{"id":32648,"date":"2022-04-18T22:19:49","date_gmt":"2022-04-18T15:19:49","guid":{"rendered":"https:\/\/simbursumatera.com\/?p=32648"},"modified":"2022-04-18T22:19:49","modified_gmt":"2022-04-18T15:19:49","slug":"urbanisasi-perlu-diantisipasi-diaspora-palembang-patut-diapresiasi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/simbursumatera.com\/?p=32648","title":{"rendered":"Urbanisasi Perlu Diantisipasi, Diaspora Palembang Patut Diapresiasi"},"content":{"rendered":"<p><em>Enam isu perkotaan bakal dibahas saat Forum Urban (U-20) pada pertemuan negara-negara anggota G20. Keenam isu tersebut, pertama, aktivitas masyarakat yang dilakukan dari rumah. Karena itu, rumah sebaiknya nyaman untuk tempat kerja dan mendukung produktivitas. Kedua, pembatasan aktivitas selama pandemi berimbas kurangnya interaksi sosial, pelecehan online, hingga gangguan jiwa. Ketiga, meningkatnya jumlah anak yatim piatu akibat pandemi menjadi masalah sosial. Keempat, pengangguran secara global meningkat akibat perusahaan mengurangi jumlah karyawan. Kelima, nasib kantor dan industri properti ke depan dalam menjawab tantangan perkotaan. Terakhir, pertimbangan mobilitas antara tata kota dan kesehatan, dalam transformasi model baru yang berkelanjutan. Terkait itu, setiap pemerintah daerah diharapkan dapat mengantisipasi persoalan urbanisasi dan diaspora sebagai dampak pelonggaran mudik lebaran pascapandemi. Bagaimana upaya pemerintah kota dan masyarakat Palembang, Sumatera Selatan pada umumnya menyikapi itu? Berikut laporan SimburSumatera.com selengkapnya.<\/em><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>PALEMBANG, SIMBUR<\/strong> \u2013 Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) Kota Palembang tetap memantau gelombang urbanisasi (perpindahan masyarakat dari desa ke kota) setelah pemerintah melonggarkan kembali kebijakan mudik Lebaran pascapandemi. Hal itu diungkap Kepala Disnaker Kota Palembang, Drs HM Yanurpan Yany SSos MM.<\/p>\n<p>Menurut Yanurpan, di Kota Palembang selama ini mudik tidak terlalu berdampak terhadap potensi urbanisasi. Berbeda dengan kondisi di Pulau Jawa. Biasanya, kata dia, saat orang pulang kampung (mudik) Lebaran kemudian kembali lagi ke kota sambil membawa keluarga atau warga desa lainnya, melakukan urbanisasi dari desa ke kota.<\/p>\n<p>\u201cTetap kami pantau (urbanisasi). Tapi tidak (Disnaker Kota) sendirian. Kami juga koordinasi dengan OPD (organisasi perangkat daerah) dan <em>leading sector<\/em> terkait. Terutama dalam meningkatkan produktivitas,\u201d ungkap Kadisnaker Yanurpan kepada Simbur, Senin (18\/4).<\/p>\n<p>Selama pandemi, lanjut Yanurpan, pengangguran Palembang juga tidak sedikit. \u201cKami juga sedang sedang mengantisipasi tingkat pengangguran di kota ini. Itu tadi, perlu koordinasi lintas sektoral sesuai program OPD masing-masing,\u201d terangnya.<\/p>\n<p>Terkait diaspora, Yanurpan menegaskan bahwa tidak banyak yang mudik atau pulang ke Palembang saat lebaran. \u201cMereka (diaspora Palembang) kan ada kontrak kerja berapa lama kerja di luar negeri. Kalau pulang kampung atau mudik Lebaran, mungkin tidak lama. Sebab, pulang kampung <em>cost<\/em>-nya teralu besar,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p>Dikonfirmasi terpisah, sosiolog asal Sumsel, Dr Saudi Berlian mengemukakan, jika dilihat dari kebiasaan (tradisi) urbanisasi bisa saja terjadi dan sulit diantisipasi. Padahal, di desa orang tidak merasa takut pandemi dan produktivitas tetap berjalan seperti biasa.<\/p>\n<p>\u201cDi beberapa sektor, misalnya pertanian, lapangan kerja tetap seperti adanya. Kalau melihat rasionalitas, urbanisasi tidak terlalu melonjak. Kalau melihat tradisi, memang iya. Sekarang mana yang berlaku,\u201d ungkap Saudi.<\/p>\n<p>Dijelaskannya, jumlah pekerjaan di kota tidak menjanjikan lagi setelah pandemi. \u201cApalagi banyak yang sudah migrasi ke virtual. Jadi, sedikit sekali yang membutuhkan tenaga kerja (di kota),\u201d paparnya.<\/p>\n<p>Masih kata Saudi, intinya pekerjaan di desa tidak terganggu. Sebaliknya, justru lapangan pekerjaan di kota sangat terganggu. \u201cMasyarakat desa tahu tidak kondisi tersebut jika ingin berduyun-duyun datang ke kota. Pemerintah perlu mengimbau agar masyarakat desa tetap bekerja di desa, tidak harus (mencuci nasib) ke kota,\u201d sarannya.<\/p>\n<p>Demikian sebaliknya, kata Saudi, kriminalitas justru berpotensi muncul dari arus balik kaum urban. \u201cDi kota orang sedang mengalami krisis ekonomi. Mau <em>nyopet<\/em> tidak banyak peluang lagi. Makanya, mereka (pelaku kejahatan) kembali ke desa. Akibat sentra ekonomi di kota banyak yang tutup, makanya mereka beroperasi di desa,\u201d selorohnya.<\/p>\n<p>Ditanya soal diaspora, Saudi menjelaskan, mereka pulang saat libur tidak masalah, Akan tetapi, apabila kaum diaspora itu pulang kampung dan menetap kembali, itu baru menjadi masalah. Diterangkannya pula, sekarang masyarakat sudah hijrah ke virtual kecuali tempat atau daerah yang tidak ada sinyal.<\/p>\n<p>Saudi menambahkan, orang yang menyebar ke mana-mana kadang tidak <em>update<\/em>. Walaupun berada di luar, kadang seperti di dalam. Kalau dulu problem, muncul masalah diaspora Palembang antara <em>macrocosmos<\/em> (orang yang tinggal di luar daerah asalnya) yang tidak terhubung secara langsung dengan <em>microcosmos<\/em> (orang yang tinggal di dalam daerah asalnya). Berbeda dengan diaspora Minang dan Bugis. Mereka merantau termasuk kelompok makro, tapi juga punya <em>link<\/em> dan kontribusi ke dalam (daerah asalnya).<\/p>\n<p>\u201c(Diaspora Palembang) Yang hebat di luar sana, setelah pulang kampung, kadang tidak dianggap apa-apa. Orang di kampungnya pun tidak juga menganggap dia hebat,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Akan halnya, Yan Sulistyo, konsultan dan pakar ekonomi Sumsel mengatakan, sebenarnya dengan adanya pergerakan manusia saat hari raya dari desa ke kota (urbanisasi) karena kegagalan pemerintah daerah setempat. \u201cTerutama dalam memberikan keadilan ekonomi. Itu karena daya tarik daerah tersebut tidak menarik bagi masyarakat desa sehingga mereka pergi ke kota,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p>Menurut Yan, kebanyakan juga para pekerja di desa bukan asli daerah tersebut tapi dari kota sehingga terjadilah urbanisasi. \u00a0\u201cDampaknya dari sisi ekonomi yang paling diuntungkan adalah kota besar seperti Palembang. Karena masyarakat desa akan menghabiskan banyak uang di kota. Bukan hanya tejadi di hari raya tapi juga terjadi saat libur panjang,\u201d ungkapnya.<\/p>\n<p>Masih kata Yan, banyak masyarakat kota yang datang ke desa tapi harus siap dari sisi pariwisatanya. Orang kota yang tidak sanggup ke luar pulau atau ke luar negeri akan lari ke desa. Daerah yang desanya tidak mempunyai destinasi menarik akan mengalami kerugian dan terjadi urbanisasi.<\/p>\n<p>\u201cKondisi tersebut berdampak negatif juga bagi kota. Orang kota banyak menerima orang desa yang tidak siap dengan <em>skill<\/em> atau keahlian kerja. Ini menjadi masalah besar bagi sistem sosial masyarakat kota. Lantas, siapa yang paling bertanggung jawab? Ya kepala daerah masing-masing. Mereka harus mempersiapkan SDM dan potensi pariwisata. Perlu kerja sama antara kepala daerah, DPRD, peran serta masyarakat dan lembaga pendidikan di daerah,\u201d sarannya.<\/p>\n<p>Penyebab urbanisasi lainnya, tambah dia, masyarakat desa tidak bisa melakukan aktivitas ekonomi yang banyak karena keterbatasan infrastruktur ekonomi yang ada. Daerah yang cukup siap untuk menghadapi orang desa yang punya duit pun sangat sedikit. Jangankan nonton bioskop mal saja tidak punya. \u201cMakanya banyak orang desa menghabiskan uangnya ke kota. Pemerintah daerah setempat mengatasi hal tersebut sehingga warga desa tidak pergi ke kota,\u201d imbuhnya.<\/p>\n<p>Yan berharap, migrasi kota ke desa atau sebaliknya harus disertai <em>skill<\/em>.\u00a0 Disarankan, seharusnya tenaga ahli di kota diserap pemerintah daerah sebagai ASN. \u201cHarus ada keseimbangan SDM dari kota ke desa. \u00a0Peran SDM daerah harus didukung <em>skill<\/em> yang mumpuni,\u201d terangnya.<\/p>\n<p>Selama masa pandemi, \u00a0ungkap Yan, kalau orang kota dalam kondisi keterbatasan, mereka akan mencari tempat untuk <em>hilling<\/em>. \u201cOrang kota gampang sekali untuk jenuh. Kebanyakan orang kota itu <em>workaholik<\/em> (hobi kerja). Karena semasa pandemi <em>workaholik<\/em> mereka tidak tersalurkan, makanya <em>hilling<\/em> ke desa,\u201d jelas Yan.<\/p>\n<p>Dia menambahkan, selama pandemi, sektor yang paling cepat tumbuh adalah pariwisata. \u201cKarena di tempat itulah orang menyalurkan fesyennya ke arah sana,\u201d ungkapnya.<\/p>\n<p>Ditegaskan Yan, diaspora Palembang di luar negeri tidak tertarik pulang ke kotanya. Lebaran mereka tidak pulang. Kalau pulang waktunya sangat pendek.<\/p>\n<p>\u201cKaum dispora Palembang tidak tertarik pulang karena dari penawaran kerja saja sudah tidak menarik. Sistem perekrutan pemerintah daerah tidak mampu menyerap diaspora,\u201d tuturnya.<\/p>\n<p>Mengapa diaspora tidak mau pulang? kata Yan, karena di luar mereka lebih menjanjikan dan ada apresiasi orang luar yang punya prestasi bagus. \u201cPerlu adanya perubahan sistem rekrutmen agar bisa mengakomodir orang-orang yang bertalenta,\u201d sarannya.<\/p>\n<p>Dia mencontohkan, bagaimana Singapura membangun negaranya. Mereka membangun talenta dari luar. Akan terjadi transfer <em>knowledge.<\/em> SDM mereka sudah siap dari orang luar yang mereka rekrut. Kelemahan pemerintah dari sisi <em>skill<\/em>, ini jarang terjadi di Indonesia, apalagi Palembang, Sumatera Selatan.<\/p>\n<p>\u201c<em>Transfer knowledge, <\/em>yakni proses transfer ilmu dari <em>nothing<\/em> jadi <em>something<\/em>. Harus merekrut tenaga ahli dari luar. Butuh mereka (diaspora) agar dapat mentransfer ilmu pengetahuan sehingga memiliki SDM siap. Demikian juga universitas, masih mengunakan sistem perekrutan yang usang. Tidak mau menggunakan tenaga pendidikan dari luar,\u201d tegasnya.<\/p>\n<p>Sementara itu, mengantisipasi lonjakan pandemi di tengah gelombang urbanisasi selama mudik dan arus balik Lebaran, Dinas Kesehatan Kota Palembang juga telah mendirikan 13 posko. Hal itu diungkap Yudhi Setiawan SKM Mepid, Plt Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kota Palembang.<\/p>\n<p>\u201cDinkes bekerja sama dengan Dinas Perhubungan dan kepolisian dengan membuka 13 posko mudik dan arus balik lebaran,\u201d ungkap Yudhi \u00a0kepada Simbur<strong>.<\/strong><\/p>\n<p>Adapun 13 posko pengamanan kesehatan terletak di Terminal Km12, PTC Mall, Simpang DPRD, Poligon, Jembatan Musi 6, Nilakandi, dan\u00a0 Bundaran Air Mancur. Selanjutnya, Sriwalk, SPBU Gapo, Pintu I PT Pusri, Simpang Kayuagung Plaju, Jembatan Musi 4, dan Mitra 10 Jakabaring.<strong>(maz)<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Enam isu perkotaan bakal dibahas saat Forum Urban (U-20) pada pertemuan negara-negara anggota G20. Keenam isu tersebut, pertama, aktivitas masyarakat yang dilakukan dari rumah. Karena itu, rumah sebaiknya nyaman untuk tempat kerja dan mendukung produktivitas. Kedua, pembatasan aktivitas selama pandemi berimbas kurangnya interaksi sosial, pelecehan online, hingga gangguan jiwa. Ketiga, meningkatnya jumlah anak yatim piatu akibat pandemi menjadi masalah sosial. Keempat, pengangguran secara global meningkat akibat perusahaan mengurangi jumlah karyawan. Kelima, nasib kantor dan industri&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":32649,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[14],"tags":[],"class_list":["post-32648","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita-eksklusif"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/32648","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=32648"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/32648\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":32650,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/32648\/revisions\/32650"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/32649"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=32648"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=32648"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=32648"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}