{"id":48141,"date":"2026-09-17T15:52:40","date_gmt":"2026-09-17T08:52:40","guid":{"rendered":"https:\/\/simbursumatera.com\/?p=48141"},"modified":"2026-09-17T15:52:40","modified_gmt":"2026-09-17T08:52:40","slug":"karhutla-masuk-kota-dan-mengintai-lapas-di-palembang-petugas-terkendala-air","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/simbursumatera.com\/?p=48141","title":{"rendered":"Karhutla Masuk Kota dan Mengintai Lapas di Palembang, Petugas Terkendala Air"},"content":{"rendered":"<p><strong>PALEMBANG, SIMBUR<\/strong> \u2014 Kebakaran lahan mulai masuk Kota Palembang. Kali ini terjadi di kawasan Perumahan Taman Asri, Kecamatan Sako, Kota Palembang, Rabu (16\/9) malam. Di tengah kondisi lahan yang kering, petugas terus bergerak memastikan bara yang tersisa tidak kembali berubah menjadi kobaran api.<\/p>\n<p>Kasie Kedaruratan BPBD Kota Palembang, Muhammad Aryansah mengatakan, penanganan kebakaran lahan bukan sekadar soal memadamkan api. Di lapangan, petugas juga harus berpacu dengan kondisi lingkungan yang kering dan keterbatasan pasokan air. \u201cSaat ini kami sedang berada di titik api yang keempat di Kecamatan Sematang Borang ini,\u201d ujar Aryansah.<\/p>\n<p>Ia menjelaskan, kejadian bermula dari Jalan Takwa, tepatnya di belakang Lapas Kelas I Kota Palembang. Laporan pertama diterima petugas sekitar pukul 14.15 WIB. BPBD bersama Dinas Pemadam Kebakaran Kota Palembang kemudian langsung bergerak menuju lokasi. \u201cDi lokasi pertama kami menurunkan dua unit mobil Damkar dan dua unit mobil BPBD untuk pemadaman, durasi pemadaman sekitar 2 jam setengah,&#8221; katanya.<\/p>\n<p>Upaya pemadaman sempat dilakukan, namun api kembali muncul. Titik kedua masih berada di sekitar Jalan Takwa, sementara titik berikutnya berada di kawasan perumahan dan sekitar belakang TPU Sematang Borang. \u201cSetelah itu hidup api lagi di titik kedua di seputaran Jalan Takwa, tetap di lokasi yang sama tapi agak sedikit maju ke dalam. Jadi, lokasi kedua dan lokasi ketiga ini di Jalan Perumahan Taman Puri, itu tepatnya di belakang TPU Sematang Borang.\u201d tutur Aryansah.<\/p>\n<p>Memasuki titik keempat, petugas kembali melakukan penanganan. Dari titik pertama, luas lahan yang terbakar diperkirakan mencapai lebih dari satu hektare. Sementara luas area pada titik keempat masih dalam pendataan.<\/p>\n<p>Namun, di balik upaya pemadaman tersebut, terdapat tantangan lain yang tidak kalah penting yakni air. Kondisi kering yang terjadi di sejumlah wilayah Palembang membuat kebutuhan air untuk pemadaman semakin tinggi. Aryansah menyebut kawasan tersebut juga masuk dalam wilayah yang terdata mengalami kekeringan.<\/p>\n<p>\u201cKalau kendalanya, sekarang mengalami kendala yaitu air. Karena memang situasi di seputaran Kota Palembang ini sedang kekeringan. Apalagi ini termasuk kecamatan yang kekeringan, masuk data di kami itu wilayah kekeringan,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p>Mengenai penyebab kebakaran, petugas masih belum dapat menyimpulkan secara pasti. Namun, berdasarkan kondisi di lapangan, Aryansah menyampaikan dugaan awal yang masih perlu dibuktikan lebih lanjut. \u201cSaat ini faktor api belum bisa kita simpulkan. Kurang lebih ini sepertinya memang ada kesengajaan dibakar. Karena api tidak mungkin muncul tiba-tiba.\u201d katanya.<\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<p>Penanganan di lapangan melibatkan unsur BPBD dan Damkar Kota Palembang. Sekitar 15 personel BPBD dikerahkan bersama personel Damkar dari sejumlah posko, sehingga total kekuatan yang diturunkan mencapai sekitar 75 personel. \u201cJumlah personil kami yang terlibat dari BPBD sendiri itu ada sekitar 2 tim yang turun. Berarti 15 orang kemudian Damkar 2 regu, itu sekitar 75 personil yang kita turunkan.\u201d ujar Aryansah.<\/p>\n<p>Di tengah upaya petugas menjaga agar api tidak kembali meluas, Aryansah mengingatkan bahwa pencegahan tidak hanya berada di tangan petugas. Masyarakat memiliki peran penting, terutama dalam kondisi lahan yang kering.<\/p>\n<p>Ia meminta warga tidak membakar sampah, terlebih di lahan terbuka yang mudah terbakar. Kepedulian lingkungan dan keberanian untuk saling mengingatkan menjadi bagian penting dalam mencegah kejadian serupa. \u201cImbauan kami kepada warga, khususnya warga Palembang ya. Untuk tidak membakar sampah atau kami menghimbau RT setempat. Teman-teman, warga masyarakat untuk lebih aktif lagi lah. Peduli lagi terhadap lingkungan. Tegur ada warganya yang coba-coba membakar sampah di wilayah lahan terbuka seperti ini,&#8221; tegasnya.<\/p>\n<p>Di tengah panasnya lahan dan keterbatasan air, pesan tersebut menjadi pengingat bahwa mencegah api jauh lebih mudah daripada menghadapi kobaran yang telah terlanjur membesar. Bagi petugas di lapangan, setiap titik api yang berhasil dikendalikan bukan hanya tentang berakhirnya satu kejadian kebakaran. Lebih dari itu, ada upaya menjaga lingkungan, melindungi permukiman di sekitarnya, dan memastikan masyarakat tetap aman.<\/p>\n<p>Sementara itu, pada Selasa (15\/9), perhatian pemerintah kembali tertuju ke Sumatera Selatan. Kepala BNPB Letjen TNI Dr. Suharyanto S.Sos, M.M., hadir di Palembang untuk mengikuti Rapat Evaluasi Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan di Provinsi Sumatera Selatan yang digelar di Kantor BPBD Provinsi Sumatera Selatan.<\/p>\n<p>Gubernur Sumatera Selatan, Herman Deru menyampaikan perkembangan penanganan karhutla di wilayahnya. Sementara BMKG memberikan gambaran mengenai kondisi cuaca dan potensi yang dapat memengaruhi perkembangan kebakaran. Informasi tersebut menjadi dasar penting dalam menentukan strategi penanganan di lapangan.<\/p>\n<p>Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, Ph.D mengatakan, data rapat koordinasi penanganan karhutla Sumatera Selatan per Selasa (15\/9), terpantau 1.737 titik panas (hotspot) di wilayah Sumatera Selatan. Namun, angka hotspot bukanlah satu-satunya ukuran keberhasilan penanganan. Setiap titik harus diverifikasi karena kondisi di lapangan dapat berbeda. &#8220;Terlebih, karakteristik lahan gambut membuat api memiliki kemampuan untuk bertahan di bawah permukaan dan kembali muncul apabila proses pendinginan tidak dilakukan secara menyeluruh,&#8221; ujarnya.<\/p>\n<p>Karena itu, ketika api terlihat padam, pekerjaan belum tentu selesai. Petugas masih harus melakukan pembasahan, pendinginan dan pemantauan berulang untuk memastikan tidak ada bara yang tersisa. &#8220;Di sejumlah lokasi, proses tersebut bahkan membutuhkan waktu berhari-hari,&#8221; ujar Berton.<\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<p>Data Posko Satgas Karhutla Sumatera Selatan per (14\/9) mencatat luas lahan terbakar mencapai 404,22 hektare. Pada periode tersebut, wilayah Kabupaten Ogan Komering Ilir, Muara Enim, Banyuasin, Penukal Abab Lematang Ilir, serta Kota Palembang menjadi beberapa wilayah yang mendapat perhatian dalam penanganan karhutla.<\/p>\n<p>Di balik angka-angka tersebut terdapat pekerjaan panjang yang dilakukan banyak pihak. Personel BPBD, Manggala Agni, TNI, Polri, pemerintah daerah, relawan serta masyarakat bergerak sesuai peran masing-masing. Dari darat, petugas melakukan pemadaman dan pendinginan. Dari udara, pemantauan dilakukan untuk melihat perkembangan titik api dan kondisi wilayah yang sulit dijangkau.<\/p>\n<p>Di sisi lain, BMKG terus memberikan informasi mengenai kondisi cuaca, hari tanpa hujan dan potensi curah hujan. Informasi tersebut menjadi bagian penting dalam menentukan prioritas operasi sekaligus mengantisipasi kemungkinan munculnya titik api baru.<\/p>\n<p>Ketika asap menyebar, kualitas udara dan jarak pandang masyarakat dapat terganggu. Pada 13 September, jarak pandang di kawasan Tanjung Api-Api, Sumatera Selatan, sempat berada pada kisaran 2\u20134 kilometer pada dini hingga pagi hari akibat dampak asap karhutla.<\/p>\n<p>Kondisi tersebut mengingatkan bahwa dampak karhutla dapat dirasakan jauh melampaui lokasi kebakaran. Asap dapat bergerak mengikuti kondisi angin dan memengaruhi aktivitas masyarakat, transportasi hingga kesehatan.<\/p>\n<p>Karena itu, penanganan karhutla membutuhkan kerja bersama dan tidak dapat hanya mengandalkan petugas pemadam. Rapat evaluasi yang digelar di Palembang menjadi ruang untuk menyatukan berbagai informasi tersebut. Pemerintah pusat dan daerah mengevaluasi kondisi terkini, melihat efektivitas operasi yang telah dilakukan, sekaligus menentukan langkah yang diperlukan untuk menghadapi perkembangan karhutla ke depan.<\/p>\n<p>Kepala BNPB dan Menteri Kehutanan memberikan arahan agar seluruh sumber daya yang tersedia dapat digunakan secara efektif. Penguatan koordinasi, pemantauan titik panas, percepatan respons dan memastikan api benar-benar padam menjadi bagian penting dalam strategi penanganan. Sebab, menghadapi karhutla bukan hanya tentang seberapa cepat api dipadamkan, tetapi juga seberapa dini api dapat dicegah untuk membesar.<\/p>\n<p>Di tengah musim kemarau, satu titik api yang terlambat ditangani dapat berubah menjadi kebakaran yang lebih luas. &#8220;Sebaliknya, satu laporan masyarakat yang cepat, satu patroli yang tepat waktu, atau satu proses pendinginan yang dilakukan secara menyeluruh dapat mencegah api berkembang,&#8221; ujar Berton.<\/p>\n<p>Angka hotspot memang menunjukkan penurunan, tetapi ancaman belum sepenuhnya berakhir. Pemerintah bersama seluruh unsur penanganan bencana terus memantau perkembangan di lapangan untuk memastikan kebakaran tidak meluas dan dampaknya terhadap masyarakat dapat ditekan.<\/p>\n<p>Pada akhirnya, menjaga Sumatera Selatan tetap bernapas bukan hanya tugas mereka yang berada di garis depan pemadaman. &#8220;Masyarakat memiliki peran yang sama pentingnya dengan tidak membuka lahan dengan cara membakar serta segera melaporkan apabila melihat kepulan asap atau indikasi kebakaran,&#8221; imbaunya.(red)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>PALEMBANG, SIMBUR \u2014 Kebakaran lahan mulai masuk Kota Palembang. Kali ini terjadi di kawasan Perumahan Taman Asri, Kecamatan Sako, Kota Palembang, Rabu (16\/9) malam. Di tengah kondisi lahan yang kering, petugas terus bergerak memastikan bara yang tersisa tidak kembali berubah menjadi kobaran api. Kasie Kedaruratan BPBD Kota Palembang, Muhammad Aryansah mengatakan, penanganan kebakaran lahan bukan sekadar soal memadamkan api. Di lapangan, petugas juga harus berpacu dengan kondisi lingkungan yang kering dan keterbatasan pasokan air. \u201cSaat&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":48142,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,89],"tags":[],"class_list":["post-48141","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-headline","category-karhutla"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/48141","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=48141"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/48141\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":48143,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/48141\/revisions\/48143"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/48142"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=48141"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=48141"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=48141"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}