{"id":33063,"date":"2022-06-05T14:06:29","date_gmt":"2022-06-05T07:06:29","guid":{"rendered":"https:\/\/simbursumatera.com\/?p=33063"},"modified":"2022-06-19T14:31:22","modified_gmt":"2022-06-19T07:31:22","slug":"toleransi-penghuni-lokalisasi-saritem-bersemi-pascapandemi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/simbursumatera.com\/?p=33063","title":{"rendered":"Toleransi Penghuni Lokalisasi, Saritem Bersemi Pascapandemi"},"content":{"rendered":"<p># Menyingkap Tabir Bisnis Prostitusi Legendaris di Kota Kembang dari Zaman Kolonial hingga Milenial<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>BANDUNG, SIMBUR<\/strong> &#8211; lokalisasi Saritem (STM) atau biasa disebut &#8220;Blok S&#8221; di sebuah gang Jl Gardujati Kelurahan Kebun Jeruk Kecamatan Andir Kota Bandung sudah ditutup sejak 2007. Ternyata, geliat prostitusi di Kota Kembang itu sampai saat ini masih terus beroperasi.<\/p>\n<p>Hingga berita ini diturunkan, Dinas Sosial Kota Bandung dan pihak terkait belum bisa dikonfirmasi. Meski demikian, Simbur berusaha menelusuri kebenaran informasi tersebut. Sore saat mendung menyelimuti Kota Bandung, bergerak dari Jl Braga dan Jl Dago. Media ini coba melewati gerbang sebuah pondok pesantren yang merupakan salah satu akses pintu masuk menuju lokalisasi. Terdapat gang kecil yang menjadi batas menuju Saritem.<\/p>\n<p>Menelusuri lorong sempit hingga masuk ke sebuah pemukiman padat penduduk. Banyak rumah yang dijadikan &#8220;akuarium&#8221; tempat display para wanita pekerja seks komersial (PSK) yang duduk menanti para tamu dan pelanggan. Sekelompok preman dan muncikari berkeliaran agar usaha sang mami dan wanita penghibur sesuai target dan harapan. Media ini pun dibuntuti oleh orang tak dikenal selama observasi di lokalisasi tersebut.<\/p>\n<p>Bergegas Simbur meminta bantuan salah satu calo untuk menjadi pemandu (<em>guide<\/em>) sekaligus mengawal tim. Menjadi perantara dan pendamping saat wawancara. Berbekal Rp100 ribu sebagai tips calo, media ini mencari narasumber wargi Saritem yang dapat memberikan banyak informasi mengenai kehidupan di lokalisasi itu pascapandemi.<\/p>\n<p>Sebut saja Bunga, wargi Saritem yang dikenalkan calo kepada media ini. Bunga menceritakan kisahnya dari Indramayu hingga bisa bekerja di Saritem. Menurut Bunga, selama bekerja di Saritem, dia mengikuti banyak aturan. Apalagi, lanjutnya, lokalisasi ini berbatasan langsung dengan pondok pesantren. &#8220;Setiap hari besar keagamaan atau pesantren lagi ada kegiatan, kami kerja setengah hari bahkan tidak beroperasi. Kami juga punya toleransi. Saling menghargai dan menghormati,&#8221; jelas Bunga didampingi sang Calo belum lama ini.<\/p>\n<p>Kata dia, terjadi penurunan drastis selama pembatasan diberlakukan saat pandemi. Bunga dengan tarif kencan Rp300 ribu sekali <em>short time<\/em> mengaku banyak kehilangan pelanggan. &#8220;Sebelumnya bisa lebih dari 5 tamu. Sejak pandemi dapat 2-3 tamu saja susah,&#8221; ungkap Bunga.<\/p>\n<p>Bunga menjelaskan, dirinya bekerja <em>shift<\/em> siang dari pukul 11.00 pagi hingga pukul 23.00 malam. &#8220;Itupun yang datang hanya pelanggan. Jarang ada tamu yang berkunjung,&#8221; ujarnya.<\/p>\n<p>Dikatakannya, Bunga berasal dari Indramayu. Dia diajak oleh orang di kampungnya untuk bekerja di Saritem. Wanita berusia 33 tahun itu mengaku punya dua anak. Bunga belum berani menjajakan dirinya keluar Jawa. &#8220;Pengennya sih sebulan sekali bisa pulang. Ketemu anak di Indramayu,&#8221; harapnya.<\/p>\n<p>Tarif <em>booking<\/em> atau menginap di luar Saritem, Bunga menjawab, cukup mahal.\u00a0 &#8220;Di sini ada yang tarifnya Rp300 ribu, Rp500 ribu, dan Rp700 ribu per <em>shortime<\/em>. Kalau di-<em>booking<\/em> keluar (Saritem) tarifnya (<em>longtime<\/em>) bisa lebih dari Rp3 juta,&#8221; paparnya seraya menambahkan, biasanya anak milenial sering memesan online atau BO (<em>booking<\/em> <em>order<\/em>).<\/p>\n<p>Ada sejumlah tempat untuk melakukan eksekusi, kata Bunga, salah satunya Homing yang dianggap paling bersih dengan harga sewa kamar Rp150 ribu per jam. &#8220;Ada juga tempat lain tapi di Homing yang paling bersih. Di tempat lain kotor dan baunya ancing,&#8221; ujarnya.<\/p>\n<p>&#8220;<em>Tidak &#8216;main&#8217;, Aaknya? Palayanan aing mah alus. Jauh pisan ka dieu ngan nanya<\/em> (Tidak indehoi Abang ini? Pelayanan saya bagus. Jauh sekali datang ke sini cuma untuk bertanya saja),&#8221; ungkap Bunga kepada Calo menanyakan media ini.<\/p>\n<p>&#8220;<em>Sanajan kukumaha ge da angger embung. Anjeunna damel pikeun pamirsa<\/em> (Walau bagaimanapun tetap tidak mau. Dia bekerja untuk pemirsa\/pembaca),&#8221; timpal Calo mempertegas Bunga tentang kedatangan Simbur.<\/p>\n<p>Diketahui, Saritem merupakan lokalisasi legendaris yang ada di Kota Bandung. Berdiri sejak 1838 dan masih bertahan hingga sekarang. Nama Saritem diambil dari nama gadis berparas cantik bernama &#8220;Sari <em>iteung<\/em>&#8221; (Sari hitam) alias Saritem yang memikat petinggi pemerintah kolonial Belanda saat itu.<\/p>\n<p>Saritem dijadikan gundik dan menyandang status &#8220;Nyonya Belanda&#8221;. Nyai Saritem diminta untuk membuka rumah bordir yang merekrut wanita muda di daerah Garut, Bogor, Cianjur, Indramayu dan lainnya. Tujuannya untuk menyalurkan dan melayani balatentara nafsu birahi para serdadu Belanda yang masih lajang.<\/p>\n<p>Usaha Nyai Saritem pun berkembang pesat. Bukan hanya serdadu Belanda tapi banyak juga warga pribumi yang mengunjungi lokalisasi tersebut. Para gundik Belanda pengikut Nyai Saritem pun banyak yang tertarik membuka bisnis prostitusi hingga kawasan tersebut berkembang dan berbaur dengan pemukiman penduduk. <strong>(red)<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p># Menyingkap Tabir Bisnis Prostitusi Legendaris di Kota Kembang dari Zaman Kolonial hingga Milenial &nbsp; BANDUNG, SIMBUR &#8211; lokalisasi Saritem (STM) atau biasa disebut &#8220;Blok S&#8221; di sebuah gang Jl Gardujati Kelurahan Kebun Jeruk Kecamatan Andir Kota Bandung sudah ditutup sejak 2007. Ternyata, geliat prostitusi di Kota Kembang itu sampai saat ini masih terus beroperasi. Hingga berita ini diturunkan, Dinas Sosial Kota Bandung dan pihak terkait belum bisa dikonfirmasi. Meski demikian, Simbur berusaha menelusuri kebenaran&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":33212,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[57,62],"tags":[],"class_list":["post-33063","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-sosial","category-wanita"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/33063","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=33063"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/33063\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":33216,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/33063\/revisions\/33216"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/33212"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=33063"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=33063"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=33063"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}