{"id":20775,"date":"2019-08-29T03:03:09","date_gmt":"2019-08-28T20:03:09","guid":{"rendered":"https:\/\/simbursumatera.com\/?p=20775"},"modified":"2019-08-29T03:03:09","modified_gmt":"2019-08-28T20:03:09","slug":"digitalisasi-dengan-teknologi-tinggi-4-0-menteri-dorong-sumsel-punya-politeknik-pertanian","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/simbursumatera.com\/?p=20775","title":{"rendered":"Digitalisasi dengan Teknologi Tinggi 4.0, Menteri Dorong Sumsel Punya Politeknik Pertanian"},"content":{"rendered":"<p>PALEMBANG, SIMBUR &#8211; Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman melakukan kunjungan kerjanya ke Sumatera Selatan, Senin-Selasa (27-28\/8). Dalam kunkernya Mentan mendorong Sumsel segera memiliki politeknik pertanian. Pasalnya, menjadi daerah tujuan perluasan lahan pertanian tentu saja tidak cukup dengan bantuan dana dan alat berat saja. Apalagi, target Sumsel menjadi lumbung pangan nomor satu di Indonesia mengharuskan Sumsel untuk memiliki lembaga pendidikan yang lebih dari sekadar sekolah menengah kejuruan (SMK) seperti SMK SPP Pertanian Sembawa di Banyuasin yang sejak 2017 diwacanakan akan bertransformasi menjadi politeknik pertanian.<\/p>\n<p>Menteri Amran meminta Gubernur Herman Deru sesegera mungkin mewujudkan politeknik pertanian untuk mencetak sumber daya manusia (SDM) yang andal. Tentunya, dengan harapan terwujudnya digitalisasi di sektor pertanian. Mentan berjanji akan mendorong dan ikut dengan kebijakan Gubernur soal politeknik tersebut. &#8220;Ya, doakan. Pokoknya kami (Kementan) ikut Gubernur Sumsel. Politeknik (akan) kami dorong. Saya bangga bahwa putra-putri Indonesia milenial tertarik dengan pertanian. Karena, yang ikut di pertanian melalui Gerakan Pemuda Tani Indonesia sekarang berjumlah 500 ribu anggota,\u201d ungkap Mentan kepada wartawan di Hotel Harper, Senin (27\/8).<\/p>\n<p>Ditambahkan, hal yang menarik tentang politeknik pertanian adalah jika dulu yang mendaftar hanya\u00a0 seribu calon mahasiswa, tapi saat ini mencapai 16 ribu orang atau naik seribu persen lebih. \u201cHal itu karena kami menggunakan teknologi, sehingga anak-anak muda itu tertarik. Jadi kita menyongsong pertanian 4.0 dengan digitalisasi dengan teknologi tinggi,\u201d ujar Amran dengan lugas.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Menurut Mentan, pengembangan lahan pertanian untuk memenuhi target pangan nasional, menjadikan Sumsel kebanjiran bantuan dari pemerintah pusat melalui Kementerian Pertanian (Kementan). Selain bantuan dana untuk program Serasi Kementan, Sumsel juga mendapat bantuan alat berat berupa 118 ekskavator.<\/p>\n<p>Mentan memastikan jika bantuan alat berat tersebut sesuai dengan rencana perluasan lahan pertanian yang ditargetkan mencapai 500 ribu hektare, dimana realisasi tahun ini diharapkan mencapai 200 ribu hektar lahan baru. \u201cAda tambahan luas (lahan) 500 ribu hektar dan tahun ini mencapai 200 ribu hektar. Nilainya Rp 14 triliun kenaikan pendapatan petani kita (Sumsel). Itu yang kami kejar dan Gubernur sangat serius sehingga pusat juga serius. Tapi, 200 ribu hektare itu adalah lahan tidur (tidak produktif). Jadi jangan diasosiasikan sebagai lahan gambut. Itu adalah lahan basah yang cocok untuk pertanian, dimana luas keseluruhan di Indonesia 10 juta hektar. Salah satu yang terluas ada di Sumsel seluas 1,4 juta hektar lahan basah,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Dilanjutkan, saat Amran pertama kali menjabat sebagai Mentan, Sumsel hanya peringkat kedelapan penyumbang pangan nasional. Saat ini sudah naik peringkat kelima dan akhir tahun target mencapai peringkat ketiga. Tahun depan atau paling lambat 2021 bisa menjadi posisi pertama, jika target Serasi sukses. \u201cSekitar 500 hektare saja yang digarap, Sumsel akan menjadi lumbung pangan nomor satu di Indonesia. Kalau tidak salah, sekarang mungkin sudah tercapai 30 ribu sampai 50 ribu hektar. Ada 118 eskavator (bantuan pusat), tetapi Gubernur meminta tambah. Jika target tercapai, eskavator (akan) ditambah,\u201d janjinya.<\/p>\n<p>Terkait musim kemarau yang diprediksi masih terjadi sampai akhir Oktober mendatang, Amran menganggap faktor itu tidak akan mengganggu produksi pangan dan hanya sebuah cerita masa lalu Indonesia. \u201cKalau kemarau itu cerita masa lalu, karena sejak empat tahun lalu kami sudah siapkan infrastruktur, irigasi tersier, embung-embung, long storage, dan (hasilnya) berasnya melimpah sebanyak 2,4 juta ton. Bulog saat ini (bahkan) sudah sewa gudang, karena gudangnya penuh beras. Target justru lebih mudah tercapai saat musim kemarau, karena di musim itulah alat berat bekerja, dan petani juga sudah melek teknologi dan modern,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Apa yang disampaikan Mentan kami menyambut dengan baik. Diketahui kondisi Pulau Jawa sudah jenuh dan tidak mungkin dilakukan perluasan lahan (pertanian), jadi kesempatan itu yang diambil. Saat ini Sumsel sudah peringkat kelima, jadi jika program SERASI sukses minimal mencapai peringkat ketiga. Kalau bisa peringkat pertama dan jangan lagi ada peringkat kedua atau ketiga. Karena Jawa sudah jenuh dan tidak mungkin lagi ada lahan tambahan,\u201d katanya yakin sembari memastikan jika musim kemarau di Sumsel sebenarnya tidak begitu bertolak belakang dengan program Kementan karena di lahan basah.<\/p>\n<p>Di tempat yang sama, Gubernur Sumsel, Herman Deru memastikan jika Pemprov Sumsel akan ikut mendorong realisasi politeknik pertanian di Sumsel. \u201cPoliteknik (akan) kami dorong, dan (semua) pihak akan dilibatkan. Ayo kapan kita diskusi soal politeknik pertanian,\u201d ajaknya.<\/p>\n<p>Ditanya soal bantuan ekskavator, Gubernur memastikan alat berat tersebut sudah beroperasi. \u201cTeknologi sudah mulai jalan. Tadi dikatakan Mentan ratusan alat berat sudah jalan dan tidak ada yang mangkrak. Petani Sumsel juga sudah mampu menjalankannya. Desain alat berat untuk di Sumsel cukup pada medium truk dan tidak harus tronton. Kami bisa memakai truk kecil untuk mengangkutnya,\u201d lanjutnya.<\/p>\n<p>Terkait, Plt Kepala Dinas Pertanian, Tanaman Pangan dan Holtikultura Sumsel, Antoni Alam mengatakan jika program Kementan akan difokuskan di tiga kabupaten besar yang ada di Sumsel. \u201cUntuk program itu kami akan kejar untuk di tiga kabupaten yaitu Banyuasin, OKI, dan MUBA. Dari tiga kabupaten itu luas lahan yang akan digarap mencapai 150 ribu hektar lebih. Dari 200 ribu hektar yang menjadi target, 75 persennya ada di tiga kabupaten itu dimana 82 ribu hektar di Banyuasin, 65 ribu hektar di OKI, dan 35 ribu hektar di MUBA,\u201d ungkapnya.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Terkait musim kemarau, Antoni tidak menampik jika hal itu juga memberi dampak pada sektor pangan di Sumsel. \u201cSoal kekeringan yah memang tragis, karena sudah mengalami kekeringan 33 sampai 61 hari. Di Empat Lawang itu irigasinya dari air gunung, namun saat ini kering. Hal itu benar-benar tragis bagi kita. Tapi, diselamatkan karena kekeringan terjadi saat umur tanaman sudah di atas 75 hari. Jadi kerugian petani di Empat Lawang bisa mencapai 10 sampai 20 persen per hektar,\u201d keluhnya.<\/p>\n<p>Walau demikian, Sumsel masih diuntungkan karena sebagian besar lahan pertaniannya adalah rawa pasang surut yang temasuk di dalamnya tanah lebak dalam. \u201cKelebihan Sumsel, lebih dari 50 persen adalah lahan rawa pasang surut, dan 40 persen rawa Sumsel adalah lebak dalam. Saat sekarang, lahan pertanian di lahan lebak dalam sudah mulai tanam. Kenapa Kementan ke Sumsel, karena kekurangan target nasional itu terlampau jauh. Harapannya, bisa di tutupi dari Provinsi Sumsel dan Provinsi Kalsel. Jadi target kami pasti surplus untuk menutup kekurangan nasional tadi. Target kami luas tanam bisa mencapai 1 juta 8 ribu hektar, dengan dua sampai tiga kali tanam,\u201d tutupnya.(dfn)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>PALEMBANG, SIMBUR &#8211; Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman melakukan kunjungan kerjanya ke Sumatera Selatan, Senin-Selasa (27-28\/8). Dalam kunkernya Mentan mendorong Sumsel segera memiliki politeknik pertanian. Pasalnya, menjadi daerah tujuan perluasan lahan pertanian tentu saja tidak cukup dengan bantuan dana dan alat berat saja. Apalagi, target Sumsel menjadi lumbung pangan nomor satu di Indonesia mengharuskan Sumsel untuk memiliki lembaga pendidikan yang lebih dari sekadar sekolah menengah kejuruan (SMK) seperti SMK SPP Pertanian Sembawa di Banyuasin yang&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[36],"tags":[],"class_list":["post-20775","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-berita-penting"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/20775","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=20775"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/20775\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":20777,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/20775\/revisions\/20777"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=20775"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=20775"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=20775"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}