{"id":37614,"date":"2023-11-04T19:22:03","date_gmt":"2023-11-04T12:22:03","guid":{"rendered":"https:\/\/simbursumatera.com\/?p=37614"},"modified":"2023-11-04T19:40:59","modified_gmt":"2023-11-04T12:40:59","slug":"hujan-es-terjadi-di-palembang-bukan-hasil-modifikasi-cuaca","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/simbursumatera.com\/?p=37614","title":{"rendered":"Hujan Es Terjadi di Palembang, Bukan Hasil Modifikasi Cuaca"},"content":{"rendered":"<p><strong>PALEMBANG, SIMBUR<\/strong> &#8211; Setelah sekian lama diselimuti kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla), Kota Palembang, Provinsi Sumatera Selatan, diguyur hujan es. Fenomena alam itu terjadi di wilayah Kecamatan Kertapati, Kota Palembang, Sabtu (4\/11).<\/p>\n<p>Kepala Stasiun Meteorologi Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang, Siswanto ST MSi saat dikonfirmasi Simbur menjelaskan, hujan es terjadi saat memasuki musim pancaroba. &#8220;Fenomena hujan es adalah kejadian yang biasa terjadi ketika suatu wilayah yang saat ini sedang memasuki musim pancaroba\/musim peralihan,&#8221; ungkap Siswanto, Sabtu (4\/11).<\/p>\n<p>Menurut dia, fenomena alam itu kerap terjadi saat intensitas hujan cukup lebat disertai angin kencang. Karakteristik cuaca pada musim pancaroba\/musim peralihan, kata dia, sangat dimungkinkan muncul fenomena cuaca hujan yang turun dengan intensitas sedang hingga lebat (terdengar suara gemuruh di atap seng). &#8220;Dalam waktu yang singkat yang disertai dengan angin kencang maupun sambaran petir, bahkan kemunculan adanya fenomena hujan es,&#8221; jelasnya.<\/p>\n<p>Siswanto menambahkan, proses terjadinya hujan es, biasanya akan muncul dr awan comulonimbus (CB). Secara visual awan tersebut akan terlihat secara fisik seperti bunga kol berwana hitam keabu-abuan. Dengan tinggi dasar awan yang relatif rendah dan memiliki tingga puncak awan menjulang tinggi. &#8220;Awan tersebut memiliki suhu -100 cc. Ketika awan ini menjadi hujan bitiran yang jatuh ke permukaan bumi masih berukuran besar seperti pecahan es,&#8221; terangnya.<\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<p>Terkait hujan es di Palembang, lanjut dia, dipicu akibat adanya pertumbuhan Awan Cumulonimbus (CB) sehingga terjadi hujan dengan intensitas sedang &#8211; lebat secara tiba &#8211; tiba disertai es yang terjadi di wilayah tersebut. &#8220;Data curah hujan berdasarkan AWS\/ARG terdekat yaitu ARG Jakabaring tercatat curah hujan pukul 16.20WIB adalah 13,4mm,&#8221; sebut Siswanto seraya mengungkap, tidak ada korban jiwa dan harta benda dalam peristiwa itu.<\/p>\n<p>Hasil analisis sementara mengenai ujan es yang terjadi di wilayah Kota Palembang, kata dia lagi disebabkan oleh Suhu muka laut di perairan Sumatera bagian Timur yang cukup hangat antara 30 &#8211; 31 derajat Celcius, serta anomali suhu muka laut di sekitar perairan Sumatera bagian Timur berkisar antara 1.0 &#8211; 2.0\u00b0C yang menambah pasokan uap air di wilayah Sumatera Selatan.<\/p>\n<p>&#8220;Terdapat pola konvergensi yang memanjang di wilayah Pulau Sumatera bagian Timur. Kelembapan udara lapisan 850 &#8211; 500 mb di wilayah Kota Palembang berkisar antara 60% &#8211; 80%,&#8221; tandasnya.<\/p>\n<p>Akibat fenomena itu, peringatan dini cuaca ekstrem sudah dikeluarkan oleh MEWS Stasiun Meteorologi SMB II Palembang sebanyak 2 kali berlaku mulai tanggal 04 November 2023 pukul 14.50 WIB &#8211; 18.30 WIB. Berdasarkan data analisis cuaca terakhir, potensi cuaca ekstrem di wilayah Sumatera Selatan masih akan berlangsung 1-2 hari ke depan. Terutama di wilayah Sumatera Selatan bagian Tengah, Barat dan Utara. &#8220;Masyarakat dihimbau untuk selalu mengupdate informasi cuaca setiap saat terutama dalam masa peralihan musim di awal bulan November ini,&#8221; harapnya.<\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<p><strong>Bukan Hujan Buatan<\/strong><\/p>\n<p>Ditanya apakah hujan es terkait teknologi modifikasi cuaca (TMC), Siswanto menegaskan, tidak ada kaitannya dengan hujan buatan. &#8220;Hujan es adalah fenomena alam biasa. Tidak ada hubungannya dengan TMC atau kegiatan hujan buatan,&#8221; ujarnya.<\/p>\n<p>Teknologi modifikasi cuaca (TMC), jelas Siswanto, lebih familiar dikenal masyarakat adalah hujan buatan merupakan suatu kegiatan yang melibatkan lintas sektoral seperti BRIN selaku scientist. Termasuk BMKG yang akan memberi rekomendasi kapan kegiatan TMC akan efektif dilakukan.<\/p>\n<p>&#8220;TMC secara kegiatan adalah menaburkan garam (NaCl) dengan menggunakan pesawat yan diarahkan\/disemai di atas awan yang secara spesifik memiliki potensi kandungan uap air yang cukup utk berkembang menjadi awan hujan,&#8221; paparnya.<\/p>\n<p>Artinya, lanjut Siswanto, tanpa ada awan yang memiliki kandungan uap air yang cukup, sekalipun ditabur garam, awan tidak akan menghasilkan hujan yang sampai ke permukaan bumi. &#8220;Kalaupun berkembang menjadi awan hujan namun titik airnya tidak sampai jatuh ke permukaan bumi atau disebut dengan hujan virga,&#8221; terang Siswanto.<\/p>\n<p>Ditambahkannya, kegiatan TMC memicu atau mempercepat menjadi turun hujan bahkan memiliki intensitas lebat. &#8220;Dalam hal ini benar tetapi dalam kaitannya fenomena hujan es. Bukan berarti TMC adalah menabur bongkahan es di atas awan,&#8221; tutupnya.(maz)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>PALEMBANG, SIMBUR &#8211; Setelah sekian lama diselimuti kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla), Kota Palembang, Provinsi Sumatera Selatan, diguyur hujan es. Fenomena alam itu terjadi di wilayah Kecamatan Kertapati, Kota Palembang, Sabtu (4\/11). Kepala Stasiun Meteorologi Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang, Siswanto ST MSi saat dikonfirmasi Simbur menjelaskan, hujan es terjadi saat memasuki musim pancaroba. &#8220;Fenomena hujan es adalah kejadian yang biasa terjadi ketika suatu wilayah yang saat ini sedang memasuki musim pancaroba\/musim&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":37623,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-37614","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-headline"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/37614","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=37614"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/37614\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":37618,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/37614\/revisions\/37618"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/37623"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=37614"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=37614"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=37614"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}