{"id":19937,"date":"2019-07-10T15:47:56","date_gmt":"2019-07-10T08:47:56","guid":{"rendered":"https:\/\/simbursumatera.com\/?p=19937"},"modified":"2019-07-10T15:59:38","modified_gmt":"2019-07-10T08:59:38","slug":"sinarmas-kembali-isyaratkan-bangun-pelabuhan-laut-internasional-di-tanjung-tapa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/simbursumatera.com\/?p=19937","title":{"rendered":"Sinarmas Kembali Isyaratkan Bangun Pelabuhan Laut Internasional di Tanjung Tapa"},"content":{"rendered":"<p>PALEMBANG, SIMBUR\u00a0 \u2013 Keberadaan perusahaan OKI Pulp and Paper di Kabupaten OKI yang berorientasi ekspor tentu sangat membutuhkan pelabuhan yang dekat dengan pabrik untuk memotong rantai distribusi dan memangkas biaya logistik. Apalagi, perusahaan yang memproduksi kertas dan bubur kertas tersebut diproyeksikan untuk menjadi perusahaan raksasa di kawasan Asia.<\/p>\n<p>Sementara, potensi kawasan Pantai Timur khususnya di Tanjung Tapa sangat mungkin untuk dijadikan sebagai pelabuhan laut internasional yang tentu akan sangat mendukung program tol laut yang sudah dicanangkan pemerintah sejak beberapa tahun lalu.<\/p>\n<p>Managing Director Sinar Mas Group, Saleh Husin yang juga mantan Menteri Perindustrian (Menperin) menanggapi dengan santai. Apakah Sinarmas akan membangun pelabuhan laut dalam di Tanjung Tapa, dirinya menjawab diplomatis. \u201cSaya kira itu nanti rencana jangka panjang. Tapi pada intinya, bagaimana setelah barang diproduksi di OKI bisa didistribusikan ke negara-negara tujuan ekspor dengan biaya yang murah. Tentu pasti akan disiapkan berbagai macam fasilitas. Dalam hal ini dermaga atau lainnya. Tapi nanti dilihat. Yang utama adalah bagaimana rantai distribusi itu bisa menjadi pendek, dan biayanya menjadi lebih murah. Kalau misalnya lebih murah, tentu pasti misalnya ada pelabuhan yang lebih dekat. Nah, pelabuhan itu nanti entah siapa yang bangun nanti,&#8221; ujarnya sembari tersenyum usai mengikuti apel gerakan pencegahan kebakaran hutan dan lahan tahun 2019 di Griya Agung, Selasa (9\/7).<\/p>\n<p>Terkait OKI Pulp and Paper yang diproyeksikan menjadi pabrik bubur kertas terbesar di Asia dan bagaimana konstribusinya terhadap daerah, Saleh Husin berpendapat bahwa yang pertama adalah pemerintah seharusnya juga berterimakasih dengan peran perusahaan swasta yang membantu industri di berbagai daerah termasuk di Kabupaten OKI, Sumsel.<\/p>\n<p>\u201cKebetulan di OKI yang membangun adalah Sinarmas dengan investasi yang cukup besar sehingga kita bisa melihat, daerah yang tadinya sepi akhirnya menjadi salah satu daerah yang pertumbuhan ekonominya sangat tinggi. Akhirnya, masyarakat datang ke daerah tersebut. Sekarang tidak hanya OKI Pulp and Paper saja yang tumbuh di sana, tetapi juga industri-industri pendukungnya termasuk usaha masyarakat sekitar,\u201d jelasnya dan memberi contoh seperti rumah kos, rumah makan, atau para pengrajin yang ekonominya ikut tumbuh.<\/p>\n<p>Dengan pertumbuhan ekonomi tersebut, lanjut Saleh Husin, pertama yang dibutuhkan bagaimana rantai distribusinya. Misalnya kalau OKI Pulp and Paper distribusinya untuk tujuan ekspor, dan ekspornya harus melalui pelabuhan. Pelabuhannya tentu harus disiapkan, baik itu disiapkan oleh pemerintah atau oleh swasta sendiri. \u201cDalam hal ini, mungkin bisa saja dari Sinarmas yang membangun. Nanti kita lihat,&#8221; ujar pria yang ternyata beristri orang Palembang asli.<\/p>\n<p>Terkait potensi sejarah kerajaan Sriwijaya di sebagian wilayah OKI, Saleh Husin mengatakan jika kehadiran pihak swasta tidak akan berbenturan dengan kepentingan sejarah dan kebudayaan suatu daerah. \u201cSaya pikir dalam hal ini Pemda baik itu provinsi maupun kabupaten tentu sudah mempunyai kajian-kajian bagaimana tetap menjaga nilai-nilai sejarah dan budaya yang ada di daerah sekitar. Saya kira itu sudah pasti tidak akan saling mengganggu. Paling utama adalah bagaimana bahu-membahu membangkitkan ekonomi di Kabupaten OKI. Jika pertumbuhan ekonominya tinggi, dengan sendirinya masyarakatnya akan menjadi makmur. Nah itu yang seharusnya didukung oleh masyarakat,\u201d pungkasnya.<\/p>\n<p>Diwartakan Simbur sebelumnya, survei yang dilakukan PT OKI Pulp and Paper sejak 2013 menyebutkan wilayah Tanjung Tapa yang berbatasan langsung dengan Selat Bangka memiliki kedalaman air (bathymetric) lebih dari 16,50 meter. Selain itu, Tanjung Tapa memiliki luas lebih dari 2.000 meter dihitung dari garis pantai tanjung tapa hingga ke Selat Bangka.<\/p>\n<p>Berdasarkan laporan tim survei, Asosiasi Navigasi Internasional (PIANC) merekomendasikan bahwa setiap alur setidaknya harus tiga kali lebar dari kapal terluas yang menggunakan alur tersebut. Untuk lalu lintas kapal yang berpapasan satu sama lain serta memiliki kedalaman minimal 16 meter pada sudut terendah atau ketika pasang surut dan kapal dengan dalam keadaan bermuatan penuh.<\/p>\n<p>Selain persyaratan pelabuhan laut tersebut, pencatatan gelombang dan arus angin juga dilakukan selama periode survei tersebut. Lokasi Tanjung Tapa dianggap terlindung dari pengaruh perubahan gelombang laut yang meningkat meski memiliki paparan angin dari timur selatan. Lokasi ini juga mempunyai catatan risiko yang rendah terhadap bencana alami seperti intensitas gema, badai tropikal dan gelombang pasang.<\/p>\n<p>Jarak Tanjung Tapa dari lokasi pabrik PT OKI Pulp, tambah dia, sekitar 65,18 km dengan 12.80 km terakhir berada di area HTI. Sebagian di areal basah sehingga memerlukan jembatan yang menghubungkan antara gudang dan container area menuju dermaga sepanjang 2,260 meter mencapai kedalaman yang diperlukan di landasan dermaga utama (16,30 m) saat surut terendah. Jembatan dibangun untuk menghindari penumbangan pohon hidup di garis pantai.<\/p>\n<p>Dengan informasi yang dimiliki dari hasil survei merekomendasikan lokasi Tanjung Tapa layak menjadi pelabuhan laut, di posisi bersamaan dengan fasilitas pendukung yang disyaratkan dan secara fisik pembangunan tretle dan dermaga. Adapun kendala, Tanjung Tapa\u00a0 memiliki area sepanjang 2.30 km yang masuk hutan lindung sehingga memerlukan izin khusus transit di lahan basah. Akan tetapi, manfaat yang didapat jauh lebih banyak, yakni pembangunan pelabuhan laut di Tanjung Tapa akan memberi manfaat bagi Kabupaten OKI serta mendukung KEK Tanjung Api-Api.\u00a0 Kemudian, Pelabuhan Tanjung Tapa juga berpotensi ekonomi masyarakat baik Produksi pertanian dan perkebunan, perikanan warga di Kabupaten OKI, Banyuasin dan Pulau Bangka.<\/p>\n<p>Selanjutnya, Pelabuhan Tanjung Tapa interline dengan sejumlah daerah, kondisi jenuh di Selat Malaka juga diprediksi akan memberikan keuntungan jika di tanjung tapa dibangun pelabuhan. Sebab ribuan kapal melintasi Selat Malaka setiap harinya, dengan kejenuhan dan penambahan waktu layar, tentu jalur pantai timur akan semakin dilirik. Kabupaten OKI bersama Pemprov Sumsel akan mengusulkan peningkatan fungsi pelabuhan tersebut kepada Menteri Perhubungan dan Menteri Kelautan dan Perikanan.<\/p>\n<p>Dari perspektif budaya, pakar arkeologi Nurhadi Rangkuti ketika dikonfirmasi Simbur beberapa waktu lalu, mengatakan, kawasan Teluk Cengal dan Tanjung Tapa memiliki potensi yang besar sebagai lokasi pelabuhan antara, ditinjau dari posisi kawasan itu yang berada di persimpangan jalur maritim antara Selat Bangka, Laut Jawa dan Selat Sunda.<\/p>\n<p>Berperan sebagai entreport atau pelabuhan utama di Asia Tenggara, dengan mendapatkan restu, persetujuan, dan perlindungan dari Kaisar Cina untuk dapat berdagang bebas, Kerajaan Sriwijaya senantiasa mengelola jejaring perdagangan bahari itu hingga menguasai urat nadi pelayaran antara Cina dan India.<\/p>\n<p>Di Teluk Cengal dan Tanjung Tapa ditemukan kawasan permukiman kuno yang luas dan padat di daerah aliran Sungai Lumpur sampai ke aliran Sungai Jeruju. Kawasan permukiman itu diperkirakan berkembang sejak abad ke-8 sampai abad ke-10, periode dimana Kerajaan Sriwijaya menjadi penguasa atau maharaja maritim (thalassocracy) di Asia Tenggara.<\/p>\n<p>Rangkuti melakukan penelitian arkeologi tersebut di pantai tenggara Sumatera di Provinsi Sumatera Selatan telah dilakukan di Air Sugihan dan Karangagung Tengah oleh Pusat Penelitian Arkeologi Nasional dan Balai Arkeologi Provinsi Sumatera Selatan (Balar Sumsel) sejak 1980 awal sampai sekarang. Hasil penelitian memberikan gambaran mengenai permukiman kuno sejak awal Masehi sampai berkembangnya Sriwijaya di Sumatera abad ke-7 hingga 13 Masehi di Air Sugihan.<\/p>\n<p>Rangkuti menunjukkan bahwa budaya tungku kran dan perahu kajang yang masih eksis di wilayah Kayuagung, OKI adalah bukti bahwa wilayah Kayuagung berhubungan dengan migrasi orang Austronesia. Kemungkinan leluhur orang Kayuagung memiliki tradisi penjelajah bahari Austronesia yang berlanjut pada masa Sriwijaya di Sumatera Selatan.<\/p>\n<p>Diketahui, penelitian arkeologi di pantai tenggara Sumatera telah dilakukan di Air Sugihan sejak tahun 1980 awal sampai<br \/>\nsekarang. Ditegaskannya, lokasi bandar Sriwijaya itu berada di Selat Malaka. Lokasi tersebut berhubungan dengan kawasan Tanjung Tapa di Kecamatan Air Sugihan. \u201cSangat wajar apabila Tanjung Tapa di Air Sugihan berpotensi menjadi pelabuhan samudera mendukung Tanjung Api-Api atau Tanjung Carat,\u201d terangnya.(tim)<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>PALEMBANG, SIMBUR\u00a0 \u2013 Keberadaan perusahaan OKI Pulp and Paper di Kabupaten OKI yang berorientasi ekspor tentu sangat membutuhkan pelabuhan yang dekat dengan pabrik untuk memotong rantai distribusi dan memangkas biaya logistik. Apalagi, perusahaan yang memproduksi kertas dan bubur kertas tersebut diproyeksikan untuk menjadi perusahaan raksasa di kawasan Asia. Sementara, potensi kawasan Pantai Timur khususnya di Tanjung Tapa sangat mungkin untuk dijadikan sebagai pelabuhan laut internasional yang tentu akan sangat mendukung program tol laut yang sudah&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[36],"tags":[],"class_list":["post-19937","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-berita-penting"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/19937","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=19937"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/19937\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":19940,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/19937\/revisions\/19940"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=19937"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=19937"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=19937"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}