- Jaksa Sita Truk dan Alat Berat Perusahaan Terkait Korupsi Distribusi Semen
- Pejabat Bank Tersangka Korupsi KUR di OKUT Tidak Ditahan karena Akan Menjalankan Ibadah Haji
- Diduga Menghalangi Penyidikan Kasus Korupsi, Staf Ahli Bupati Muba dan Oknum Pengacara Jadi Tersangka
- Sinergi Hadapi Musim Kemarau, Apel Karhutla Sumsel Bakal Digelar di Kampung Nelayan Sungsang pada 6 Mei 2026
- Resmi Dilantik, 325 Bintara Remaja TNI AD Siap Mengabdi untuk Negeri
Tiga Provinsi Rasakan Gempa Nias Barat
JAKARTA, SIMBUR – Pusat Pengendali dan Operasi (Pusdalops) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah menerima laporan dari 11 Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) kabupaten/kota di tiga provinsi. Laporan terkait gempabumi dengan parameter magnitudo 7.2 yang kemudian dimutakhirkan menjadi 6.7 di lepas pantai sebelah barat Kabupaten Nias Barat, Sumatera Utara, Jumat (14/5).
Kepala Sub Bidang Direktorat (Kasubdit) Tanggap Darurat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Nias Barat, Hiramo melaporkan, guncangan gempabumi tersebut sempat membuat masyarakat panik dan keluar rumah. “Masyarakat panik dan keluar rumah,” ujar Hiramo melalui keterangan tertulis.
Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Kabupaten Nias Barat saat ini sedang melakukan kaji cepat dan berkoordinasi dengan instansi dan pihak terkait. Sementara itu, berdasarkan hasil rekaman seismogram Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), pusat gempabumi tersebut berada pada 0.10 LU dan 96.53 BT di laut pada kedalaman 19 kilometer (km). Apabila ditarik garis lurus, lanjut dua, maka jarak pusat gempa tersebut berada pada 141 km Barat Daya Nias Barat, 151 km Barat Daya Nias Selatan, 172 km Barat Daya Nias, 455 km Barat Daya Medan dan 1.339 km Barat Laut Jakarta.
Dr Raditya Jati, Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB mengatakan, laporan pertama dari Provinsi Sumatera Utara, Pusdalops menerima laporan dari masing-masing BPBD Kabupaten Nias Barat, BPBD Kabupaten Nias Utara, BPBD Kabupaten Nias Selatan dan BPBD Kabupaten Nias yang menyatakan bahwa gempabumi dirasakan sedang hingga kuat oleh warga selama 2-5 detik.
“Dari adanya guncangan tersebut, warga sempat panik dan berhamburan keluar rumah menyelamatkan diri dari hal yang tidak diinginkan terkait adanya potensi dampak gempabumi,” ujar Raditya melalui siaran pers yang diterima redaksi, Jumat (14/5).
Selanjutnya, kata Raditya, dari BPBD Kabupaten Kepulauan Mentawai juga melaporkan bahwa gempabumi dirasakan sedang hingga kuat selama 2-5 detik. Beberapa masyarakat di Desa Simalegi, Kecamatan Siberut Barat, Kabupaten Kepulauan Mentawai dilaporkan sempat mengungsi ke tempat yang lebih aman setelah merasakan guncangan kuat dari gempabumi. “Kini mereka telah kembali ke rumah masing-masing dan suasana kembali kondusif,” ujarnya.
Laporan selanjutnya dari BPBD Kota Sibolga yang menyatakan bahwa guncangan kuat telah terjadi selama 3-5 detik. Beberapa warga panik dan keluar rumah setelah merasakan guncangan tersebut. Berikutnya dari Provinsi Aceh, BPBD Kabupaten Aceh Singkil melaporkan bahwa masyarakat sempat panik dan keluar rumah setelah merasakan gempa kuat selama kurang lebih 3 detik. Sementara itu, BPBD Kabupaten Simeulue melaporkan gempabumi dirasakan kuat selama 2-3 detik namun tak membuat masyarakat panik.
Dari Sumatera Barat, BPBD Kota Padang melaporkan bahwa guncangan gembabumi telah dirasakan sedang selama 3-5 detik dan membuat masyarakat panik hingga keluar rumah. “Selanjutnya berdasarkan laporan dari BPBD Kabupaten Pesisir Selatan dan BPBD Kabupaten Padang Pariaman, masyarakat hanya merasakan guncangan lemah hingga sedang dan aktivitas normal seperti biasa,” terangnya.
Menurut laporan dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), gempabumi Nias Barat magnitudo (M) 6.7 telah mengalami dua kali gempabumi susulan (aftershock) yakni M 5.2 pada pukul 14.16 WIB dan M 5.3 pada pukul 16.16 WIB.
Pusat gempabumi susulan tersebut dilaporkan berada pada titik koordinat 0.21 LU-96.58 BT di kedalaman 10 kilometer (km) dan tidak berpotensi tsunami. Menurut BMKG, jenis dan mekanisme gempabumi tersebut merupakan gempabumi dangkal yang berada di zona outer-rise, dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya.
Adapun hal itu sesuai hasil analisis BMKG yang menunjukan bahwa gempabumi tersebut memiliki mekanisme sesar turun (normal fault). Hingga Jumat (14/5) pukul 14.30 WIB, hasil monitoring BMKG menunjukkan adanya aktivitas gempabumi susulan sebanyak 3 kali.
Berdasarkan laporan yang diterima Pusdalops BNPB per Jumat (14/5) pukul 16.28 WIB, belum ada data mengenai kerusakan bangunan maupun jatuhnya korban jiwa dari rentetan gempabumi tersebut. Dalam hal ini, seluruh BPBD yang melaporkan adanya dampak gempabumi telah melakukan kaji cepat dan koordinasi bersama lintas instansi terkait.
BPBD juga telah memberikan imbauan kepada masyarakat agar tetap waspada, tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. “Diharapkan agar masyarakat dapat menghindari dari bangunan yang retak atau rusak diakibatkan oleh gempa, memeriksa dan memastikan kembali bangunan tempat tinggal cukup tahan gempa ataupun tidak ada kerusakan akibat getaran gempa yang membahayakan kestabilan bangunan sebelum kembali ke dalam rumah,” tandasnya.(red/rel)



