{"id":23664,"date":"2020-09-06T13:44:44","date_gmt":"2020-09-06T06:44:44","guid":{"rendered":"https:\/\/simbursumatera.com\/?p=23664"},"modified":"2020-09-06T13:44:51","modified_gmt":"2020-09-06T06:44:51","slug":"kecerdasan-buatan-memperkuat-upaya-anti-pencucian-uang-di-perbankan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/simbursumatera.com\/?p=23664","title":{"rendered":"Kecerdasan Buatan Memperkuat Upaya Anti Pencucian Uang di Perbankan"},"content":{"rendered":"<p>JAKARTA, SIMBUR &#8211; Sebanyak 91 persen bank sangat kesulitan menyesuaikan sistem kepatuhan Anti Pencucian Uang (APU) berdasarkan regulasi yang telah dijalankan. Sebanyak 95 persen bank di Indonesia optimis bahwa kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) akan menghentikan Anti Pencucian Uang (APU). Sekitar 100 persen bank di Indonesia masih meyakini efektivitas teknologi lama yang berbasiskan regulasi untuk kepatuhan APU. Namun, 91 persen bank sangat kesulitan mengubah sistem tersebut. Di Indonesia, 100 persen bank ingin berinvestasi dalam sistem kepatuhan APU guna mengatasi kejahatan keuangan selama satu tahun ke depan. Sementara, 95 persen bank ingin menambah investasi ini secara besar-besaran pada 2021.<\/p>\n<p>Survei terbaru dari perusahaan global yang membuat perangkat lunak untuk analisis, FICO, mengungkap, Indonesia optimis bahwa kecerdasan buatan (AI) akan memperkuat upaya Anti Pencucian Uang (APU). Namun, masih banyak bank yang ragu-ragu untuk menerapkan teknologi mutakhir tersebut.<\/p>\n<p>Sebaliknya, saat ditanyai tentang efektivitas teknologi lama yang berbasiskan regulasi, 100 persen bank di Indonesia masih meyakini kemampuan sistem APU tersebut. Meski demikian, 91 persen bank sangat kesulitan menyesuaikan sistem ini.<\/p>\n<p>&#8220;Sistem kepatuhan berdasarkan regulasi masih diandalkan sejumlah bank di Asia Pasifik untuk mengatasi kejahatan keuangan,&#8221; Timothy Choon, Financial Crimes Leader, Asia Pasifik, FICO.<\/p>\n<p>Namun, beberapa bank yang lebih dulu memakai sistem ini mulai memanfaatkan AI, dan menyadari sistem berbasiskan regulasi yang telah berusia satu dekade tidak mampu menangani ancaman modern.<\/p>\n<p>&#8220;Kunci rahasianya ialah penerapan teknologi AI yang mutakhir, dan membuatnya mampu bekerja sama dengan sistem berbasiskan regulasi. Bahkan, 20 persen responden memilih faktor tersebut sebagai hambatan utama dalam memenuhi target-target mitigasi risiko yang terkait dengan kejahatan keuangan.&#8221;<\/p>\n<p>Survei ini menunjukkan sejumlah tantangan penting bagi solusi kepatuhan APU yang tengah digunakan di Asia Pasifik: kemampuan mengatasi jenis-jenis risiko baru yang mengancam sistem kepatuhan APU pada kanal dan produk perbankan; kapasitas untuk menyediakan solusi kepatuhan yang terintegrasi secara lengkap; serta sarana yang diperlukan untuk mengubah regulasi dengan cepat.<\/p>\n<p>Di Asia Pasifik, bank-bank multinasional yang berskala lebih besar lebih berpeluang untuk memakai solusi buatan vendor untuk APU. Sedangkan, sistem internal lebih banyak digunakan bank-bank domestik.<\/p>\n<p>Salah satu indikator utama yang mengubah strategi penanganan kejahatan keuangan ialah pengalaman pelanggan. Lebih dari dua di antara lima responden menilainya sebagai faktor terpenting, dan 17 persen bank di Asia Pasifik menjadikannya faktor penting setelah pendekatan saat ini dan masa depan.<\/p>\n<p>&#8220;Kami mencermati, sebagian besar bank berupaya untuk menyeimbangkan strategi antara aspek kepatuhan regulasi dan pengalaman pelanggan,&#8221; . &#8220;Banyak bank kesulitan memperoleh informasi yang lebih banyak guna memenuhi segudang peringatan APU akibat sistem yang tak efektif. Di sisi lain, bank enggan merepotkan nasabah dengan daftar pertanyaan yang diajukan secara terus-menerus,&#8221; ujarnya.<\/p>\n<p>Beberapa faktor lain yang berada di urutan kedua dan ketiga termasuk rusaknya reputasi bank dan kerugian finansial yang bersifat langsung. Saat menghadapi tantangan kejahatan keuangan, hampir setengah responden mengutamakan kecepatan respons atas ancaman-ancaman baru, sementara, sepertiga responden beranggapan bahwa deteksi yang akurat tetap menjadi tes penting.<\/p>\n<p>Memanfaatkan sejumlah teknik machine learning yang dirancang untuk mengatasi sejumlah tantangan tersebut. Solusi ini meningkatkan akurasi deteksi secara drastis lewat model analisis mutakhir yang dipatenkan FICO, seperti Soft Clustering Misalignment dan Threat Score. Kedua model tersebut dapat membantu lembaga keuangan untuk menerapkan AI dalam strategi kepatuhan yang telah dimiliki.<\/p>\n<p>Mayoritas bank (93 persen) di Asia Pasifik ingin menghabiskan anggaran belanja teknologi untuk memperbarui atau meningkatkan sistem kepatuhan regulasi. Namun, di pusat-pusat keuangan regional yakni Singapura dan Hong Kong, hanya dua per tiga responden yang menunjukkan minat bank nya untuk melakukan investasi baru dalam teknologi kepatuhan. Hal ini tampaknya disebabkan biaya besar yang telah dikeluarkan bank tersebut dalam bidang tersebut selama beberapa tahun terakhir.<\/p>\n<p>Dia mengatakan bahwa mereka akan terus berinvestasi dalam sistem kepatuhan regulasi selama satu tahun ke depan, dan di antaranya berencana untuk investasi ini secara besar-besaran pada 2021. Secara keseluruhan, tingkat investasi dalam teknologi kepatuhan yang dilakukan berbagai bank di Asia Pasifik segera meningkat pada 2021.<\/p>\n<p>Menariknya, bank-bank asing lebih cenderung untuk melakukan investasi baru ketimbang bank-bank domestik. Indonesia, Australia, Thailand, dan Filipina termasuk sejumlah pasar yang kelak menjalankan investasi terbesar pada 2021.<\/p>\n<p>Survei ini, digelar pada Mei lalu, menunjukkan bahwa di tengah perlambatan ekonomi akibat pandemi, bank-bank masih ingin berinvestasi guna meningkatkan sistem kepatuhan APU. &#8220;Mereka semakin beranggapan bahwa aspek kepatuhan dan tindak penipuan termasuk risiko kejahatan keuangan yang biasa dihadapi. Para pelaku pelaku penipuan lebih cenderung melakukan pencucian uang, dan begitu pula sebaliknya,&#8221; terangnya.<\/p>\n<p>Konvergensi tersebut menjadi tren global. Berbagai bank di Amerika Serikat dan Inggris telah sepenuhnya mengintegrasikan fungsi-fungsi kepatuhan regulasi dan pencegahan aksi peniupan, serta menyatukan sejumlah tim, pemimpin, dan teknologi. &#8220;Kami percaya bahwa bank-bank di Asia Pasifik juga mengamati kedua negara ini untuk mempelajari efektivitasnya, dan segera mengikuti langkah serupa dalam 24-36 mendatang,&#8221; tegasnya.<\/p>\n<p>Diketahui, survei ini berlangsung Mei 2020 lewat internet dan melibatkan para responden berasal dari berbagai bank. FICO menugaskan sebuah perusahaan riset independen untuk melakukan survei ini. Negara-negara yang disurvei ialah Australia, Hong Kong, Indonesia, Malaysia, Selandia Baru, Filipina, Singapura, Korea Selatan, Taiwan, Thailand, dan Vietnam.(kbs\/prnewswire)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JAKARTA, SIMBUR &#8211; Sebanyak 91 persen bank sangat kesulitan menyesuaikan sistem kepatuhan Anti Pencucian Uang (APU) berdasarkan regulasi yang telah dijalankan. Sebanyak 95 persen bank di Indonesia optimis bahwa kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) akan menghentikan Anti Pencucian Uang (APU). Sekitar 100 persen bank di Indonesia masih meyakini efektivitas teknologi lama yang berbasiskan regulasi untuk kepatuhan APU. Namun, 91 persen bank sangat kesulitan mengubah sistem tersebut. Di Indonesia, 100 persen bank ingin berinvestasi dalam&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3,6],"tags":[],"class_list":["post-23664","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-ekonomi","category-iptek"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/23664","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=23664"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/23664\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":23666,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/23664\/revisions\/23666"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=23664"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=23664"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=23664"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}