{"id":45985,"date":"2025-12-25T21:19:01","date_gmt":"2025-12-25T14:19:01","guid":{"rendered":"https:\/\/simbursumatera.com\/?p=45985"},"modified":"2025-12-25T21:19:01","modified_gmt":"2025-12-25T14:19:01","slug":"jejak-melayu-jambi-di-nganjuk-hidup-damai-seribu-tahun","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/simbursumatera.com\/?p=45985","title":{"rendered":"Jejak Melayu Jambi di Nganjuk, Hidup Damai Seribu Tahun"},"content":{"rendered":"<p><strong>Analisis Wacana Kritis Anjuk Ladang sebagai Rekonsiliasi Budaya atas Kekuasaan<\/strong><\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-45986 size-full\" src=\"https:\/\/simbursumatera.com\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/PhotoCollage_17666458935383.jpg\" alt=\"\" width=\"551\" height=\"335\" srcset=\"https:\/\/simbursumatera.com\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/PhotoCollage_17666458935383.jpg 551w, https:\/\/simbursumatera.com\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/PhotoCollage_17666458935383-300x182.jpg 300w\" sizes=\"auto, (max-width: 551px) 100vw, 551px\" \/><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><em>Sima Swatantra Anjuk Ladang mencerminkan sikap rekonsiliasi budaya yang menjadi kearifan lokal bangsa Indonesia sejak masa lalu. Rekonsiliasi berarti mengembalikan kondisi pada keadaan semula dengan menyatukan semua perbedaan untuk sebuah perdamaian. Berikut laporan jurnalistik Simbur bertajuk Sima Swatantra: Jejak Melayu di Tanah Jawa.<\/em><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>JAKARTA, SIMBUR<\/strong> &#8211; <em>Sima Swatantra<\/em> merupakan\u00a0istilah dalam konteks sejarah Jawa Kuno. Merujuk suatu daerah yang diberi status bebas pajak (<em>sima<\/em>). Di samping memiliki hak otonomi untuk mengatur daerahnya sendiri (<em>swatantra<\/em>). Penetapan tanah menjadi sima merupakan peristiwa penting dalam kehidupan masyarakat Jawa Kuno. Karena itu, penetapan status <em>sima<\/em> ditulis pada prasasti lalu diadakan upacara disertai pemberian hadiah kepada orang-orang penting. Status sima berarti penduduknya tidak lagi bertanggung jawab kepada raja tapi kepada kepala <em>sima<\/em> yang bergelar <em>bhatara<\/em>.<\/p>\n<p>Perubahan status <em>sima<\/em> terjadi atas perintah seorang raja atau pejabat tinggi, yaitu seorang <em>rama<\/em>. Oleh karena itu, penetapan keputusannya dilaksanakan dengan upacara ritual yang disebut <em>Manusuk Sima<\/em>. Agar tidak terjadi penyalahgunaan status sima, maka dibuat piagam keputusan berupa prasasti.<\/p>\n<p><em>Sima Swatantra<\/em> banyak ditemukan di sejumlah daerah di Jawa Timur. Status otonomi khusus bebas pajak diberikan kerajaan kepada wilayah tertentu atas jasa penduduknya. Prasasti Kamsyaka di Trenggalek misalnya, dikenal juga sebagai Prasasti Kampak. Penemuan ini mengungkap sistem pemerintahan lokal di wilayah Trenggalek telah berlangsung sejak awal abad ke-10 Masehi. Meliputi wilayah Panggul, Munjungan, Watulimo, Prigi, dengan pusat pemerintahan di Gandusari. Penetapan Kampak sebagai sima swatantra diyakini menjadi bagian dari strategi pemulihan dan penguatan kekuasaan Mataram Kuno di Jawa Timur.<\/p>\n<p>Bukan hanya itu, Prasasti Balawi di Lamongan dikeluarkan pada 1227 saka atau 1305 Masehi. Ditemukan di Desa Blawirejo, Kecamatan Karangbinangun, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Desa tersebut telah berusia 718 tahun. Selain itu, ada juga Prasasti Sirah Keting (1204 Masehi) di Kalisongo, Malang. Desa tersebut sebelumnya bernama \u2018Palakan\u2019. Ditetapkan sebagai sima swatantra oleh Rajarsi Jigjaya.<\/p>\n<p>Media ini membatasi penelusuran pada Sima Swatantra Anjuk Ladang. Mengacu pada Anjuk Ladang, sebuah nama yang berarti &#8220;Tanah Kemenangan&#8221;. Nama ini berasal dari prasasti abad ke-10 Masehi yang ditemukan di Kabupaten Nganjuk, Provinsi Jawa Timur.<\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<p>Prasasti Anjuk Ladang merupakan salah satu peninggalan Kerajaan Medang atau Kerajaan Mataram Kuno periode Jawa Timur. Dikeluarkan Empu Sindok, pendiri Dinasti Isyana yang memindahkan pusat pemerintahan Kerajaan Mataram Kuno dari Jawa Tengah ke Jawa Timur. Berdasarkan informasi, saat ini Prasasti Anjuk Ladang menjadi salah satu koleksi Museum Nasional Republik Indonesia di Jakarta.<\/p>\n<p>Prasasti Anjuk Ladang mencatat kemenangan Raja Empu Sindok selaku Raja Mataram Kuno atas serangan pasukan Melayu Jambi. Saat itu penduduk lokal Anjuk Ladang mampu mempertahankan wilayahnya dan berhasil memukul mundur pasukan Melayu Jambi.<\/p>\n<p>Nama <em>Anjuk Ladang<\/em> sendiri berasal dari kata &#8220;anjuk&#8221; yang berarti &#8220;kemenangan&#8221; dan &#8220;ladang&#8221; yang berarti &#8220;tanah.&#8221; Istilah tersebut bersumber dari Prasasti Anjuk Ladang yang ditemukan di Desa Candirejo, Kecamatan Loceret, Nganjuk. Prasasti ini diperkirakan ditulis pada abad ke-10, tepatnya tahun 937 Masehi.<\/p>\n<p>Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata (Disporabudpar) Kabupaten Nganjuk, Amin Fuadi membenarkan, nama Nganjuk berasal dari kata Anjuk Ladang. Menurut Amin, sesuai catatan yang tertera pada Prasasti Anjuk Ladang, ada nama tokoh yang memimpin masyarakat setempat dalam upaya membantu Empu Sindok.<\/p>\n<p>&#8220;Terutama saat menghalau atau mengalahkan pasukan dari Melayu (Jambi) yang mengejar Empu Sindok dan pasukannya. Kondisi Kerajaan Mataram Kuno saat itu di Jawa Tengah sedang porak-poranda oleh serangan pasukan Melayu. Sebenarnya juga akan dilakukan pemindahan Kerajaan ke Jawa Timur karena adanya bencana yang bertubi-tubi sehingga kondisinya melemah,&#8221; ungkap Amin Fuadi, dikonfirmasi Simbur, Rabu (24\/12).<\/p>\n<p>Dari sejumlah literatur, Prasasti Anjuk Ladang mendokumentasikan peran penting masyarakat setempat dalam mendukung raja melawan serbuan pasukan Melayu Jambi. Menghargai jasa masyarakat, Raja Empu Sindok lantas mendirikan sebuah monumen untuk memperingati kemenangan. \u201cAnjuk Ladang\u201d atau dikenal juga dengan <em>Jayastamba<\/em> menjadi simbol kebanggaan, keberanian dan kehormatan bagi masyarakat Nganjuk, Provinsi Jawa Timur.<\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<p>Simbol kemenangan itu dituangkan masyarakat Nganjuk melalui Tugu Jayastamba. Berasal dari bahasa Sansekerta, yakni <em>Jaya<\/em> berarti &#8220;kemenangan&#8221; dan <em>Stamba<\/em> berarti &#8220;tugu&#8221;. Merujuk pada peringatan kemenangan Kerajaan Medang atas Kerajaan Melayu Jambi. Sekaligus menjadi ikon dan menandai hari jadi Kabupaten Nganjuk (10 April 937 Masehi).<\/p>\n<p>Amin menambahkan, serangan Kerajaan Sriwijaya melalui pasukan Melayu (Jambi) ke Anjuk Ladang dilakukan melalui dua arah. Dari arah barat dan perairan Sungai Brantas di Ujung Galuh (Surabaya dan sekitarnya). Pasukan Melayu kemudian berjalan hingga menempati suatu daerah yang saat ini diberi nama Desa Jambi di Kecamatan Baron, Kabupaten Nganjuk, Provinsi Jawa Timur.<\/p>\n<p>&#8220;Kedatangan (pasukan Melayu) melalui dua arah yaitu melalui darat dari arah barat serta melalui perairan dari laut menuju Sungai Brantas serta anak sungai serta mendarat di suatu tempat Dusun Bandar Alim Desa Demangan. Kemudian mereka melanjutkan perjalanan dan menempati suatu daerah yang saat ini diberi nama Dusun\/Desa Jambi masuk wilayah Kecamatan Baron,&#8221; jelas Amin.<\/p>\n<p>Bukan hanya Amin, banyak pandangan mengungkap, Anjuk Ladang bukan kemenangan yang menghabisi musuh. Akan tetapi, berujung pada rekonsiliasi. Sisa-sisa pasukan Melayu yang terdesak saat itu tidak habis dengan cara dibunuh. Mereka ditawarkan kesepakatan damai dengan dua alasan. <em>Pertama<\/em>, jika perang diteruskan tentu akan menghabiskan lebih banyak sumber daya. <em>Kedua<\/em>, orang-orang Malayu adalah wangsa Syailendra yang merupakan saudara setanah air dengan Medang dari wangsa Sanjaya.<\/p>\n<p>Empu Sindok lalu membuatkan sebuah candi peribadatan bagi Sang Hyang Prasadha Kabhaktian. Bukan hanya kaum Siwa, tapi juga diperuntukkan bagi kaum Buddha, orang-orang Melayu yang memilih mengabdi kepada Kerajaan Medang. Mereka diperbolehkan meletakkan patung Buddha dari bahan perunggu di kompleks Candi sebagai simbol persatuan Siwa-Buddha.<\/p>\n<p>Markas pasukan Melayu ada di Desa Jambi yang membentang sampai ke utara tetap menjadi pemukiman mereka. Daerah sebelah utara itu disebut Nglayu (sekarang menjadi Ngluyu). Pasukan Melayu Jambi menyimpan warisan harta kekayaan dari negeri asal mereka, perhiasan emas, koin-koin dinasti Tang, serta kerajinan khas Muaro Jambi.<\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<p>Diketahui, bangsa Melayu\u00a0(Melayu Jambi) merupakan percampuran banyak sub-ras manusia dan perpaduan berbagai pengaruh kebudayaan sejak 10.000 sebelum Masehi. Sesudah\u00a0zaman es, ras Mongoloid menyebar ke selatan\u00a0benua Asia hingga Amerika\u00a0melalui selat Bering. Salah satu sub-ras Mongoloid adalah Malayan Mongoloid yang mendominasi penduduk Asia Tenggara. Masyarakatnya berbudaya Melayu. Ras tersebut merupakan percampuran Austro-Melaniosoid dari selatan dengan Paleo-Mongoloid dari utara.<\/p>\n<p>Dalam perkembangannya, sejak ratusan tahun lalu wilayah Jambi telah dihuni oleh masyarakat\u00a0Proto Melayu\u00a0seperti Suku\u00a0Kerinci,\u00a0Batin, Penghulu, dan\u00a0Suku Anak Dalam. Nama Jambi sering disebut dalam prasasti dan berita\u00a0Tiongkok. Itu artinya, orang Cina telah lama memiliki hubungan dengan Jambi khususnya Suku Jambi, yang mereka sebut dengan nama <em>Chan-pei<\/em> atau <em>Cham-pi.<\/em> Terdapat tiga kerajaan Melayu Kuno di Jambi, yaitu\u00a0Koying\u00a0(abad ke-3 Masehi), Tupo (abad ke-3 Masehi) dan Kantoli (abad ke-5 Masehi).<\/p>\n<p>Jambi jelas menjadi bagian penting dari kekuasaan Kerajaan Sriwijaya. Dibuktikan dengan temuan arkeologis seperti kompleks percandian Muaro Jambi. Setelah Kerajaan Sriwijaya redup, Kerajaan Melayu di Jambi justru terus berkembang hingga menjadi kesultanan.<\/p>\n<p>Kembali ke Anjuk Ladang, masih kata Amin, pengaruh Melayu dari peristiwa Anjuk Ladang memiliki dampak terhadap destinasi wisata budaya Nganjuk hingga saat ini. &#8220;Pengaruh yang terjadi diantaranya lokasi yang ditempati oleh pasukan Melayu menjadi toponimi &#8216;Jambi&#8217;. Karena saat itu ketika para pasukan (Melayu) ditanya dari mana asalnya, (mereka) menjawab dari &#8216;Jambi&#8217;,&#8221; terangnya.<\/p>\n<p>Bukan hanya di Desa Jambi, tambah Amin, di daerah di Bandar Alim juga ditemukan beberapa peninggalan sejarah. Di antaranya perkampungan kuno serta bangunan peribadatan. &#8220;Ada dua buah prasasti, yang mana satu diantaranya berada di pusat informasi Majapahit dan disebut sebagai prasasti Bandar Alim 1. Sedangkan satunya lagi masih <em>insitu<\/em> (di lokasi) yang berada di pemakaman umum Dusun Bandar Alim,&#8221; paparnya.<\/p>\n<p>Diterangkannya pula, hingga saat ini Sima Swatantra Anjuk Ladang masih dilestarikan masyarakat sebagai salah satu atraksi pada destinasi wisata budaya Nganjuk. &#8220;Masih dilestarikan terutama terkait upacara penetapan <em>sima swatantra<\/em> tersebut dengan nama <em>Manusuk Sima<\/em> di lokasi aslinya yaitu di Candi Lor, Desa Candirejo Kecamatan Loceret,&#8221; tegasnya.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-45988 size-full\" src=\"https:\/\/simbursumatera.com\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/PhotoCollage_17666655370853.jpg\" alt=\"\" width=\"524\" height=\"296\" srcset=\"https:\/\/simbursumatera.com\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/PhotoCollage_17666655370853.jpg 524w, https:\/\/simbursumatera.com\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/PhotoCollage_17666655370853-300x169.jpg 300w, https:\/\/simbursumatera.com\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/PhotoCollage_17666655370853-148x85.jpg 148w, https:\/\/simbursumatera.com\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/PhotoCollage_17666655370853-71x40.jpg 71w\" sizes=\"auto, (max-width: 524px) 100vw, 524px\" \/><\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<p>Lanjut Amin, pihaknya terus melakukan pengembangan destinasi untuk menarik wisatawan dari rumpun Melayu di Nusantara dan Asia Tenggara ke Nganjuk. &#8220;Pengembangan destinasi diarahkan pada wisata minat khusus yaitu penelusuran sejarah,&#8221; tutupnya.<\/p>\n<p>Sementara itu, Sima Swatantra Anjuk Ladang dapat dikaji berdasarkan pendekatan Analisis Wacana Kritis (AWK) yang dikemukakan Norman Fairclough. Dalam teorinya, Fairclough mengungkap bahwa kekuasaan adalah inti yang bekerja melalui bahasa untuk menaturalisasi hubungan dominasi sosial, menyamarkan ideologi, serta menciptakan dan mempertahankan kekuasaan.<\/p>\n<p>Terkait itu, Fairclough menganggap wacana tidak netral, melainkan medan pertarungan ideologis untuk membentuk persepsi dan realitas. Mengingat, kelompok dominan kerap menggunakan bahasa untuk melegitimasi kekuasaan. Sementara, wacana kritis bertujuan membongkar pesan yang tersembunyi untuk sebuah perubahan sosial.<\/p>\n<p>Fairclough menawarkan konsep tiga dimensi dalam analisis wacana kritis, yakni teks, praktik diskursif, dan praktik sosial-kultural. Teks berupa analisis linguistik (kosakata, tata bahasa, struktur) untuk menemukan jejak ideologi dan representasi kekuasaan. Dalam hal ini, teks Sima Swatantra Anjuk Ladang berasal dari bahasa Sansekerta. <em>Sima Swatantra<\/em> berasal dari kata <em>sima<\/em> yang berarti &#8220;daerah yang diberi status bebas pajak&#8221; dan kata <em>swatantra<\/em> yang berarti &#8220;memiliki hak otonomi untuk mengatur daerahnya sendiri&#8221;. Sementara, Anjuk Ladang berasal dari kata <em>anjuk<\/em> yang berarti &#8220;kemenangan&#8221; dan <em>ladang<\/em> yang berarti &#8220;tanah.&#8221;<\/p>\n<p>Praktik diskursif meliputi proses produksi, distribusi, dan konsumsi teks; bagaimana teks dipahami dan diinterpretasikan dalam konteks sosial. Dalam hal ini, teks Anjuk Ladang mencatat kemenangan Raja Empu Sindok selaku Raja Mataram Kuno atas serangan pasukan Melayu (Jambi) pada 929-937 Masehi. Saat itu penduduk lokal Anjukladang bisa mempertahankan wilayahnya dan berhasil mengusir pasukan Melayu Jambi. Menghargai jasa masyarakat setempat, Raja Empu Sindok lantas mendirikan sebuah monumen Jayastamba untuk memperingati kemenangan dan menetapkan Anjuk Ladang dengan prosesi upacara Manusuk Sima.<\/p>\n<p>Praktik sosial-kultural menganalisis konteks sosial, historis, dan budaya yang lebih luas yang membentuk wacana, termasuk relasi kekuasaan yang ada. Berdasarkan peristiwa Anjuk Ladang, kemenangan tersebut tidak menghabisi semua pihak musuh. Akan tetapi, berujung pada rekonsiliasi budaya sebagai representasi kekuasaan yang ditunjukkan Empu Sindok saat menjadi Raja Mataram Kuno. Rekonsiliasi budaya yang dilakukan atas kekuasaan tersebut telah mengembalikan kondisi pada keadaan semula dengan menyatukan semua perbedaan untuk sebuah perdamaian yang masih dinikmati dan dilestarikan masyarakat hingga saat ini. <strong>(red\/berbagai sumber)<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Analisis Wacana Kritis Anjuk Ladang sebagai Rekonsiliasi Budaya atas Kekuasaan &nbsp; Sima Swatantra Anjuk Ladang mencerminkan sikap rekonsiliasi budaya yang menjadi kearifan lokal bangsa Indonesia sejak masa lalu. Rekonsiliasi berarti mengembalikan kondisi pada keadaan semula dengan menyatukan semua perbedaan untuk sebuah perdamaian. Berikut laporan jurnalistik Simbur bertajuk Sima Swatantra: Jejak Melayu di Tanah Jawa. &nbsp; JAKARTA, SIMBUR &#8211; Sima Swatantra merupakan\u00a0istilah dalam konteks sejarah Jawa Kuno. Merujuk suatu daerah yang diberi status bebas pajak (sima)&#8230;.<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":45987,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[78],"tags":[],"class_list":["post-45985","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-features"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/45985","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=45985"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/45985\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":45989,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/45985\/revisions\/45989"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/45987"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=45985"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=45985"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=45985"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}