{"id":33079,"date":"2022-06-06T23:51:42","date_gmt":"2022-06-06T16:51:42","guid":{"rendered":"https:\/\/simbursumatera.com\/?p=33079"},"modified":"2022-06-06T23:51:42","modified_gmt":"2022-06-06T16:51:42","slug":"nama-dan-tanda-tangan-pihak-puskesmas-dicatut-hakim-minta-bendahara-diperiksa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/simbursumatera.com\/?p=33079","title":{"rendered":"Nama dan Tanda Tangan Pihak Puskesmas Dicatut, Hakim Minta Bendahara Diperiksa"},"content":{"rendered":"<p># Sidang Perkara Dugaan Korupsi <em>Home Visit<\/em> di Dinkes Prabumulih<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>PALEMBANG, SIMBUR<\/strong> \u2013 Sebanyak 16 orang saksi dihadirkan langsung di persidangan perkara dugaan tipikor kegiatan fiktif <em>home visit<\/em> di Dinkes Kota Prabumulih tahun anggaran 2017. Hal itu berdasarkan hasil audit Inspektorat Prabumulih, menyebabkan kerugian negara Rp 128,8 juta lebih.<\/p>\n<p>Persidangan diketuai majelis hakim Efrata Happy Tarigan SH MH didampingi Mangapul Manulu SH MH dan Ardian Angga SH MH, di Pengadilan Negeri Tipikor Palembang, kelas IA khusus, Kamis (2\/6) lalu. Terdakwa HTT Kadinkes Kota Prabumulih sendiri mengikuti persidangan secara virtual dari Lapas Prabumulih.<\/p>\n<p>Saksi-saksi yang hadir sekaligus diperiksa terkait tanda tangan (paraf) dalam kegiatan fiktif <em>home visit<\/em> di Dinkes Kota Prabumulih ini diantaranya, saksi Dr Santi, saksi Riyadi, saksi Nia Puspa, saksi Dr Indah Susilawati.<\/p>\n<p>Saksi Dr Indah membantah itu tanda tagannya di kegiatan fiktif <em>home visit<\/em>, dan membantah soal menerima uang transpor Rp1 juta dalam kegiatan <em>home visit<\/em>.\u00a0 Saksi Andes, juga mengelak ada merima uang transpor Rp1 juta, dalam kegiatan <em>home visit<\/em>. Kemudian Dr Bambang, senada juga tidak ada menerima uang transpor Rp 250 ribu.<\/p>\n<p>Berikutnya kuasa hukum terdakwa, advokat Mujiono SH dkk memeriksa saksi, bahwa ada manipulasi dalam penerimaan uang, nama saksi juga dicatut dipakai dalam kegiatan <em>home visit<\/em>.\u00a0 Saksi mengetahui nama yang dipalsukan, hingga ada pemeriksaan dari kejaksaan, saksi hanya melihat tanda tangan sebagai staff pelaksana <em>home visit<\/em>.\u00a0 Lalu saksi Tantowi, sebagai kepala Puskesmas Cambai, mengatakan memang ada kegiatan kunjungan rumah, ia mengatakan tidak tahu beda antara kegiatan <em>home visit<\/em> dengan kunjungan rumah.\u00a0 Kemudian jaksa penuntut umum (JPU) M Arsyad SH dari Kejari Prabumulih memeriksa saksi dan terpidana Nurmala Kari sebagai Kasi Pelayanan Kesehatan di Dinkes Prabumulih.<\/p>\n<p>Nurmalakari mengatakan, terkait anggaran Rp 141,7 juta di tahun 2017 kegiatan pelayanan kesehatan. Sebelum kegiatan ia dipanggil Dr Happy Tedjo. Ia diperintahkan mendata apabila ada orang sakit jiwa, kemudian turun tetapi tidak melibatkan panitia <em>home visit<\/em>.\u00a0 &#8220;Jadi nama 9 orang puskesmas dimasukan, tapi kenyataannya tidak ada laporan dari puskesmas, tidak ada data dari warga mendapat pelayanan kesehatan. Uang pencairan tidak ada digunakan untuk kegiatan <em>home visit<\/em>. Kata Chaterina Kasubag Keuangan, buatke bae namo-namo wong puskesmas, aman ini cuma sampai tahap jaksa dan inspektorat bae. Nama-nama ini dimasukan, supaya anggaran tahun depan lebih besar. Agar terkesan kegiatan <em>home visit<\/em> sukses,&#8221; beber Nurmalakari.<\/p>\n<p>Dari pencairan kegiatan fiktif <em>home visit<\/em>, Nurmalakari membeberkan kepada majelis hakim. Tahap 1, uang Rp 28 juta dan uang Rp 16 juta. Tahap 2, uang Rp 30 juta diterima terdakwa dr Happy Tedjo.\u00a0 &#8220;Saya sendiri terima uang tahap 1, uang Rp 9 juta dan Rp 2 juta. Tahap 2 terima lagi Rp 10,5 juta dengan Rp 1,5 juta, jado total Rp 23 juta,&#8221; kata Nurmalakari.<\/p>\n<p>&#8220;Kemudian bendahara, Sunardi tahap 1 menerima uang Rp 11 juta dan Rp 10 juta. Sedangkan Kasubag Keuangan Chaterina menerima uang Rp 16 juta dan 7 juta.\u00a0 Uang transpor yang diambil pak Happy Tedjo bukan untuk peruntukannya, itu Rp 450 ribu x5 jadi Rp 2,250 juta,&#8221; tukas Nurmalakari.<\/p>\n<p>Mendengar keterangan saksi, ketua majelis hakim Efrata memerintahkan jaksa penuntut umum (JPU) Kejari Prabumulih agar wajib memeriksa saksi Sunardi dan Chaterina. &#8220;Sunardi dan Chaterina diproses tidak? Wajib ini diperiksa,&#8221; tegas Efrata.<\/p>\n<p>JPU M Arsyad SH menegaskan, bahwa nama-nama pihak puskesmas yang dimasukan ke dalam kegiatan <em>home visit<\/em> itu dicatut. &#8220;Jadi nama-nama dan tanda tangan pihak puskesmas, setelah tadi ditunjukan ke majelis hakim. Itu fiktif, nama dan tanda tangan mereka dicatut, tidak ada menerima uang transpor itu,&#8221; tegas JPU.<\/p>\n<p>Dari dakwaan bahwa terdakwa HTT Mph sebagai Kadinkes Kota Prabumulih bersama terpidana Nurmalakari pada bulan Mei dan September 2017 di kantor Dinkes Kota Prabumulih, di Jalan Sudirman, KM 12, Kelurahan Sindur, Kecamatan Cambai, kota Prabumulih, diduga melakukan perbuatan tindak pidana korupsi memperkaya diri.\u00a0 Yakni tidak melaksanakan pengujian tagihan dan memerintahkan pembayaran secara 2 tahap, tahap 1 sebesar Rp 82,6 juta dan kedua Rp 59 juta lebih. Dalam kegiatan pelayanan kesehatan masyarakat tahun 2017 sebagai kegiatan fiktif.<\/p>\n<p>Dengan terdakwa dr Happy Tedjo memperkaya diri sebesar Rp81 juta, terpidana Nurmalakari Rp19,5 juta, Chaterina Kasubag Keuangan Rp 13 juta, dan Sunardi Bendahara Rp 21 juta. Perbuatan terdakwa mengakibatkan kerugian keuangan negara Rp128.875.000, hasil audit Inspektorat kota Prabumulih. <strong>(nrd)<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p># Sidang Perkara Dugaan Korupsi Home Visit di Dinkes Prabumulih &nbsp; &nbsp; PALEMBANG, SIMBUR \u2013 Sebanyak 16 orang saksi dihadirkan langsung di persidangan perkara dugaan tipikor kegiatan fiktif home visit di Dinkes Kota Prabumulih tahun anggaran 2017. Hal itu berdasarkan hasil audit Inspektorat Prabumulih, menyebabkan kerugian negara Rp 128,8 juta lebih. Persidangan diketuai majelis hakim Efrata Happy Tarigan SH MH didampingi Mangapul Manulu SH MH dan Ardian Angga SH MH, di Pengadilan Negeri Tipikor Palembang,&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":33080,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-33079","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kasus-hukum"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/33079","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=33079"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/33079\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":33081,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/33079\/revisions\/33081"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/33080"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=33079"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=33079"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=33079"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}