{"id":41603,"date":"2024-11-26T17:23:57","date_gmt":"2024-11-26T10:23:57","guid":{"rendered":"https:\/\/simbursumatera.com\/?p=41603"},"modified":"2024-11-26T17:23:57","modified_gmt":"2024-11-26T10:23:57","slug":"wacana-wangsa-warmadewa-dalam-konteks-kekuasaan-memperkuat-alam-dan-budaya-bali-sejak-abad-ke-9","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/simbursumatera.com\/?p=41603","title":{"rendered":"Wacana Wangsa Warmadewa dalam Konteks Kekuasaan, Memperkuat Alam dan Budaya Bali sejak Abad Ke-9"},"content":{"rendered":"<p><em>SimburSumatera.com kembali melakukan ekspedisi jurnalistik bertajuk Wangsa Warmadewa: Selusur Budaya Toleransi Kerajaan di Walidwipa pada 16-25 November 2024 di Bali. Ekspedisi jurnalistik Wangsa Warmadewa mengungkap bahwa budaya toleransi telah diterapkan bangsa Indonesia sejak abad ke-9 oleh masyarakat Bali pada masa Raja Sri Kesari Warmadewa.<\/em><\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-41604\" src=\"https:\/\/simbursumatera.com\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/PhotoCollage_17326148493864-300x198.jpg\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"198\" srcset=\"https:\/\/simbursumatera.com\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/PhotoCollage_17326148493864-300x198.jpg 300w, https:\/\/simbursumatera.com\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/PhotoCollage_17326148493864-95x62.jpg 95w, https:\/\/simbursumatera.com\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/PhotoCollage_17326148493864.jpg 560w\" sizes=\"auto, (max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/p>\n<p><strong>DENPASAR, SIMBUR<\/strong> &#8211; Toleransi saat itu tercermin dari apa yang telah dirintis kerajaan di Nusantara. Salah satunya wangsa Warmadewa yang berkuasa di Pulau Bali. Wangsa Warmadewa merupakan dinasti yang pernah berjaya di Nusantara pada abad ke-9 hingga abad ke-11. Sri Kesari Warmadewa, raja pertama Wangsa Warmadewa yang berkuasa di Bali sejak tahun 882 M sampai 914 M. Raja Bali yang dikenal dengan nama Dalem Selonding ini berasal dari Kerajaan Sriwijaya. Saat rombongan Sri Kesari Warmadewa menempuh perjalanan dari Prambanan-Kahuripan ke ujung Pulau Jawa atau Prawali, Walidwipa atau P&#8217;oli kemudian disebut Bali.<\/p>\n<p>&#8220;Bali pernah dipimpin wangsa Warmadewa. Ada masa kejayaannya. Setiap zaman ada orangnya. Setiap orang ada masanya. Masing-masing mempunyai legacy-nya. Serta memperkuat alam Bali. Hindu Buddha di Bali berakar dari budaya,&#8221; ungkap Tjok Bagus Pemayun, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali, di ruang kerjanya di Denpasar, Senin (18\/11).<\/p>\n<p>Sri Kesari Warmadewa datang ke Walidwipa atau P&#8217;oli (Bali) untuk mengembangkan agama Buddha Mahayana dari wangsa Syailendra. Kata Warmadewa dalam bahasa Sanskerta berarti sama dengan Alexander the Great (Alexander Agung) versi bahasa Yunani. Alexander dalam bahasa Yunani berarti pria yang melindungi, sementara Warmadewa dalam bahasa Sansekerta berarti dewa pelindung.<\/p>\n<p>Warmadewa merupakan wangsa yang memiliki campuran darah Yawana (Yunani), Pallawa (Persia) dan Shaka. Pada awal tarikh Masehi, wangsa ini terdesak oleh bangsa Kushan (Mongol) dan berpindah ke selatan mendirikan Kerajaan Pallawa. Pada abad ke-4 M, Samudra Gupta (335 &#8211; 375) menaklukkan kerajaan Pallawa. Maka beremigrasilah keluarga Warmadewa ke Asia Tenggara yakni ke Funan, Suwarnadwipa, Jawadwipa, Balidwipa dan Kutai.<\/p>\n<p>Berdasarkan Lontar Babad Arya di Gedong Kirtiya Singaraja, sekitar abad ke-4 Masehi, di sebelah Champa (Lin Yi) bertakhta raja Bhadrawarman di Vietnam. Dia kemudian diganti anaknya, Manorathawarman. Kemudian digantikan raja Rudrawarman. Seterusnya, anak Sri Rudrawarman bernama Sri Mulawarman pergi merantau sampai ke Borneo (Kalimantan) lalu mendirikan Kerajaan Kutai.<\/p>\n<p>Sri Mulawarman kemudian digantikan Sri Aswawarman. Anaknya bernama Sri Purnawarman mendirikan kerajaan Tarumanegara di Pulau Jawa. Anak Sri Purnawarman, Sri Mauli Warmadewa mendirikan kerajaan Dharmasraya hingga menjadi Raja Sriwijaya.<\/p>\n<p>Dinasti Sri Mauli Warmadewa turun ke Negeri Melayu, di Sungai Melayu, hulu Sungai Tatang, di Bukit Siguntang Mahameru, Palembang. Raja Warmadewa pertama yang mengambil alih kekuasaan dari Demang Lebar Daun (Sri Maharaja Sang Sapurba Paduka Sri Trimurti Tribuana) atau Nila Pahlawan di Palembang adalah Sri Tribuana (Srimat Tribhuwanaraja Mauli Warmadewa) atau Nila Utama.<\/p>\n<p>Anak Sri Mauli Warmadewa bernama Sri Kesari Warmadewa berlayar ke Pulau Bali. Pertama kalinya, dia mendirikan Merajan Selonding dan Dalem Puri di Besakeh. Sri Kesari Warmadewa (yang bermakna Yang Mulia Pelindung Kerajaan Singha) datang ke Bali pada akhir abad ke-9 atau awal abad ke-10.<\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<p>Persaingan dua kerajaan antara Mataram dengan raja yang berwangsa Sanjaya dan kerajaan Sriwijaya dengan raja berwangsa Syailendra (cikal bakal dinasti Warmadewa) terus berlanjut sampai ke Bali. Saat itu mulanya terdapat kerajaan Singamandawa yang didirikan Gajayana (wangsa Sanjaya) dari Kanjuruhan. Pada tahun 913 Masehi muncul Kerajaan Singhadwala dengan Raja Sri Kesari Warmadewa yang merupakan keturunan wangsa Warmadewa (dinasti Syailendra).<\/p>\n<p>Munculnya dua kerajaan ini tidak terlepas dari persaingan antara wangsa Sanjaya dengan wangsa Syailendra pada abad ke-6. Kedua Kerajaan bersaing untuk menguasai daerah yang lebih luas sehingga harus akhirnya terlibat dalam peperangan secara berkelanjutan.<\/p>\n<p>Singhamandawa atau Balingkang merupakan kerajaan di Panglapuan. Diketahui dari Prasasti Dinoyo Jawa Timur dan Prasasti Canggal di Jawa Tengah abad ke-8. Kerajaan Singhamandawa dipimpin utusan Sriwijaya, Gajayana dari dinasti Sanjaya yang mendirikan Kerajaan Kanjuruhan. Raja Gajayana senantiasa diserang kerajaan kecil dari wangsa Syailendra lalu pindah ke Bali. Gajayana dikenal juga Gaja Wahana berdasarkan Babad Usana Bali.<\/p>\n<p>Bali pada masa Kerajaan Singamandawa dipimpin Gajayana (Wangsa Sanjaya). Gajayana Raja Singhamandawa akhirnya terdesak dan dikalahkan oleh Kerajaan Singhadwala pimpinan Raja Sri Kesari Warmadewa (wangsa Syailendra) yang diutus Kerajaan Sriwijaya untuk menaklukkan Pulau Jawa dan menjadi penguasa di Bali.<\/p>\n<p>Diperkirakan Kerajaan Kerajaan Singamandawa atau Kerajaan Balingkang dengan Raja Gajayana (Wangsa Sanjaya) jatuh ke tangan Kerajaan Singhadwala yang dipimpin Sri Kesari Warmadewa dengan jalan damai. Dinasti Singamandawa hanya bertahan di pegunungan Kintamani dan Buleleng sedangkan Wangsa Warmadewa telah menguasai wilayah yang lebih luas yang dibuktikan dengan prasasti berupa pahatan batu di Penataran Gede Malet dan Pura Panempaan Manukaya.<\/p>\n<p>Keberadaan Sri Wira Dalem Kesari Warmadewa diketahui pula dari prasati Belanjong di Pura Belanjong di Desa Sanur, Denpasar, Bali. Di pura itu terdapat sebuah batu besar yang kedua belah mukanya terdapat tulisan kuno dengan bahasa Sansekerta dan menyebut nama &#8220;Kesari Warmadewa&#8221; yang beristana di Singhadwala.<\/p>\n<p>&#8220;Prasasti Blanjong peninggalan Sri Kesari Warnadewa. Berapa kali banyak kerajaan yang ingin menguasai Bali. Beberapa kerajaan saling berebut kekuasaan. Bali menguasai beberapa kerajaan sampai Nusa Tenggara Timur (NTT) sehingga banyak sekali akulturasi kebudayaan. Karena core-nya tetap sama dengan lingkungan,&#8221; ujar Tjok Bagus Pemayun.<\/p>\n<p>Sri Wira Dalem Kesari tiada lain adalah Sri Kesari Warmadewa yang terletak di lingkungan Desa Besakih. Beliau memerintah di Bali kira-kira dari tahun 882 M hingga 914 M, seperti tersebut di dalam prasasti-prasasti yang kini masih tersimpan di Desa Sukawana, Bebetin, Terunyan, Bangli (di Pura Kehen), Gobleg dan Angsari. Mengingat gelar yang mempergunakan Warmadewa, para ahli sejarah menduga bahwa Sri Kesari Warmadewa adalah keturunan raja-raja Syailendra yang menjadi penguasa Kerajaan Sriwijaya di Palembang pada masa Balaputradewa. Sri Kesari Warmadewa datang ke Bali untuk mengembangkan Agama Buddha Mahayana.<\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<p>Sri Kesari Warmadewa mendirikan istana di desa Besakih bernama Singhadwala atau Singhamandala. Dia tekun beribadat, memuja dewa-dewa yang berkahyangan di Gunung Agung. Tempat peribadatan Sri Kesari Warmadewa terdapat di danau bernama &#8220;Pemerajan Selonding&#8221;. Di sana terdapat peninggalannya sebuah &#8220;lonceng&#8221; dari perunggu yang didatangkan dari Kamboja. Lonceng itu digunakan untuk memberikan isyarat agar para biksu Buddha dapat serentak melakukan kewajibannya beribadat di biaranya masing-masing. Benda itu kini disimpan di Desa Pejeng, Gianyar pada sebuah pura yang bernama &#8220;Pura Penataran Sasih&#8221;. &#8220;Kami warga asli Bali membuat pelinggih, bagaimana kami berkomunikasi (dengan Sang Pencipta),&#8221; ujar Tjok.<\/p>\n<p>Setelah Sri Kesari Warmadewa mangkat pada tahun Saka 837\/915 maka digantikan putranya Sri Ugrasena Warmadewa (915-942M) sebagai Raja di Bali. Selama masa pemerintahannya, Ugrasena membuat beberapa kebijakan dengan politik pintu terbuka, di antaranya pembebasan beberapa desa dari pajak sekitar tahun 837 Saka atau 915.<\/p>\n<p>Berkaitan erat dengan aspek kehidupan beragama, Raja Ugrasena yang beragama Buddha memberikan izin kepada penduduk desa Haran dan Parcanigayan untuk memperluas pasanggrahan dan bangunan suci Hyang Api di desa masing-masing. Keberadaan penduduk desa Tamblingan sebagai jumpung Waisnawa \u201dsekte Waisnawa\u201d, serta kaitannya dengan bangunan suci Hyang Tahinuni, juga mendapat perhatian dari Raja Ugrasena.<\/p>\n<p>Ugrasena putra Kesari Warmadewa dekat dengan keturunan Wangsa Keling atau Kalingga atau dikenal dengan nama Wangsa Sanjaya yang berasal dari India Selatan. Pada masa ini agama Buddha mulai masuk ke Bali setelah terlebih dahulu berkembang di Jawa. Akan tetapi, tahun saka 888 tidak terdengar lagi raja Singamandawa dari Wangsa Sanjaya karena banyak prasasti yang dikeluarkan semuanya dari Wangsa Warmadewa.<\/p>\n<p>Setelah Sri Ugrasena Warmadewa wafat, Kerajaan Bali diteruskan Sang Ratu Sri Haji Tabanendra Warmadewa (955-974 M). Keturunan wangsa Warmadewa, Raja Tabanendra Warmadewa ini tetap menghormati Sang Ratu Ugrasena. Pindahnya tampuk kekuasaan dari Raja Ugrasena ke tangan Tabanendra Warmadewa, maka berakhir pula masa kedinastian Wangsa Sanjaya di Bali yang kembali digantikan Wangsa Warmadewa.<\/p>\n<p>Dia memerintah bersama permaisurinya, yaitu Sri Subhadrika Dharmadewi, tahun 877-889 Saka (955-967). Prasasti dinasti ini ditemukan di daerah Kintamani. Raja Tabanendra Warmadewa memerintahkan sejumlah tokoh agar menangani pemugaran pesanggarahan di Air Mih.<\/p>\n<p>Pengganti Tabanendra Warmadewa adalah raja Jayasingha Warmadewa (960 &#8211; 975 M).\u00a0Raja ini dapat diketahui dari prasasti Manukaya (882 Saka). Dalam prasasti itu dimuat perintah raja untuk memugar Tirtha di (Air) Mpul (sekarang Tirtha Empul di Tampaksiring).<\/p>\n<p>&#8220;Air penting sekali bagi siapa pun di muka bumi. Di mana ada kehidupan, di situ ada air. Di samping untuk kehidupan, air juga untuk menyucikan diri. Ada doanya dan kidungnya. Tentu air bagi kami (orang Bali) harus dimuliakan. Bagaimana menyucikan diri sendiri dalam doa-doa. Air yang berisi doa beda dengan air biasa. Pernah diteliti orang Jepang. Air yang berisi doa jauh lebih banyak kandungan oksigennya,&#8221; ujar Tjok.<\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<p>Setelah masa Jayasingha Warmadewa, kerajaan Bali dipimpin Sang Ratu Sri Janasadhu Warmadewa (975 &#8211; 983 M). Diketahui dari prasasti Sembiran AII (897 Saka). Prasasti tersebut kembali mengenai penduduk desa Julah kuno yang kembali dari pengungsiannya diizinkan memperbaharui isi prasastinya.<\/p>\n<p>Selanjutnya, ketentuan dalam prasasti itu harus dipatuhi dan jangan diubah-ubah lagi. Dalam prasasti itu antara lain ditetapkan bahwa jika ada kuil, pekuburan, pancuran, permandian, prasada, dan jalan raya di wilayah itu mengalami kerusakan, supaya diperbaiki serta dibiayai secara bergilir oleh penduduk desa Julah, Indrapura, Buwundalm, dan Hiliran.<\/p>\n<p>Tjok menerangkan, konsep budaya di Bali hampir sama, bagaimana masyarakat mengembalikan pancamahabhuta (menghidupkan lima unsur yang ada dalam diri manusia). Terdiri dari Teja (api), Bayu (udara), Pertiwi (tanah), Apah (air), dan Ahasa (ruang hampa). &#8220;Jika ada yang meninggal, tinggal memilih mengembalikan pancamahabuta kepada asalnya, ada yang dilakukan dengan cara mengubur, membakar, atau larung,&#8221; jelas Tjok.<\/p>\n<p>Setelah masa Sri Janasadhu Warmadewa, Bali dipimpin Sri Maharaja Sri Wijaya Mahadewi (983 &#8211; 989 M). Dia menerapkan sistem pemerintahan Bali sesuai dengan sistem pemerintahan di Jawa. Beberapa ahli memperkirakan ratu ini adalah putri dari Mpu Sindok dari kerajaan Medang. Sejumlah ahli bahkan menyebut Sri Wijaya Mahadewi itu adalah putri Mpu Sindok yang aslinya bernama Sri Isyana Tunggawijaya.<\/p>\n<p>Satu-satunya prasasti sebagai sumber sejarah ratu ini adalah prasasti Gobleg, Pura Desa II (905 Saka). Ratu ini memberi izin kepada penduduk desa Air Tabar, yang merupakan pamong kuil Indrapura di Bukittunggal di wilayah desa Air Tabar, untuk memperbaharui prasastinya (mabharin pandaksayan na). Ratu ini tidak menggunakan identitas dinasti Warmadewa.<\/p>\n<p>Kerajaan Bali selanjutnya dipimpin pasangan Sri Gunapriyadharmapatni dan suaminya Sri Dharmodayana Warmadewa atau Dharma Udayana Warmadewa\u00a0(989 &#8211; 1011 M). Pasangan tersebut memiliki putra, yakni Airlangga dan Anak Wungsu.<\/p>\n<p>Sejumlah pakar mengungkap Dharma Udayana Warmadewa adalah anak seorang putri Campa atau Kamboja. Saat Bali mengalami kekacauan sekitar tahun 970, menyebabkan putri yang dalam keadaan hamil itu melarikan diri ke Jawa dan melahirkan adalah Udayana. Udayana kemudian menikah dengan Mahendradatta.<\/p>\n<p>Pada masa pemerintahan Raja Udayana,<br \/>\nPulau Bali aman dan sejahtera tidak ada perselisihan semua umat menekuni nyanyian keagamaan, demikian pula para Pendeta Siwa, Budha, Resi dan para Ahli (Mpu), selalu melaksanakan Api Kurban (homa), mengucapkan Weda mantra, suara genta mengalun memuja kebesaran Sang Hyang Widhi serta para dewata.<\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<p>Berdasarkan uraian di atas, Wangsa Warmadewa saat ini menjadi sebuah wacana yang menunjukkan ideologi dan kekuasaan di Pulau Bali pada abad ke-9 hingga abad ke-11. Ditinjau dari analisis wacana kritis atau critical discourse analysis, wangsa Warmadewa merupakan kajian penting dan menarik sebagai upaya atau proses untuk memberi penjelasan terhadap sebuah teks (realitas sosial) yang sedang dikaji seseorang atau kelompok dominan dengan kecenderungan mempunyai tujuan tertentu.<\/p>\n<p>Berdasarkan pandangan Fairclough dan Wodak (1997), van Dijk (1998), serta Habermas (1973), analisis wacana kritis bertujuan untuk mengembangkan asumsi-asumsi yang bersifat ideologis di balik kata-kata dalam teks atau ucapan berbagai bentuk kekuasaan, yakni Wangsa Warmadewa.<\/p>\n<p>Analisis wacana kritis merupakan studi tentang hubungan antara wacana, kekuasaan, dominansi, ketidakadilan, dan kedudukan penganalisis wacana dalam relasi sosial yang demikian sehingga lebih mengarah ke dalam relasi sosiopolitik. Beberapa ahli sosial, seperti Van Dijk, Firclough, Wodak yang telah menyimpulkan lima karakteristik AWK. Terdiri dari tindakan, konteks, historis, kekuasan, dan ideologi.<\/p>\n<p>Ada tiga sentral dalam analisis wacana kritis, yakni teks, konteks, dan wacana. Teks adalah kata-kata yang tercetak atau diucapkan berdasarkan kebahasaan. Konteks merujuk pada situasi di luar dan memengaruhi bahasa, sedangkan wacana merupakan pemakaian teks dan konteks. Salah satu aspek wacana adalah pemakaian teks dan konteks historis. Analisis terhadap konteks kekuasaan dinasti\/wangsa menjadi salah satu kunci hubungan antara wacana dengan masyarakat yang kerapkali dipengaruhi kekuasaan Warmadewa.<\/p>\n<p>Analisis wacana kritis digunakan untuk membangun kekuasaan, ilmu pengetahuan baru, regulasi dan normalisasi dan hegemoni atau pengaruh suatu bangsa terhadap bangsa lain. Teks Wangsa Warmadewa memiliki konteks sebagai salah satu dinasti keluarga yang berkuasa di Pulau Bali selama hampir tiga abad. Adapun wacana yang muncul dari teks dan konteks wangsa Warmadewa menunjukkan bahwa sistem dinasti\/keluarga di balik kekuasaan sudah terjadi pada abad ke-9 hingga ke-11. Meski wacana merujuk pada dinasti\/keluarga, wangsa Warmadewa tetap dikenal untuk memajukan daerah kekuasaannya dan mensejahterakan rakyat Bali.<\/p>\n<p>Berdasarkan teori Norman Fairclough, terdapat tiga dimensi analisis wacana kritis untuk mengkaji Wangsa Warmadewa. Diantaranya teks, Praktik Diskursif (Discourse Practice), dan Praktis Sosial atau Sociocultural.<\/p>\n<p>Teks, mengacu semua bentuk linguistik Wangsa Warmadewa. Dalam menganalisis teks tersebut diperlukan beberapa elemen. Representasi Wangsa Warmadewa melihat bagaimana sistem keluarga (wangsa\/dinasti) yang disebut Warmadewa. Relasi yang dijadikan media yakni prasasti Blanjong yang isinya menyebutkan pendiri Kerajaan di Bali yakni Sri Kesari Warmadewa. Adapun identitas Warmadewa yang ditampilkan relevan dengan kelompok sosial\/wangsa yang berkuasa di Pulau Bali secara turun temurun.<\/p>\n<p>Selanjutnya, Praktik Diskursif atau Discourse Practice, menghubungkan bagaimana kekuasaan Sri Kesari Warmadewa hingga Udayana Warmadewa memainkan peran sesuai zamannya. Praksis Sosial atau Sociocultural Practice, digambarkan pada tokoh Sri Kesari Warmadewa yang dapat dimaknai dan menyebarkan ideologi dominan di Pulau Bali pada abad ke-9 hingga abad ke-11.<\/p>\n<p>Ada tiga tingkatan menganalisis praksis sosial. Pertama, Aspek Situasional, terjadi ketika Wangsa Warmadewa diproduksi menghasilkan teks yang identik dengan situasi abad ke-9 berdasarkan prasasti Blanjong. Kedua, Aspek Institusional, melihat bagaimana pengaruh praktik wacana Wangsa Warmadewa dalam institusi organisasi pemerintahan dan masyarakat, baik secara internal ataupun eksternal. Ketiga, Aspek Sosial, mengarah pada sistem politik, ekonomi dan lainnya secara keseluruhan. Sistem tersebut menentukan Sri Kesari Warmadewa yang berkuasa dengan nilai dominan hingga berpengaruh pada masyarakat Bali.(red\/berbagai sumber)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>SimburSumatera.com kembali melakukan ekspedisi jurnalistik bertajuk Wangsa Warmadewa: Selusur Budaya Toleransi Kerajaan di Walidwipa pada 16-25 November 2024 di Bali. Ekspedisi jurnalistik Wangsa Warmadewa mengungkap bahwa budaya toleransi telah diterapkan bangsa Indonesia sejak abad ke-9 oleh masyarakat Bali pada masa Raja Sri Kesari Warmadewa. DENPASAR, SIMBUR &#8211; Toleransi saat itu tercermin dari apa yang telah dirintis kerajaan di Nusantara. Salah satunya wangsa Warmadewa yang berkuasa di Pulau Bali. Wangsa Warmadewa merupakan dinasti yang pernah berjaya&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":41605,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[106],"tags":[],"class_list":["post-41603","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-ekspedisi-wangsa-warmadewa"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/41603","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=41603"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/41603\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":41606,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/41603\/revisions\/41606"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/41605"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=41603"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=41603"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=41603"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}