{"id":44533,"date":"2025-07-29T23:36:03","date_gmt":"2025-07-29T16:36:03","guid":{"rendered":"https:\/\/simbursumatera.com\/?p=44533"},"modified":"2025-07-29T23:39:04","modified_gmt":"2025-07-29T16:39:04","slug":"luas-lahan-terbakar-di-sumsel-18-juta-hektare-tahun-2015-menurun-drastis-jadi-47-hektare-pada-juli-2025","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/simbursumatera.com\/?p=44533","title":{"rendered":"Luas Lahan Terbakar di Sumsel 1,8 Juta Hektare Tahun 2015, Menurun Drastis Jadi 47 Hektare pada Juli 2025"},"content":{"rendered":"<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-44534 size-full\" src=\"https:\/\/simbursumatera.com\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/PhotoCollage_17538052852468.jpg\" alt=\"\" width=\"528\" height=\"322\" srcset=\"https:\/\/simbursumatera.com\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/PhotoCollage_17538052852468.jpg 528w, https:\/\/simbursumatera.com\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/PhotoCollage_17538052852468-300x183.jpg 300w\" sizes=\"auto, (max-width: 528px) 100vw, 528px\" \/><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>PALEMBANG, SIMBUR<\/strong> \u2013 Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) menurun drastis selama sepuluh tahun terakhir. Hal itu diungkap Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Suharyanto. Menurutnya, pengendalian karhutla di Sumsel tahun ini dinilai lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya.<\/p>\n<p>\u201cKarhutla di Sumsel tahun 2025 jauh menurun dibanding 2015 yang mencatat 1,8 juta hektare lahan terbakar. Tahun 2024 saja, jumlahnya hanya sekitar 95 ribu hektare,\u201d ungkap Suharyanto saat Rapat Koordinasi Pengendalian Karhutla di Griya Agung, Palembang, Selasa (29\/7).<\/p>\n<p>BNPB, lanjut Suharyanto, terus mendukung Satgas Darat dengan pengadaan alat pemadam dan modifikasi cuaca. \u201cKami siapkan pesawat fixed wing untuk hujan buatan. Tapi intensitas hujan perlu dikontrol agar tidak memicu banjir di daerah lain,\u201d pungkasnya.<\/p>\n<p>Diketahui, berdasarkan data dari BNPB, sejak 1 Januari 2025 hingga hari ini (29\/7\/2025), terdapat 47 hektare lahan yang terbakar di Sumsel. Saat ini terpantau 21 titik panas atau hotspot di provinsi tersebut. Data BPBD Sumsel yang diterima BNPB, total sebaran hotspot atau titik panas dari 1 Januari 2025 \u2013 22 Juli 2025 mencapai 2.543 titik. Total luas lahan terbakar pada periode tersebut seluas 43,08 hektare.<\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<p>Kepala BNPB juga menyampaikan bahwa hingga sejauh ini, pemerintah pusat melalui BNPB akan terus mendukung upaya penanganan karhutla. Selain dukungan peralatan darat, BNPB juga mengerahkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dan water bombing melalui udara.<\/p>\n<p>Menurut dia, selama dilaksanakan OMC sejak sepekan lalu, wilayah Kota Palembang dan sekitarnya terpantau turun hujan dengan intensitas ringan hingga sedang. Hal itu tentu menjadi sesuatu yang diharapkan dapat mempercepat pemadaman karhutla. \u201cKami ada OMC. Sejak seminggu yang lalu itu ada OMC dan terbukti ada hujan. Hari ini sudah ada mendung, nanti OMC kembali kami lakukan. Mudah-mudahan bisa turun hujan,\u201d ungkap Suharyanto.<\/p>\n<p>Secara teknis, OMC dan water bombing adalah dua hal yang sifatnya saling melengkapi. OMC dilakukan untuk menurunkan hujan di wilayah target sehingga proses pemadaman dan pembasahan tanah menjadi lebih maksimal. Ketika OMC tidak mungkin dilakukan karena ketiadaan awan konvektif, maka water bombing dilakukan untuk membantu proses pemadaman dan penyekatan jalur yang berpotensi dilalui api.<\/p>\n<p>Di samping itu, water bombing juga dilaksanakan apabila lokasi yang terbakar tidak dapat dijangkau oleh satgas darat. \u201cHelikopter water bombing per hari ini ada tiga unit melaksanakan operasi pemadaman di titik-titik yang tidak dapat dipadamkan oleh hujan dan oleh satgas darat,\u201d jelas Suharyanto.<\/p>\n<p>Senada diungkap Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI, Dr Hanif Faisol Nurofiq. Dalam arahannya, Menteri Hanif menyampaikan peran kementeriannya dalam pengendalian karhutla. Khususnya dari aspek kebijakan lingkungan dan penegakan hukum. \u201cKementerian bertugas mengoordinasikan aspek pencegahan, penindakan, serta pemulihan lingkungan. Kami juga mengevaluasi strategi yang telah diterapkan dalam penanganan karhutla,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<p>Ia meminta aparat penegak hukum, seperti kejaksaan dan kepolisian, turut mendukung upaya penegakan hukum lingkungan bagi para pelaku pembakaran hutan. Ketegasan ini dilakukan semata-mata untuk memberikan pemahaman yang baik kepada masyarakat, memberikan efek jera dan antisipasi kedepannya. \u201cKami mohon ke Pangdam dan Kapolda agar tak segan-segan melakukan tindakan hukum yang diperlukan,\u201d ucap Hanif.<\/p>\n<p>Selain itu, ia mendorong peningkatan kampanye publik, salah satunya melalui pemasangan spanduk di wilayah rawan kebakaran. \u201cSpanduk itu penting untuk mengedukasi warga dan mengingatkan bahwa membakar hutan itu pelanggaran serius,\u201d tambah Hanif.<\/p>\n<p>Menteri Hanif berterima kasih kepada seluruh peserta apel atas kehadirannya sebagai bentuk semangat dan dedikasi dalam mengemban tugas sebagai satgas karhutla. Hanif juga mengapresiasi para personel karena telah memberikan sumbangsih yang nyata terhadap penanganan karhutla hingga sejauh ini. Terhitung sejak tanggal 20-28 Juli, penanganan karhutla pun mulai terlihat hasilnya. Dalam sepekan terakhir, jumlah hot spot di Sumatera Selatan berfluktiatif namun cenderung mengalami penurunan.<\/p>\n<p>Kendati tren karhutla di Sumatera Selatan cenderung menurun, namun Hanif mewanti-wanti agar kesiapsiagaan tetap ditingkatkan. Terlebih pada sepuluh hari pertama bulan Agustus nanti yang mana wilayah Sumatera Selatan diprakirakan akan semakin kering dengan potensi hujan yang cenderung minim. Periode tersebut juga diperkirakan menjadi puncak musim kemarau di sebagian besar wilayah Sumatera, termasuk Provinsi Sumatera Selatan.<\/p>\n<p>Menteri LHK tidak mau kecolongan lagi. Oleh sebab itu, upaya pencegahan tetap harus menjadi hal yang harus dikedepankan. Jika pun kemudian terdapat titik api, maka, langkah penanganan darurat harus dimaksimalkan. \u201cPencegahan akan jauh lebih efektif dibandingkan penanggulangan apabila sudah terjadi kebakaran,\u201d tegasnya.<\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<p>Menteri LHK mengingatkan pentingnya penguatan upaya pencegahan sebagai langkah strategis permanen dalam menghadapi ancaman Karhutla. Menurut Hanif, penanggulangan Karhutla tidak bisa berdiri sendiri. Akan tetapi, harus menjadi gerakan bersama lintas sektor dan institusi.<\/p>\n<p>\u201cPengendalian kebakaran hutan dan lahan memberi kontribusi besar dalam pengurangan emisi gas rumah kaca di tengah krisis iklim global. Keterpaduan pemangku kepentingan adalah kunci keberhasilan,\u201d tegasnya.<\/p>\n<p>Hanif menyebut Sumsel sebagai provinsi yang berhasil menurunkan jumlah karhutla dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. &#8220;Sumsel berhasil menjaga ekosistem gambutnya. Ini adalah bukti nyata dari sinergi yang kuat antara pemerintah daerah, aparat keamanan, dunia usaha, dan masyarakat,&#8221; kata Hanif.<\/p>\n<p>Gubernur Herman Deru menegaskan bahwa Pemprov Sumsel telah menetapkan status Siaga Darurat Bencana Karhutla. &#8220;Langkah ini diiringi penetapan posko siaga dan pemantauan hotspot secara berkala,&#8221; jelasnya.<\/p>\n<p>Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan sendiri telah menyatakan status siaga darurat karhutla hingga 31 Oktober 2025 nanti. Menurut data per 29 Juli 2025, tercatat sudah ada 47 hektare lahan mineral maupun gambut terbakar dan mengepulkan asap.<\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<p>Ia juga menyampaikan bahwa edukasi kepada masyarakat dan penegakan hukum terhadap pembakar lahan menjadi prioritas. \u201cKami tidak hanya menunggu, tapi bergerak lebih dulu untuk mencegah,\u201d tambahnya.<\/p>\n<p>Sebelum pelaksanaan rakor, rombongan melakukan peninjauan udara untuk memantau sejumlah titik rawan kebakaran. Karhutla pun muncul di beberapa titik seperti Kabupaten Musi Banyuasin, Penukal Abab Lematang Ilir, Ogan Ilir dan Muara Enim. Dengan menumpangi helikopter dauphin PK-VPD, Kepala BNPB beserta rombongan memantau titik api yang terdapat di Desa Petar Luar, Kecamatan Sungai Rotan, Kabupaten Muara Enim.<\/p>\n<p>Saat patroli udara, helikopter water bombing mondar-mandir memadamkan api dibantu satgas darat dari jajaran BPBD Kabupaten Muara Enim, Manggala Agni, TNI, Polri dan Masyarakat Peduli Api. Para satgas darat ini telah melaksanakan pemadaman sejak tiga hari yang lalu. Dari enam hektar lahan yang terbakar, tersisa empat hektar lagi yang belum padam.<\/p>\n<p>Wakil Gubernur Sumsel H. Cik Ujang juga menegaskan pentingnya kekompakan dan sinergi antarinstansi dalam menangani kebakaran hutan, kebun, dan lahan (Karhutla) di wilayah Sumsel. Dari pemantauan tersebut, ditemukan satu titik api di kawasan Sungai Rotan, Kabupaten Muara Enim. \u201cTadi kami lihat langsung dari udara, memang ada satu titik api di Sungai Rotan. Kami patut bersyukur, karena satgas darat sudah standby dan langsung melakukan pemadaman,\u201d ujar Wagub Cik Ujang.<\/p>\n<p>Ia menekankan bahwa koordinasi dan kolaborasi lintas sektor menjadi kunci keberhasilan penanganan Karhutla. Melalui Rakor ini, ia berharap kerja bersama antarinstansi bisa semakin solid. \u201cForkopimda, satgas, dan masyarakat harus bekerja kompak. Kita tidak bisa bekerja sendiri-sendiri dalam menghadapi Karhutla. Ini tanggung jawab bersama,\u201d tegasnya.(red)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>&nbsp; PALEMBANG, SIMBUR \u2013 Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) menurun drastis selama sepuluh tahun terakhir. Hal itu diungkap Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Suharyanto. Menurutnya, pengendalian karhutla di Sumsel tahun ini dinilai lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. \u201cKarhutla di Sumsel tahun 2025 jauh menurun dibanding 2015 yang mencatat 1,8 juta hektare lahan terbakar. Tahun 2024 saja, jumlahnya hanya sekitar 95 ribu hektare,\u201d ungkap Suharyanto saat Rapat Koordinasi&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":44538,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-44533","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-headline"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/44533","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=44533"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/44533\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":44536,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/44533\/revisions\/44536"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/44538"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=44533"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=44533"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=44533"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}