{"id":22527,"date":"2020-05-24T18:58:15","date_gmt":"2020-05-24T11:58:15","guid":{"rendered":"https:\/\/simbursumatera.com\/?p=22527"},"modified":"2022-01-19T04:30:15","modified_gmt":"2022-01-18T21:30:15","slug":"terminal-pelabuhan-internasional-khusus-pt-oki-pulp-and-papers-selesai-dibangun-di-tanjung-tapa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/simbursumatera.com\/?p=22527","title":{"rendered":"Selesai Dibangun di Tanjung Tapa"},"content":{"rendered":"<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p># Terminal Pelabuhan Internasional Khusus untuk Keperluan Industri PT OKI Pulp and Papers<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>PALEMBANG, SIMBUR<\/strong> &#8211; Terminal pelabuhan laut internasional khusus milik PT OKI Pulp and Papers selesai dibangun di Tanjung Tapa, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI). Selesainya pengerjaan dermaga berstatus terminal khusus (tersus) di wilayah laut oleh grup Sinarmas itu terungkap setelah ratusan buruh asal Cina yang dipulangkan ke negaranya melalui penerbangan repatriasi dari Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II Palembang pada 20 dan 22 Mei 2020.<\/p>\n<p>Sebanyak 190 tenaga kerja asing (TKA) itu diketahui bekerja di PT China Harbour Indonesia (CHI). Mereka dipulangkan karena telah menyelesaikan proyek pembangunan pelabuhan milik PT OKI Pulp and Papers di Tanjung Tapa, Kecamatan Air Sugihan, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI). &#8220;Pekerja dari CHI (China Harbour Indonesia). Pembangunan dermaga sudah selesai,&#8221; ungkap Gadang Hartawan, head public affair PT OKI Pulp and Papers kepada Simbur, Minggu (24\/5).<\/p>\n<p>Menurut Gadang, pembangunan dermaga laut di Tanjung Tapa itu dikerjakan selama kurang lebih 1,5 tahun. &#8220;Ini pekerjaan yang dilakukan CHI selama 1,5 tahun nonstop 24 jam sehari. Selesai tepat waktu,&#8221; tegasnya seraya menambahkan, orang-orang konstruksinya langsung dipulangkan semua karena pembangunan dermaga sudah selesai. &#8220;Dipulangkan secepatnya. Mereka 1,5 tahun lebih bekerja di tengah laut. Itu perjuangan. Mereka kerja 24 jam bergelantungan di tengah laut,&#8221; terangnya.<\/p>\n<p>Dijelaskan Gadang, pihaknya menggunakan tenaga kerja asing untuk menghindari konflik sosial dan mencapai target selesai tepat waktu. &#8220;Keuntungannya (pakai jasa TKS), tidak ada konflik. Mereka kerja tidak pakai handphone. Kerjanya kayak robot. Kami kan butuh cepat, butuh selesai sesuai waktu. Karena kalau ada keterlambatan, itu konflik sosialnya yang tinggi. Alhamdulillah tidak ada kendala. Selesai tepat waktu,&#8221; paparnya.<\/p>\n<p>Rencana operasi dermaga, lanjut Gadang, diperkirakan Juni 2020. Tinggal memasang alat berat bongkar muat crane yang kini sedang diinstalasi di Boom Baru.<br \/>\n&#8220;Rencana operasional bulan Juni karena pembangunan sudah selesai. Tinggal pembangunan untuk peralatan bongkar muat crane-crane saja,&#8221; ungkapnya.<\/p>\n<p>Gadang menambahkan, pembangunan dermaga laut itu menghabiskan dana US$200 juta atau senilai Rp2,961 triliun (kurs dolar Rp14.806). &#8220;Investasi pelabuhan terlalu gede. Bikin tersus (terminal khusus) saja kami habis US$200 juta lebih. Makanya untuk kepentingan hilirisasi. Jadi produk tisu bisa berjalan lancar sampai keluar melalui kapal pakai kontainer,&#8221; jelasnya.<\/p>\n<p>Terminal pelabuhan internasional khusus dengan teknologi konstruksi terbaru itu dibangun dengan ukuran platform panjang 450 meter dan lebar 50 meter. Sementara, panjang trestle 3.150 meter. &#8220;Kedalaman laut di dermaga 14,5 meter. Kapal 35.000 dwt bisa sandar,&#8221; ungkap Gadang.<\/p>\n<p>Terkait regulasi, lanjut Gadang, perusahaan tersebut sudah mengantongi semua perizinan, baik dari pusat maupun daerah. &#8220;Perizinan lengkap semua. Kami dapat pinjam pakai kawasan (mangrove) hanya selebar jalan, dengan panjang 20 meter. Itu kami bangun langsung di atas mangrove. Pohon bakau di hutan lindung pun tidak kena. Intinya, sudah ada keberpihakan semua,&#8221; tegasnya.<\/p>\n<p>Masih kata Gadang, dermaga laut yang dibangun masuk kategori terminal khusus (tersus). Tujuannya untuk keperluan industri pulp and paper, seperti bahan baku, ekspor, dan eksplorasi khusus PT OKI Pulp and Papers sebagai pabrik kertas terbesar di Asia Tenggara, bukan untuk dermaga umum. &#8220;Pertama kali dermaga laut internasional ada di sini (PT OKI Pulp and Papers). Trenstelnya yang seperti tol saja terpanjang. Tujuan (pembangunan dermaga laut) bisa merealisasikan hilirisasi industri pulp. Lebih banyak ke industri tisu. Bisa utuk melakukan ekspansi. Kami mengandalkan dermaga ini,&#8221; imbuhnya.<\/p>\n<p>Mengapa dermaga laut, menurut Gadang, karena mengandalkan sungai berbahaya. &#8220;Alur sungai terlalu berisiko. Kedua terlalu jauh ke laut,&#8221; ungkapnya seraya menambahkan, berkembang jadi apa pelabuhan ini nanti belum bisa diprediksi. &#8220;Ini pelabuhan internasional. Belum tahu apa bisa jadi pelabuhan umum, saya belum bisa prediksi. Statusnya tersus. Investasi swasta sepenuhnya,&#8221; tegasnya.<\/p>\n<p>Gadang menjelaskan, kalau di luar DLKr (Daerah Lingkungan Kerja) dan DLKp ( Daerah Lingkungan Kepentingan) statusnya tersus. Dipantau KUPP (Kantor Unit Pelayanan Pelabuhan) Sungai Lumpur dan langsung dari Kementerian Perhubungan. &#8220;Sistem tersus diberikan sesuai permohonan diajukan perusahaan. Pertama ada penetapan lokasi yang diputuskan Menteri Perhubungan. Izin pembangunan dan operasional oleh dirjennya. Itu sesuai dengan tata ruang sudah memenuhi syarat sejak 2014,&#8221; terangnya.<\/p>\n<p>Di dermaga itu, jelasnya, ada kantor Imigrasi, Bea Cukai, Karantina. &#8220;Ada bangunan tiga tingkat di sana. Tingkat pertama untuk operasional perusahaan. Tingkat dua untuk pemerintahan. Tingkat tiga untuk navigasi dan keperluan operasional lainnya,&#8221; ungkapnya.(maz)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>&nbsp; &nbsp; # Terminal Pelabuhan Internasional Khusus untuk Keperluan Industri PT OKI Pulp and Papers &nbsp; PALEMBANG, SIMBUR &#8211; Terminal pelabuhan laut internasional khusus milik PT OKI Pulp and Papers selesai dibangun di Tanjung Tapa, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI). Selesainya pengerjaan dermaga berstatus terminal khusus (tersus) di wilayah laut oleh grup Sinarmas itu terungkap setelah ratusan buruh asal Cina yang dipulangkan ke negaranya melalui penerbangan repatriasi dari Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":22528,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[14,3],"tags":[],"class_list":["post-22527","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita-eksklusif","category-ekonomi"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/22527","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=22527"}],"version-history":[{"count":6,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/22527\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":31367,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/22527\/revisions\/31367"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/22528"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=22527"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=22527"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=22527"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}