{"id":48073,"date":"2026-09-06T12:40:03","date_gmt":"2026-09-06T05:40:03","guid":{"rendered":"https:\/\/simbursumatera.com\/?p=48073"},"modified":"2026-09-06T12:48:15","modified_gmt":"2026-09-06T05:48:15","slug":"abu-vulkanik-akibat-letusan-gunung-anak-krakatau-kuasai-ruang-udara-lima-bandara-ditutup-sementara","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/simbursumatera.com\/?p=48073","title":{"rendered":"Abu Vulkanik akibat Letusan Gunung Anak Krakatau Kuasai Ruang Udara, Lima Bandara Ditutup Sementara"},"content":{"rendered":"<p><strong>PALEMBANG, SIMBUR<\/strong> &#8211; Lima bandara ditutup sementara akibat letusan Gunung Anak Krakatau (GAK) di Selat Sunda, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung. Meski peristiwa erupsi menerus mulai teramati sejak Jumat (4\/9) sekitar pukul 23.07 WIB namun masih terjadi hingga Minggu (6\/9). Hal itu diungkap Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Ir Lukman F. Laisa. &#8220;Saat ini memang sudah lima airport yang ditutup,&#8221; ujar Lukman saat konferensi pers, Minggu (6\/9).<\/p>\n<p>Lima bandara yang ditutup, yakni Bandara Soekarno-Hatta (CGK) ditutup pada pukul 02.08\u201309.30 WIB. Bandara Halim Perdanakusuma (HLP) ditutup pada pukul 07.20\u201310.00 WIB, Bandara Radin Inten II Lampung (TKG) pada pukul 04.18\u201310.00 WIB, sedangkan Bandara Budiarto Curug (RTO) ditutup pada pukul 06.48\u201309.30 WIB. &#8220;Tambah lagi barusan yakni Pondok Cabe (Tangerang Selatan),&#8221; tegasnya.<\/p>\n<p>Penutupan bandara dilakukan sebagai langkah keselamatan. Menyusul sebaran abu vulkanik di ruang udara. Status operasional masing-masing bandara dapat berubah mengikuti perkembangan sebaran abu, kondisi ruang udara dan hasil pemantauan keselamatan penerbangan. Masyarakat pengguna jasa penerbangan diharapkan memantau informasi terbaru dari operator bandara dan otoritas penerbangan sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n<p>Dampak terhadap penerbangan tersebut berkaitan dengan perkembangan aktivitas erupsi dan sebaran abu vulkanik yang terus dipantau. Berdasarkan pemantauan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), erupsi menerus Gunung Anak Krakatau masih berlangsung. Pada periode pengamatan pukul 00.00\u201306.00 WIB tanggal 5 September 2026 tercatat satu kali gempa letusan menerus dengan amplitudo maksimum 70 milimeter dan durasi 21.600 detik atau sekitar enam jam.<\/p>\n<p>Pada periode yang sama, pendaran merah dari aktivitas erupsi teramati secara terus-menerus, sedangkan kolom erupsi tidak selalu terlihat pada setiap periode pengamatan. Aktivitas tersebut juga disertai fenomena lava fountain dan suara gemuruh yang terdengar dari Pos Pengamatan Gunung Api Pasauran, Kabupaten Serang.<\/p>\n<p>Selain pengamatan secara langsung dari pos pengamatan, perkembangan sebaran abu juga dipantau melalui satelit. Berdasarkan pemantauan Himawari dan VAAC Darwin, sebaran abu vulkanik terpantau mencapai sekitar FL480 atau 14,6 kilometer di atas permukaan laut, dengan arah dominan ke barat hingga barat daya.<\/p>\n<p>Kondisi tersebut menunjukkan bahwa sebaran abu vulkanik masih bersifat dinamis dan dapat berubah mengikuti perkembangan aktivitas erupsi serta kondisi meteorologi, terutama arah dan kecepatan angin. Pihaknya akan terus memantau erupsi melalui grup stakeholders seperti airport, airnav sehingga dapat memantau terus pergerakan abu vulkanik. &#8220;Erupsi akan terus terjadi. Frekuensinya akan terus kami pantau setiap pergerakan abu vulkanik,&#8221; ujarnya.<\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<p>Sebelumnya, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto mengatakan, daerah yang terdampak erupsi Gunung Anak Krakatau yakni tiga kabupaten di 15 kecamatan. Pertama, di Lampung Selatan ada 7 kecamatan. Kabupaten Pandeglang ada 4 kecamatan dan Kabupaten Tanggamus ada 4 kecamatan. &#8220;Kami sudah melakukan teleconference dengan seluruh kepala BPBD. Semua melaporkan tidak ada korban jiwa. Dampak kerusakan secara fisik masih terus dilakukan pendataan,&#8221; ujar Suharyanto.<\/p>\n<p>Meski demikian, Jakarta, Lampung dan Banten terkena dampak abu vulkanik. Kami sudah mengirim tim pendahulu sebanyak 10 personel. &#8220;Mereka memantau langsung perkembangan erupsi Gunung Anak Krakatau dan masyarakat yang terdampak,&#8221; ujarnya<\/p>\n<p>Di wilayah daratan, sebaran abu telah terpantau di sejumlah wilayah Banten. Pusdalops BPBD Kabupaten Serang pada Sabtu (5\/9) pukul 23.00 WIB melaporkan abu vulkanik berdampak pada tujuh kecamatan, yaitu Anyer, Cinangka, Ciomas, Mancak, Pabuaran, Baros dan Padarincang. Kawasan pesisir Anyer dan Cinangka menjadi salah satu wilayah yang terdampak.<\/p>\n<p>Selain dampak berupa abu vulkanik, aktivitas erupsi juga dirasakan melalui suara gemuruh atau getaran. Fenomena tersebut dilaporkan terdengar atau dirasakan di sejumlah wilayah pesisir Lampung, Banten hingga Bandung. Di Kabupaten Serang, laporan berasal dari Kecamatan Carita, Labuan, Panimbang dan Jiput.<\/p>\n<p>Menanggapi fenomena tersebut, PVMBG menduga suara gemuruh dan getaran berkaitan dengan pelepasan energi akustik dari aktivitas erupsi menerus Gunung Anak Krakatau. Energi akustik yang besar dapat merambat hingga ratusan kilometer akibat kondisi atmosfer, termasuk pembiasan suara serta pengaruh suhu dan arah angin pada lapisan atmosfer bagian atas. PVMBG juga menyampaikan tidak terdapat aktivitas gempa tektonik signifikan di wilayah Jawa Barat yang dapat menjelaskan fenomena tersebut.<\/p>\n<p>Pemantauan tidak hanya dilakukan di wilayah Banten, tetapi juga mencakup sejumlah wilayah di Lampung. Di Kabupaten Lampung Selatan, wilayah yang menjadi perhatian meliputi Kecamatan Punduh Pedada dan Rajabasa. Sementara di Kabupaten Tanggamus, pemantauan dilakukan di Kecamatan Pematang Sawa, Cukuh Balak, Semaka dan Kota Agung.<\/p>\n<p>Di Kecamatan Pematang Sawa, wilayah yang terdampak meliputi Desa Tampang Tua, Tampang Muda, Martanda, Kaor Gading, Way Nipah, Guring, Kampung Baru, Betung, Tanjungan dan Teluk Berak. Di Kecamatan Cukuh Balak meliputi Desa Karang Buah, Kuta Kakhang dan Pulau Tabuan. Di Kecamatan Semaka meliputi Desa Sukaraja. Sedangkan di Kecamatan Kota Agung meliputi Kelurahan Pasar Madang, Terbaya, Baros, Kuripan dan Kusa.<\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<p>Meskipun sejumlah wilayah telah terpantau terdampak, kondisi masyarakat hingga pemutakhiran terakhir masih relatif terkendali. &#8220;Belum terdapat laporan korban jiwa maupun kerusakan bangunan akibat aktivitas erupsi. Kerugian materiil dan dampak lainnya masih dalam pendataan,&#8221; ulangnya.<\/p>\n<p>Aktivitas erupsi yang berlangsung saat ini merupakan kelanjutan dari peningkatan aktivitas Gunung Anak Krakatau sejak Juli 2026. Pada 2 Juli 2026 pukul 14.05 WIB terjadi erupsi dengan kolom abu sekitar 200 meter di atas puncak atau sekitar 357 meter di atas permukaan laut. Kolom abu berwarna kelabu hingga hitam tebal bergerak ke arah barat laut. Seismograf mencatat amplitudo maksimum 23 milimeter dengan durasi erupsi sekitar 20 detik. Menyusul peningkatan tersebut, tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) pada 2 Juli 2026 pukul 16.30 WIB. Status Level III (Siaga) masih berlaku hingga pemutakhiran terakhir.<\/p>\n<p>Di tengah dampak terhadap transportasi udara, kondisi transportasi laut di sekitar wilayah terdampak masih relatif aman. Perairan dilaporkan tenang dan normal, sedangkan jalur penyeberangan Merak\u2013Bakauheni belum dilaporkan mengalami gangguan. Operator pelayaran dan pengguna jasa transportasi laut tetap perlu mengikuti arahan syahbandar dan instansi berwenang.<\/p>\n<p>Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengatakan, dari sisi kesehatan ada tiga dampak yang dijaga dari abu vulkanik. &#8220;Pernapasan mata dan kulit adalah tempat di mana rawan penyakit akibat debu vulkanik,&#8221; ujar Menkes.<\/p>\n<p>Masyarakat di wilayah yang berpotensi terdampak abu vulkanik untuk tetap tenang dan tidak panik. &#8220;Masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan agar menggunakan masker dan pelindung mata, terutama ketika terjadi hujan abu atau konsentrasi abu meningkat,&#8221; imbaunya.<\/p>\n<p>Masyarakat diminta mengurangi aktivitas di luar rumah apabila sebaran abu meningkat, menutup sumber air dan makanan agar tidak terkontaminasi abu, serta membersihkan abu vulkanik dengan memperhatikan keselamatan.<\/p>\n<p>Menghadapi perkembangan tersebut, upaya pemantauan dan kesiapsiagaan terus diperkuat. BNPB bersama pemerintah daerah, PVMBG\/Badan Geologi, Basarnas dan unsur terkait melakukan pemantauan, koordinasi serta penanganan sesuai perkembangan kondisi di lapangan.<\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<p>Di Kabupaten Serang, Pusdalops BPBD melakukan pemantauan aktivitas dan sebaran abu vulkanik, inventarisasi dampak serta koordinasi dengan BPBD Provinsi Banten, pemerintah kecamatan, desa\/kelurahan dan unsur terkait. Langkah serupa juga dilakukan di Lampung Selatan, melalui koordinasi BPBD dengan BPBD Provinsi Lampung, Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau dan instansi terkait. Tim Reaksi Cepat melakukan patroli di wilayah pesisir selatan Kalianda serta pemantauan sebaran abu melalui satelit.<\/p>\n<p>Kesiapsiagaan masyarakat juga diperkuat melalui dukungan perlindungan kesehatan. BPBD Kabupaten Lampung Selatan bersama Dinas Kesehatan sebelumnya telah mendistribusikan sekitar 3.000 masker kepada masyarakat di sejumlah desa di Kecamatan Rajabasa pada 18 Agustus 2026. Personel penanggulangan bencana dan unsur terkait juga disiagakan untuk mengantisipasi perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau.<\/p>\n<p>Sementara di Kabupaten Tanggamus, BPBD berkoordinasi dengan TNI, Polri dan organisasi perangkat daerah melalui Pusdalops Penanggulangan Bencana. &#8220;Dukungan layanan kesehatan dan pembagian masker kepada masyarakat dilakukan, dengan kebutuhan mendesak berupa masker dan obat-obatan,&#8221; ujarnya.<\/p>\n<p>Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, Ph.D mengatakan, mengantisipasi kemungkinan kondisi darurat di wilayah perairan, unsur SAR juga berada dalam kesiapsiagaan. Basarnas Lampung menyiagakan personel pada tiga pos SAR, masing-masing 12 personel di Pos SAR Bakauheni, Pos SAR Tanggamus dan Pos SAR Tulang Bawang. Satu unit Rigid Inflatable Boat (RIB) berkapasitas sekitar 15 orang juga disiagakan di Bakauheni.<\/p>\n<p>Selain potensi dampak erupsi, aspek keselamatan masyarakat pesisir juga menjadi perhatian, termasuk potensi tsunami. Badan Geologi menyampaikan bahwa pertumbuhan tubuh Gunung Anak Krakatau yang terbentuk kembali pascaerupsi 22 Desember 2018 masih relatif kecil. &#8220;Berdasarkan hasil evaluasi tersebut, aktivitas erupsi saat ini tidak berpotensi menyebabkan runtuhan tubuh gunung api dalam skala besar yang dapat memicu tsunami,&#8221; ujarnya.<\/p>\n<p>Untuk mendukung pemantauan aktivitas, Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau di Pasauran, Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang, berada sekitar 47 kilometer dari Gunung Anak Krakatau. Sementara Pos Pengamatan Kalianda berada di Hargo Pancuran, Kecamatan Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan, sekitar 40 kilometer dari Gunung Anak Krakatau.<\/p>\n<p>Pemantauan juga mencakup kondisi masyarakat di wilayah kepulauan sekitar Selat Sunda. Jumlah penduduk Pulau Sebesi diperkirakan sekitar 3.000 jiwa, sedangkan kondisi Pulau Sebuku masih dalam pendataan.<\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<p>Terkonfirmasi dari Pos Pemantau Vulkanologi Banten erupsi Gunung Anak Krakatau masih terjadi di Kab\\Kota Lampung Selatan, Lampung. Diketahui, posisi geografisnya berada di Latitude -6.102\u00b0LU, Longitude 105.423\u00b0BT dan memiliki ketinggian 157 mdpl. Cuaca kondisi berawan hingga mendung, angin lemah ke arah barat laut. Suhu udara sekitar 26-27\u00b0C dengan kelembaban 78-80 persen.<\/p>\n<p>Gunung api tertutup Kabut 0-III. Asap kawah tidak teramati. Erupsi Menerus berhenti pada Minggu 6 September 2026 Pukul 00.04 WIB. Meski demikian, tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau\u00a0masih berada di Level III (Siaga).<\/p>\n<p>Adapun kejadian gempa vulkanik yakni 1 kali gempa Letusan\/Erupsi dengan amplitudo 46 mm, dan lama gempa 30 detik. Kemudian, 2 kali gempa Hembusan dengan amplitudo 25-34 mm, dan lama gempa 38-47 detik.<\/p>\n<p>Selanjutnya, 14 kali gempa Low Frequency dengan amplitudo 25-36 mm, dan lama gempa 4-15 detik. Sebanyak 9 kali gempa Hybrid\/Fase Banyak dengan amplitudo 12-34 mm, S-P tidak teramati dan lama gempa 5-22 detik. Kemudian, 1 kali gempa Vulkanik Dangkal dengan amplitudo 14 mm, dan lama gempa 13 detik serta 1 kali gempa Tremor Menerus dengan amplitudo 8-45 mm, dominan 15 mm.<\/p>\n<p>Masyarakat tidak diperkenankan mendekati Gunung Anak Krakatau dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif, sesuai rekomendasi PVMBG. Nelayan, wisatawan dan pengguna kapal tradisional juga diminta tidak melakukan aktivitas di sekitar kawasan gunung api yang masuk dalam radius bahaya.(red)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>PALEMBANG, SIMBUR &#8211; Lima bandara ditutup sementara akibat letusan Gunung Anak Krakatau (GAK) di Selat Sunda, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung. Meski peristiwa erupsi menerus mulai teramati sejak Jumat (4\/9) sekitar pukul 23.07 WIB namun masih terjadi hingga Minggu (6\/9). Hal itu diungkap Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Ir Lukman F. Laisa. &#8220;Saat ini memang sudah lima airport yang ditutup,&#8221; ujar Lukman saat konferensi pers, Minggu (6\/9). Lima bandara yang ditutup, yakni Bandara Soekarno-Hatta (CGK)&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":48074,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-48073","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-headline"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/48073","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=48073"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/48073\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":48078,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/48073\/revisions\/48078"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/48074"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=48073"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=48073"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=48073"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}