{"id":18950,"date":"2019-04-20T11:33:05","date_gmt":"2019-04-20T04:33:05","guid":{"rendered":"https:\/\/simbursumatera.com\/?p=18950"},"modified":"2019-04-20T11:33:05","modified_gmt":"2019-04-20T04:33:05","slug":"peretas-kelas-dunia-awasi-dugaan-kecurangan-pemilihan-presiden-di-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/simbursumatera.com\/?p=18950","title":{"rendered":"Peretas Kelas Dunia Awasi Dugaan Kecurangan Pemilihan Presiden di Indonesia"},"content":{"rendered":"<p><strong>PALEMBANG, SIMBUR<\/strong> &#8211; Dugaan kecurangan Pemilihan Presiden (Pilpres) Indonesia, 17 April 2019 mengundang simpati dari sejumlah kelompok peretas (hacker) dunia. Beredar kabar di media sosial warganet Indonesia mengundang hacker muslim Rusia. Disusul bantuan dari Anonymous (kelompok hacker paling berbahaya di dunia) yang tengah mengawasi kecurangan hasil rekapitulasi pemungutan suara di portal Komisi Pemilihan Umum (KPU) Republik Indonesia akibat serangan siber para peretas bayaran. Simbur berusaha menelusuri kabar &#8220;perang siber&#8221; tersebut.<\/p>\n<p>Hal itu awalnya diketahui dari tagar #INAelectionObserverSOS yang menggemparkan dunia melalui media sosial, seperti Twitter dan Facebook. Tagar tersebut merupakan seruan dari pendukung pasangan salah satu capres-cawapres untuk memantau jalannya proses penghitungan suara Pilpres 2019. Hal itu terkait adanya dugaan pelanggaran dan ketidaknetralan\u00a0 dalam penyelenggaraan pemilu serentak. Warganet pun memanggil Muslim Cyber Army (MCA) Rusia. Dari laman FireEye Cyber Threat Map, salah satu portal pemantau serangan siber dunia, terlihat serangan balik dari MCA Rusia yang ditujukan kepada peretas dari negaranya sendiri karena berusaha menyerang perhelatan pesta demokrasi di Indonesia.<\/p>\n<p>Selain MCA Rusia, pasukan hacker paling ditakuti di dunia, Anonymous turut mendukung dan menawarkan bantuan untuk mengungkap dugaan kecurangan yang terjadi pada Pemilihan Presiden Indonesia. Dalam video berdurasi 01.01 menit yang beredar di jejaring Youtube, pasukan Anonymous telah mengendus dugaan kecurangan tersebut demi membela keadilan bagi rakyat Indonesia, bukan untuk kepentingan kelompok atau golongan tertentu.<\/p>\n<p>Diberitakan Bloomberg akhir Maret lalu, hacker Rusia dan Cina diduga telah menyerang database Komisi Pemilihan Umum (KPU) untuk mengacaukan Pemilihan Presiden Indonesia pada 17 April 2019. Serangan siber tersebut diduga untuk memanipulasi dan memodifikasi data hasil penghitungan suara dari pemilih siluman atau pemilih palsu.<\/p>\n<p>Diketahui, tiga potensi ancaman serangan siber yang terjadi saat Pemilu 2019, meliputi hack, leak dan amplify. Hal itu diungkap Kepala BSSN Djoko Setiadi dalam acara Rakornas Bidang Kewaspadaan Nasional Pemilu 2019 di Hotel Paragon, Jakarta Pusat (27\/3). Djoko menerangkan potensi serangan siber seperti hack merupakan serangan yang bertujuan untuk mengganggu infrastruktur yang digunakan dalam Pemilu seperti dengan melakukan deface, DDoS (Distributed Denial of Service), atau membuat web palsu dan metode hacking lainnya.<\/p>\n<p>Hack dengan DDoS atau membuat akun dan website palsu metode hacking tertentu marak digunakan dalam dunia siber. Leak merupakan serangan micro targeting di mana targetnya adalah peserta pemilu sampai peserta kampanye dengan cara mencuri data atau informasi peserta yang bersifat privat untuk kepentingan pihak-pihak tertentu. Amplify merupakan serangan yang berkaitan dengan bagaimana memviralkan data atau informasi pribadi peserta Pemilu yang diperoleh melalui serangan leak untuk mempublikasikan keburukan dari pihak lawan politiknya seperti kampanye hitam (black campaign).<\/p>\n<p>Terlepas dari itu, mata dunia kini tengah menyoroti perhelatan pesta demokrasi terbesar abad ini. Masyarakat harus sabar menunggu hasil perhitungan resmi Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI. Konsentrasi publik sempat terpecah dengan hasil quick count lembaga survei selain kabar serangan siber ke server KPU RI. Serangan itu diduga sebagai upaya mengubah atau memanipulasi hasil penghitungan yang sangat menentukan pemimpin Indonesia lima tahun ke depan.<\/p>\n<p>Dilansir Antara, komisioner KPU Pramono Ubaid Thantowi menyatakan kesalahan input data pada Sistem Informasi Penghitungan Suara (Situng) KPU terjadi karena kesalahan manusia, bukan karena serangan siber yang dilakukan para peretas. Demikian diungkap Komisioner KPU lainnya, Viryan Aziz mengatakan, memang ada upaya suatu pihak melakukan peretasan server milik KPU. Akan tetapi, dirinya tidak menyebutkan secara spesifik soal pelaku yang mencoba masuk ke sistem server KPU. Menurut dia, upaya peretasan tak hanya datang dari luar negeri tapi juga dari dalam negeri.<\/p>\n<p>Menyikapi serangan siber pascapemilu, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Sumatera Selatan (Sumsel), Jon Kennedy tidak terlalu merisaukan viralnya wacana tersebut di media sosial. Baginya, serangan siber adalah hal yang wajar karena memang terjadi setiap hari.<\/p>\n<p>&#8220;Sebenarnya serangan siber itu hal yang wajar. Memang tiap hari pasti. Bisa ratusan sampai jutaan serangan siber itu. Hanya saja, karena momennya (Pemilu), makanya itu jadi viral,&#8221; ujarnya saat dikonfirmasi Simbur, Jumat (19\/4).<\/p>\n<p>Jon juga meyakini sampai saat ini server KPU masih relatif aman. Baginya, serangan siber bisa saja terjadi ke server mana pun, termasuk KPU. &#8220;Itu biasa kalau ada serangan (ke server KPU). Sebenarnya bukan hanya KPU saja tapi yang lain juga ada. Orang yang menyerang itukan biasanya ada kepentingan, tapi terkadang ada juga yang sekadar iseng,&#8221; ungkapnya.<\/p>\n<p>Terkait keamanan server KPU, lanjut dia, Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) tentu telah mengamankan server tersebut dari upaya sabotase dan serangan siber. &#8220;BSSN juga sudah pasti mengantisipasi serangan itu, karena memang ranah kerja mereka. Kalau kami sebenarnya meneruskan saja. Kalau ada informasi, kami sampaikan ke BSSN,&#8221; tegasnya seraya memastikan jika serangan siber tidak berpengaruh terhadap akses jaringan internet publik yang ada di Indonesia, khususnya Sumsel.<\/p>\n<p>Sementara itu, dosen Ilmu Komputer Universitas Bina Darma, Rusmin Syafari SKom MM berharap agar publik tidak perlu risau dan takut terhadap serangan siber jika betul terjadi. &#8220;Tidak usah takut dengan serangan siber. Percaya dengan Tuhan saja karena pasti menentukan yang terbaik,&#8221; ujarnya dan membenarkan jika kabar tersebut bisa membuat publik menjadi waswas. &#8220;Itu betul (masyarakat takut). Soalnya di internet ada juga (informasi) tentang hacker dari luar negeri yang melakukan hacking,&#8221; ujarnya.<\/p>\n<p>Terlepas dari itu, Rusmin berharap Pemilu kali ini akan memunculkan pemimpin yang terbaik. &#8220;Kalau saya, siapa pun presidennya yang jelas (Indonesia) bisa adil, makmur, dan sejahtera,&#8221; tutup Rusmin. (tim)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>PALEMBANG, SIMBUR &#8211; Dugaan kecurangan Pemilihan Presiden (Pilpres) Indonesia, 17 April 2019 mengundang simpati dari sejumlah kelompok peretas (hacker) dunia. Beredar kabar di media sosial warganet Indonesia mengundang hacker muslim Rusia. Disusul bantuan dari Anonymous (kelompok hacker paling berbahaya di dunia) yang tengah mengawasi kecurangan hasil rekapitulasi pemungutan suara di portal Komisi Pemilihan Umum (KPU) Republik Indonesia akibat serangan siber para peretas bayaran. Simbur berusaha menelusuri kabar &#8220;perang siber&#8221; tersebut. Hal itu awalnya diketahui dari&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[36],"tags":[],"class_list":["post-18950","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-berita-penting"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/18950","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=18950"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/18950\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":18952,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/18950\/revisions\/18952"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=18950"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=18950"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/simbursumatera.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=18950"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}