{"id":32471,"date":"2022-04-02T14:03:19","date_gmt":"2022-04-02T07:03:19","guid":{"rendered":"https:\/\/simbursumatera.com\/?p=32471"},"modified":"2022-04-02T14:03:19","modified_gmt":"2022-04-02T07:03:19","slug":"terjadi-5-402-bencana-di-indonesia-sepanjang-2021-tujuh-provinsi-paling-tinggi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/simbursumatera.com\/?p=32471","title":{"rendered":"Terjadi 5.402 Bencana di Indonesia sepanjang 2021, Tujuh Provinsi Paling Tinggi"},"content":{"rendered":"<p># Didominasi Banjir, Tanah Longsor, dan Cuaca Ekstrem<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>PALEMBANG, SIMBUR<\/strong> &#8211; Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah memetakan daerah yang paling sering mengalami bencana di Indonesia dari tahun sebelumnya. Terdapat tujuh provinsi rawan bencana, yaitu Aceh, Sumatera Barat, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Selatan dan Sulawesi Selatan.<\/p>\n<p>\u201cNah, tujuh provinsi ini, dari data yang dimiliki oleh BNPB, setiap tahun selalu menjadi hotspot. Dalam artian, provinsi-provinsi ini dengan tingkat kejadian bencana paling tinggi di Indonesia,\u201d ungkap Abdul Muhari, Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB saat konferensi pers secara online dan offline, Jumat (1\/4).<\/p>\n<p>Menurut Muhari, pihaknya juga telah melakukan verifikasi dan validasi data bencana sepanjang tahun 2021 di Indonesia, yakni sebanyak 5.402 kejadian bencana. Dari kejadian bencana tersebut, hampir 90 persen didominasi oleh bencana hidrometeorologi. \u201cSebanyak 5.402 kejadian ini hampir 90 persen itu didominasi oleh bencana hidrometeorologi, baik itu hidrometeorologi basah seperti banjir, tanah longsor, dan cuaca ekstrem, maupun kebakaran hutan,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Jenis bencana hidrometeorologi basah ini menjadi perhatian semua warga karena bencana tersebut terjadi di tahun 2022. \u201cDominannnya pada 2021 hidrometrologi basah, sehingga ini menjadi perhatian karena tren ini juga kemudian terjadi di 2022,\u201d pungkasnya.<\/p>\n<p><strong>Tercatat 1.137 Bencana hingga Maret 2022<\/strong><\/p>\n<p>Muhari mengungkapkan, Indonesia pernah mengalami 1.137 kali kejadian bencana hingga 31 Maret 2022. \u201cTiga bulan pertama 2022 sudah megalami 1.137 kali kejadian bencana. Jadi kalau kami rata-rata secara harian, dalam satu hari paling tidak memiliki 3 kali kejadian bencana. Ini cukup luar biasa,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Dilihat dari segi tren jenis bencananya, Indonesia kembali dihadapkan bencana hidrometeorologi basah seperti banjir, tanah longsor dan cuaca ekstrem. Kemudian dilihat dari segi distribusi Parsialnya, provinsi-provinsi dengan tingkat kejadian bencana paling tinggi di indonesia 3 bulan pertama tahun ini sekali lagi dihadapkan dengan provinsi yang sama pada 2021 yaitu, Aceh, Sumatera Barat, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Selatan dan Sulawesi Selatan.<\/p>\n<p>\u201cKalau kami lihat tren jenis bencananya kembali lagi dihadapkan dengan bencana hidrometeorologi basah seperti banjir, tanah longsor dan cuaca ekstrem. Kalau dilihat kemudian Distribusi Parsialnya, provinsi-provinsi mana saja yang menjadi lokasi dengan tingkat kejadian bencana paling tinggi di Indonesia 3 bulan pertama ini. &#8220;Sekali lagi kami akan melihat tren yang sama di Sumatera itu provinsi Aceh dan Sumatera Barat, kemudian di Jawa itu Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur. Kalimantan itu, kalimantan Selatan. Dan Sulawesi itu, Sulawesi Selatan,\u201d kata dia.<\/p>\n<p>BNPB mengimbau pemerintah daerah di tujuh provinsi tersebut agar memerhatikan kondisi lingkungan, sungai, alam-alam pegunungan yang selama ini menjadi daerah resapan air. Serta diimbau untuk memerhatikan kondisi di sepanjang aliran sungai yang mungkin selama ini terjadi penyempitan dan pendangkalan.<\/p>\n<p>\u201cBNPB tentu saja mengimbau bagi pemerintah daerah di tujuh provinsi ini agar benar-benar melihat kembali kondisi lingkungan, kondisi sungai, kondisi alam-alam pegunungan yang selama ini menjadi daerah tangkapan air daerah resapan air. Kondisi daerah sepanjang aliran sungai ini yang mungkin selama ini terjadi penyempitan, terjadi pendangkalan itu harus benar-benar kita benahi bersama,\u201d ucapnya.<\/p>\n<p>Abdul Muhari juga mengatakan, pada Maret 2021 Indonesia mengalami 537 kejadian bencana, sementara pada Maret 2021 terjadi penurunan 33,33 persen menjadi 358 kejadian bencana. Dari sisi korban meninggal dan hilang di bulan maret 2021 naik 70 persen dari 17 orang menjadi 29 orang pada 2022.<\/p>\n<p>\u201cJumlah kejadian bencana bulan Maret 2022 lebih sedikit dibandingkan dengan Maret 2021. Dari sisi korban meninggal dan hilang naik 70 persen dari 17 orang di Maret 2021 menjadi 29 orang di bulan yang sama pada 2022,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p><strong>Terjadi 163 Kali Banjir<\/strong><\/p>\n<p>Muhari melaporkan, terjadi sedikit anomali dari pelaporan kejadian banjir pada Maret 2022 sebanyak 163 di 27 provinsi dan 107 kabupaten kota. \u201cUntuk Maret ini memang terjadi sedikit anomali dari pelaporan kejadian banjir yang terjadi di Indonesia Maret 2022 mengalami 163 kejadian banjir di 27 provinsi dan 107 kabupaten\/kota dengan total rumah terendam 151.255 unit, 16 orang korban jiwa, 3 orang hilang dan 507.253 jiwa terdampak yang mengungsi,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Muhari menambahkan, seharusnya intensitas kejadian banjir yang didominasi oleh ujung atau puncak musim hujan itu seharusnya ada di bulan Januari-Februari. Tetapi di bulan Maret 2022 kejadian banjir lebih banyak dibandingkan bulan Maret 2021. &#8220;Tahun 2022 sebanyak 163 kali, sedangkan 2021 tercatat 156 kali. Padahal di 2021 masih terdampak La Lina,&#8221; terangnya.<\/p>\n<p>Sementara, tahun 2022 meskipun masih ada efeknya tapi seharusnya mulai melemah dibandingkan dengan tahun 2021. Kenyataanya, jumlah kejadian banjir yang dilaporkan dan ditangani oleh BNPB maupun BPBD lebih banyak dibandingkan ditahun 2021. &#8220;Akibatnya, meskipun dari sisi korban terdampak lebih sedikit, tetapi korban mengungsi itu jauh lebih banyak di Maret 2022,&#8221; paparnya.<\/p>\n<p>Masih kata dia, korban mengungsi pada bulan Maret 2022 sebanyak 24.000 orang, sedangkan di bulan Maret 2021 sebanyak 3.200 orang. Dengan demikian, korban mengungsi akibat banjir di 2022 itu 7 kali lipat lebih besar dibandingkan maret 2021.<\/p>\n<p>Artinya, lanjut Muhari, eskalasi bencana ini jauh lebih besar ketimbang Maret 2021. Seharusnya secara periode normal di bulan Maret sudah mulai masuk pancaroba yang karakteristik hidrometeorologi sebenarnya hujan intensitas tinggi dalam durasi pendek. \u201cPada kenyataannya masih banyak terjadi hujan intensitas tinggi dengan durasi panjang sehingga eskalasi daerah terdampak banjir itu masih sangat luas,\u201d ujarnya.<strong>(wms04)<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p># Didominasi Banjir, Tanah Longsor, dan Cuaca Ekstrem &nbsp; &nbsp; PALEMBANG, SIMBUR &#8211; Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah memetakan daerah yang paling sering mengalami bencana di Indonesia dari tahun sebelumnya. Terdapat tujuh provinsi rawan bencana, yaitu Aceh, Sumatera Barat, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Selatan dan Sulawesi Selatan. \u201cNah, tujuh provinsi ini, dari data yang dimiliki oleh BNPB, setiap tahun selalu menjadi hotspot. Dalam artian, provinsi-provinsi ini dengan tingkat kejadian bencana paling&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":32472,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[77],"tags":[],"class_list":["post-32471","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bencana"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/32471","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=32471"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/32471\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":32473,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/32471\/revisions\/32473"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/32472"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=32471"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=32471"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=32471"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}