{"id":37250,"date":"2023-09-29T13:51:54","date_gmt":"2023-09-29T06:51:54","guid":{"rendered":"https:\/\/simbursumatera.com\/?p=37250"},"modified":"2024-11-11T16:41:46","modified_gmt":"2024-11-11T09:41:46","slug":"jelajah-jalur-pansela-menatap-mata-pencaharian-rakyat-untuk-bertahan-hidup-puluhan-tahun","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/simbursumatera.com\/?p=37250","title":{"rendered":"Jelajah Jalur Pansela, Menatap Mata Pencaharian Rakyat untuk Bertahan Hidup Puluhan Tahun"},"content":{"rendered":"<p><em><strong># Catatan Reportase Khusus Simbur ke Pulau Jawa (2)<\/strong><\/em><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><em>Simbur kembali melakukan ekspedisi jurnalistik ke Pulau Jawa untuk kedua kalinya selama bulan September 2023. Setelah merekam potret kehidupan masyarakat serta fenomena sosial di Jalur Pantai Utara (Pantura) awal bulan lalu, reportase khusus Simbur kali ini bermaksud menyajikan berita sepanjang Jalur Pantai Selatan (Pansela) Pulau Jawa. Berikut laporan rangkaian perjalanan selengkapnya.<\/em><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>MENJELAJAHI<\/strong> sejumlah kota\/kabupaten di Jalur Pantai Selatan (Pansela) di Provinsi Banten dan Jawa Barat dengan melintasi Serang, Cilegon, Pandeglang, Bandung, Purwakarta, Karawang, Bekasi dan lainnya. Tidak mudah dan tidak murah proses kegiatan jurnalistik dilakukan Simbur meski hanya untuk menggali berita dari kehidupan masyarakat bawah.<\/p>\n<p>Selama penjelajahan, suhu udara di atas 30 derajat Celcius pun tidak menghentikan langkah Simbur dalam menyajikan berita yang mendalam dan teduh kepada publik. Dari awal hingga akhir perjalanan diselimuti kabut asap yang mengepung Sumatera dan Jawa. Baik yang berasal dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) maupun tempat pembuangan akhir (TPA) yang dilalap si jago merah.<\/p>\n<p>Media ini berusaha menyajikan berita khas. Terutama mengenai sistem mata pencaharian rakyat yang tersebar di Jalur Pantai Selatan (Pansela) Pulau Jawa. Karena itu, observasi, reportase, dan wawancara tetap dilakukan sebagai indikator dasar dalam pembuatan karya jurnalistik.<\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Kejar Setoran, Kondektur Bus Tidak Sempat Tidur<\/strong><\/p>\n<p><strong><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-37251\" src=\"https:\/\/simbursumatera.com\/wp-content\/uploads\/2023\/09\/PhotoCollage_16959681615972-300x181.jpg\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"181\" srcset=\"https:\/\/simbursumatera.com\/wp-content\/uploads\/2023\/09\/PhotoCollage_16959681615972-300x181.jpg 300w, https:\/\/simbursumatera.com\/wp-content\/uploads\/2023\/09\/PhotoCollage_16959681615972.jpg 465w\" sizes=\"auto, (max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/strong><\/p>\n<p>Bermula kisah kondektur bus yang ditumpangi awak media ini dalam melaksanakan ekspedisi Mitra Pasamayan Batch 2 pada 25-26 September 2023 di Kota Bandung, Jawa Barat. Idin, mengaku belum tidur selama dua hari karena menempuh rute perjalanan bus khusus Palembang-Bandung selama empat kali.<\/p>\n<p>Dirinya mengatakan, baru-baru ini menjadi kondektur bus AKAP (antar kota antar provinsi). Sebelumnya dia bekerja di bus pariwisata. Masih satu grup dengan perusahaan bus tersebut. &#8220;Dua hari saya belum sempat tidur dan menginap karena harus bolak-balik Palembang-Bandung,&#8221; ungkap Idin,\u00a0 Minggu (24\/9).<\/p>\n<p>Idin menjelaskan, sementara hanya dua bus milik perusahaan tempatnya bekerja yang beroperasi berapa minggu ini. &#8220;Ada enam bus. Dua bus masuk karoseri. Ada juga yang dipakai rombongan dari Jambi. Saat ini ada dua bus yang beroperasi,&#8221; ungkapnya.<\/p>\n<p>Ditambahkan, Idin bekerja sudah sepuluh tahun. Terhitung sejak 2013 hingga 2023. &#8220;Sudah kerja di sini hampir sepuluh tahun,&#8221; ungkapnya.<\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<p><strong>Jerit Pedagang Pasar Andir di Titik Nadir<\/strong><\/p>\n<p><strong><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-37252\" src=\"https:\/\/simbursumatera.com\/wp-content\/uploads\/2023\/09\/PhotoCollage_16959681219202-300x195.jpg\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"195\" srcset=\"https:\/\/simbursumatera.com\/wp-content\/uploads\/2023\/09\/PhotoCollage_16959681219202-300x195.jpg 300w, https:\/\/simbursumatera.com\/wp-content\/uploads\/2023\/09\/PhotoCollage_16959681219202-95x62.jpg 95w, https:\/\/simbursumatera.com\/wp-content\/uploads\/2023\/09\/PhotoCollage_16959681219202.jpg 391w\" sizes=\"auto, (max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/strong><\/p>\n<p>Arus perkembangan teknologi dan informasi melalui media sosial seperti TikTok semakin marak diwarnai akun jual beli online. Akibatnya, pelaku ekonomi konvensional, khususnya pedagang baju gulung tikar. Media ini mencoba menelusuri kondisi Pasar Andir di kawasan Cimahi, Senin (25\/9) pagi. Dari Caringin menumpang angkot jurusan Dago Panjang. Berhenti di pasar Andir sebelum lanjut naik angkot Cileunyi menuju ke Jl Braga.<\/p>\n<p>&#8220;Hampir 70 persen kios baju di Pasar Andir sepi pembeli. Saya dulu sama almarhum suami pernah jualan grosiran (baju). Sekarang kalah sama online,&#8221; ujar Karyati, Senin (25\/9).<\/p>\n<p>Diketahui, Keluhan pedagang pasar konvensional, direspons Menteri Perdagangan, Zulkifli Hasan. Hal itu terkait penandatangan Revisi Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) No 50\/2020 tentang Ketentuan Perizinan Usaha, Periklanan, Pembinaan, dan Pengawasan Pelaku Usaha dalam Perdagangan Melalui Sistem Elektronik. Pada Permendag yang baru, masyarakat dilarang berjualan media sosial.<\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Hampir Setengah Abad Mengatur Parkir Jalan Braga<\/strong><\/p>\n<p><strong><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-37253\" src=\"https:\/\/simbursumatera.com\/wp-content\/uploads\/2023\/09\/PhotoCollage_16959649336393.jpg\" alt=\"\" width=\"278\" height=\"174\" \/><\/strong><\/p>\n<p>Menjadi juru parkir di Jalan Braga Kota Bandung telah dilakoni Saptriadi (73) selama 48 tahun. Meski demikian, pria asli Bandung kelahiran 1950 itu menikmati pekerjannya selama hampir setengah abad. &#8220;Saya paling lama bekerja sebagai tukang parkir di Jalan Braga ini,&#8221; ungkapnya, Senin (25\/9).<\/p>\n<p>Dia menjelaskan, banyak kenangan yang dilewati. Mulai dari pola manual dengan menarik retribusi langsung hingga menggunakan mesin digital. &#8220;Sudah ada perkembangan yang bagus. Kalau dulu belum pakai mesin, sekarang sudah,&#8221; ujar bapak empat anak dan sembilan cucu ini.<\/p>\n<p>Ditambahkanya, setoran per hari sekitar Rp160 ribu. Tarif parkir per jam, kata dia, mobil Rp5 ribu dan\u00a0 motor Rp3 ribu. Selain menjadi sentra seni lukisan, dirinya juga berharap Jalan Braga menjadi destinasi wisata. &#8220;Di sini banyak juga yang jalan-jalan, mengambil foto prawedding dan atraksi budaya lainnya,&#8221; tutupnya.<\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<p><strong>Ayam Kejaksaan Plus Sambal Jontor Goda Pelancong Goyang Lidah<\/strong><\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-37281\" src=\"https:\/\/simbursumatera.com\/wp-content\/uploads\/2023\/09\/IMG-20230930-WA0001-300x204.jpg\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"204\" srcset=\"https:\/\/simbursumatera.com\/wp-content\/uploads\/2023\/09\/IMG-20230930-WA0001-300x204.jpg 300w, https:\/\/simbursumatera.com\/wp-content\/uploads\/2023\/09\/IMG-20230930-WA0001-768x522.jpg 768w, https:\/\/simbursumatera.com\/wp-content\/uploads\/2023\/09\/IMG-20230930-WA0001.jpg 1000w\" sizes=\"auto, (max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/p>\n<p>Masakan Ayam Kejaksaan Sambal Jontor menjadi menu alternatif bagi wisatawan yang melintas di Jl Kejaksaan Kota Bandung. Warung makan tersebut dikelola sendiri pemilik usahanya, Rini (49) biasa dipanggil Teh Rini.<\/p>\n<p>Rini mengatakan, menu kulinernya dinamakan demikian karena berada di Jl Kejaksaan. &#8220;Asalnya mah Warung Ayam Goreng Teh Rini, nama saya. Sambal jontor itu pedas. Biar terkenal karena di Jl Kejaksaan, makanya diberi nama Ayam Kejaksaan,&#8221; ujar Rini, Senin (25\/9).<\/p>\n<p>Menurut dia, menu yang dijual bukan ayam goreng tapi sambalnya yang khas. &#8220;Kalau ayam goreng di mana-mana ada yang jual tapi sambalnya yang khas, jontor,&#8221; ungkapnya.<\/p>\n<p>Selain\u00a0 ayam goreng, Teh Rini dulu juga menyediakan pepes ikan, sate usus, fresto bandeng dan lainnya. &#8220;Karena tidak bisa mengandalkan karyawan bank yang beli tapi orang-orang yang lewat,&#8221; kata dia.<\/p>\n<p>Lanjut dia, saat ini hanya mempekerjakan karyawan perempuan. &#8220;Bisa menggantikan jika saya tidak ada dapat membantu menutup warung,&#8221; katanya.<\/p>\n<p>Rini mengaku berjualan di sana sudah empat bulan. Dia pernah berjualan di tempat lain sebelum pindah ke kawasan tersebut dan menjadi mitra binaan bank daerah setempat. &#8220;Karena sewanya mahal, makanya pindah ke sini.<\/p>\n<p>Menurut Rini, usaha kuliner konvensional mulai tergerus pasar digital. &#8220;Repotnya lagi usaha kuliner kayak restoran sekarang kalah sama online. Kalau diipromosikan di tiktok misalnya biasa banyak yang beli. Kalau tidak ya senyantol-nyantolnya saja,&#8221; tutupnya.<\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<p><strong>Dulu Punya Puluhan Becak, Kini Tinggal Satu yang Mangkal<\/strong><\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-37255\" src=\"https:\/\/simbursumatera.com\/wp-content\/uploads\/2023\/09\/PhotoCollage_16959649336394-300x187.jpg\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"187\" srcset=\"https:\/\/simbursumatera.com\/wp-content\/uploads\/2023\/09\/PhotoCollage_16959649336394-300x187.jpg 300w, https:\/\/simbursumatera.com\/wp-content\/uploads\/2023\/09\/PhotoCollage_16959649336394-487x304.jpg 487w, https:\/\/simbursumatera.com\/wp-content\/uploads\/2023\/09\/PhotoCollage_16959649336394.jpg 523w\" sizes=\"auto, (max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/p>\n<p>Ngalor-ngidul dilakoni awak media ini selama berapa hari di Kota Bandung. Terlebih jarak antara penginapan dan lokasi Kongres Wartawan tidak jauh dan dapat ditempuh dengan berjalan kaki.<\/p>\n<p>Siang itu suhu di Kota Kembang cukup terik dan menyengat. Hampir mencapai 32 derajat Celcius. Awak media ini mencoba order taksi online melalui aplikasi di smartphone. Tiba-tiba terlihat satu becak di perempatan Jl Lembong. Tampak seorang pengemudinya duduk di dalam becak. Media ini pun mengurungkan niat order taksi online lalu memilih untuk naik becak.<\/p>\n<p>Pria paruh baya itu bernama Diman (59). Dia mengaku menarik becak hanya untuk bertahan hidup dan menafkahi keluarganya. &#8220;Sudah 30 tahun saya narik becak. Dulu becak saya puluhan. Sekarang tinggal satu ini buat cari makan,&#8221; ungkapnya.<\/p>\n<p>Ditanya soal becak yang beroperasi di Bandung, kata dia, masih ada tapi tidak banyak. &#8220;Saya sendiri yang mangkal di sini,&#8221; katanya.<\/p>\n<p>Berbekal badan gempal, Diman kerap dipanggil orang untuk menggunakan jasa pijat dan urut. &#8220;Banyak orang yang menghubungi minta diurut oleh saya. Hanya sampingan. Menarik becak tetap jadi pekerjaan utama saya,&#8221; pungkasnya.<\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Pelukis Bersaing Sehat di Pasar Seni, Tidak Ada Hal Spesifik Menghalau Kecanggihan Teknologi dan Modernisasi<\/strong><\/p>\n<p><strong><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-37256\" src=\"https:\/\/simbursumatera.com\/wp-content\/uploads\/2023\/09\/PhotoCollage_16959649336392-300x182.jpg\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"182\" srcset=\"https:\/\/simbursumatera.com\/wp-content\/uploads\/2023\/09\/PhotoCollage_16959649336392-300x182.jpg 300w, https:\/\/simbursumatera.com\/wp-content\/uploads\/2023\/09\/PhotoCollage_16959649336392.jpg 532w\" sizes=\"auto, (max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/strong><\/p>\n<p>Bandung menjadi salah satu kota yang masih menyimpan dan melestarikan karya seni dan budaya. Hal itu dilihat dari aktivitas warga Paris Van Java yang berkreasi di Jl Braga.<\/p>\n<p>Media ini coba menelusuri aktivitas masyarakat, khususnya di Jl Braga Kota Bandung. Salah satu yang menonjol adalah pasar seninya. Terutama lukisan yang dijual di kaki lima hingga toko.<\/p>\n<p>Iin Solihin (53) misalnya. Dia mengaku sudah puluhan tahun menjadi pelukis dan menjual karya lukisannya. &#8220;Cukup lama. Kurang lebih 30 tahun terjun ke lukisan,&#8221; ungkapnya kepada Simbur, Rabu (27\/9).<\/p>\n<p>Dikatakannya, para pelukis berasal dari berbagai daerah di Jawa Barat. Akan tetapi, seniman Bandung masih mendominasi. &#8220;Ratusan pelukis didominasi orang Bandung tapi ada juga yang dari Jawa Barat. Banyak dari pelosok punya potensi melukis,&#8221; ungkapnya.<\/p>\n<p>Harapannya, kata Iin, dirinya beserta para pelukis lainnya selalu bersyukur. Meski demikian, kualitas karya lukisan dan pelayanan terhadap konsumen harus maksimal. &#8220;Kami syukuri selama ini tidak ada kendala. Berusaha bgaimana memberikan yang terbaik kepada konsumen, baik kualitas maupun pelayanan, imbuhnya.<\/p>\n<p>Mengenali harga lukisan dan siapa pelukisnya, Iin menambahkan, harga lukisan bervariasi. &#8220;Harga relatif dari ratusan ribu hingga puluhan juta ada,&#8221; ujarnya.<\/p>\n<p>Intinya, lanjut Iin, kami merangkul orang sudah punya nama besar. Kami kontak orangnya. &#8220;Ada juga yang sudah ready. Ada yang sudah ikut lelang atau pameran dan punya jam terbang lebih banyak,&#8221; terangnya.<\/p>\n<p>Terkait bahan lukisan yang digunakan, Iin menjawa pakai Aklirik dan cat minyak. Sekarang, kata dia, lebih banyak aklirik karena mengejar waktu. &#8220;Kalau lokasi toko sempit kami pakai aklirik agar suasana tidak pengap. Jika menunggu keringnya lama kalau pakai cat minya,&#8221; ujarnya.<\/p>\n<p>Ditanya ancaman yang dihadapi, Iin bersama pelukis lainnya menanggapi dengan dingin. Memang, lanjut dia, apapun usaha selalu terancam. &#8220;Termasuk lukisan di sini. Sekarang sejak dibebaskan masuk Chinese painting. Kalau menyerbu Bandung bahaya juga. Orang tidak tahu kualitas seni aslinya. Padahal itu bukan lukisan tapi printing,&#8221; imbuhnya.<\/p>\n<p>Meski demikian, Iin tidak melihat siapa saja para kompetitor. Dia dan komunitas pelukis tetap beraktivitas seperti biasa. &#8220;Silakan saja. Semua berjalan dan bersaing secara sehat. Kami harus sadar dengan kecanggihan alat dan modernisasi. Tidak ada hal spesifik untuk menghalaunya,&#8221; paparnya.<\/p>\n<p>Selama ini, kata Iin, belum ada pedagang lukisan di sini yang mendapat dukungan pemerintah. &#8220;Kami memohon keberadaan pelukis dan pasar seni di Bandung dapat diperhatikan pemerintah,&#8221; harapnya.<\/p>\n<p>Selain menghilangkan kesan kumuh, tambah dia, bisa menampilkan ikon kota Bandung. &#8220;Kami mohon pemerintah untuk memberi dukungan, bagaimana bisa memberikan dana segar dalam bentuk pemodalan,&#8221; harapnya.<\/p>\n<p>Mengenai jumlah kunjung, lanjut Iin, pengunjung yang datang ke Bandung sangat banyak. &#8220;Jangan bicara weekend. Trotoar macet. Lalu lalang pengunjung luar biasa. Orang Jabodetabek kayaknya tumpah ke Bandung. Kulinernya banyak belum lagi fashionnya. Termasuk seninya. Bandung punya banyak bahan baku sampai barang jadi,&#8221; terangnya.<\/p>\n<p>Menurut Iin, tingkat kreatif orang Bandung lebih tinggi dari kota lain. Seniman Bandung juga lebih banyak daripada pedagang. &#8220;Dukungan dari pemerintah sangat diharapkan untuk bersinergi,&#8221; pintanya.<\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<p><strong>Sampah Menggunung, Asap Membubung<\/strong><\/p>\n<p><strong><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-37257\" src=\"https:\/\/simbursumatera.com\/wp-content\/uploads\/2023\/09\/PhotoCollage_16959649336395-300x172.jpg\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"172\" srcset=\"https:\/\/simbursumatera.com\/wp-content\/uploads\/2023\/09\/PhotoCollage_16959649336395-300x172.jpg 300w, https:\/\/simbursumatera.com\/wp-content\/uploads\/2023\/09\/PhotoCollage_16959649336395-265x153.jpg 265w, https:\/\/simbursumatera.com\/wp-content\/uploads\/2023\/09\/PhotoCollage_16959649336395-148x85.jpg 148w, https:\/\/simbursumatera.com\/wp-content\/uploads\/2023\/09\/PhotoCollage_16959649336395-193x112.jpg 193w, https:\/\/simbursumatera.com\/wp-content\/uploads\/2023\/09\/PhotoCollage_16959649336395-71x40.jpg 71w, https:\/\/simbursumatera.com\/wp-content\/uploads\/2023\/09\/PhotoCollage_16959649336395.jpg 369w\" sizes=\"auto, (max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/strong><\/p>\n<p>Ada yang sedikit berubah di Kota Kembang. Produksi sampah di sejumlah ruas jalan dapat dilihat saat fajar menjelang pagi. Seperti di Jl Braga dan Pasar Cikapundung. Tumpukan sampah itu sumbangan dari kehidupan malam yang semakin marak di kota Bandung.<\/p>\n<p>Meski demikian, kesadaran warga cukup tinggi untuk memungut sampah sebelum dihimpun dan dibawa ke sejumlah tempat pembuangan akhir (TPA).<\/p>\n<p>&#8220;Kami warga sini juga sudah sadar. Ketika melihat sampah langsung kami buang pada tempatnya agar bisa dibawa petugas kebersihan,&#8221; ungkap Solihin kepada Simbur.<\/p>\n<p>Akibat tumpukan sampah di sejumlah TPA yang ada di Kota\u00a0 Bandung, kerap terjadi kabut asap. Kabut tersebut bahkan menyelimuti jalan tol Bitung-Cilincing. Karena itu, pemerintah kota setempat dikabarkan telah memperpanjang status Bandung Darurat Asap hingga medio Oktober mendatang. Hingga berita ini diturunkan, pejabat dinas terkait belum terkonfirmasi.<\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<p><strong>Pengamen Karawang-Bekasi Tebar Amplop Kecil<\/strong><\/p>\n<p><strong><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-37258\" src=\"https:\/\/simbursumatera.com\/wp-content\/uploads\/2023\/09\/PhotoCollage_16959689989645-300x182.jpg\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"182\" srcset=\"https:\/\/simbursumatera.com\/wp-content\/uploads\/2023\/09\/PhotoCollage_16959689989645-300x182.jpg 300w, https:\/\/simbursumatera.com\/wp-content\/uploads\/2023\/09\/PhotoCollage_16959689989645.jpg 529w\" sizes=\"auto, (max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/strong><\/p>\n<p>Pengamen di bus lintas Jawa punya ide kreatif saat melakukan aksinya. Menjual suara kepada penumpang bus kadang menjadi ajang uji mental bagi anak-anak jalanan dan sekelompok anak muda pengangguran.<\/p>\n<p>Pengamen yang beroperasi di sepanjang jalan Karawang-Bekasi punya cara baru untuk mendulang rezeki. Mereka tidak lagi membawa plastik bungkus permen atau sejenisnya. Berbekal gitar kecil, pengamen itu menyebar amplop kecil di setiap bangku para penumpang.<\/p>\n<p>&#8220;Biar tidak dikasih uang receh. Selain itu, kami coba menghargai penumpang yang mengapresiasi usaha kami pengamen jalanan,&#8221; ungkap remaja tanggung yang langsung bergegas turun dari bus saat ditanya nama dan akan diambil fotonya.<\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<p><strong>Restoran di Cilegon Pasang Portal, Hak Penumpang Bus sebagai Konsumen Dijegal<\/strong><\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-37279\" src=\"https:\/\/simbursumatera.com\/wp-content\/uploads\/2023\/09\/IMG-20230930-WA0003-300x176.jpg\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"176\" srcset=\"https:\/\/simbursumatera.com\/wp-content\/uploads\/2023\/09\/IMG-20230930-WA0003-300x176.jpg 300w, https:\/\/simbursumatera.com\/wp-content\/uploads\/2023\/09\/IMG-20230930-WA0003-768x451.jpg 768w, https:\/\/simbursumatera.com\/wp-content\/uploads\/2023\/09\/IMG-20230930-WA0003-193x112.jpg 193w, https:\/\/simbursumatera.com\/wp-content\/uploads\/2023\/09\/IMG-20230930-WA0003.jpg 1000w\" sizes=\"auto, (max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/p>\n<p>Dari ratusan restoran yang pernah dikunjungi, rumah makan Darma Jaya yang terletak di Jl Raya Merak, Merak, Mekarsari, Kecamatan Pulomerak, Kota Cilegon, Banten perlu ditindaklanjuti. Pasalnya, lokasi rumah makan di kawasan Pelabuhan Merak itu terselubung di balik gedung lain dengan area tertutup nekat memasang portal di rumah makan yang idealnya menjadi ruang publik.<\/p>\n<p>Parahnya lagi, sekuriti di rumah makan itu telah melarang penumpang bus yang transit makan di sana keluar dari pekarangannya tanpa izin sopir bus masing-masing. Meski demikian, penumpang tersebut tetap menerobos keluar untuk mengambil uang di gerai ATM terdekat.<\/p>\n<p>&#8220;Izin sopir dulu kalau mau keluar (area rumah makan). Kalau tidak ada penumpang yang makan (di restoran tersebut) biasa langsung jalan. Penumpang bisa ditinggal bus,&#8221; kelit sekuriti yang tidak mau menyebut namanya.<\/p>\n<p>Diketahui, rumah makan tersebut dikelola istri sekuriti. Anaknya yang menjadi kasir. Media ini lalu mengonfirmasi sopir bus, Pantis terkait sekuriti yang melarang penumpang bus keluar area rumah mereka. &#8220;Benar (sopir yang bilang), agar tidak ada penumpang yang tertinggal,&#8221; kelit sopir tersebut.<\/p>\n<p>Dari kejadian itu, sekuriti dan pengelola rumah makan, termasuk sopir yang diduga kongkalikong tidak menyadari bahwa tindakan tersebut telah menjegal hak penumpang bus sebagai konsumen rumah makan. &#8220;Ada undang-undang yang melindungi konsumen. Masa tidak boleh penumpang bus cari rumah makan lain karena harga di restoran itu mahal. Saya makan nasi ikan sarden di situ harganya Rp30 ribu. Biasanya cuma Rp10 ribu di tempat lain,&#8221; ujar Ibnu, warga Lampung yang bekerja di Jakarta, salah satu penumpang bus tersebut.(red)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p># Catatan Reportase Khusus Simbur ke Pulau Jawa (2) &nbsp; Simbur kembali melakukan ekspedisi jurnalistik ke Pulau Jawa untuk kedua kalinya selama bulan September 2023. Setelah merekam potret kehidupan masyarakat serta fenomena sosial di Jalur Pantai Utara (Pantura) awal bulan lalu, reportase khusus Simbur kali ini bermaksud menyajikan berita sepanjang Jalur Pantai Selatan (Pansela) Pulau Jawa. Berikut laporan rangkaian perjalanan selengkapnya. &nbsp; MENJELAJAHI sejumlah kota\/kabupaten di Jalur Pantai Selatan (Pansela) di Provinsi Banten dan Jawa&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":37260,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[103,78],"tags":[],"class_list":["post-37250","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-ekspedisi-mitra-pasamayan","category-features"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/37250","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=37250"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/37250\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":37282,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/37250\/revisions\/37282"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/37260"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=37250"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=37250"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=37250"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}