebelum memulai, marilah bersama-sama kita ucapkan bismillahirrahmanirrahim.

Jemaah yang diridhai Allah.

Ramadan merupakan momentum perubahan. Ramadan adalah bulan pendidikan jiwa, bulan pelatihan kesabaran, dan bulan pembentukan karakter bagi umat Islam

Allah swt berfirman dalam Alquran:

“Ya ayyuhalladzina amanu kutiba ‘alaikumush-shiyam kama kutiba ‘alalladzina min qablikum la‘allakum tattaqun.” (QS. Al-Baqarah: 183)

Rasulullah saw bersabda:

“Barang siapa berpuasa Ramadan dengan iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadirin yang dimuliakan Allah.

Nilai puasa di sisi Allah akan sangat bergantung pada kualitasnya. Semakin puasa berkualitas, semakin tinggi nilainya di sisi Allah. Sebaliknya, puasa yang kualitasnya sekedar menahan lapar dan haus, tidak bernilai apa-apa di sisiNya. Ada enam langkah menjadikan puasa berkualitas sebagaimana dilansir Bersama Dakwah.

1. Ikhlas
Pertama, agar berkualitas, puasa harus ikhlas. Tak hanya puasa, bahkan seluruh amal akan ditentukan niat yang menjadi syarat diterimanya amal ini.

2. Meninggalkan Hal-hal yang Membatalkan Puasa
Kedua, puasa harus sah. Artinya, harus meninggalkan hal-hal yang membatalkan puasa.

a. Makan atau minum dengan sengaja
Jika seseorang makan dan minum dalam keadaan lupa, itu tidak membatalkan puasanya.

b. Muntah dengan sengaja

Barangsiapa didesak muntah, ia tidak wajib mengqadha, tetapi siapa yang menyengaja muntah hendaklah ia mengqadha. (HR. Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, Daruquthni, dan Hakim)

c. Mengeluarkan sperma
Baik karena mencium istrinya atau hal lain di luar bersetubuh dan mimpi. Jika bersetubuh di siang hari ia terkena kafarat. Jika mimpi maka tidak memengaruhi puasanya.

d. Meniatkan berbuka
Niat merupakan rukun puasa, maka niat berbuka berarti membatalkan puasanya.

Berbeda ketika disuntik, infus maupun operasi, tidak membatalkan puasa. Mengapa? Syaikh Dr Yusuf Qardhawi berpendapat bahwa suntik dan infus tidak membatalkan puasa. Namun seseorang yang disuntik atau diinfus karena sakit, ia tidak wajib berpuasa.

3. Meninggalkan pembatal pahala puasa

Ikhlas serta meninggalkan hal-hal yang membatalkan puasa saja tidak cukup untuk membuat puasa kita berkualitas. Hal lain yang perlu kita lakukan adalah meninggalkan hal-hal yang membuat puasa sia-sia. Meninggalkan hal-hal yang menjadi pembatal puasa. Caranya dengan menjauhi apa yang Allah haramkan. Di antaranya adalah menjaga emosi kita agar tidak marah dan tidak berdusta.

4. Meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat

Ada orang yang berpuasa lalu mengisi siang harinya dengan hal-hal yang tidak bermanfaat. Dengan alasan agar lupa rasa lapar dan haus selama puasa mereka seharian di depan televisi, memperbanyak main game, dan sebagainya. Hal-hal seperti ini hendaknya ditinggalkan agar puasa benar-benar berkualitas.

5. Mempuasakan seluruh organ tubuh, pikiran, dan hati

Inilah yang diistilahkan puasa khusus oleh Imam Ghazali dalam Ihya’ Ulumiddin dan ditegaskan oleh Ibnu Qudamah dalam Mukhtashar Minhajul Qasidin.

Pertama, mempuasakan mata dengan menahannya dari pandangan kepada sesuatu yang tercela dan dibenci syariat serta melalaikan Allah swt.

Kedua, mempuasakan lidah dengan memeliharanya dari berbicara tanpa arah, dusta, menggunjing, mengumpat, berkata buruk, berkata kasar, permusuhan dan mendzalimi orang lain, sebagaimana hadits “inni shoo’imun” di atas.

Ketiga, mempuasakan telinga dari mendengarkan segala sesuatu yang haram dan makruh. Karena segala sesuatu yang haram diucapkan adalah haram pula untuk didengarkan.

Keempat, mempuasakan tangan dari mendzalimi orang lain, mengambil sesuatu yang bukan haknya, serta melakukan perbuatan yang dilarang syariat.

Kelima, mempuasakan kaki dari berjalan ke arah yang diharamkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Keenam, mempuasakan hati dari penyakit-penyakit ruhiyah seperti dengki, iri, marah, kecintaan pada dunia, dan sebagainya.

Ketujuh, menjaga pikiran dari membayangkan hal-hal yang disenangi syahwat dan dibenci syariat, serta dari tipu daya dan pikiran destruktif lainnya

6. Memperbanyak amal saleh selama Ramadan

Saat meninggalkan hal yang haram dan tidak bermanfaat, pada saat yang sama kita memperbanyak amal saleh pada saat berpuasa. Seperti memperbanyak tilawah Alquran, berzikir kepada Allah, shalat sunnah, tafakur, mengkaji ilmu-ilmu agama, memperbanyak infak, dan lain sebagainya.

Demikianlah enam langkah agar puasa berkualitas. Semoga jemaah termasuk orang-orang yang dimudahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala hingga akhirnya mencapai derajat takwa dan kelak dimasukkan ke dalam surga-Nya.

Terima kasih atas perhatiannya.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.