{"id":32806,"date":"2022-05-06T14:32:14","date_gmt":"2022-05-06T07:32:14","guid":{"rendered":"https:\/\/simbursumatera.com\/?p=32806"},"modified":"2024-11-09T03:09:06","modified_gmt":"2024-11-08T20:09:06","slug":"cegah-dan-deteksi-penyakit-misterius-masuk-sumsel-harap-tidak-terburu-buru-tetapkan-pandemi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/simbursumatera.com\/?p=32806","title":{"rendered":"Cegah dan Deteksi &#8220;Penyakit Misterius&#8221; Masuk Sumsel, Harap Tidak Terburu-buru Tetapkan Pandemi"},"content":{"rendered":"<p><strong>PALEMBANG, SIMBUR<\/strong> &#8211; Sejumlah bocah dikabarkan meninggal dunia. Diduga akibat terinfeksi penyakit akut hepatitis misterius. Karena itu, upaya pencegahan dan deteksi dini anak di bawah usia 16 tahun dari &#8220;penyakit misterius&#8221; yang tengah menghebohkan dunia itu sangat penting dilakukan. Khususnya bagi masyarakat Kota Palembang, Provinsi Sumatera Selatan.<\/p>\n<p>Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Sumatera Selatan dr Julius Anzar SpA (K) saat dihubungi menjelaskan, hingga saat ini belum ada kasus hepatitis akut di Sumatera Selatan, khususnya di Kota Palembang. &#8220;Kalau di Sumatera Selatan saya belum dapat laporan dari teman-teman saya. Artinya belum ada atau belum terdeteksi,&#8221; ungkap dr Julius Anzar kepada Simbur, Jumat (6\/5).<\/p>\n<p>Julius menerangkan, penyakit akut ini berbeda dengan hepatitis biasa. Bahkan, penyakit misterius ini dapat menyerang lebih cepat sehingga sangat berbahaya bagi anak usia di bawah 16 tahun. &#8220;Sebenarnya hepatitis itu penyakit biasa. Tapi ini (hepatitis akut) yang lain. Kalau hepatitis A,B, dan C itu tidak cepat, sifatnya memberat. Tapi kalau (hepatitis akut) ini pergerakannya lebih cepat. Dalam berapa hari (pasien) sudah kehilangan kesadaran, fatal. Itu bedanya dengan hepatitis biasa,&#8221; paparnya.<\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<p>Masih kata Julius, pihaknya akan terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat agar dapat lebih memahami dan mengantisipasi penyebaran hepatitis akut ini. &#8220;IDAI perlu sosialisasi lagi agar masyarakat dapat lebih mengetahui apa itu penyakit hepatitis (akut). Bagaimana untuk mengetahui apabila ada yang kena hepatitis. Apa sikap kalau ada yang kena hepatitis akut ini dan cara mencegahnya. Artinya kami perlu sosialisasi lagi,&#8221; tegasnya.<\/p>\n<p>IDAI Sumsel sendiri, lanjut Julius, selalu berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan dan lembaga terkait. Terutama dalam penanganan penyakit yang berbahaya. &#8220;Kami selalu berkoordinasi dengan Dinkes. Koordinasinya bukan untuk saat ini saja. Mulai dari Covid-19 dan penyakit lainnya. Untuk kasus ini kami akan lebih intensif lagi koordinasinya,&#8221; ujarnya.<\/p>\n<p>Ditanya pembentukan satgas hepatitis akut, Julius menjawab sampai saat ini belum ke arah sana. &#8220;Tapi kemungkinan nanti terpusat. Dari pengurus besar IDAI nanti akan memberi tahu. Satgasnya nanti seperti (penanganan) Covid-19. Ada satgas pusat. Ada yang namanya satgas provinsi. Ada update kasus harian karena teknologi digital sudah bagus, bisa cepat,&#8221; imbuhnya.<\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<p>Senada diungkap Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kota Palembang, Dr dr Zulkhair Ali SpPD KGH. Menurut Zulkhair Ali, pihaknya mengimbau agar masyarakat dapat menjaga kebersihan. Terutama kebersihan makanan dan alat makan. Khususnya bagi anak-anak. &#8220;Kami mengikuti panduan Pengurus Besar IDI dan IDAI. Pencegahan dilakukan dengan mencuci tangan dan alat makan. Juga jangan makan sembarangan,&#8221; ungkap Zulkhair kepada Simbur, Kamis (5\/5).<\/p>\n<p>Selain pencegahan, deteksi dini juga penting dilakukan terhadap pasien anak yang terinfeksi hepatitis misterius agar segera mendapat perawatan medis di rumah sakit. &#8220;Deteksi dini untuk pasien yang memberikan gejala. Terutama anak di bawah 16 tahun. Bagi yang dicurigai hepatitis, segera dirawat di rumah sakit,&#8221; jelasnya.<\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<p>Dikonfirmasi terpisah, Plt Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kota Palembang, Yudhi Setiawan SKM MEpid mengatakan, penyakit hepatitis misterius umumnya menyerang anak usia di bawah16 tahun. Menurut dia, ada satu atau lebih gejala seperti kuning, sakit perut akut, diare akut, mual\/muntah, penurunan kesadaran\/kejang, lesu\/malaise, dan myalgia\/arthralgia. &#8220;Bila ada anak umur di bawah 16 tahun mempunyai salah satu atau lebih gejala di atas akan ditetapkan sebagai probable case,&#8221; ungkap Yudhi kepada Simbur, Kamis (5\/5).<\/p>\n<p>Mengantisipasi penyakit tersebut, ungkap Yudhi, pihaknya akan melakukan pemantauan atas gejala yang dialami pasien di rumah sakit dan puskesmas yang ada di Kota Palembang. &#8220;Akan dilakukan screening pada pasien yang datang ke rumah sakit dan puskesmas dengan keluhan di atas,&#8221; jelasnya seraya menambahkan, bagi pasien yang terinfeksi akan diambil tindakan medis lebih lanjut. &#8220;Selanjutnya akan dilakukan pemeriksaan laboratorium,&#8221; tegasnya.<\/p>\n<p>Yudhi menjelaskan, pihaknya juga akan berkoordinasi dan meneruskan rekomendasi dari pihak terkait dalam melakukan antisipasi &#8220;penyakit misterius&#8221; tersebut. &#8220;Dinkes (Kota Palembang) sudah meneruskan rekomendasi dari IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) untuk antisipasi,&#8221; tegasnya.<\/p>\n<p>Ditanya apakah bakal ada gugus tugas dan update kasus harian\u00a0 seperti Covid-19, dirinya menjawab belum. &#8220;Sementara belum,&#8221; tukasnya singkat.<\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<p>Pakar virus dan epidemiolog asal Sumsel, Prof Yuwono pun angkat bicara dalam memberikan pandangan medis dan ilmiah terhadap hepatitis akut. Menurut Prof Yuwono, ada dua kata yang dipahami terlebih dahulu, yakni hepatitis akut.<\/p>\n<p>Dijelaskannya, akut artinya kejadian kurang dari 2 minggu. Kalau lebih 2 minggu-2 bulan itu namanya sub-akut. Kalau lebih dari 2 bulan namanya kronis. &#8220;Akut kurang dari 2 minggu. Mulai dari orang itu sakit sudah timbul gejala,&#8221; terang Yuwono\u00a0 dikonfirmasi Simbur, Jumat (6\/5).<\/p>\n<p>Sementara, lanjut Yuwono, hepatitis itu radang pada lever atau hati. Radang ini bisa disebabkan oleh infeksi dan bukan infeksi. &#8220;Tanda utamanya iterust\/jaudis (kuning) terutama dari glukosa. Terlihat dari kelopak mata. Ada di bawah kuku yang paling mudah melihatnya,&#8221; jelasnya.<\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<p>Lanjut Yuwono, sekarang heboh katanya (hepatitis akut) ini disebabkan adenovirus. Padahal, adenovirus merupakan salah satu komponen vaksin yang dibuat di Eropa dan Amerika. &#8220;Adenovirus itu komponen utama dalam vaksin kemarin. Artinya, vaksin-vaksin\u00a0 Eropa dan Amerika itu isinya rekombinan atau rekayasa genetik. Salah satunya adenovirus. Kalau itu dicurigai, mungkin juga,&#8221; terangnya.<\/p>\n<p>Selain adenovirus, tambah Yuwono, hepatitis akut juga bisa disebabkan parasit dan obat-obatan. &#8220;Hepatitis bisa disebabkan oleh infeksi akibat parasit misalnya amuba. Selain itu hepatitis bisa juga disebabkan karena konstruksi obat-obatan tertentu sehingga lever (hati) menjadi radang. Bisa juga akibat gangguan imunitas,&#8221; umbarnya.<\/p>\n<p>Sampai hari ini, menurut Yuwono, pemerintah Inggris tempat hepatitis akut muncul pertama, masih melakukan penelitian\/investigasi. Yuwono berharap masyarakat tidak percaya isu seperti masalah pandemi sebelumnya.<\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<p>&#8220;Sampai hari ini Covid-19 jadi hal efektif untuk menekan segala macam. Terkait hepatitis akut ini jangan-jangan WHO (organisasi kesehatan dunia) juga menekan semua negara supaya segera ditetapkan sebagai KLB (kejadian luar biasa). Kalau sudah seperti ini jadi pandemi lagi. Sekarang senjata makan tuan. Kalau andaikan hepatitis misterius karena adenovirus berarti ini berhubungan dengan vaksin,&#8221; sentilnya.<\/p>\n<p>Dirinya menilai, Kementerian Kesehatan terlalu terburu-buru mengambil kesimpulan menyikapi hepatitis akut ini. Belum ada hasil penelitian terkait itu. &#8220;Vaksin pada anak tidak diperlukan atau belum prioritas. Kemenkes tergesa-gesa menyimpulkan jika (hepatitis akut) ini tidak ada hubungan dengan vaksin,&#8221; ungkapnya.<\/p>\n<p>Yuwono mengimbau masyarakat untuk mengambil langkah antisipasi terkait kasus hepatitis akut ini. &#8220;Pertama, tenang. Jangan termakan informasi dari mana pun dan siapun kecuali dari ahlinya. Kedua, kuatkan imunitas. Tidur cukup, makan teratur, positive thingking. Itu modal utama imunitas,&#8221; sarannya.<\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<p>Berkaitan dengan infeksi atau dampak vaksin adenovirus, kata Yuwono, maka perlu penelitian di laboratorium tingkat 4. &#8220;Indonesia belum punya laboratorium level ini. Ini butuh penelitian yang bukan main buat kombinasinya. Kita lihat prioritas pemerintah. Saran saya jangan terburu-burulah,&#8221; pungkasnya.<\/p>\n<p>Diketahui, pemerintah melalui Kementerian Kesehatan telah meningkatkan kewaspadaan dalam dua pekan terakhir setelah Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan Kejadian Luar Biasa (KLB) pada kasus hepatitis akut yang menyerang anak-anak di Eropa, Amerika dan Asia, dan belum diketahui penyebabnya sejak 15 April 2022.<\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<p>Sejak resmi dipublikasikan sebagai KLB oleh WHO, jumlah laporan terus bertambah, tercatat lebih dari 170 kasus dilaporkan oleh lebih dari 12 negara. WHO pertama kali menerima laporan pada 5 April 2022 dari Inggris Raya mengenai 10 kasus Hepatitis Akut yang Tidak Diketahui Etiologinya (Acute Hepatitis of Unknown aetiology) pada anak-anak usia 11 bulan-5 tahun pada periode Januari hingga Maret 2022 di Skotlandia Tengah.<\/p>\n<p>Kisaran kasus terjadi pada anak usia 1 bulan sampai dengan 16 tahun. Tujuh belas anak di antaranya (10%) memerlukan transplantasi hati, dan 1 kasus dilaporkan meninggal. Gejala klinis pada kasus yang teridentifikasi adalah hepatitis akut dengan peningkatan enzim hati, sindrom jaundice (Penyakit Kuning) akut, dan gejala gastrointestinal (nyeri abdomen, diare dan muntah-muntah). Sebagian besar kasus tidak ditemukan adanya gejala demam.<\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<p>Penyebab dari penyakit tersebut masih belum diketahui. Pemeriksaan laboratorium diluar negeri telah dilakukan dan virus hepatitis tipe A, B, C, D dan E tidak ditemukan sebagai penyebab dari penyakit tersebut. Adenovirus terdeteksi pada 74 kasus dil luar negeri yang setelah dilakukan tes molekuler, teridentifikasi sebagai F type 41. SARS-CoV-2 ditemukan pada 20 kasus, sedangkan 19 kasus terdeteksi adanya ko-infeksi SARS-CoV-2 dan adenovirus.<\/p>\n<p>Kementerian Kesehatan melalui Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit mengeluarkan Surat Edaran Nomor HK.02.02\/C\/2515\/2022 tentang Kewaspadaan terhadap Penemuan Kasus Hepatitis Akut yang Tidak Diketahui Etiologinya (Acute Hepatitis Of Unknown Aetiology) tertanggal 27 April 2022<strong>. (maz)<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>PALEMBANG, SIMBUR &#8211; Sejumlah bocah dikabarkan meninggal dunia. Diduga akibat terinfeksi penyakit akut hepatitis misterius. Karena itu, upaya pencegahan dan deteksi dini anak di bawah usia 16 tahun dari &#8220;penyakit misterius&#8221; yang tengah menghebohkan dunia itu sangat penting dilakukan. Khususnya bagi masyarakat Kota Palembang, Provinsi Sumatera Selatan. Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Sumatera Selatan dr Julius Anzar SpA (K) saat dihubungi menjelaskan, hingga saat ini belum ada kasus hepatitis akut di Sumatera Selatan, khususnya&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":32807,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,63],"tags":[],"class_list":["post-32806","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-headline","category-liputan-investigasi"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/32806","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=32806"}],"version-history":[{"count":6,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/32806\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":32813,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/32806\/revisions\/32813"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/32807"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=32806"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=32806"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=32806"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}