{"id":37296,"date":"2023-10-04T18:51:25","date_gmt":"2023-10-04T11:51:25","guid":{"rendered":"https:\/\/simbursumatera.com\/?p=37296"},"modified":"2023-10-04T18:51:25","modified_gmt":"2023-10-04T11:51:25","slug":"atasi-kabut-asap-akibat-karhutla-sumsel-pj-gubernur-kalau-sendiri-sendiri-penanganannya-tidak-efektif","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/simbursumatera.com\/?p=37296","title":{"rendered":"Atasi Kabut Asap akibat Karhutla Sumsel, Pj Gubernur: Kalau Sendiri-sendiri Penanganannya Tidak Efektif"},"content":{"rendered":"<p><strong>PALEMBANG, SIMBUR<\/strong> &#8211; Penjabat (Pj) Gubernur Sumatera Selatan Agus Fatoni langsung mengerjakan pekerjaan rumah (PR) yang tidak diselesaikan eks Gubernur- Wakil Gubernur Herman Deru-Mawardi Yahya saat habis masa jabatannya. Pj Gubernur langsung membahas penanganan kebakaran hutan dan lahan (kahutla) bersama dengan Forum Koordinasi Pimpinan Kepala Daerah (Forkopimda). Diskusi bertempat di ruang Ruang Transit VVIP Room Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang, Selasa (3\/10).<\/p>\n<p>Fatoni bersama jajaran Forkopimda lainnya mengadakan pertemuan. Hal yang menjadi pembahasan salah satunya adalah terkait penanganan karhutla di Sumatera Selatan. Oleh karena itu, Fatoni dalam waktu dekat akan segera mengumpulkan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Provinsi\/Kabupaten\/Kota se-Sumatera Selatan dan TNI\/Polri. Ini dilakukan sebagai salah satu upaya gerak cepat untuk membahas penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di beberapa titik wilayah Sumatera Selatan.<\/p>\n<p>&#8220;Nah nanti dalam waktu dekat saya akan kumpulkan bupati, walikota dan satgas karhutla ini untuk dibahas secara bersama-sama dengan satgas TNI\/Polri,&#8221; kata Fatoni.<\/p>\n<p>Fatoni mengatakan pihaknya saat ini telah berdiskusi dengan Forkopimda terkait langkah konkret apa saja yang hendak dilakukan untuk menangani karhutla. &#8220;Ya ini semua sudah bergerak, kami dengan forkopimda juga sudah diskusi, langkah-langkah yang hendak dilakukan juga sudah ada, pemprov juga sudah melakukan langkah-langkah, kemudian forkopimda, pak kapolda dan yang lain juga sudah, kabupaten\/kota juga sudah,&#8221; jelasnya.<\/p>\n<p>Selain itu, Fatoni juga mengajak seluruh stakeholder terkait untuk mengatasi permasalahan kabut asap. Dalam waktu dekat, Fatoni bersama Kapolda Sumatera Selatan Irjen Albertus Rachmad Wibowo dan Forkopimda terkait segera turun ke lapangan untuk mengecek langsung kondisi kabut asap terkini.<\/p>\n<p>&#8220;Nah kabut asap ini lah yang perlu kami bahas bersama sehingga tidak sendiri-sendiri ya. Kalau sendiri-sendiri nanti tidak terkoordinir sehingga penanganannya tidak efektif. Tadi juga sudah dibicarakan dalam waktu dekat satu atau dua hari ini kami segera akan ke lapangan bersama pak kapolda dan forkopimda yang lain juga bergerak ke lapangan,&#8221; ucap Fatoni.<\/p>\n<p>&#8220;Apalagi ini cuacanya sedang seperti ini, el nino. Dan ini bisa kita lakukan kalau kita bersama-sama kalau kita kompak baik dari pemprov kabupaten\/kota, forkopimda dan kemudian swasta dan masyarakat kita. Karena ini tanggungjawab bersama,&#8221; sambungnya.<\/p>\n<p>Fatoni mengawali hari pertama bekerjanya dengan bertemu Direktur Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) RI Sigit Reliantoro. Pertemuan ini berlangsung di Hotel Arista Palembang, Sumatera Selatan, Rabu (4\/10).<\/p>\n<p>Dalam pertemuan tersebut, Fatoni dan Sigit membahas secara intens tentang tindaklanjut penanganan Karhutla di wilayah Sumsel. Saat ini, dia telah mendapat sejumlah laporan terkait lokasi karhutla. &#8220;Jadi hari ini kami dari Pemprov bersama dengan Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup ada Dirjen dan Tim, kita membahas terkait dengan Karhutla. Tadi sudah dijelaskan spot-spot mana, titik-titik mana yang ada kebakarannya dan penanganan apa yang sudah dilakukan,\u201d jelas Fatoni.<\/p>\n<p>Selain itu, dalam pertemuan juga dibahas sejumlah langkah yang akan dilakukan ke depannya. Menurutnya apa yang bisa dilakukan akan sekuat tenaga diupayakan agar Karhutla ini cepat teratasi.<\/p>\n<p>Menurut Fatoni, karhutla membutuhkan penanganan secara terpadu dan bersama-sama karena masing-masing punya tugas kewenangan dan tanggungjawab. Dengan begitu, diharapkan penanganan akan menjadi lebih efektif. Selain membahas titik-titik mana saja yang sudah terbakar dan berpotensi terbakar. Ada empat titik prioritas yang disorot Fatoni, di antaranya Waringin Agro Jaya di Kabupaten Ogan Komering Ilir, Suaka Margasatwa Padang Sugihan, lahan konsesi PT Banyu Kahuripan Indonesia yang berlokasi sebagian di Kabupaten Banyuasin dan Musi Banyuasin yang berdekatan dengan Provinsi Jambi.<\/p>\n<p>Kemudian, Fatoni bersama Sigit juga membahas mengenai kebutuhan-kebutuhan untuk penanganan karhutla. &#8220;Baik itu sumber daya manusianya kemudian peralatan, termasuk juga pendanaan, kita juga sudah mapping,&#8221; ujar Fatoni.<\/p>\n<p>Menurut Fatoni, karena penanganan ini menjadi tanggungjawab bersama, maka baik Pemprov, Kabupaten\/Kota, Kementerian juga TNI-Polri dan swasta akan terus berkoordinasi.<\/p>\n<p>Fatoni dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengimbau warga agar tidak melakukan pembakaran hutan dan lahan sekecil apapun. Hal ini dilakukan guna meminimalisir dampak asap kabut imbas kebakaran hutan dan lahan (karhutla).<\/p>\n<p>\u201cKami mohon untuk menahan diri untuk tidak melakukan pembakaran sekecil apapun,\u201d ucap Fatoni di Hotel Arista Palembang, Sumatera Selatan, Rabu (4\/10).<\/p>\n<p>Sementara itu, terkait kebutuhan peralatan pemadaman Karhutla menurut Fatoni, hingga saat ini diakuinya masih sangat banyak dan akan bertambah. Oleh karena itu, dia menilai perlu dilakukan pembagian tugas dan peralatan yang dibutuhkan sehingga penggunaannya akan lebih maksimal.<\/p>\n<p>&#8220;Perlu dicatat hari ini sudah mulai relatif membaik ya. Tapi walauoun kondisi sudah membaik tetap kita ingatkan untuk menjaganya bersama-sama,&#8221; ujar Fatoni.<\/p>\n<p>Dalam kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) RI Sigit Reliantoro mengatakan bahwa sebagian besar wilayah Sumatera Selatan sudah berkabut dampak dari bahan bakar yang mudah terbakar.<\/p>\n<p>Kondisi itu menurutnya menyebabkan di beberapa titik kebakaran kemudian karena gambutnya sudah kering sehingga menyebabkan susah untuk dipadamkan secara konvensional. Dibutuhkan cara-cara tertentu dan juga aksesnya menuju ke titik api cenderung agak susah.<\/p>\n<p>&#8220;Karena itu yang perlu jadi hitungan water boombing untuk menyirami. Kita harus paham sekarang adalah musim kemarau yang agak panjang sehingga sedikit api saja itu sudah bisa memicu kebakaran yang dampaknya tidak hanya disini tapi juga di tetangga dan bahkan tetangga di luar negeri,&#8221; jelas Sigit.<\/p>\n<p>Atas dasar itulah dia menghimbau masyarakat Sumsel secara luas untuk untuk puasa membakar dulu selama 3 bulan paling tidak setelah hujan. &#8220;Jadi memang kami ditugaskan karena sejak hari Jumat pada saat status kabutnya hitam dan itu artinya udaranya berbahaya,&#8221; jelasnya.<\/p>\n<p>Mereka pun langsung berkoordinasi dengan para Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD)\u00a0sehingga kini kondisi relatif membaik. &#8220;Di Palembang ini\u00a0sudah mulai merah tidak ada hitam lagi meskipun begitu tapi kita masih juga perlu\u00a0waspadai untuk hati-hati masih tetap pakai masker di Kota Palembang,&#8221; jelasnya.<\/p>\n<p>Fatoni bergerak cepat untuk mengatasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Oleh karena itu, besok Fatoni akan melakukan pertemuan bersama TNI-Polri dan stakeholder terkait. &#8220;Kami akan berkumpul besok agar lebih lengkap. Kami juga akan bertemu dengan TNI-Polri dan dengan Kodam dan Korem kemudian dengan Polda karena masing-masing kita ini kan sudah ada Satgasnya&#8221; ucap Fatoni.<\/p>\n<p>Nantinya Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) akan membimbing langsung terkait penanganan karhutla.<\/p>\n<p>Sementara itu, terkait kebutuhan peralatan pemadaman karhutla menurut Fatoni, hingga saat ini diakuinya masih sangat banyak dan akan bertambah. Oleh karena itu, dia menilai perlu dilakukan pembagian tugas siapa saja dan apa saja peralatan yang dibutuhkan sehingga penggunaannya akan lebih maksimal.<\/p>\n<p>Fatoni mengungkapkan kondisi di Sumsel saat ini kian membaik. Meski begitu, dia mengingatkan untuk menjaga lingkungan bersama-sama. &#8220;Perlu dicatat hari ini sudah mulai relatif membaik ya. Tapi walaupun kondisi sudah membaik tetap kita ingatkan untuk menjaganya bersama-sama,&#8221; ujar Fatoni.<\/p>\n<p>Dijelaskan Fatoni bahwa jika disimpulkan penyebab kebakaran ini ada tiga, yakni faktor cuaca karena El Nino sehinggacuaca panas menyebabkan rawan kebakaran.<br \/>\nKedua yakni kondisi alam Sumsel yang terdiri dari gambut dimana saat cuaca panas menjadi mudah terbakar. Kemudian yang ketiga adalah perilaku<\/p>\n<p>&#8220;Nah ini perilaku yang ketiga ini yang kita harus edukasi ke masyarakat jangan membakar karena dampaknya sangat luas,&#8221; kata Fatoni.<\/p>\n<p>Fatoni mengajak seluruh stakeholder terkait mulai dari Pemerintah Provinsi\/Kabupaten\/Kota, Forkopimda dan sektor swasta untuk menangani secara bersama-sama. &#8220;Apalagi ini cuacanya sedang seperti ini, el nino. Dan ini (penanggulangan) bisa kita lakukan kalau kita bersama-sama. Kalau kita kompak baik dari pemprov\/kabupaten\/kota, forkopimda dan kemudian swasta dan masyarakat kita. Karena ini tanggungjawab kita bersama,&#8221; ucap Fatoni.(kbs\/red)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>PALEMBANG, SIMBUR &#8211; Penjabat (Pj) Gubernur Sumatera Selatan Agus Fatoni langsung mengerjakan pekerjaan rumah (PR) yang tidak diselesaikan eks Gubernur- Wakil Gubernur Herman Deru-Mawardi Yahya saat habis masa jabatannya. Pj Gubernur langsung membahas penanganan kebakaran hutan dan lahan (kahutla) bersama dengan Forum Koordinasi Pimpinan Kepala Daerah (Forkopimda). Diskusi bertempat di ruang Ruang Transit VVIP Room Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang, Selasa (3\/10). Fatoni bersama jajaran Forkopimda lainnya mengadakan pertemuan. Hal yang menjadi pembahasan&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":37297,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[45],"tags":[],"class_list":["post-37296","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pemprov-sumsel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/37296","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=37296"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/37296\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":37298,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/37296\/revisions\/37298"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/37297"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=37296"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=37296"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=37296"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}