- Sinergi Hadapi Musim Kemarau, Apel Karhutla Sumsel Bakal Digelar di Kampung Nelayan Sungsang pada 6 Mei 2026
- Resmi Dilantik, 325 Bintara Remaja TNI AD Siap Mengabdi untuk Negeri
- Protes Meluas, Warga Banyuasin Kesulitan Air Bersih
- Komitmen Indonesia-Unicef Dukung Pemenuhan Hak Anak
- PWI Pusat Dorong Perlindungan Karya Jurnalistik Masuk Revisi UU Hak Cipta
Pascabanjir akibat Tanggul Jebol, Warga Demak Antusias Nyoblos di 114 TPS
# Pemungutan Suara Susulan di Daerah Bencana
DEMAK, SIMBUR – Warga Desa Wonorejo, Kecamatan Karanganyar sedari pagi, para warga berduyun-duyun menyambangi Sekolah Dasar Negeri (SDN) 01 Wonorejo. Mereka datang tidak untuk menerima bantuan permakanan maupun logistik dan peralatan pada masa tanggap darurat banjir. Akan tetapi, untuk menggunakan hak pilih dalam pesta demokrasi yang sempat ditunda karena air bah mengepung hampir sebagian besar wilayah Kabupaten Demak dan sekitarnya.
SD Negeri Wonorejo dipilih sebagai lokasi pemungutan suara Pemilu susulan. Di lokasi ini terdapat enam Tempat Pemungutan Suara (TPS), yakni TPS 13, 14, 15, 16, 17, dan 18 Desa Wonorejo, yang mana pemungutan suara dilaksanakan mulai pukul 08.00 pagi hingga pukul 13.00 WIB.
Sriatun, warga RT 4, RW 3, Desa Wonorejo, Karanganyar, Demak ini mengakui, hingga saat ini ia masih mendampingi warga yang mengungsi mandiri di Masjid Al Busyro, Kedung Banteng Wonorejo. “Saya sudah nyoblos. Kalau dibilang antusias, iya karena semangat mau memilih pemimpin dan ini tanggung jawab saya sebagai warga,” kata Sriatun yang juga merupakan Koordinator Pengungsian di tempatnya.
Sriatun merupakan satu dari 1.560 lebih daftar pemilih tetap (DPT) yang tercatat di enam TPS tersebut. Merujuk data dari situs resmi Pemerintah Kabupaten Demak, total DPT yang tercatat di Kecamatan Karanganyar berjumlah 58.360 dari 17 kelurahan/desa.
Ernita Oktaviani selaku Ketua KPPS TPS 14 mengakui bahwa pelaksanaan pemungutan suara susulan di TPS-nya terbilang lancar dan tertib. Hal ini tidak lain merupakan buah dari kolaborasi multipihak yang terjalin pascabencana banjir yang menerjang. “Memang kendalanya pascabanjir dan masih hujan sampai pagi tapi Alhamdulillah warga terlihat antusias. Kemarin persiapan dari siang sampai malam, selain logistik juga kita gotong royong untuk bersihkan tempat TPS ini,” katanya.
Ernita mengakui, rasa tanggung jawab yang dipikul sebagai Ketua KPPS membuatnya tetap bersemangat mengawal jalannya Pemilu susulan di tengah kondisi darurat pascabencana. “(Merasa) tanggung jawab selagi kita bisa bantu orang dan negara dengan ini kenapa tidak,” sambungnya.
Antusiasme warga dalam penyelenggaraan pemungutan suara susulan tergambar di lingkungan SD Negeri Wonorejo. Seluruh rengkaian proses pemungutan suara pun berlangsung tertib meski di tengah kondisi bencana.
Kesuksesan pesta demokrasi itu tentunya tak luput dari ikhtiar para petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) serta dukungan dari tim gabungan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Demak beserta lintas instansi lainnya guna menciptakan Pemilu yang baik.
Kepala Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BNPB Bambang Surya Putra mengatakan bahwa dukungan yang diberikan demi kesuksesan pemungutan suara susulan kali ini merupakan bagian dari pendampingan posko terpadu penanganan darurat banjir di Kabupaten Demak oleh BNPB beserta stakeholder lainnya
Pemerintah terus mengupayakan percepatan penanganan darurat melalui berbagai cara di antaranya dengan pelaksanaan operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) untuk mereduksi dan derestribusi curah hujan sebagai mitigasi di wilayah hulu, pengerahan Pompa Air Bergerak (mobile pump) guna mengurangi genangan air di lokasi TPS dan pembersihan lingkungan di sejumlah fasilitas umum dan fasilitas sosial bersama BPBD, relawan, dan warga.
“Dukungan kami melekat pada pendampingan posko. Adapun dukungan untuk Pemilu susulan ini merupakan bagian dari rencana operasi percepatan penanganan darurat. Ada sekitar 114 TPS yang mengalami dampak cukup parah sehingga perlu adanya Pemilu susulan. Maka dari itu kita fokus pada rehabilitasi lingkungannya agar pelaksanaan dapat berjalan lancar,” ujar Bambang, Sabtu (24/2).
Fokus Pemulihan Lingkungan
Sampai hari ini, hasil kaji cepat yang dilakukan BPBD Kabupaten Demak menyebutkan bahwa banjir sudah mulai surut di hampir 98 persen wilayah. Para warga yang mengungsi pun telah berangsur kembali ke rumah. Dengan pertimbangan kondisi di lapangan dan merujuk hasil evaluasi yang dilakukan okeh multi sektor, maka BNPB akan mulai fokus pada pendampingan rehabilitasi lingkungan. Hal ini dilakukan agar warga terdampak dapat kembali menjalani kehidupan dengan normal.
Pemulihan lingkungan itu di antaranya seperti membantu warga membersihkan rumah, jalanan dari lumpur dan sisa sampah, serta pembersihan saluran drainase. “Berdasarkan laporan BPBD sudah hampir 98 persen surut, artinya kita sudah harus beralih bagaimana pemulihan lingkungan dilakukan agar ketika potensi banjir dan hujan kembali terjadi bisa meminimalisir resiko banjirnya,” terang Bambang.
Selain fasilitas umum dan sosial, pembersihan rumah secara mandiri juga perlu didukung. BNPB sudah merencanakan akan memberikan bantuan seperti alat kebersihan untuk rumah tangga serta penyemprotan desinfektan di setiap rumah yang terdampak kemarin. Bambang berharap upaya yang dilakukan dapat membantu masyarakat terdampak memulai kembali kehidupannya.
“Jadi pembersihan secara mandiri perlu kita dukung juga kemudian dukungan dengan pompa air dan mobil tangki yang mungkin listriknya juga belum hidup sehingga perlu ada dukungan air bersih, ini harus dilakukan sebagai bagian dari percepatan penanganan darurat,” pungkasnya.
Perbaikan Tanggul Jebol dan TMC Jadi Strategi Penanganan Banjir
Sebelumnya, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto, S. Sos., M.M. kembali sambangi wilayah terdampak banjir di Kabupaten Demak, Jawa Tengah pada Rabu (20/2).
Mengawali kunjungan kerjanya kali ini, Suharyanto meninjau Posko Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) yang berada di Bandara Ahmad Yani, Semarang. TMC merupakan upaya yang dilakukan oleh BNPB bersama lembaga lain untuk mengurangi curah hujan yang akan turun di wilayah Demak, sebagai salah satu langkah tambahan dalam proses penanganan banjir.
“Salah satunya (upaya penanganan dengan) TMC, jadi kalo saat El Nino, TMC fokus untuk mendatangkan hujan menyiram api yang membakar lahan dan hutan. Sekarang TMC digunakan untuk mengalihkan hujan, sudah dilakukan mulai tanggal 15 sampai hari ini sudah enam hari berturut-turut sudah ada 18 sorti atau 18 ton garam yang disebar.Alhamdulillah beberapa hari ini tidak ada hujan dan membantu saat proses penutupan tanggul sekarang tanggul sudah tertutup,” imbuhnya.
Suharyanto menjelaskan, proses penanganan banjir di Demak cepat terkendali salah satunya berkat TMC dan penutupan tanggul. “Sumber masalahnya, tanggul Sungai Wulan jebol, karena jebolnya cukup luas dan lebar hamir 30 meter. Saat awal kemajuannya tidak signifikan, karena air sangat besar dari sungai dan hujan turun terus, jika itu tidak diatasi sumbernya maka tidak selesai. Kita kerja sama dengan PUPR, PUPR fokus pada penutupan tanggul, kami BNPB mengurangi sumber air dari hujan,” ucap Suharyanto.
Kedatangan Suharyanto merupakan yang kedua kalinya, ini sebagai representatif pemerintah pusat terus melakukan penanganan secara cepat dan tepat sehingga masyarakat terdampak tidak berlarut-larut dalam kesulitan. Tentu saja dalam tahap darurat langkah-langkah yang dilakukan ketika banjir secara paralel sudah dilakukan semua. Saat awal-awal ada kekurangan dan kelemahan, tapi setiap hari kita perbaiki.
“Pertama saat banjir kita selamatkan dulu masyarakat yang terdampak, saat banjir dua mingguan lalu ada 22 ribu orang terdampak, kita siapkan 50 titik pengungsian ada yang mengungsi di gedung pertemuan, sekolah, tenda-tenda baik komunal maupun perorangan. Perhari ini kita yakinkan untuk tempat penampungan (pengungsi) rata-rata sudah lebih baik. Kemudian kebutuhan dasar bagi pengungsi juga terpenuhi seperti makan, minum, MCK dan tidak ada laporan terkait penyakit di pengungsian,” tambah Suharyanto.
Dalam penanganan bencana, keterlibatan pentaheliks sangat dibutuhkan untuk mempercepat proses di setiap kejadian bencana. Kali ini BNPB bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kemen PUPR) bahu membahu menerjunkan pompa air untuk mempercepat surutnya debit air yang merendam rumah warga dan jalan umum.
“Air yang ada di perkotaan setinggi rumah dan menenggelamkan kendaraan sudah relaif surut. Tapi surutnya tidak bisa dibiarkan secara alami, prediksi kalau hanya dibiarkan itu sampai dua bulan baru surut. Kalau dua bulan penderitaan masyarakat semakin dalam, sehingga kita pompa, kita mengerahkan puluhan pompa. Kerjasamanya bagus, dari BNPB, PUPR dan BPBD se-Jawa Tengah sangat kompak, jadi pompa dari Semarang, Kudus dan Jepara dipakai untuk membantu menguras air,” jelas Suharyanto.
“Dalam satu detik dapat mengalirkan 250 liter per alat, kalau masif mudah-mudahan dalam waktu tidak terlalau lama bisa surut. Ini untuk menyelamatkan permukiman, jalur transportasi dan sawah masyarakat. Banyak sawah terendam dengan hujan dihentikan, air dipompa jadi surut. Banyak padi-padi yang bisa diselamatkan untuk panen di awal tahun 2024,” imbuhnya.
Suharyanto mengungkap, BNPB juga akan menyiapkan perbaikan rumah bagi warga yang terdampak banjir sesuai dengan tingkat kerusakan yang dialami. “Seperti bencana di tempat lain, kena banjir juga akan diberikan. Nanti ada spesifikasi rusak berat 60 juta, rusak sedang 30 juta dan rusak ringan 15 juta. Nanti itu tahap berikutnya setelah tanggap darurat memasuki rehabilitasi dan rekonstruksi,” pungkasnya.
Fasilitasi Pemindahan Pengungsi Mandiri
Pemerintah melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terus mendukung upaya penanganan pengungsi banjir Demak, Jawa Tengah, yang dilakukan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Demak dan seluruh unsur fokopimda.
Hal itu dilakukan demi memberikan pelayanan terbaik bagi warga terdampak banjir yang dipicu faktor cuaca dan meningkatnya debit air dari tiga hulu sungai sekaligus sejak awal bulan Februari 2024. Pada hari Minggu (18/2) lalu, unsur pemerintah pusat maupun daerah memfasilitasi pemindahan pengungsi terdampak banjir yang selama ini bertahan di tenda mandiri. Melalui pendekatan persuasif, sebanyak 50 warga Desa Wonoketingal itu secara bertahap dipindahkan ke tenda pengungsi BNPB di halaman kantor Desa Wonoketingal, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Demak.
Sebelumnya, warga terdampak banjir di wilayah desa tersebut memilih untuk mendirikan tenda mandiri di bahu Jalan Raya Demak-Kudus yang merupakan jalur utama pantura. Mereka beralasan lokasi tenda mereka lebih dekat dengan rumah sehingga merasa bahwa keamanan harta benda lebih terjamin.
Kendati demikian, keberadaaan tenda mandiri warga di sepanjang bahu jalan itu tentunya membahayakan baik bagi para pengungsi maupun bagi pengguna jalan. Terlebih, surutnya genangan air yang mulai terpantau sejak Sabtu (16/2), membuat lalu lintas di Jalan Raya Demak-Kudus diaktifkan kembali untuk dilalui kendaraan.
Pemenuhan Kebutuhan Dasar
Selain memindahkan pengungsi, pemerintah juga memastikan pemenuhan kebutuhan dasar pengungsi dengan dukungan bantuan permakanan, logistik, dan pelayanan kesehatan dari Puskesmas Karanganyar II dan relawan.
Adapun, pemerintah juga terus memberikan pendampingan lainnya termasuk menyerap aspirasi warga terkait pemenuhan kebutuhan dasar selama di pengungsian. Plt. Sekretaris Desa Wonoketingal Abu Khoer saat ditemui tim Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB di lokasi mengatakan bahwa saat ini kebutuhan mendesak yang diperlukan warga di adalah air bersih. “Pembagian air bersih baru yang di pengungsian luar desa, kalau kami yang di dalam desa ini belum kebagian,” ungkap Abu.
Dihubungi secara terpisah, Direktur Dukungan Sumber Daya Darurat BNPB Agus Riyanto mengatakan bahwa pemenuhan kebutuhan dasar tersebut tentunya menjadi prioritas utama pemerintah yang akan terus dimaksimalkan. “Itu yang terus menjadi perhatian utama kami bahwa pemenuhan kebutuhan dasar pengungsi akan terus disuplai oleh satgas gabungan,” kata Agus.(red)



