{"id":46132,"date":"2026-01-15T15:27:38","date_gmt":"2026-01-15T08:27:38","guid":{"rendered":"https:\/\/simbursumatera.com\/?p=46132"},"modified":"2026-01-15T15:30:23","modified_gmt":"2026-01-15T08:30:23","slug":"hujan-deras-tapi-bendungan-di-oku-timur-malah-dibuka-banjir-kiriman-tertinggi-selama-20-tahun-rendam-oki","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/simbursumatera.com\/?p=46132","title":{"rendered":"Hujan Deras tapi Bendungan di OKU Timur malah Dibuka, Banjir Kiriman Tertinggi selama 20 Tahun Rendam OKI"},"content":{"rendered":"<p><strong>JAKARTA, SIMBUR<\/strong> \u2013 Bencana banjir melanda Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Provinsi Sumatera Selatan, pada Selasa (13\/1). Peristiwa ini berdampak pada 3.656 kepala keluarga (KK). Hal itu diungkap Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Abdul Muhari PhD.<\/p>\n<p>Muhari mengatakan, hingga saat ini, sebanyak 3.656 unit rumah di tiga kecamatan, yaitu Lempuing, Lempuing Jaya, dan Mesuji, masih terendam banjir dengan tinggi muka air antara 20 hingga 60 sentimeter. &#8220;Penanganan darurat masih terus berlangsung di lapangan dalam status Siaga Darurat Provinsi yang berlaku hingga 30 April 2026,&#8221; ungkap Muhari, Kamis (15\/1).<\/p>\n<p>Pihaknya, lanjut Muhari, terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan BPBD setempat untuk memastikan penanganan darurat berjalan optimal serta mengimbau masyarakat agar tetap waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologi. &#8220;Mengingat kondisi cuaca ekstrem masih berpotensi terjadi di sejumlah wilayah,&#8221; ujarnya.<\/p>\n<p>Diketahui, hujan deras yang mengguyur Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, sejak Jumat malam (9 Januari 2026). Hujan menyebabkan banjir di empat kecamatan, yakni Lempuing, Lempuing Jaya, Mesuji, dan Air Sugihan. Curah hujan tinggi yang berlangsung selama beberapa hari berturut-turut memicu peningkatan debit sungai hingga meluap ke permukiman warga, lahan pertanian, serta fasilitas umum.<\/p>\n<p>Pemerintah Kabupaten OKI bergerak cepat menyikapi kondisi tersebut. Melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), tim gabungan langsung diturunkan ke lokasi terdampak untuk melakukan evakuasi, pendataan, serta penyaluran bantuan logistik kepada warga.<\/p>\n<p>Kepala BPBD OKI Listiadi Martin mengatakan, banjir tidak hanya disebabkan oleh hujan lokal, tetapi juga kiriman air dari wilayah hulu. Melubernya Bendungan Over Komering di Kabupaten OKU Timur turut mempercepat naiknya debit air di wilayah OKI. \u201cSekitar dua hingga tiga jam setelah pintu air Bendungan Over Komering dibuka, air mulai menggenangi Kecamatan Lempuing dan kemudian meluas ke Kecamatan Lempuing Jaya,\u201d kata Listiadi.<\/p>\n<p>Dua kecamatan yang paling parah terdampak banjir adalah Lempuing dan Lempuing Jaya. Di Kecamatan Lempuing, banjir merendam 10 desa dengan total 1.774 kepala keluarga (KK) terdampak. Desa Tebing Suluh menjadi wilayah dengan kondisi terparah. Selain permukiman, banjir juga menggenangi sawah seluas sekitar 1.540 hektare dan kebun warga seluas 545 hektare. Sementara di Kecamatan Lempuing Jaya, banjir melanda 10 desa dengan jumlah warga terdampak mencapai 1.616 KK.<\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<p>Sebanyak 57 KK terpaksa dievakuasi ke SD Negeri 1 Sumber Makmur akibat genangan air yang terus meningkat. Adapun di Kecamatan Mesuji, banjir tercatat melanda tiga desa dengan 192 KK terdampak. Sebagai bentuk respons cepat, Pemkab OKI bersama BPBD, TNI, dan Polri melakukan evakuasi warga di sejumlah titik rawan serta mendirikan posko tanggap darurat. \u201cBersama Wakil Bupati dan dibantu TNI-Polri, kami langsung turun ke lapangan untuk memastikan keselamatan warga serta menyalurkan bantuan,\u201d ujar Listiadi.<\/p>\n<p>Pada Senin, (12\/1), Dinsos OKI telah menyalurkan sebanyak 120 paket bantuan logistik yang terdiri atas bahan kebutuhan pokok, selimut, tikar, perlengkapan mandi, dan kebutuhan harian lainnya. Dinsos juga membuka penggalangan bantuan bagi warga terdampak.<\/p>\n<p>Selain merendam rumah warga, banjir juga menggenangi fasilitas umum seperti sekolah dan jalan penghubung antardesa. Sektor pertanian turut terdampak cukup luas. Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan, dan Hortikultura (DKPTH) OKI mencatat sekitar 4.400 hektare sawah petani terendam banjir yang tersebar di Kecamatan Lempuing, Lempuing Jaya, Air Sugihan, Pampangan, dan Jejawi.<\/p>\n<p>Pelaksana Tugas Kepala DKPTH OKI Alexsander menjelaskan, sebagian besar sawah di Lempuing dan Lempuing Jaya merupakan padi dengan pola tanam IP 200 yang ditanam pada November\u2013Desember. Sementara di Kecamatan Air Sugihan, tanaman padi sudah memasuki masa panen. \u201cUntuk sawah yang terdampak, pemerintah akan menyalurkan bantuan benih dari Kementerian Pertanian dengan total luasan sekitar 578 hektare,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Sementara Dinas Pendidikan OKI mencatat 18 sekolah di empat kecamatan tersebut juga terdampak banjir. Agar kegiatan pembelajaran tetap berlangsung Disdik OKI mengeluarkan kebijakan belajar daring. \u201cBagi sekolah-sekolah terdampak juga dijadikan posko evakuasi sementera diterapkan pembelajaran secara daring,\u201d ujar Kadisdik OKI, M. Refly.<\/p>\n<p>Bupati OKI, H. Muchendi mengintruksikan kesiapsiagaan perangkat daerah dalam menghadapi potensi banjir, longsor, dan dampak hidrometeorologi lainnya akibat intensitas hujan yang tinggi dalam beberapa waktu terakhir.<br \/>\n\u201cSaya minta seluruh OPD melakukan upaya menyeluruh terhadap sarana dan prasarana serta kebutuhan masyarakat yang terdampak. Dirikan posko, siagakan petugas, Pastikan semua benar-benar siap digunakan dalam kondisi darurat,\u201d tegas Muchendi.<\/p>\n<p>Ia juga secara khusus meminta Dinkes OKI agar memastikan layanan kesehatan tetap berjalan optimal dalam kondisi darurat. \u201cDinas Kesehatan harus siap penuh, baik dari sisi tenaga medis, ketersediaan obat-obatan, hingga logistik medis. Pelayanan kesehatan harus siaga 24 jam,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<p>Bagi warga, banjir bukanlah kejadian baru. Tri Handoko (43), warga Desa Tebing Suluh, mengatakan bahwa setiap hujan deras dengan durasi panjang, permukiman di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Lempuing selalu menjadi wilayah paling rentan. \u201cAir dari hulu mengalir deras. Saat sungai tidak mampu menampung debit air, air langsung meluap ke rumah-rumah warga,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Hingga kini, BPBD OKI terus melakukan pemantauan di wilayah terdampak serta menyiapkan langkah-langkah mitigasi. Masyarakat yang tinggal di bantaran sungai diimbau tetap waspada terhadap potensi banjir susulan, mengingat curah hujan di wilayah OKI diperkirakan masih tinggi dalam beberapa pekan ke depan.<\/p>\n<p><strong>Bupati OKI Terjun ke Lokasi Banjir<\/strong><\/p>\n<p>Bupati Muchendi bersama Ketua TP PKK Ike Muchendi dikabarkan langsung meninjau sejumlah desa terdampak banjir di Kecamatan Lempuing dan Lempuing Jaya, Selasa (13\/1). Peninjauan dilakukan untuk memastikan kondisi warga sekaligus mempercepat langkah pemulihan pascabanjir.<\/p>\n<p>Salah satu lokasi yang dikunjungi adalah Desa Mukti Sari, Kecamatan Lempuing. Akses menuju desa tersebut masih tergenang air dengan ketinggian mencapai pinggang orang dewasa. Di lokasi ini, Bupati Muchendi menyerahkan bantuan sembako dan menyapa warga dari rumah ke rumah yang terdampak banjir.<\/p>\n<p>Rombongan kemudian melanjutkan peninjauan ke lokasi pengungsian di SD Negeri 1 Lubuk Makmur, Kecamatan Lempuing. Sekitar 70 kepala keluarga sebelumnya dievakuasi ke sekolah tersebut. Seiring air yang mulai surut, sebagian warga telah kembali ke rumah, sementara sekitar 30 kepala keluarga masih bertahan di pengungsian. Mereka didominasi oleh lansia, perempuan, dan anak-anak.<\/p>\n<p>Dalam dialog bersama warga, Muchendi mengatakan banjir yang terjadi kali ini merupakan bagian dari siklus alam yang jarang terjadi. Ia menyebut banjir dengan ketinggian serupa terakhir kali dialami warga sekitar dua dekade lalu. \u201cSetiap tahun masyarakat memang terbiasa menghadapi banjir, tetapi yang setinggi ini terakhir sekitar 20 tahun lalu,\u201d kata Muchendi.<\/p>\n<p>Ia menegaskan pemerintah daerah akan terus hadir mendampingi masyarakat hingga kondisi benar-benar pulih. Menurut dia, pemerintah daerah berupaya memastikan kebutuhan dasar warga terpenuhi selama masa tanggap darurat. \u201cKami hadir untuk membantu dan mendengar langsung persoalan yang dihadapi masyarakat. Mudah-mudahan air segera surut dan aktivitas bisa kembali normal,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<p>Muchendi juga menekankan pentingnya pelayanan kesehatan bagi warga terdampak, khususnya kelompok rentan seperti bayi, balita, lansia, serta ibu hamil dan menyusui. Ia meminta tenaga kesehatan memberikan pelayanan maksimal di lokasi pengungsian.<\/p>\n<p>Selain itu, Muchendi memastikan warga tidak perlu khawatir terkait biaya pengobatan karena telah terjamin melalui program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). \u201cKalau ada yang sakit, silakan berobat. Biayanya sudah ditanggung pemerintah,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Terkait kebutuhan logistik, Muchendi memastikan pasokan sembako bagi warga di pengungsian tetap tercukupi. Pemerintah Kabupaten OKI, kata dia, akan bertindak cepat dan terkoordinasi dalam menangani dampak banjir. \u201cKami mengajak masyarakat tetap bersabar dan saling menguatkan. Jika ada kebutuhan, sampaikan melalui kepala desa atau camat agar segera ditindaklanjuti,\u201d ujar Muchendi.<\/p>\n<p>Salah seorang pengungsi, Larso (60), mengatakan air mulai naik sejak Kamis pagi. Warga berupaya menyelamatkan barang-barang ke tempat yang lebih tinggi sebelum akhirnya dievakuasi ke bangunan sekolah. \u201cMasih sempat menyelamatkan barang. Setelah itu kami diajak Pak Kades ke sini. Kepala keluarga masih ada di rumah untuk berjaga,\u201d kata Larso.<\/p>\n<p>Pengungsi lainnya, Siti Aminah (45), mengaku bersyukur mendapat tempat evakuasi yang aman meski harus berbagi ruang dengan warga lain. Ia berharap air segera surut agar bisa kembali ke rumah. \u201cDi sini alhamdulillah aman, makanan kami juga ditanggung tapi tentu ingin cepat pulang. Rumah terendam, dapur dan tempat tidur basah semua,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Sementara itu, Yanto (58), berharap pemerintah membantu perbaikan fasilitas umum setelah banjir surut. Menurut dia, banjir kali ini menggenangi rumah ibadah dan lahan pertanian warga. \u201cKalau air sudah surut, kami harap jalan dan sawah bisa segera diperbaiki. Banyak tanaman yang rusak,\u201d kata Yanto.<\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<p><strong>Banjir Mulai Surut, Warga Tetap Waspada<\/strong><\/p>\n<p>Sementara itu, banjir yang sempat melumpuhkan aktivitas warga di sejumlah wilayah Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, mulai berangsur surut. Penurunan debit air terlihat di beberapa desa terdampak, khususnya di Kecamatan Lempuing, sehingga memungkinkan warga kembali ke rumah dan memulai proses pembersihan lingkungan.<\/p>\n<p>Pantauan di Desa Tebing Suluh menunjukkan ketinggian air menurun signifikan dibandingkan hari-hari sebelumnya. Meski masih terdapat genangan di sejumlah titik, kondisi dinilai lebih terkendali. \u201cSabtu lalu air setinggi dada orang dewasa, sekarang sudah jauh surut,\u201d ujar Trisno, warga Desa Tebing Suluh.<\/p>\n<p>Kondisi serupa terjadi di Desa Sumber Makmur. Sebanyak 30 kepala keluarga yang sebelumnya mengungsi di SDN 1 Sumber Makmur telah kembali ke rumah masing-masing untuk melakukan pembersihan. \u201cMereka sudah kembali ke rumah masing-masing dan mulai membersihkan lingkungan,\u201d kata Kepala BPBD OKI, Listiadi Martin.<\/p>\n<p>Seiring surutnya banjir, Pemerintah Kabupaten OKI mengalihkan fokus penanganan dari evakuasi darurat ke pemulihan pascabanjir, terutama pada aspek kesehatan masyarakat. Bupati OKI H. Muchendi menegaskan, fase pascabanjir justru memiliki risiko kesehatan yang tidak kalah besar.<\/p>\n<p>\u201cSurutnya banjir menandai fase baru penanganan bencana, yakni pemulihan pasca genangan,\u201d ujar Muchendi saat meninjau Desa Cahya Tani, Lempuing. Ia mengingatkan, paparan air kotor, lingkungan lembap, serta sanitasi yang belum sepenuhnya pulih berpotensi memicu penyakit kulit, infeksi, hingga gangguan kesehatan lain, terutama pada anak-anak dan lanjut usia. Kepala Desa Cahya Tani, Yasin, mengatakan sejumlah warga mulai mengeluhkan gangguan kesehatan ringan. \u201cAda warga yang mengeluh gatal-gatal, tapi sudah dilayani tenaga kesehatan. Sebagian warga lainnya sudah kembali beraktivitas normal,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Merespons kondisi tersebut, Bupati Muchendi meminta layanan kesehatan tetap siaga dan hadir langsung di wilayah terdampak. Tenaga medis diminta melakukan pemeriksaan dasar, memantau kelompok rentan, serta menyediakan obat-obatan sesuai kebutuhan. \u201cWarga jangan menunggu sakit parah. Jika ada keluhan, segera datang ke pos kesehatan,\u201d kata Muchendi.<\/p>\n<p>Selain kesehatan, pemerintah daerah juga memantau dampak banjir terhadap infrastruktur dan fasilitas umum. Sejumlah jembatan gantung, sekolah, rumah ibadah, serta sekitar 595 hektare persawahan dilaporkan terdampak. \u201cAda jembatan gantung menuju area persawahan yang sempat terdampak, alat elektronik sekolah rusak, serta ratusan hektare sawah terendam,\u201d ujar Yasin.<\/p>\n<p>Bupati Muchendi memastikan pemerintah akan melakukan langkah perbaikan secara bertahap. Untuk sawah yang terancam gagal panen (fuso), pemerintah daerah akan mengganti benih padi agar petani dapat kembali menanam.<\/p>\n<p>Bupati mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap potensi hujan susulan, menjaga kebersihan lingkungan, memastikan air konsumsi layak, serta segera membersihkan lumpur dan sampah sisa banjir. \u201cPemulihan hanya akan berhasil jika dilakukan bersama, dengan kewaspadaan dan kepedulian terhadap kesehatan,\u201d ujarnya.(tim)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JAKARTA, SIMBUR \u2013 Bencana banjir melanda Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Provinsi Sumatera Selatan, pada Selasa (13\/1). Peristiwa ini berdampak pada 3.656 kepala keluarga (KK). Hal itu diungkap Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Abdul Muhari PhD. Muhari mengatakan, hingga saat ini, sebanyak 3.656 unit rumah di tiga kecamatan, yaitu Lempuing, Lempuing Jaya, dan Mesuji, masih terendam banjir dengan tinggi muka air antara 20 hingga 60 sentimeter. &#8220;Penanganan darurat&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":46136,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-46132","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-headline"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/46132","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=46132"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/46132\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":46134,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/46132\/revisions\/46134"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/46136"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=46132"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=46132"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=46132"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}