{"id":32727,"date":"2022-04-26T21:24:38","date_gmt":"2022-04-26T14:24:38","guid":{"rendered":"https:\/\/simbursumatera.com\/?p=32727"},"modified":"2022-04-27T01:39:44","modified_gmt":"2022-04-26T18:39:44","slug":"arus-mudik-balik-lebaran-aman-dari-erupsi-gunung-anak-krakatau-bmkg-waspada-tsunami-malam-hari","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/simbursumatera.com\/?p=32727","title":{"rendered":"Arus Mudik-Balik Lebaran Aman dari Erupsi Gunung Anak Krakatau, BMKG: Waspada Tsunami Malam Hari"},"content":{"rendered":"<p><strong>PALEMBANG, SIMBUR<\/strong> &#8211; Gunung Anak Krakatau (GAK) naik menjadi level tiga dengan status siaga pada 24 April 2022. Informasi tersebut sebagaimana dirilis Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG)-Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. Meski demikian, jalur penyeberangan Merak-Bakauheni yang melintasi Selat Sunda saat arus mudik dan balik Lebaran dipastikan aman. Itu karena zona pelayaran berada di luar radius 5 km dari lokasi Gunung Anak Krakatau.<\/p>\n<p>&#8220;Penyeberangan arus mudik dan balik aman dari erupsi Gunung Anak Krakatau karena di luar radius 5 km. Apabila ada erupsi GAK hanya abu vulkanik saja. Itupun tergantung arah dan kecepatan angin,&#8221; ungkap Deny Mardiono, Kepala Pos Pengamatan Anak Krakatau, dikonfirmasi Simbur, Selasa (26\/4).<\/p>\n<p>Menurut Deny, pihaknya mengimbau agar masyarakat tetap tenang. Disamping selalu mengikuti arahan pemerintah daerah setempat. &#8220;Imbauan kami tetap patuhi rekomendasi. Masyarakat tetap tenang dan beraktivitas seperti biasa. Selalu mengikuti arahan dari pemerintah setempat,&#8221; imbuhnya.<\/p>\n<p>Lanjut dia, informasi terkini perkembangan aktivitas gunung GAK di aplikasi \u201cMagma Indonesia\u201d. Pihaknya melaporkan perkembangan terkini mengenai aktivitas gunung tersebur per 6 jam. &#8220;Kami sudah laporkan per 6 jam. Silakan <em>dowonload<\/em> saja aplikasinya,&#8221; terangnya.<\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<p>Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG)-Badan Geologi, Dr Ir Eko Budi Lelono membenarkan bahwa petugasnya di lapangan masih terus memantau perkembangan aktivitas gunung yang berda di perairan antara Pulau Sumater dan Jawa itu. \u201cKami PVMBG-Badan Geologi memantau terus perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau. Kemarin sore kami meningkatkan level II menjadi level III,\u201d terang Eko.<\/p>\n<p>Pada prinsipnya, lanjut Kaban Geologi, pihaknya memonitor terus di pos pengamatan, baik di Pesawaran maupun Lampung. \u201cJika masyarakat ingin mengetahui perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau bisa dilihat di situs resmi kami atau bisa langsung datang ke pos pengamatan,\u201d imbaunya.<\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<p>Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Prof Ir\u00a0Dwikorita\u00a0Karnawati MSc PhD saat menyampaikan konferensi pers bersama BMKG, PVMBG-Badan Geologi dan BNPB mengatakan, ada tiga hal yang perlu disampaikan terkait kewaspadaan potensi dampak erupsi Gunung Anak Krakatau.<\/p>\n<p>Dwikorita\u00a0turut membenarkan bahwa telah terjadi peningkatan level Gunung Anak Krakatau dari level II (yaitu waspada) menjadi level III (yaitu siaga). Menurut dia, secara historis aktivitas Gunung Anak Krakatau ini pernah menimbulkan tsunami beberapa kali sehingga perlu disampaikan beberapa hal. Mengantasipasi potensi terjadinya tsunami akibat peningkatan aktivitas Gunung Anak Krakatau, kata Dwikorita, BMKG bersama PVMBG-Badan Geologi \u00a0Kementerian ESDM terus memonitor perkembangan aktivitas GAK dan muka air laut di Selat Sunda.<\/p>\n<p>\u201cDengan meningkatnya level aktivitas GAK dari level II menjadi level III yang disampaikan PVMBG-Badan Geologi, maka masyarakat diminta untuk waspada terhadap potensi gelombang tinggi\/tsunami terutama di malam hari, sesuai dengan informasi yang disampaikan oleh BMKG. Kenapa di malam hari, karena malam hari sulit untuk bisa melihat secara visual adanya gelombang tinggi di dekat pantai. Kalau siang hari dapat untuk melihat hal itu. Waspada sesuai informasi yang disampaikan oleh BMKG,\u201d terangnya, Senin (25\/4).<\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<p>Dwikorita mengimbau masyarakat agar tidak terpancing oleh isu yang tidak bertanggung jawab, memastikan informasi hanya bersumber dari \u00a0PVMBG-Badan Geologi dan BMKG dan BPBD setempat. \u201cDemikian tiga hal yang perlu kami sampaikan. Semoga dapat memperjelas situasi terakhir yang ada. Perlu dipahami waspada bukan berarti evakuasi. Waspada berarti meningkatkan kewaspadaan berdasarkan informasi yang didapat dari BMKG atau BNPB,\u201d terangnya.<\/p>\n<p>Masih kata Dwikorita, saat ini masih level kesiapsiagaan, masih berpotensi levelnya menjadi waspada. BPBD atau pemda setempat seyogianya segera menyiapkan kontigensi plan.<\/p>\n<p>\u201cMeskipun belum, doanya tidak. Kalau seandainya berkembang. Kemungkinan terburuk sepertinya perlu untuk disiapkan. Misalnya sekarang sudah ada jalur evakuasi perlu cek apa rambu-rambunya sudah jelas. Perlu dipastikan shelter apakah masih dengan baik,\u201d imbaunya.<\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<p>Demikian juga BMKG, kata Dwikorita, juga akan mengecek peralatan dengan baik meskipun masyarakat masih dapat beraktivitas. \u201cJangan menyesal jika siap tapi tidak terjadi. Jika tidak siap tapi bencana terjadi itu kita akan sangat menyesal,\u201d serunya sembari menambahkan, pihaknya akan memasang satelit di sekitar daerah blankspot di sekitar Gunung Anak Krakatau.<\/p>\n<p>\u201cSebagai upaya meningatkan kewaspadaan. Waspada ini artinya menyiap kan segala seuatu seandainya terjadi level buruk,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<p>Plt\u00a0<em>Kepala Pusat Data<\/em>, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan Dr\u00a0<em>Abdul Muhari<\/em> SSi MT menjelaskan, konferensi pers digelar sebagai respons dari beberapa laporan yang disampaikan masyarakat. Dirinya memahami bahwa masyarakat dekat dengan libur panjang lebaran. Aktivitas transportasi dan wisata yang berda di sekitar GAK akan meningkat, maka yang paling utama adalah peningkatan kesiapsiagaan dengan memerhatikan informasi dari institusi yang berwenang.<\/p>\n<p>\u201cKami akan menginformasikan jika ada hal-hal yang belum dikondisikan. Diharap masyarakat memperoleh informasi dari pemeritah dan tidak terpancing isu dari pihak yang tidak bertanggung jawab,\u201d tegasnya.<\/p>\n<p>Mengacu pada potensi bencana yang ada, informai in sebatas pengamatan, belum pada sistuasi kontigenji atau krisis. Karena itu, informasi yang kami sampaikan kepada masyakat sebatas pada tahap kesiapsiagaan. \u201cTetapi nanti sekiranya ada kenaikan aktivitas erupsi dan pertimbangan para pakar maka kontijensi akan kami berlakukan. Termasuk pengaturan transportasi. Masih dirasa tahapan kesiapsiagaan sehingga aspek kontigensi berkembang jika potensi bencana itu ada,\u201d ungkapnya.<\/p>\n<p>Demikian pula pandangan pakar dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Mereka menyerukan kewaspadaan terhadap daerah potensi bencana akibat peningkatan aktivitas Gunung Anak Krakatau. Widjokongko BRIN menjelaskan, kewaspadaaan mengenai peningkatan aktivitas GAK dan perlu diwaspadai bersama.<\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<p>Selanjutnya, Dr Gegar Prasetyo \u00a0misalnya. Dia \u00a0menjelskan pada intinya dengan adanya kenaikan aktivitas GAK secara historis pernah menimbulkan tsunami sehingga wajar untuk waspada dan memahami potensi ke depannya seperti apa. \u00a0\u201cCatatan kami aktivitas GAK yang meningkat wajib diwaspadai. Masyarakat perlu waspada menghindari daerah yang pernah terjadi tsunami pada 2018,\u201d kenangny.<\/p>\n<p>Akan\u00a0 halnya diungkap Dr Semeidi Husin (BRIN). Pihaknya berusaha meningkatkan kemampuan untuk mendeteksi dini tusnami yang diakibatkan aktivitas GAK di Selat Sunda. \u201cMemasang sistem deteksi dini amnomali muka air yang sebenarnya sudah terpasang sejak 2019. Hanya saja masih terpasang jauh dari sumbernya. Insya Allah dalam waktu dekat sisitem ini akan segera terpasang dan akan membantu mendeteksi tinggi gelombang akibat aktivitas GAK,\u201d tegasnya.<\/p>\n<p>Sehubungan dengan tingkat aktivitas gunung tersebut, masyarakat \/pengunjung \/ wisatawan \/ pendaki tidak diperbolehkan mendekati gunung tersebut. Krakatau dalam radius 5 km dari kawah aktif. Badan Geologi akan terus berkordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB)\/ Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat dan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG).<\/p>\n<p>&#8220;Masyarakat di wilayah pantai Provinsi Banten dan Lampung harap tenang dan jangan mempercayai isu-isu tentang erupsi Gunung Anak Krakatau yang akan menyebabkan tsunami, serta dapat melakukan kegiatan seperti biasa dengan senantiasa mengikuti arahan BPBD setempat.&#8221;<\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<p>Dilansir Magma Indonesia, Gunung Anak Krakatau yang berada di kawasan Selat Sunda, Provinsi Lampung, secara geografis terletak pada posisi 06o06\u201905\u201d LS dan 105o 25\u2019 22,3\u201d BT. Sejak kelahiran Gunung Anak Krakatau pada Juni 1927 hingga saat ini, erupsi berulang kali terjadi sehingga gunung tersebut tumbuh semakin besar dan tinggi. Pasca erupsi yang terjadi pada tanggal 22 Desember 2018 yang kemudian kolapsnya tubuh bagian barat daya dari G. Anak Krakatau, tinggi Gunung Anak Krakatau saat ini sekitar 150 mdpl.<\/p>\n<p>Karakter letusan Gunung Anak Krakatau berupa erupsi eksplosif dan erupsi efusif dengan waktu istirahat letusannya berkisar antara 1\u2013 6 tahun. Erupsi-erupsi ini menghasilkan abu vulkanik dan lontaran lava pijar serta aliran lava.<\/p>\n<p>Secara visual, tinggi embusan asap selama periode 1 &#8211; 24 April 2022 dari arah Pos PGA Pasauran dan Kalianda serta dari CCTV umumnya jelas hingga tertutup kabut. Saat cuaca cerah teramati hembusan asap kawah berwarna putih dengan intensitas tipis hingga tebal, tinggi kolom hembusan sekitar 25 \u2013 3000 meter dari atas puncak gunung, dengan angin lemah hingga kencang kearah utara, timur laut, timur, tenggara, selatan, barat daya, barat dan barat laut.<\/p>\n<p>Teramati Letusan dengan tinggi kolom 50 &#8211; 2000 meter dari atas puncak. Kolom abu letusan berwarna putih, kelabu hingga kehitaman dengan dominan arah angin ke tenggara dan selatan.<\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<p>Kegempaan Gunung Anak Krakatau selama 1 &#8211; 24 April 2022 ditandai dengan terekamnya 21 kali gempa Letusan, 155 kali gempa Hembusan, 14 kali Harmonik, 121 kali gempa Low Frequency, 17 kali gempa Vulkanik Dangkal, 38 kali gempa Vulkanik Dalam, danTremor Menerus dengan amplitudo 0.5 &#8211; 55 mm (dominan 50mm) serta terekam 2 kali gempa Tektonik Lokal, 6 kali gempa Tektonik Jauh dan 1 gempa Terasa dengan skala I MMI. Energi aktivitas vulkanik yang dicerminkan dari nilai RSAM (real-time seismic amplitude measurement) menunjukkan pola fluktuasi dengan kecenderungan meningkat tajam sejak 15 April 2022.<\/p>\n<p>Pengukuran deformasi dengan menggunakan Tilmeter yang dipasang di Stasiun Tanjung menunjukkan fluktuasi komponen X (tangensial) dan Y (radial). Inflasi pada tubuh Gunung Anak Krakatau teramati sejak tanggal 18 April 2022 dan sedikit mulai intens teramati sejak tanggal 22 April 2022.<\/p>\n<p>Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau saat ini masih dalam periode erupsi menerus dengan perubahan erupsi yang semula dominan abu menerus menjadi tipe strombolian menghasilkan lontaran-lontaran lava pijar pada\u00a0 17 April 2022. Pada 23 April 2022 sekitar pukul 12.19 WIB teramati lava mengalir dan masuk ke laut. Hasil estimasi energi seismik saat ini teramati meningkat tajam bersamaan dengan membesarnya amplitudo Tremor menerus dan semakin intensnya kejadian erupsi yang menerus. Peningkatan ini diikuti pula dengan hasil pengukuran deformasi yang menunjukkan fluktuasi pola inflasi dan deflasi.<\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<p>Data emisi SO2 berdasarkan pantauan satelit Sentinel-5 (Tropomi) menunjukkan emisi SO2 mulai teramati pada 14 April dengan SO2 sebesar 28,4 ton\/hari, 15 April 68,4 ton\/hari, 17 April semakin meningkat dengan 181,1 ton\/hari dan 23 April melonjak drastis dengan 9219 ton\/hari.<\/p>\n<p>Pantauan SO2 dari magma ini berkorelasi dengan peningkatan aktivitas erupsi G. Anak Krakatau saat ini.Peningkatan SO2 yang signifikan mengindikasikan adanya suplai magma baru dan adanya material magmatik yang keluar ke permukaan berupa lontaran material pijar yang diikuti oleh aliran lava.Jumlah SO2 pada periode di atasmencapai 9,2 kilo Ton. Bila dibandingkan saat periode erupsi 2018, yaitu Juni-Agustus 2018 12,4 kilo ton dan September-Oktober 2018 19,4 kilo Ton.<\/p>\n<p>Berdasarkan data pemantauan visual dan instrumental serta pantauan emisi CO2 bahwa aktivitas Gunung Anak Krakatau ada kecenderungan meningkat dan belum menunjukkan adanya penurunan aktivitas vulkanik.<\/p>\n<p>Peta Kawasan Rawan Bencana (KRB) menunjukan hampir seluruh tubuh Gunung Krakatau yang berdiameter \u00b1 2 Km merupakan kawasan rawan bencana. Berdasarkan data-data visual dan instrumental potensi bahaya dari aktivitas gunung tersebut saat ini adalah lontaran material pijar dalam radius 2km dari pusat erupsi namun kemungkinan lontaran akan menjangkau jarak yang lebih jauh. Sebaran abu vulkanik tergantung dari arah dan kecepatan angin dapat menjangkau kawasan yang lebih jauh. <strong>(maz)<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>PALEMBANG, SIMBUR &#8211; Gunung Anak Krakatau (GAK) naik menjadi level tiga dengan status siaga pada 24 April 2022. Informasi tersebut sebagaimana dirilis Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG)-Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. Meski demikian, jalur penyeberangan Merak-Bakauheni yang melintasi Selat Sunda saat arus mudik dan balik Lebaran dipastikan aman. Itu karena zona pelayaran berada di luar radius 5 km dari lokasi Gunung Anak Krakatau. &#8220;Penyeberangan arus mudik dan balik aman dari&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":32728,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-32727","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-headline"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/32727","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=32727"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/32727\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":32735,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/32727\/revisions\/32735"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/32728"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=32727"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=32727"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=32727"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}