{"id":9006,"date":"2017-05-25T10:07:32","date_gmt":"2017-05-25T03:07:32","guid":{"rendered":"https:\/\/simbursumatera.com\/?p=9006"},"modified":"2017-05-25T10:07:32","modified_gmt":"2017-05-25T03:07:32","slug":"menulis-bikin-hidup-dikenang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/simbursumatera.com\/?p=9006","title":{"rendered":"Menulis Bikin Hidup Dikenang"},"content":{"rendered":"<p>PALEMBANG, SIMBURNEWS &#8211; &#8220;Veta brevis, ars longa&#8221;. Begitu pepatah dalam bahasa Latin yang artinya,&#8221;hidup singkat, seni abadi&#8221;. Sastra sebagai karya seni menjadi sebuah implementasi\u00a0 bahwa tidak ada kehidupan yang abadi. Dalam konteks ini, karya sastra yang ditulis pengarang merupakan media alternatif agar bisa dikenang.<\/p>\n<p>&#8220;Hidup manusia ada batasnya. Menulis (sastra) dapat membuat hidup manusia dikenang sepanjang masa,&#8221; ungkap Dr Didi Suhendi SPd MHum, saat memberikan workshop penulisan fiksi pada kegiatan Gebyar Sejuta Karya 2017 di kampus utama Universitas Bina Darma Palembang, Rabu (24\/5).<\/p>\n<p>Alumnus doktoral sastra Universitas Gajah Mada Yogyakarta itu menjelaskan, ada tiga hal yang perlu diperhatikan penulis agar kualitas karya sastra itu baik. Pertama, karya sastra harus memiliki intensitas konflik yang kuat. Kedua, tidak menggurui pembaca. &#8220;Terakhir, biarkan pembaca menyimpulkan sendiri ending (akhir cerita),&#8221; paparnya.<\/p>\n<p>Diterangkannya pula, pemilihan nama tokoh dalam karya sastra harus diperhatikan. Dari karakter tipografi huruf nama tokoh itu menggambarkan penokohannya dalam sekelumit peta konflik.<\/p>\n<p>Didi mencontohkan, mengapa sastrawan Ahmad Tohari suka menggunakan huruf &#8220;S&#8221; pada nama tokoh dalam novelnya Ronggeng Dukuh Faruk. Serintil\u00a0 misalnya. Huruf S pada nama tokoh Serintil menunjukkan konflik berliku yang dialaminya seakan tak kunjung henti.<\/p>\n<p>Selain teoritis dan akademis, menulis sastra juga dapat mendatangkan manfaat secara ekonomis. &#8220;Jika karya sastra dimuat di media massa, maka penulis akan dapat penghasilan tambahan. Apalagi karya sastra tersebut dijadikan objek pembuatan film\/sinetron, bayangkan begitu deras royalti mengalir ke kantong penulis,&#8221; ungkapnya di sela peluncuran dan bedah novel Penantian di Bawah Purnama karya Murni Oktarina.<\/p>\n<p>Tidak hanya penulisan sastra atau fiksi, Gebyar Sejuta Karya juga diisi dengan kursus akting singkat oleh Anto Narasoma dan pelatihan mendongeng oleh kak Inug. Kegiatan juga diwarnai pementasan drama oleh Teater Tenun dan Teater Bismillah SMA PGRI 2 Palembang.<\/p>\n<p>Sementara, Dekan FKIP Universitas Bina Darma, Prof Waspodo MEd PhD mengatakan, kegiatan tersebut merupakan bagian dari kurikulum. &#8220;Ini suatu kegiatan yang sifatnya kurikuler. Artinya ada mata kuliah apresiasi prosa fiksi. Karena ini mata kuliah maka wajib ikut,&#8221; ungkapnya.<\/p>\n<p>Senada diungkap Hastari Mayrita SPd MPd, Ketua Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP Universitas Bina Darma menyambut baik kegiatan apresiatif dan kreatif mahasiswanya. &#8220;Kami senantiasa mendukung kegiatan akademik mahasiswa. Apalagi Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Bina Darma sudah terakreditasi B,&#8221; terangnya.<\/p>\n<p>Diketahui,\u00a0 kegiatan Apresiasi Sastra Anak meliputi Sayembara Cerita Anak, Dongeng, dan Debat Sastra Anak. Kemudian, Apresiasi Prosa Fiksi- Sastra meliputi Launching Buku Bahasa dan Sastra Indonesia, Workshop Penulisan Buku Fiksi, Bedah Buku Fiksi, dan Pameran Buku Fiksi. Selanjutnya, Apresiasi Drama meliputi Pentas Drama, Jumpa Dramawan, Kursus Akting Singkat, dan Pemutaran Film Pendek.(cjs01)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>PALEMBANG, SIMBURNEWS &#8211; &#8220;Veta brevis, ars longa&#8221;. Begitu pepatah dalam bahasa Latin yang artinya,&#8221;hidup singkat, seni abadi&#8221;. Sastra sebagai karya seni menjadi sebuah implementasi\u00a0 bahwa tidak ada kehidupan yang abadi. Dalam konteks ini, karya sastra yang ditulis pengarang merupakan media alternatif agar bisa dikenang. &#8220;Hidup manusia ada batasnya. Menulis (sastra) dapat membuat hidup manusia dikenang sepanjang masa,&#8221; ungkap Dr Didi Suhendi SPd MHum, saat memberikan workshop penulisan fiksi pada kegiatan Gebyar Sejuta Karya 2017 di&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[8],"tags":[],"class_list":["post-9006","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-dikbudportekes"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/9006","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=9006"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/9006\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":9008,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/9006\/revisions\/9008"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=9006"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=9006"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=9006"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}